Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Februari 2008

KHUTBAH JUM'AT 22-8-2008; SHALAT yg HAKIKI

KHUTBAH JUM’AT HADHRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V aba.
Tanggal 22-2-2008 dari Mesjid Bait-ul-Futuh, London , United Kingdom
Shalat yang Hakiki (2)

Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba. menilawatkan ayat dari Kitab Suci Al-Qur-aan: Wa laa taziru waaziratuw widzro ‘ukhraa wa in tad’u mutsqalatun ilaa himlihaa ...

Surah Faathir (35) ayat 19:
Dan tiada jiwa berbeban dapat memikul beban orang lainnya; dan jika jiwa berbeban berat berseru kepada yang lainnya untuk memikul bebannya, tidak akan dipikul sedikit pun daripadanya, walaupun ia itu kaum kerabatnya sendiri. Engkau hanya dapat memperingatkan orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan menyendiri dan mendirikan Shalat. Dan barangsiapa mensucikan dirinya, maka ia hanyalah mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah-lah segala sesuatu itu akan kembali.

Khutbah hari ini juga berkaitan dengan topik dari khutbah yang lalu yakni katakanlah tentang Shalat. Tadinya saya berpikir untuk memulainya dengan subyek yang baru, tetapi ketika saya berpikir lagi saya merasa bahwa pada hari ini pun subyek ini masih perlu dilanjutkan. Ada beberapa poin yang belum tersajikan pada khutbah yang lalu itu, padahal poin-poin itu sangat esensial untuk disampaikan. Perintah tentang sembahyang – Shalat ini – adalah sebuah perintah yang sangat fundamental, yang dengan tanpa Shalat ini maka kita tidak dapat berpikir atau melihat sama sekali apa agama itu. Kitab Suci Al-Qur-aan telah menekankan tentang pentingnya dari Shalat ini, menekankan dengan kuatnya bahkan di permulaan dari Kitab Suci Al-Qur-aan, di dalam Surat-ul-Baqarah setelahnya beriman kepada Allah butir keduanya yang disebutkan di sana adalah perintah untuk mendirikan Shalat. Bahkan sebelumnya itu pun, di dalam Surat-ul-Faatihah iyyaaka na’ budu ketika kalimat ini dikatakan maka ibadah Shalat pun sudah disebutkan di sana, yaitu bahwa, Ya Allah, kami menyembah kepada Engkau dan kami berdoa untuk itu. Oleh karena itu semoga Engkau memberi taufik dan kemampuan kepada kami untuk bersembahyang ini karena kami ingin berdoa, jadi semoga Engkau senantiasa memberikan kemampuan kepada kami untuk dapat terus berdoa dan melakukan Shalat dan semoga agar kami dapat memenuhi janji ini yang sudah dibuat oleh setiap orang Muslim. Kami harus memenuhi tujuan tersebut yang adalah merupakan maksud dari diciptakannya manusia. Oleh karena itu, Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. juga telah menekankan dengan besar-besaran atas perintah ini di mana beliau bersabda bahwa Shalat itu adalah tiangnya dari iman; di mana untuk kokohnya dari bangunan adalah karena tiang-tiang tersebut. Jadi demikian pula halnya dalam hal agama. Maka, sekarang tiang-tiang yang dengan itu agama ini ditegakkan, adalah sangat pentingnya akan tiang-tiang ini, karena jika tidak demikian maka akan terjadi keretakan pada bangunan dari iman atau keimanan ini.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyebutkan dalam statemen-nya, beliau telah menjelaskannya dari ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur-aan dan sabda-sabda Nabi saw. dalam hadits-hadits. Penjelasan yang telah beliau berikan ini sedemikian penting dan sedemikian rincinya sehingga setiap orang Ahmadi itu harus mendengar penjelasan beliau ini dan dengan membacanya dan mendengarkan atas perintah ini beserta penjelasannya tersebut, maka hanya dengan cara demikianlah kami itu dapat benar-benar dapat menghargai akan manusia yang sempurna itu dan murid yang sempurna itu dan betapa indahnya kehidupan mereka ini!
Jadi, dengan memperhatikan semua poin-poin ini di dalam pikiran di mana juga ada beberapa orang yang menulis surat kepada saya minta agar menekankan pada poin ini. Juga Sekretaris Tarbiyat UK dan juga Sadr Lajnah di America mereka mengirimkan laporannya dan dari fakta yang mereka sebutkan dalam laporan di sana, hal ini memberikan isyarat bahwa keadaannya adalah sangat mengkhawatirkan dan gambaran-gambaran yang demikian itu muncul sebagai akibat dari informasi di UK ini. Apakah tidak mengerti bahwa dari yang disebutkan di UK atau USA itu apakah di negeri-negeri lainnya tidak ada situasi yang sedemikian ini, apakah mereka itu sudah melaksanakan perintah ini atau apakah standard mereka itu sudah sangat tingginya? Sebenarnya standard tinggi yang menjadi objektif kami dan yang harus menjadi objektif kami bahwa hal tersebut tidak terlihat di dalam laporan dari sesuatu Negara. Ada diperlukan banyak usaha di dalam perkara ini, beberapa pengurus Jama’at mereka menulis dalam laporannya dengan tanpa banyak berpikir dan banyak merenungkannya.
Sesungguhnya Shalat ini adalah satu hal yang fundamental dan satu perkara yang penting, yang tidak boleh kita abaikan begitu saja, atau berkompromi bahwa kami itu harus cukup bergembira begitu saja dengan keadaan tersebut. Sebenarnya usaha dan upaya yang maksimal harus dikerjakan oleh setiap anggota Jama’at yang menamakan dirinya seorang Ahmadi bahwa ia itu harus menunaikan Shalatnya dan mengerjakan 100 % Shalatnya. Ia harus meraih standard penunaian 100 % Shalatnya dengan tanpa kecualinya.
