Senin, 22 Oktober 2012

Prabu Siliwangi - Pangeran Papak; Keturunannya di Kawalu

Dari Prabu Siliwangi: Keturunan Pangeran Papak Cinunuk k, yang keturunannya ada diKawalu, Tasikmalaya 
PRABU SILIWANGI:   (1482 – 1521 M)
Kanjeng Pangeran Mangku Negara, Prabu Banjaran Sari, Sri Baduga Maharaja – Rundayanana:
Dari isteri Nyi Ratu Putri Buniwangi, Ratu Ayu Rambut Kasih Sekar Arum Rutjitawati Kancana (Limbangan), putri dari Prabu Layaranwangi (Sunan Rumenggong) dari Keprabuan Kerta Rahayu, berputra antara lain:
I.                    Raden (Prabu) Hande Limansenjaya, atau  Prabu Liman Djaja  yang adalah putra Prabu Siliwangi yang ke-19;  dan ada lagi Prabu Wastu Dewa dari ibu yang sama. sama.
II.                  Prabu Hande (dan istri Ratu Sang Hiyang Anten, putra Prabu Silalangu Laya Kusumah; sedangkan Silalangu adalah putra dari Prabu Munding Wangi yang adalah kakak dari ibunya Limanjaya. (berarti menikah dengan keponakan) mempunyai seorang putera bernama Raden Wijaya Kusumah, atau Prabu Adipati Djaja, Sultan (Sunan) Cipancar.  Cucu Prabu Siliwangi ini masuk Islam pada tahun  1525 M
III.               Raden Wijaya Kusumah berputra 14 orang, yang sulung bernama  Raden Tumenggung Wangsanegara, Sunan Karaseda, yang melanjutkan ke-adipatian Galih-Pakuan, menggantikan ayahnya.
IV.                Raden Tumenggung Wangsanegara berputra 6 orang, salah satunya Raden Adipati Aria Djiwanata.
V.                  Selanjutnya Raden Adipati Aria Djiwanata berputra  Dalem Raden Adipati Arya Megatsari Suryakusumah,  Regent Limbangan tahun 1625, yang berputra 9 orang di antaranya:
VI.                Dalem Adipati Suta Djiwanagara,  yang wafat di Mataram;  berputra 1 orang, ialah:
VII.             Dalem Tumenggung Widjajakusumah, Dalem Emas,  di Sukadanah, Sadang Wanaraja; dengan istri bernama Raden Ayu Singa, (putra Raden Wira Bangsa yang adalah putranya Raden Adipati Aria Djiwanata); berputra 10 orang di antaranya:
VIII.           Dalem Raden Adipati Sutanagara  di Cinunuk, Wanaraja – Garut. Leluhur keturunan Cinunuk ini berputra 8 orang, di antaranya seorang perempuan bernama:
IX.               Nyai Raden Siti Tedja Kiamah;  menikah dengan  Raden Kiai Noer Chatim (Penghulu Limbangan, putra Raden Kiai Suta Merta, putranya Dalem Merta Singa)  yang berputra 5 orang di antaranya:
X.                  Raden Kiai Muhammad Aliyam, beristri Nyimas Domas dari Cinunuk, berputra 3 orang, yang  di antaranya;
XI.               Raden Kiai Muhammad Djuwari,  beristri Raden Nyimas Indjang (Sindjang); berputra 7 orang, yang diantaranya adalah:
XII.             Raden Wangsa Muhammad, Pangeran Papak, yang lahir di Cinunuk pada abad ke-19 Masehi,
Wafat 17 Safar 1317 H atau Senin, 26 Juni th 1899 M.  Keturunan ke-12 Prabu Siliwangi ini berputra 14 orang dari 6 istri yaitu:
Dari istri pertama Nyi Raden Siti Rukimah alias Eyang Enok: Raden Wangsadinata; Nyi Raden Siti Satriamah alias Eyang Inut (istrinya Raden Mochamad  Zainal Asyik);  Raden Wangsadiwiria; Raden Danudiwangsa;  Nyi Raden Gandaningrum/ Ratnaningrum; Raden Wiradiwangsa.