Betapa pun juga saya berpikir, bahwa saya itu harus membawakan subyek ini satu kali lagi dengan mengambil rujukan dari ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur-aan dan hadits Y.M. Nabi Muhammad saw. serta pernyataan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahwa saya harus sekali lagi mengingatkan kepada setiap orang mengenai institusi Shalat ini. Sebagaimana yang saya lihat, Shalat ini adalah perintah Allah yang sangat penting dan fundamental di mana setiap Ahmadi itu harus 100 % mengamalkannya. Jika tidak demikian, sebagaimana yang saya katakan bahwa keutuhan dari keimanan kita itu akan menampakkan keretakan jika kami itu tidak melaksanakan Shalat. Sekarang kita itu sudah sedang mendekat pada saat seabadnya dari Khilafat di mana hati kami itu dipenuhi dengan rasa syukur kepada Allah Taala dan kami pun akan merayakan peristiwa ini; hal yang terpenting adalah untuk menaruh perhatian pada artikel dari keimanan dalam Islam yang paling terpenting ini. Karena janji dari Khilafat itu diberikan kepada orang-orang yang beriman yang menunaikan dan menaruh perhatian penuh atas institusi dari Shalat ini. Jadi, oleh karena itu, dalam terminology yang hakiki kita itu harus bersyukur atas karunia kebajikan yang besar dari Khilafat yang telah Allah Taala berikan kepada kami ini. Jadi, bahwa kami itu harus bisa memperoleh manfaat dan keberkahan dari karunia kebajikan yang besar dari Allah Taala ini. Maka, dalam hal demikian ini kami harus menaruh perhatian khusus atas institusi dari Shalat ini, dan ini adalah poin yang sangat esensial bagi setiap dan semua Ahmadi. Saya katakan satu kali lagi bahwa setiap orang itu harus membuat analisa pribadinya dan setiap orang harus memeriksa dirinya sendiri bahwa kami itu sudah menunaikan Shalat sebagaimana yang diperlukan dan kami sudah dapat meraih standard dari Shalat yang Allah dan Y.M. Rasulullah saw. ingin lihat dari kita. Allah Taala berfirman bahwa kepada siapa pun yang engkau membuat sekutu dengan-Ku, dia itu tidak akan dapat memenuhi keperluanmu; dia tidak akan dapat menyediakan keperluan tersebut.
Ayat yang saya baca itu, Allah Taala berfirman kepada orang yang musyrik bahwa patung berhalamu itu, ia mendengar pun tidak kepada mu apalagi untuk menyediakan keperluan kamu. Tetapi pada Hari Pembalasan itu, mereka akan sama sekali memungkiri perkara ini yang engkau gantungkan kepada mereka itu. Allah Taala adalah Maha Kuasa dan Maha Perkasa di mana semua umat manusia akan selalu tergantung kepada Allah Taala. Jadi, semua perkara ini harus benar-benar menarik perhatian bagi semua orang-orang itu bahwa mereka itu harus bersujud dan berserah diri kepada Allah Taala Yang adalah Tuhan-nya sekalian alam semesta. Di dalam ayat ini juga Allah Taala membangunkan orang-orang yang takut kepada Allah Taala bahkan ketika mereka itu sedang sendirian atau sedang tidak ada, juga dikarenakan oleh rasa takut itu mereka mengerjakan Shalat ini. Dikarenakan oleh Shalat-shalat inilah dan kemudian karena rasa takut kepada Allah Taala-lah lalu mereka itu berusaha untuk mensucikan diri mereka. Jangan sampai ada yang punya pikiran bahwa kemalasan dalam Shalat itu tidak akan banyak berarti dan tidak akan banyak efek buruknya.
Ingatlah bahwa setiap saat orang itu akan pergi menghadap Allah Taala dengan segala amal perbuatannya. Amalan dari orang lain tidak akan bermanfaat bagi orang yang lainnya. Oleh karena itu jika Allah Taala berfirman di sini bahwa tidak ada orang yang memikul beban orang lainnya, betapa pun dekatnya hubungan keluarga dari orang itu. Semua hal ini memperingatkan semua kita akan kelemahan dari orang bahwa kami itu harus selalu melihat kehidupan akhirat itu berada di hadapan mata kita dan hadir di dalam pikiran kita yang selanjutnya dengan kepercayaan yang kokoh bahwa Allah Taala adalah Pemilik dari Hari Pembalasan dan kepada-Nya-lah kami semua itu akan kembali. Jadi, di dalam perkara ini, kami diingatkan akan pensucian dari jiwa kami, dari hati kami dan dari pikiran kami. Cara terbaik untuk mendapatkan pensucian ini adalah dengan mengerjakan Shalat. Penegakan dari institusi Shalat ini bagi orang yang mengerjakan hal tersebut adalah mereka orang-orang yang benar-benar memiliki keimanan kepada yang Ghaib. Orang yang memiliki rasa takut kepada Allah Taala yang ghaib bilamana mereka itu sedang berada jauh atau sedang sendirian, inilah sebenarnya standard dari ke-shalehan itu. Jadi, setiap Ahmadi itu harus selalu mencamkan di dalam pikirannya bahwa dengan ucapan di mulut saja bahwa kami itu beriman kepada Allah Taala dan kami percaya kepada Nabi Allah yang pembawa Syariat terakhir, bahwa kami itu percaya kepadanya dan kepada seseorang yang datang di zaman akhir yakni Hadhrat Masih Mau’ud a.s. , yang kami pun mempercayainya, yang demikian itu tidaklah cukup begitu saja. Kecuali dan hanya jika kami itu memiliki rasa takut kepada Allah di dalam hati kami, kecuali jika rasa takut kepada Allah itu ada di sana dan rasa takut ini sedemikian rupa yang seseorang itu sedemikian dekatnya satu sama lainnya, sehingga ia orang itu tidak boleh merasa tersinggung atau marah kepadanya. Bilamana kecintaan itu semata-mata demi untuk ridha Allah dan kecintaan ini bertambah besar maka lingkup ke-tidak-senangan Allah juga akan bertambah besar; maka kalian itu diperingatkan akan kewajibanmu yang lebih besar. Kalian diingatkan akan tanggung-jawab untuk lebih berhati-hati dalam mengerjakan Shalat, Shalat-shalatnya yang lebih dawwam. Kalian diingatkan tanggung-jawabnya untuk mengerjakan Shalat sebagaimana mestinya, hanya dengan bai’at begitu saja bukanlah satu jalan untuk pengampunan.
Di dalam hadits disebutkan, Yunus mengatakan bahwa Hadhrat Abu Hurairah r.a. mengatakan kepadaku bahwa Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. mengatakan bahwa dari antara amal perbuatan orang-orang itu butir pertama-tama yang akan dimintai pertanggung-jawabannya adalah mengenai Shalat. Y.M. Rasulullah saw. telah mengatakan bahwa Tuhan kami Maha Agung Maha Mulia, ia akan berkata kepada Malaikat-malaikat – walaupun Dia sudah Maha Tahu segalanya – kalian lihatlah dan perhatikanlah kualitas Shalat-nya dari hamba-hamba-Ku, apakah ia sudah memenuhi persyaratan? Apakah ia sudah menyempurnakan Shalatnya? Jika Shalatnya itu sudah sempurna maka amal perbuatannya akan dituliskan. Jika ada sesuatu kelemahan di dalam Shalat fardhunya maka Dia akan berkata lihat juga amalan lainnya apakah ada ibadah sunnah lainnya yang telah ia kerjakan. Jika ia telah mengerjakan beberapa ibadah sunnahnya lalu Allah Taala akan mengatakan bahwa jika ada kekurangan di dalam Shalat-nya, maka ini akan diperbaiki dengan tambahan Shalat-shalat nawafil ini, Shalat tambahan; amalan lainnya baru akan diperiksa nanti setelahnya Shalat ini. Jadi, oleh karena itu, setelahnya orang meninggal itu, ujian yang pertama, pemeriksaan yang paling pertama sekali, yang orang itu harus melaluinya adalah pertanyaan tentang Shalat. Jadi, orang itu harus memperhatikan dan menyadari betapa mereka itu harus sangat berhati-hatinya tentang Shalat ini. Allah Taala adalah Maha Pemurah terhadap mahluk-Nya, Dia mengatakan lihatlah akan Shalat sunnahnya dari orang ini; jika terdapat Shalat sunnahnya, maka ini juga akan ditambahkan pada kategori dari Shalat-shalat fardunya, kekurangannya akan dilengkapi dan akan dibuat menjadi bagus. Jadi, di dalam penunaian Shalat itu, manusia yang sangat lemah ini, ia harus berpikir bahwa kadang-kadang barangkali jika Shalat fardhunya itu tidak dikerjakan sebagaimana yang semestinya, maka ia itu harus mengerjakan beberapa Shalat sunnah. Inilah cara di mana seorang Mukmin – seorang yang beriman – itu harus senantiasa mengerjakannya, sehingga ia itu akan dapat meraih kecintaan yang maksimum dari Allah Taala dan agar ia pun dapat bersyukur kepada Allah Taala yang telah memberikan banyak karunia kebaikan kepada kami; terutamanya pada orang-orang Muslim Ahmadi, betapa banyaknya keberkahan-keberkahan dari Allah Taala ada di sana.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan kami adalah anggota dari Jamaat, kami itu merupakan sebuah ikatan dalam kekuatan. Kami selalu melihat manifestasi dari pertolongan dan bantuan Ilahi. Kami melihat manifestasi dari kecintaan Allah Taala. Jadi, jika demikian situasinya ini, maka perkara yang paling terpenting yang kalian harus diingatkan dan harus kalian ingat adalh dalam hal Shalat itulah; jangan hanya melihat pada dunia ini saja, tetapi juga untuk Hari Akhirat. Inilah perkara yang dapat diambil faedahnya di sana. Hal pertama dan yang terpenting yang akan diminta pertanggung-jawabannya adalah pemeriksaan tentang Shalat ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Jadi, oleh karena itu setiap Muslim Ahmadi itu, jangan hanya memperhatikan Shalat fardhunya saja, tetapi ia pun harus mengerjakan Shalat sunnah – Shalat tambahan-, di mana terdapat kekurangan maka ia dapat melihat manifestasi dari Kemurahan Allah Taala, Allah Taala dengan Kemurahan-Nya itu akan memelihara dia dibawah-Nya. Bilamana seseorang itu mengerjakan Shalat sunnah, maka biasanya ia itu berada sendirian dan tidak ada orang lain di sana. Demikianlah sebenarnya dan seharusnya kondisi dari seorang Muslim Ahmadi itu.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya dari Shalat itu bahwa Shalat itu merupakan satu kewajiban, kewajiban bagi setiap Muslim. Dalam hadits dikatakan bahwa kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. seseorang datang dan menerima Islam, mereka mengatakan Ya Rasul Allah dapatkan Tuan mengambil tanggung-jawab Shalat itu dari kami, karena kami adalah orang yang sibuk bekerja seperti sekarang pun orang-orang itu mengatakan yang sama bahwa karena kami adalah orang-orang yang sibuk bekerja dan kami itu sibuk dalam transaksi dan segala macam pekerjaan dan kami pun tidak terlalu yakin akan kebersihan dari pakaian kami karena kami mengurus binatang dan hewan? Inilah dua alasan yang mereka sebutkan bahwa kami ada bisnis yang harus dikerjakan dan juga pakaian kami itu tidak terlalu bersih, sehingga kami itu tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan Shalat! Y.M. Rasulullah saw. menjawab bahwa jika di sana itu tidak ada Shalat, lalu apa lagi yang ada di sana? Bagaimana kalian dapat mengatakan iman jika tidak ada Shalat di sana? Apakah Shalat itu?
Shalat itu berarti bahwa engkau bersujud menyerahkan diri dengan perasaan dan sentiment kalian serta kesetiaan dan keteguhan kalian di hadapan Allah Taala, berdiri di hadapan Allah Taala dengan segala kerendahan diri yang serendah-rendahnya. Dengan kerendahan diri ini engkau berdiri di hadapan Allah Taala untuk memohonkan bagi semua keperluanmu dari Allah Taala. Untuk semua keperluanmu itu engkau mintalah dari Allah Yang Maha Kuasa, seperti seorang pengemis. Kadang-kadang engkau memuji-muji kepada orang yang engkau mintai itu, kadang-kadang mengagung-agungkan kedudukan-nya yang megah dan tinggi dari orang tersebut yang kepadanya engkau itu meminta. Jika hal ini tidak ada di dalam keimanan itu, perkara ini tidak ada di dalamnya, maka agama yang macam apakah itu?
Manusia selalu tergantung pada berbagai macam hal dan ia menggantungkan diri pada tugas dalam mencari ridha Allah Taala. Ia akan selalu mencarinya untuk itu karena kekuatan yang diberikan oleh Dia kepadanya tidak dapat melakukan semuanya itu sama sekali. Ya Allah Engkau anugerahkanlah kekuatan ini bahwa kami itu harus merasa senang dengan Engkau dan Engkau pun akan ridha dengan kami dan jika kami memperoleh ridha dari Allah maka kami memiliki rasa takut kepada Allah Taala. Jika kami itu melewati kondisi ini, maka itulah sebenarnya keadaan dari Shalat ini. Kemudian beliau mengatakan orang yang ingin melarikan diri dari Shalat maka lalu apa kelebihannya dibandingkan dengan hewan? Seperti halnya manusia, hewan ini makan dan tidur, itulah tipenya dari hewan itu dan bukannya manusia. Orang yang tidak memperhatikan akan tanggung-jawabnya maka sebenarnya ia itu menjadi orang yang tidak beriman. Jadi, oleh karena itu Shalat bagi seorang Mukmin itu adalah satu perkara yang harus diperhatikan, yang harus dijaga dengan baik; inilah sebenarnya yang membedakan antara seorang Mukmin dengan seorang yang tidak beriman itu. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengatakan bahwa jika ibadah itu tidak ada di sana, maka apa perbedaannya antara seorang manusia dengan hewan itu? Allah Taala berfirman di dalam Kitab Suci Al-Qur-aan di mana Dia telah menyebutkan keburukan-keburukan dari orang-orang yang tidak beriman. Di pihak lain Allah Taala juga telah menyebutkan bahwa orang-orang beriman itu sama sekali terbebas dari kelemahan-kelemahan ini karena mereka adalah orang-orang yang mengerjakan Shalat. Allah Taala berfirman: Illal mushalliin ……