Dari istri kedua Nyi Raden Siti Karsiah:  Raden Natadiwangsa; Nyi Raden Siti Sutriyah, alias Eyang Entri.  
Dari istri ketiga Nyi Raden Siti Maemunah berputra satu orang bernama Nyi Raden Siti Satria Kusumah.
Dari istri keempat Nyi Raden Andewi:  Raden Djajadiwangsa;  Raden Wigenadiwangsa
Dari istri kelima Nyi Raden Mas Djerot:  Raden Atmadiwangsa;  Nyi Raden Lengkawati
Dari istri keenam Nyi Raden Mas Ito:  Raden Tisnadiwangsa
XIII.          Nyi Raden Siti Sutriyah, yang disebut sebagai Eyang Entri  atau  Uyut Enteh, yang di Kawalu ditulis sebagai Nyi Raden Siti Aniyah binti Wangsa Muhammad wafat tahun 1925, makamnya dekat Kantor Kec. Kawalu-Tasikmalaya.  Ditulis Siti Aniyah menikah dengan Mama Kopral.  Uyut Siti Aniyah berputra 4 orang:  1. Nyimas Arsah, bersuamikan Lurah Selaawi; 2.  Madsari,  Lurah Kawalu, tinggal dan meninggal di Cikebo;  3. Eyang Dongkol yang menjadi Lurah Saguling dan 4. Mad’adi, Lurah Kawalu, yang  meninggal pada tahun 1944 dimakamkan di Kawalu.
XIV.           Eyang / Aki  Madsari,  yang menikah dengan Nenek / Eyang Rd.  Enot dari Cikebo yang berputra 9 orang:  1. Kartasasmita; 2. Wargadijaya; 3. Wirasasmita; 4. Nyimas Hj. Siti Mariah; 5. Nyimas Siti Aisyah (yang menikah dengan Eyang Lebe); 6. Nyimas Siti Hadijah; 7. Dadi (Aki); 8. Ena Sumpena; 9. Nyimas Imi. 
XV.             Nyimas Haji Siti Mariah, di Tanjung, Kawalu wafat tahun 1982, menikah dengan Raden  Yudawinata, putra Raden Yudapradja.  Siti Mariah wafat tahun 1982, kuburannya dipindahkan dari Cikebo ke Cicariang – Kawalu.  Hj. Siti Mariah & Raden Yudawinata berputra 7 orang: 1. Rd. Siti Rumanah (Mamih); 2.  Rd. Siti Djuariah (Wa Uwe istri Wa Ibrahim); 3. Rd. Siti Djulaeha (Ceu Yaya; Jl. Minangkabau Jakarta). 4. Rd. Maman Lukman;  5. Rd. Abdul Fatah (Mang Entoh); 6.  Rd Sambas alias Memed; 7. Rd. Siti Komariah.
XVI.           Raden Maman Lukman,  Kawalu (L. 18-4-1917  W. 14-4-2000) menikah Rd. Nenah Hunaenah (Ma Enah binti Rd. H. Sukanta Atmadja - Pagaden), lahir 1 Mei 1922, Senin 3 Ramadhan 1340H. Berputra 13 orang, yaitu: 1.  Rd. Aan Yohansyah (w. 1997);  2. Rd. Endang Hidayath (W. 1998); 3. Rd. Ai Sulasmi (L. 1941); 4. Rd. Ade Rohimah (L. 1943); 5. Rd, Enok Roswati (L. 1946); 6. Rd, Danny A. Yani (L. 1949); 7. Rd. Dedy Cherry Ahmad (L. 1951); 8. Rd.  Ivan Satyagraha (L. 1953); 9. Rd. Ujang Tresna Sunarya  (L. 1955); 10. Rd. Hj. Euis Herlina (L. 2-11-1959); 11. Rd. Edy Rohendi (L. 1061) ; 12. Rd. Nunung Nurmalya (L. 1963); 13. Rd. Asep Rudy Nasir Ahmad (L  1967).
XVII.        Hj.  Raden Euis Herlina (Iis), Kawalu 2-11-1959 menikah dengan  Ir. H. Pipip Sumantri (Cicalengka, Bandung 5-5-1936, putranya Hadiwinata Jalaksana-Kuningan & Nyimas Epon Wiharsah, cucu Rd. H. Sirad  &  Rd. Malyam,  Pelag-Majalaya); berputra 7 orang:
XVIII.      1. Ami Nadia Rachmi S.E. (Ciamis, 13-12-1980); 2. Qanita (Bogor, 10-9-1981); 3. Zohra (Bogor, 27-12-1982); 4. Bushra S.T. (Jakarta, 18-7-1984); 5. Safiyya AMG (Jakarta, 1-7-1985); 6. Sakinat S. Ds. (Jeanette Fb. Lb, Jakarta, 18-4-1987); 7. Mubasher Ahmad (Jakarta, 1-11-1990).