Surah Al-Ma’aarij (70) ayat-ayat:
23. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
24. yang mereka itu dawwam dalam mengerjakan shalatnya.

Ada disebutkan sebelumnya bahwa orang-orang lain itu memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, kecuali orang-orang yang mengerjakan Shalat. Mereka orang-orang yang sangat dawwam dalam mengerjakan Shalatnya maka keadaan mereka itu sama sekali berbeda. Jadi satu kekecualian dibuat dalam hal orang-orang yang mengerjakan Shalat dengan secara regular. Semua komitmen yang berkenaan dengan urusan dunia tidak menghalangi mereka dalam penunaian Shalatnya, dan mereka terus dawwam saja dalam Shalatnya itu. Orang-orang yang memiliki standard ahlak yang tinggi dan mereka yang beriman kepada Allah memang mereka itu merasa takut akan hukuman dari Allah Taala. Jadi, inilah kualitas dari orang-orang yang benar-benar beriman percaya kepada Allah Taala, di mana mereka itu memperhatikan orang-orang lainnya dan memiliki rasa takut kepada Allah di dalam hatinya. Jadi inilah hal-hal dari orang-orang yang benar-benar mendirikan Shalat. Allah Taala menerima Shalat tersebut yang merupakan Shalat yang hakiki. Ada orang-orang yang mengerjakan Shalatnya dengan sangat dawwam, tetapi orang-orang itu merasa takut terhadap orang-orang ini. Jadi, Allah Taala telah menunjuk dengan tepat orang-orang yang mengerjakan Shalat ini yang adalah sangat esensial, tetapi mereka itu harus mendirikan Shalat-nya sedemikian rupa yang dapat meraih ridha dari Allah Taala. Mereka itu jangan hanya untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa kami itu mengerjakan Shalat dan janganlah mereka ini mengerjakan Shalat sedemikian yang dibayang-bayangi oleh komitmen duniawi. Shalat ini harus dinomor-satukan diberikan perioritas lebih tinggi dari segala macam urusan dunia dan urusan pekerjaan duniawi. Seseorang itu haruslah sangat dawwamnya dan harus memiliki rasa takut kepada Allah di dalam hatinya. Kemudian sebagai efek dari Shalat-shalat ini, seluruh masyarakat Muslim dan hubungannya satu sama lain akan ada di sana dan menjadi saksi akan kualitas yang tinggi dari Shalatnya orang-orang Mukmin ini. Orang-orang ini janganlah punya pikiran di dalam hatinya bahwa orang yang satu ini sudah sangat dawwam di dalam Shalat-nya, karena Kitab Suci Al-Qur-aan menyebutkan tentang orang-orang yang rajin Shalat untuk memperihatkan kepada orang-orang agar orang mengira bahwa saya ini sudah sangat dawwam dalam Shalat. Namun kami, dengan karunia kemurahan Allah, kami sudah memperoleh keberkahan-keberkahan ini dengan menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di zaman ini; kami sudah sangat menyadari tentang Islam sejati dan kami mengerti akan Islam sejati yang diperkenalkan dan diberikan oleh Y.M. Nabi Muhammad, saw. di dalam bentuknya yang sejati, ajaran yang diberikan kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. di mana Allah Taala berfirman di dalam Kitab Suci Al-Qur-aan: Fa wailul lil mushalliiin,

Surah Al Maa’uun (107) dalam ayat-ayat:
5. Maka celakalah bagi orang yang Shalat,
6. yaitu, orang-orang yang lalai dalam Shalatnya
7. Orang-orang yang berbuat riya, yang ingin dilihat oleh orang.

Bahwa rusaklah mereka orang-orang yang melakukan Shalat tetapi mereka lalai dalam Shalat-nya itu, mereka lalai dalam tanggung-jawabnya. Orang-orang yang melakukan Shalat hanya untuk show atau riya, kerusakan akan menimpa mereka yang mengerjakan Shalat tetapi mereka tidak dengan sepenuh perhatian, orang-orang yang Shalat hanya ingin memperlihatkannya kepada orang-orang. Jadi ayat ini dengan sangat jelasnya menyebutkan bahwa ada orang-orang yang melakukan Shalat, di satu pihak tidak diragukan lagi, tetapi Shalat-nya itu tidak dikerjakannya demi untuk Allah. Tetapi mereka melakukan Shalat hanya karena ada keterpaksaan terhadap masyarakat yang ada di lingkungannya, jadi mereka itu melakukan Shalat-nya hanyalah untuk show. Jadi mereka ini memiliki kelemahan dan kekurangan, ini yang tidak mereka perhatikan. Kualitas dari orang yang dawwam di dalam Shalat-nya, ahlaknya harus tinggi dan suci; standard ahlaknya harus tinggi dan ia harus berusaha untuk mengatasi kelemahannya. Di dalam ayat-ayat ini ada perkara yang seharusnya membuat mereka ini merasa ada bahaya di sana. Tidak demikian halnya dengan para Sahabat yang Shalat-nya mereka itu beruntung tidak seperti itu. Tidak seperti demikian halnya atau standard ahlaknya mereka itu tidak tinggi seperti halnya seorang Mukmin sejati. Di zamannya Y.M. Nabi Muhammad saw. jika kami melihat ke sana ada beberpa orang yang munafik; orang-orang yang ingin menipu orang-orang beriman dan menipu orang-orang lainnya. Tentang mereka ini Allah Taala berfirman: …… Wa ‘idzaa qaamuu ‘ilaash shalaati qaamuu kusaalaa ……
Surah An Nisaa’ ayat 143:
…… Dan, apabila mereka berdiri untuk mengerjakan Shalat, mereka berdiri dengan malasnya, ….

bahwa jika mereka itu berdiri untuk Shalat maka mereka berdiri dengan sangat malasnya, berdiri dengan lunglainya dan terdapat kelemahan ahlak di dalamnya atau barangkali seperti keadaan orang-orang di zaman akhir, yang tentang mereka ini Y.M. Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa …… masaajidahum ‘aamiratun wa hiya kharaabu minal hudaa, bahwa mesjid-mesjid mereka sangat diramaikan orang-orang, namun kosong dari petunjuk …. (Hadits dari Al Baihaki dan Ali bin Abi Thalib), bahwa Shalat mereka itu sebenarnya akan menjadi kutukan bagi orang-orang ini.
Kami sungguh-sungguh amat beruntung bahwa kami berada di antara orang-orang akhirin dari zaman yang akhir ini, di mana Nabi yang besar, Nabi terbesar pensuci orang-orang yakni Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., beliau telah memberikan khabar suka tentang zaman akhirin ini yang mengenai hal itu Allah Taala telah menyebutkannya bahwa mereka ini berhubungan dan dihubungkan dengan orang-orang yang dari zaman awalin dari Islam. Jadi kemudian maka betapa besarnya tanggung-jawab kita itu bahwa kita itu jangan sampai lalai di dalam Shalat-shalat kami. Tanggung-jawab terhadap Allah dan tanggung-jawab terhadap umat manusia janganlah sampai lalai dalam hal ini. Setiap saatnya kami harus berusaha untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang telah diperingatkan tentang bahayanya oleh Allah Taala kepada kita. Allah Taala dengan segala Kemurahan dan Kasih-sayang-Nya, Dia telah memisahkan kami dari orang-orang tersebut, orang-orang yang dalam keseluruhan keadaannya mahrum dari petunjuk. Jadi, dengan rasa kebersyukuran yang besar kepada Allah Taala adalah diperlukan bahwa kami itu harus senantiasa bersujud dan berserah diri kepada Allah Taala, sehingga kita akan mendapatkan keberkahan-keberkahan ini. Maka oleh karena itu kita haruslah dawwam di dalam Shalat-shalat kami dan harus senantiasa sangat suci bersih demi untuk Allah. Jika keadaannya memang demikian, maka kita dapat menjaga dan melindungi diri dari peringatan yang disebutkan di sana. Ini adalah hal yang sedemikian penting dan urgentnya bahwa tidak boleh terjadi kemalasan apa pun di dalam Shalat-shalatnya semua orang kita ini; kita harus membuang kemalasan ini dari Tuhan dan membuangnya jauh dari iman. Jadi, agar supaya dapat meraih kedekatan kepada Allah Taala maka kami itu harus mengikuti jalan ini dengan sangat jujurnya, dengan sangat hati-hati dan dengan sangat rajinnya kami harus mengikuti jalan ini. Kami harus benar-benar sangat memperhatikan akan Shalat-shalat kami ini.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa setelahnya laa ilaha illalah maka perhatian ditujukan pada Shalat, yang tentang pentingnya Shalat ini Kitab Suci Al-Qur-aan telah menyebutkannya berkali-kali di sana. Dikatakan: Fa wailul lil mushalliin. Alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun (Ayat 107:5-6) bahwa orang-orang yang akan dihancurkan ialah orang-orang yang lalai dan tidak memperhatikan kepentingan hakikinya dari Shalat. Haruslah dimengerti bahwa Shalat ini merupakan satu pertanyaan ketika seorang Mukmin sejati hadir di hadapan Allah Taala nanti dengan penuh kegelisahan dan ke-khawatirannya. Kecuali jika Allah Taala telah mensucikan seseorang, maka tidak ada orang yang dapat disucikan. Kecuali dan sampai Allah Taala membawa orang tersebut pada kedekatan kepada-Nya dan membuat jalinan perhubungan dengan-Nya, maka tidak ada orang yang dapat menjalinkan hubungan tersebut dengan Allah Taala. Hanyalah dan kecuali Allah Taala telah membuka jalan menuju kepada Allah Taala maka tak ada seorang pun yang dapat melakukannya sendiri. Ada banyak bermacam rantai dan ikatan yang menutupi dan mengikat orang di mana orang itu berusaha untuk melepaskan dirinya tetapi ia tidak akan dapat melakukannya. Walaupun ada keinginan untuk menjadi suci tetapi jiwa yang bersalah selalu membuatnya terlibat dalam hal ini. Pensucian ini adalah pekerjaan dari Allah Taala dan tidak ada seseorang pun yang dapat mensucikan kalian. Untuk menciptakan orang yang shaleh maka Allah Taala telah menetapkan Shalat ini. Apakah Shalat itu? Inilah satu Shalat yang disajikan dengan perasaan penuh kesakitan yang mendalam dengan keadaan yang penuh menderita dengan panasnya keinginan yang besar yang dihadapkan kepada Allah Taala. Jadi, semua pikiran buruk, prasangka buruk dan segala godaan itu harus dibuang jauh. Hubungan yang sejati itu dan kecintaan sejati kepada Allah Taala dapat dikaruniakan di mana orang itu akan mendapatkan taufik dan kemampuan untuk dapat mengikuti perintah dari Allah Taala. Kata Shalat juga menunjukkan bahwa Shalat ini bukanlah sekedar mengucapkannya dengan lidah, tetapi haruslah dengan perasaan yang penuh kegelisahan, dan penuh ke-khawatiran disertai tangisan yang ada bersama Shalat ini. Dengan perasaan keinginan hati sedemikian yang harus ada di sana, semoga Allah Taala memberikan kemampuan kepada kami untuk dapat mensucikan dan memperindah Shalat-shalat kami dengan cara ini. Kita harus sama sekali menghindarkan diri dari segala macam ketertarikan pada hal yang duniawi.
Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyebutkannya bahwa kami itu tidak dapat mengerjakannya dan kami tidak dapat melepaskan diri dari bujukan dan godaan duniawi ini, karena di luar kemampuan kami atau hanya dengan usaha kami maka kami tidak akan dapat mensucikan diri kami atau tidak dapat meraih ridha dari Allah Taala dikarenakan oleh perbuatan kami dan usaha kami saja. Satu-satunya cara hanyalah Shalat itulah. Jadi, jika kami itu ingin termasuk di dalam orang-orang yang beruntung mendapatkan kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, maka semua kita itu harus berada di antara orang-orang yang melakukan Shalat secara regular dan Shalat yang hanya demi untuk Allah. Inilah yang dapat membuat sebuah perbedaan antara kami dengan orang-orang lain itu. Inilah perkara yang dapat membuat kita menjadi dekat dan lebih dekat lagi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Allah Taala berfirman di dalam Kitab Suci Al-Qur-aan: Qad ‘aflahal mu’minuun. Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’uun.

Surah Al Mu’minuun (23) ayat-ayat:
2. Sungguh telah berhasillah orang-orang Mukmin,
3. yaitu orang-orang yang khusuk di dalam shalat mereka.
Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah orang-orang yang sukses, yang berhasil, orang-orang beriman yang memperlihatkan komitmen dan dedikasi mereka yang tinggi dalam Shalat mereka. Setelahnya itu Allah Taala menyebutkan begitu banyaknya kualitas dari orang-orang Mukmin ini. Hal yang paling pertama yang disebutkan di sini adalah bahwa mereka itu mengerjakan Shalat, mereka mendirikan Shalat dengan penuh dedikasinya kepada Allah Taala. Mereka itu adalah sama sekali berada dalam kesopan-santunan yang tinggi yang mereka melakukannya berdasarkan pondasi dalam hatinya. Untuk mendapatkan keberkahan di dunia ini dan untuk di Akhirat nanti, persyaratannya yang pertama adalah bahwa kita harus menunaikan Shalat hanya demi untuk Allah Taala. Sebagaimana yang sudah dikatakan, sebelumnya ada rasa takut kepada Allah dan untuk mendapatkan kecintaan dari Allah itu dan untuk meraih lebih banyak lagi kecintaan Allah dan meningkatkannya kecintaan serta ridha dari Allah Taala, Shalat-shalat ini harus ditunaikan dengan tujuan ini. Inilah sebenarnya tujuan hidup dari orang itu, orang akan mendapatkan apa yang ia perlukannya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa tahap pertama dari kerohanian seorang Mukminin ini adalah mendirikan Shalat dengan perasaan gelisah dan kekhawatiran yang tinggi serta rasa takut kepada Allah Taala di mana ia itu sangat merendahkan dirinya dan sangat dedikasinya, sangat bersujudnya; dengan sangat tingginya rasa kerendahan hati dan kegelisahan serta kekhawatiran dari jiwanya, maka keadaan ketakutan ini, jika ia sudah melalui jalan ini, itulah hal yang jika Shalat ini dipersembahkan dengan cara demikian, maka Allah Taala mengatakan bahwa inilah orang-orang yang berhasil itu. Bukan saja dalam Shalat, tetapi di dalam zikir mengingat Allah Taala pun mereka ini selalu sangat merendahkan diri dan dengan merendahkan diri ini mereka memanggil kepada Allah dan memohon kepada Allah Taala dengan segala kesemangatan dan kegemparan dalam hati mereka karena rasa takut mereka kepada Allah Taala di dalam hatinya. Jadi, inilah keadaan yang sudah dikatakan di dalam kata-kata ini bahwa hal ini sangatlah essential di mana persyaratan pertama ada disebutkan di sini untuk menciptakan suatu keadaan spiritual dari orang yang penuh kerohanian. Untuk mempersiapkan keadaan spiritual itu, inilah persyaratan pertama yang ada disebutkan di sini. Ini merupakan benih yang ditanamkan pada hati orang seperti benih yang ditanam ke dalam tanah. Shalat yang dilakukan 5 kali dalam sehari ini, jika ada indiksi bahwa ia tidak dapat menghindarkan diri dari ego dan pengkejaran pada duniawi, maka ia itu tidak akan dapat menunaikan Shalat yang hakiki.
Shalat bukanlah hanya berarti bahwa kita itu harus melakukannya melalui berbagai posisi dari Shalat. Shalat yang sebenar-benarnya Shalat adalah yang benar-benar dirasakan oleh hati dan jiwanya, yang harus bersujud kepada Allah dalam keadaan merendahkan diri yang serendah-rendahnya. Sebanyak mungkin jika orang itu dapat menangis di hadapan Allah Taala dan jika orang itu dapat menangis di hadapan Allah Taala maka ia harus melakukannya.
Bilamana hal ini sudah dikerjakan maka segala keburukan di dalam hati itu akan sama sekali terbuang dan terhapus jika orang itu sudah dawwam dalam melakukannya demikian, kemudian orang ini akan dapat melihat baik di waktu malam hari atau di siang hari ia dapat merasakannya ada satu berkas cahaya nur datang dan turun ke dalam hatinya. Semua keburukan itu akan dihapuskan dan Allah Taala-lah satu Wujud Yang memberikan keberkahan-keberkahan ini kepada orang-orang. Shalat itu harus dikerjakan secara regular dan dawwam dan tidaklah benar jika Anda melakukan Shalat pada saat itu dan kemudian Anda meninggalkan dan melupakannya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa perasaan ini yang membujuk orang untuk melakukan dosa, kana dihilangkan, karena untuk keburukan-keburukan ini Allah Taala telah menciptakan obatnya untuk itu; penisilinnya adalah Shalat itulah. Allah Taala berfirman: Wa ‘mur ahlaka bis-shalaati wash thabir ‘alaihaa. Laa nas-aluka rizqan nahnu narzukuka wal’aaqibatu lit-taqwaa.