Prabu-Siliwangi-Pangeran Papak-Kawalu

Dari Prabu Siliwangi, keturunannya Pangeran Papak - Cinunuk Garut - sampai di Kawalu-Tasikmalaya sbb:


CUCU – BAO  MAMAN  LUKMAN:
KAKAIT SIWUR:                  Rd. St. Tedja Kiamah&Kiai Rd. Noer Chatim (ke-9)

UDEG2:                                  Rd. M. Aliyam & Nyimas Domas (ke-10)

CANGGAH  WARENG:       Rd. M. Djuwari & Nyimas Indjang (ke-11 dari Prabu Siliwangi

BAO:                                       Pangeran Papak - Rd. Wangsa Muhammad  (W. 1899M) &             
Nyi Raden  Siti Karsiah (Cinunuk, Wanaraja Garut)  (Maman Lukman)

BUYUT:                                  Rd. Siti Sutriyah-Aniyah-Enteh-Entri binti Wangsa Muhammad (W. 1925) & Mama Kopral  (Kawalu)                    (Maman Lukman)               
                                                            Embah Dalem Singajiwa (Cibeureum)-Dewi Rara Inten
                                                                                (keturunan Pangeran Tingkir-Mataram). (Ma Enah)                                              
AKI  - NINI:  Rd. Yudapradja&Embu  Rd.Madsari&Rd.Enot   Rd.H.Abdul Salam (GegerNoong, Tamansari
                                                                (Maman Lukman)                                  Cibeureum; W. Medinah-Mekkah)
                        (Tanjung)                         (Kawalu&Cikebo)    Mama H. Idris&Enci-Pagaden (Ma Enah)          
                                                                                                           
BAPAK IBU :    Rd. Yudawinata        (Tanjung)             Rd. H. Sukanta Atmaja (Geger Noong) (Si Eyang)
                           Nyimas Hj. Siti Mariah-Cikebo (1982)             Hj. Ijah Hadijah (Ma Ijol, Pagaden)
                                    (Maman Lukman)                                                                    (Ma Enah)          

AQ:                                         Rd. Maman Lukman  & Ny.Rd.Nenah Hunaenah (Ma Enah)
                                                18/4/1917 -14/4/2000  & 1 Mei 1922; Snn 3 Ramadhan 1340H

ANAK:Rd. Aan Yohansyah; Endang Hidayath; Ai Sulasmi; Ade Rohimah; Enok Roswati; Dany A.Yani; Dedy Cherry Ahmad
Menantu:  Memet Rachmat  Dewi Munara     Yoyo Masduki     Teddy          Adang Suhendar     Ida Latifah       Tuty Tubayati

 Rd. Ivan Satyagraha   Ujang Tresna Sunarya    Iis Euis Herlina     Edy Rohendi     Nunung Nurmalia    Asep Rudy Nasir Ahmad
     Ika Cartika                     Herti                         Pipip Sumantri          Novita             Fathuzaman Sakti             Novy

INCU / CUCU:


MD: Siti Mariah & Yudawinata / Cucu-Bao Maman Lukman.doc / 22 Oktober 2012

Senin, 18 April 2011

TIDAK ADA LAGI NABI -Tidak ada ayat Alqur-aan-nya

Tidak ada ayat dalam Alqur-aan yang secara “to the point” mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah “NABI TERAKHIR”; mereka, kiyai, ulama-ulama dan maulvi mereka hanya merujuk pada hanya SATU-SATU-nya ayat Alqur-aan ini saja: Maa kaana muhammadun abaa ahadim mir rijaalikum ....

Surah Al-Ahzaab (33) ayat 40: (yang salah satu artinya, adalah) ………… akan tetapi, ia (Maa kaana Muhammadun) adalah Rasul Allah dan pemeterai (yang membenarkan) sekalian nabi-nabi, …….

Dalam ayat Alqur-aan ini, Allah SWT. membela keluhuran, kemuliaan dan kebenaran Nabi Muhammad saw., di mana Nabi saw. mengawini janda anak angkatnya Zainab, yang karena tidak ada keserasian, tidak se-kufu, perkawinannya tidak bertahan lama telah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah, yaitu seorang bekas budak belian yang dimerdekakan dan diangkat “sebagai anak” oleh Nabi Muhammad saw., seperti yang difirman dalam ayat Al Ahzaab sebelumnya 33:37 ......... fa lammaa qadha Zaidum minha watharan zawwajnaakaha likaila yakuuna ‘alal mu’miniina harajun fii azwaaji ad’iyaaihim idzaa qadhau minhunna watharaw wa kaana amrullaahi maf’uulaa –yang artinya- ........ Maka tatkala telah selesai hubungan Zaid dengan istrinya. Kami kawinkan engkau dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini bekas istri anak angkat mereka apabila telah selesai hubungannya dengan mereka. Dan ketetapan Allah berlaku.

Menurut adat jahiliyah, status Zainab adalah bekas menantu Nabi Muhammad saw., dari anak angkatnya Zaid; perkawinan dengan Nabi saw. dengan bekas menantu beliau ini dianggap oleh adat Arab lama menistakan tindakan Nabi saw. dan yang sangat mereka cela. Kejadian ini dibela oleh Allah SWT., bahkan pernikahan Nabi saw. dengan Zainab itu adalah atas dasar petunjuk dari Tuhan. Tuhan mengatakan Muhammad adalah Khaataman Nabiyyin – yang salah satu artinya adalah yang paling mulia, afdhal dari semua Nabi-nabi, dan Pemeterai, atau yang membenarkan semua Nabi-nabi.