Surah Taa Haa (20) ayat 133:
Dan suruhlah keluargamu untuk Shalat dan tetaplah dalam mengamalkannya. Kami tidak meminta kepada engkau rezeki, Kamilah Yang memberi rezeki kepada engkau. Dan akibat yang baiklah bagi mereka yang bertakwa.

Engkau perintahkanlah kepada anggota keluargamu untuk Shalat dan lakukanlah hal ini secara regular. Kami itu tidak meminta makanan dari engkau; sebenarnya Kami-lah yang menyediakan segala keperluan untuk kalian itu. Akhir yang baik dan bagus itu ada pada Allah Taala dari orang-orang yang bertakwa. Jadi, inilah perintah dari Allah Taala dan inilah perintahnya bahwa engkau itu harus menaruh perhatian pada Shalat-shalatmu dan juga nasihatkanlah kepada anggota keluargamu agar dawwam dan ini adalah untuk manfaat kalian. Buah dari Shalat ini akan diperoleh di dalam kehidupan ini dan juga kehidupan di Akhirat nanti. Orang-orang yang bertakwa adalah orang yang akan berhasil dengan sukses serta berjaya di hari yang akan datang. Pada kehidupan di sini bagi orang yang bertakwa Dia akan memberikan rezeki dan menyediakan keperluannya dengan jalan sedemikian rupa yang ia tidak dapat membayangkannya. Dia menyediakannya dari sumber-sumber yang tidak diketahui. Jadi, Allah Taala dengan membuat Shalat-shalat ini sebagai kewajiban bukannya seperti meminta pajak. Tetapi sebenarnya Shalat ini adalah sarana untuk memberikan ganjaran kepada orang tersebut dengan keberkahan dari Allah Taala. Untuk setiap ganjaran itu engkau harus mengerjakan sesuatu. Di dalam urusan duniawi kami lihat kami itu harus melakukan beberapa usaha untuk mendapatkan hal-hal ini. Demikian juga halnya seseorang itu harus melakukan beberapa pekerjaan dalam perkara kerohanian. Bilamana Allah Taala itu sedemikian pemurahnya, kemudian orang itu tidak beribadah kepada Allah Taala dan tidak memperlihatkan kecintaannya kepada Allah Taala, ada seseorang yang berkata kepada Y.M. Nabi Muhammad saw. bahwa Allah Taala itu telah memberikan janjinya kepadamu untuk memberikan semua keberkatan dan kebaikan serta karunia-Nya, lalu mengapa Tuan harus berdiri dalam Shalat untuk waktu yang sekian lamanya? Beliau saw. menjawab apakah saya tidak menjadi seorang hamba dari Allah Taala yang bersyukur? Jadi, demikianlah satu contoh yang mulia yang jika kita mengikutinya maka kami pun akan bersyukur kepada kebajikan dan kebaikan yang telah Allah Taala berikan kepada kami. Kondisi dalam kehidupan kami berada di dalam berbagai posisi, berbagai kedudukan ada di sana, jadi apakah hikmah kebijaksaannya yang ada di sana, apa falsafahnya di balik itu? Bagaimana kita dapat mengerti akan hal-hal ini?
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa shalla itu berarti untuk membakar sesuatu, seperti engkau membakar sate. Demikian pula halnya perjuangan dan penderitaan ini adalah bagian penting dari Shalat. Jika perkara ini tidak ada di sana maka engkau tidak akan dapat benar-benar menikmati Shalat ini. Fakta kenyataannya adalah bahwa Shalat itu sebenarnya untuk dipersembahkan dalam arti yang hakiki dari terminology saat itu ketika Shalat dikerjakan dalam kondisi ini, hanyalah yang demikian yang dapat dikatakan sebagai Shalat yang hakiki, Shalat yang dikerjakan dengan segala kondisinya. Jika kondisi ini tidak ada di sana, yang demikian itu bukanlah Shalat. Jika kondisi ini tidak ada di sana, yang seharusnya ada di sana, maka yang demikian itu tidak dapat dikatakan sebagai Shalat yang hakiki. Haruslah selalu diingat bahwa dalam Shalat itu, kata-kata yang engkau ucapkan, gerakan tubuhmu, semuanya harus bersama-sama diperlihatkan. Pertama dikatakan bahwa situasi bagaimana dan kondisi pisik bagaimana yang harus ada di sana itu. Engkau itu harus memenuhi semua kondisi ini. Kemudian beliau mengatakan bahwa hall dan call dari kondisimu dan juga apa yang kau ucapkan dengan lidahmu semua ini harus dilakukan secara bersama-sama. Kadang-kadang dengan melihat potret atau melihat pada seseorang, engkau itu akan dapat menebak bagaimana kondisi dari hatinya. Dari potret yang ditunjukkan, orang dapat menebak bagaimana kondisi dari hatinya. Apa pun yang menjadi kehendak Allah, gambarannya itu sebenarnya ada di dalam Shalat. Ketika seseorang mengucapkan sesuatu doa dari lidahnya ketika sedang Shalat, maka seperti itu pula dengan melalui gerakan dari tubuhnya, ia pun memperlihatkan betapa perasaannya itu. Anggota dari tubuh dan gerakan dari tubuh ada terlihat di sana. Sebagai contohnya, jika seseorang sedang berdiri kemudian ia melakukan tasbih dan tahmid memuji kepada Allah dalam Shalat maka jika setiap orang itu tahu jika seseorang pergi ke hadapan seorang Raja maka orang itu akan menyampaikan sambutan atau kata-kata pujian dalam posisi berdirinya itu. Jadi, posisi berdiri itu adalah untuk menyampaikan pujian mengagungkan Allah Taala. Inilah gunanya posisi berdiri bahwa orang itu harus berdiri di hadapan Allah Taala dan memuji serta mengagungkan Allah. Jika seseorang itu mengerjakan yang demikian, pujian pun dipanjatkan kemudian orang itu mendapatkan perasaan bahwa engkau itu memiliki sebuah kepercayaan dan pendapat yang teguh tentang hal tersebut maka barulah engkau itu bisa memuji dan mengagungkan seseorang itu. Jadi, jika seseorang itu mengatakan Alhamdu lillaah bahwa segala puji bagi Allah maka perlulah bahwa ia akan mengucapkan Alhamdu lillaah hanyalah pada saat ketika ia sudah memiliki keimanan bahwa segala bentuk dari Shalat itu secara mutlak hanyalah untuk Allah Taala. Segala puji dan semua bentuk pujian sebenarnya hanyalah milik Allah Taala. Ketika semua hal ini tertanam dengan kokohnya di dalam hati seseorang, maka inilah satu posisi spiritual dari berdiri; orang itu harus ditegakkan dengan kokohnya pada butir ini. Kemudian dimengerti bahwa seseorang itu berdiri sesuai dengan kondisinya. Jadi, bahwa ia itu haruslah mendapatkan keadaan spiritual ini. Jadi, hatinya akan berdiri dengan sikap posisi berdiri yang sama dengan tubuhnya dan inilah sikap posisi berdiri dari segi kerohaniannya. Ketika ia mengucapkan Subhaana rabbiyal adhiim dalam keadaan ruku’, ketika engkau berserah diri kepada seseorang maka engkau itu kadang-kadang membungkukkan dirimu kepada orang tersebut. Jadi, oleh karena itu persyaratan dari Ke-Agungan dan Kemuliaan Allah Taala itu meminta agar engkau itu berserah diri, membungkukkan diri. Jadi, ketika seseorang itu menyebutkan Ke-Agungan dan Kemuliaan dari Allah Taala maka ia itu akan membungkukkan diri di hadapan Allah Taala dan memperlihatkan perasaan sentiment yang sama dari hatinya dengan menjalani posisi dari ruku’ ini. Setelahnya itu ialah statemen yang ke-3 nya adalah Subhaana rabbiyal ‘alaa. ‘Alaa berarti ketinggian, kemuliaan dan inilah butir yang paling tertinggi dalam menyebutkan derajat tertinggi dari keistimewaan, kebesaran, keagungan dan kemuliaan-Nya. Ini adalah satu kata yang menunjukkan titik tertinggi dari keistimewaannya itu. Ini di dalamnya itu memerlukan sikap posisi badan dalam bersujud karena ketika engkau itu berserah diri kepada Sang Wujud Yang adalah Tertinggi dari semuanya itu maka dengan sendirinya orang itu haruslah sama sekali menyerahkan dirinya dan melakukan sujud. Ketika seseorang itu mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘alaa ia harus dengan serta merta melakukan gerakan bersujud dan secara pisik pun ia itu harus menunjukkan perasaan yang sama dengan apa yang ada di dalam hatinya. Sesuai pernyataan deklarasi ini, yang ia keluarkan dari mulutnya maka ia pun perlu bahwa posisi pisiknya pun memasuki keadaan bersujud. Jadi, inilah hal-hal yang harus berjalan bersama-sama dengan kata-kata ini yang diucapkan oleh mulutnya, yang kemudian sesuai dengan hal tersebut ada 3 macam kondisi pisik yang digambarkan di sana. Lidah yang merupakan satu bagian dari tubuh mengucapkan sesuatu di mana tubuh pun menjalani yang sama dengan apa yang diucapkan itu. Hal yang ke-3 adalah lidah itu di-ikut-sertakan di dalam ibadah bersamaan dengan kondisi sikap posisi badannya. Jadi, demikianlah dua hal yang adalah ekspresi dari kata-kata dan kondisi posisi pisik tubuh, kedua-duanya yang ada di sana ketika sedang melakukan Shalat. Meng-Agungkan dan Memuliakan Allah Taala ada di sana ketika sedang melakukan ruku’ dan sujud dan hal ketiganya yang jika perkara ini tidak ada di sana maka Shalat itu tidaklah sempurna dan apa yang ke-3 itu ialah hati. Adalah sangat esensial bahwa hati itu harus berada di dalam satu keadaan sedemikian bahwa apa pun yang diucapkan oleh lidah dan apa pun yang diindikasikan oleh tubuhnya, maka hal tersebut harus direfleksikan pada keadaan hatinya. Jadi semua ke-3 hal ini haruslah ada secara bersama-sama, ucapan dari lidah, ekspresi dari gerakan tubuh yang bersamaan dengan refleksi dari kondisi hati. Bilamana Allah Taala melihat pada orang yang sedang memuji kepada Allah Taala, maka Dia pun berdiri dengan cara yang sama sebagaimana orang yang sedang memanjatkan pujian, di mana ia berdiri dengan ruh nya yang juga berada dalam keadaan Shalat. Hatinya pun berdiri dalam posisi dari Shalat. Bukan saja tubuhnya, tetapi ruh, jiwa spiritnya pun berdiri dengan cara yang sama. Ketika ia mengucapkan Subhaana rabbiyal adhiim maka ia itu harus melihat bahwa ia itu bukan saja meng-ekspresikan kemuliaan dari Allah Taala, tetapi bersamaan dengan itu ia pun membungkukkan dirinya, melakukan keadaan merendahkan dirinya. Jadi, semua ke-3 perkara ini harus dikerjakan secara bersama-sama. Akhirnya, ketika ia berserah diri kepada Allah Taala dalam bersujud, maka ia pun menyerukan pujian atas Ketinggian dan Keistimewaan dari kedudukan Allah Taala ini. Gerakan dari tubuhnya juga mengindikasikan bahwa perasaan yang sama pun harus ada di dalam hatinya. Jadi, lidah itu meng-ekspresikan sesuatu, tubuh pun memperlihatkan sesuatu dan perasaan pun mengikuti kondisi tersebut. Di mana hati pun berada dalam keadaan bersujud di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanyalah kalau keadaan seperti itu ada di sana maka orang itu baru akan merasa puas karena inilah arti dari Yuqimunash Shalat. Inilah sebenarnya atanggung-jawab dari semua orang yang beriman bahwa semua ke-3 kondisi tersebut harus ada di sana di dalam diri orang Mukmin. Jika lidah meng-ekspresikan sesuatu maka tubuh pun harus mendukungnya dan memperlihatkan hal yang sama. Perasaan yang sama pun harus ada di dalam lubuk hatinya yang mendalam.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa jika kondisi tersebut tidak terdapat di sana maka orang itu tidak akan merasa puas yang sebenar-benarnya. Sekarang pertanyaan yang timbul adalah bagaimana orang itu dapat menciptakan kondisi yang demikian itu? Jawabannya hanyalah bahwa orang itu haruslah melakukan Shalat-shalatnya secara regular dan amat dawwamnya. Orang janganlah merasa takut jika pikiran seperti ini datang pada pikirannya ketika dalam Shalat. Jawabannya dari masalah ini ialah bahwa orang itu harus mendirikan Shalat-shalatnya 5 waktu dalam sehari dengan jalan sedemikian rupa yang itulah sebenarnya apa yang diperlukan di dalam ajaran dari Islam. Janganlah sampai timbul adanya keraguan dan banyak pikiran dengan berbagai bujukan dan gangguan yang datang pada orang tersebut. Janganlah orang merasa khawatir tentang hal tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa ada perjuangan pada awalnya, tetapi janganlah orang itu merasa lelah dan janganlah sampai orang itu merasa putus asa, orang itu janganlah sampai putus pengharapan. Orang itu harus terus dan senantiasa berdoa kepada Allah Taala seperti apa yang sudah saya katakan, kemudian jika ternyata ada pikiran, ada godaan dan berbagai hal yang terlintas di dalam pikiran dari orang itu, jika orang itu menggunakan lidahnya tetapi ada perkara lain yang menguasai pikirannya, maka orang itu harus berusaha dan melakukannya dengan lebih amat konsisten lagi, dengan selalu memohon bantuan dan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang harus terus dawwam di dalam Shalat-nya dan orang itu harus terus menerus meminta pertolongan dari Allah Taala. Pada akhirnya satu keadaan akan datang, ketika datang saatnya Allah Taala akan menolong orang tersebut. Tidak ada yang lebih besar dari wasifa daripada Shalat di mana Shalat itu harus diulangi dan diulangi lagi, diulangi lagi. Semua permohonan ini yang diulang-ulangi dengan jalan Shalat, inilah sebenarnya ada termasuk segalanya di dalamnya. Orang kadang-kadang memintanya dengan Shalat sedemikian yang bisa di-ulang dan di-ulangi lagi; jawaban yang diberikan oleh-Nya adalah bahwa Shalat itu adalah seperti itu dan inilah sebenarnya apa yang dikatakan Shalat itu. Di dalam Shalat ada ucapan doa shalawat, ada ucapan salaam, pokoknya segala sesuatu ada di dalam Shalat ini. Semua perkara ini yang sebenarnya memperlihatkan Tanda dari Allah Taala yang semuanya ditaruh bersama-sama di dalam Shalat ini. Dengan melalui Shalat, orang akan dapat mengatasi kegelisahannya, ke-khawatirannya dan mengatasi permasalahannya, keadaannya yang sulit akan dapat teratasi, akan dapat terselesaikan . Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. ketika ia menghadapi sesuatu keadaan yang mengkhawatirkan, yang menakutkan, beliau selalu berdiri dalam Shalat. Allah Taala berfirman: Alladziina aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bi dzikrillaahi alaa bidzikrillaahi tathma-innul quluub.