Jika benar bahwa Nabi Muhammad itu benar-benar adalah Nabi terakhir dan / atau tidak ada akan lagi Nabi Utusan Allah lainnya setelahnya Nabi Muhammad saw –seperti yang banyak sekali dihebohkan oleh ulama, kiyai dan maulvi mereka, maka tentunya ada firman Allah lainnya lagi di dalam (ayat) Kitab suci alqur-aan yang secara “to the point” menyatakan bahwa “Muhammad adalah Nabi terakhir” dan/ atau “Tidak ada lagi Nabi setelah Muhammad”. Belum pernah ada ulama, kiyai atau Maulvi mereka, yang bisa menunjukkan ayat seperti ini .......

Ayat-ayat Alqur-aan yang menyebutkan Nabi atau Rasul akan datang, Nabi dikirimkan kepada setiap umat dan yang seperti itu, banyak ditemukan di dalam Alqur-aan.

Pertanyaannya ialah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau berfikir, apakah engkau tidak mau menggunakan otak atau menggunakan akal sehatmu?

Sabtu, 16 April 2011

Nabi Palsu dihebohkan oleh Orang yang Sombong

NABI PALSU? Isu ini dihebohkan oleh orang yang sombong dan sok!

Nabi Palsu? Isu ini dihebohkan oleh orang yang sok, orang-orang atau Ulama yang sombong; dilemparkan oleh orang-orang atau Ulama-ulama yang sok, yang merasa LEBIH TAHU daripada TUHAN dan merasa LEBIH KUAT daripada Tuhan! Apa buktinya?

Dalam Kitab Suci Alqur-aan Allah SWT sudah berfirman:

An Nahl, 16:125 …….. inna rabbaka huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihii wa huwa a’lamu bil muhtadiin - ….. Sesunguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pertanyaannya: Apakah ulama-ulama MUI atau OKI atau Rabithah merasa lebih tahu dari apa yang difirmankan oleh Tuhan?

Baca juga ayat-ayat lainnya yang maksudnya sama, dalam An Najm (53:30), dan Al Qalam (68:7).

Pertanyaannya adalah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau menggunakan pikiranmu, menggunakan akal sehatmu?

Nabi Palsu, orang yang mengaku-ngaku mendapat wahyu atau ilham bahwa ia adalah Utusan Tuhan, apakah akan dibiarkan oleh Tuhan? Apakah akan diibiarkan misinya sukses di dunia?

Nabi palsu tidak akan dibiarkan oleh Tuhan hidup lama sehingga akan menyesatkan manusia. Nabi Palsu (dan yang Tahu bahwa ia itu adalah Nabi palsu tentu hanyalah Tuhan sendiri; kalau dalam jabatan dunia seperti Presiden-lah yang membuat SK-nya, jadi ia-lah yang tahu), Nabi Palsu itu akan langsung ditangkap dan dicengkeram oleh Tangan Tuhan sendiri (dan tidak ada yang bisa menghalanginya), firman Allah swt.:

Al Haaqqah (69 : 44-46) : Wa lau taqawwala ‘alainaa ba’dhal aqaawiil. La akhadznaa minhu bilyamiin. Tsumma la qatha’naa minhul matiin – Dan sekiranya meng-ada-adakan sebagian dari perkataan dengan atas nama Kami. Niscaya Kami akan menangkap dia dengan Tangan kanan. Kemudian, kami potong urat nadi lehernya.

Apakah tangan-tangan MUI, Rabithah dan OKI merasa lebih kuat daripada Tangan Tuhan untuk mencengkeram Nabi yang dikatakan oleh mereka sebagai palsu itu?? Padahal Tuhan telah berfirman juga (69:47) Dan tiada seorang pun di antaramu yang dapat mencegahnya!

Pertanyaannya adalah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau menggunakan pikiranmu, menggunakan akal sehatmu?

Baca juga ayat-ayat lainnya yang maksudnya serupa Al Mu’min (40:28), Al Ahqaaf (46:8).

Jadi kalau sudah dibuktikan Misinya ini sukses di seluruh dunia untuk selama lebih dari 122 tahun, dan sudah berdiri di hampir 200 negara di dunia, walaupun MUI, MenAg. RI, OKI dan Rabithah tidak menyukainya, bahkan menetang dan menolaknya, apakah ini artinya??? Ahmadiyyah Zindabad!!!

Pertanyaannya adalah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau menggunakan pikiranmu, menggunakan akal sehatmu?

Mersela, 14-4-2011