Surah Al-Ra’du (13) ayat 29:
Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenteram.

Bahwa, tidakkah engkau mengetahui bahwa mengingat Allah Taala itu adalah satu hal yang benar-benar memberikan kepuasan penuh dan ketenteraman di dalam hati; shalat itu adalah satu sarana yang besar untuk keperluan tersebut. Jadi, inilah standard yang harus dapat diraih. Bukan saja kita itu harus dawwam di dalam Shalat-shalat kita, tetapi setiap butir particle dari bagian tubuh kita dan dari jiwa kita itu harus senantiasa bersujud dan berserah diri kepada Allah Taala. Shalat-shalat ini harus tercurah dari hati kami yang harus membuat kita itu cinta kepada Allah Taala. Kita itu harus dapat melihat sebuah revolusi yang didatangkan pada hati dan jiwa kami sehingga Allah Taala itu ridha dengan kita. Semoga hendaknya Allah Taala membuat kami demikian dan memberi taufik dan kemampuan kepada kami untuk dapat melihat perubahan dan revolusi spiritual kerohanian kami. Aamiin.



San Jose-California-USA, February 25, 2008 / Mersela, 28 Pebruari 2008

Senin, 28 Januari 2008

KHUTBAH JUM'AT 18-1-2008

KHUTBAH JUM’AT HADHRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V aba.
Tanggal 18-1-2008 dari Mesjid Bait-ul-Futuh, London, United Kingdom
Nabi yang mengajarkan Hikmah (Kebijaksanaan & Keadilan) (2)

Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba. menilawatkan ayat dari Kitab Suci Al-Qur’an:
Surah Al-Baqarah ayat 130:
“Ya Tuhan kami, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari antara mereka yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka dan yang mengajarkan hikmah kepada mereka dan akan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Ayat yang baru saya baca ini, berkenaan dengan pokok bahasan yang sama dalam khutbah yang lalu di mana ini yang yang saya akan bahas hari ini adalah untuk ketiga kalinya mengenai doa yang dipanjatkan oleh Hadhrat Ibrahim a.s. bahwa mengenai kebijaksanaan bahwa Nabi yang kepadanya Kitab yang akan menyampaikan pesan amanat Engkau ke seluruh dunia dan beliau juga akan mengajarkan kepada mereka kebijaksanaan. Ada bermacam-macam arti dari kata hikmah; saya sudah menerangkan di dalam khutbah sebelumnya bahwa satu arti dari kata hikmah adalah adil, satu arti yang lainnya dari hikmah adalah ilmu pengetahuan dan arti-arti lainnya adalah pengertian, persepsi kebijaksanaan. Juga arti dari hikmah adalah untuk menggunakan sesuatu hal itu harus pada tempat dan saatnya nya yang tepat, menggunakannya dengan tepat dan sesuai. Kata hikmah yang digunakan di sini adalah berkaitan dengan Nabi yang besar dan Kitab serta ajaran yang akan tetap kekal abadi. Berkenaan dengan itu sekarang saya akan mengambil kata hikmah ini.
Sebagaimana yang pernah saya katakan bahwa salah satu arti dari hikmah adalah keadilan. Doa tadi adalah bahwa agar seorang Nabi didatangkan untuk mengajarkan kepada orang-orang tentang kebijaksanaan dan hikmah, jadi artinya adalah bahwa Nabi itu akan datang untuk menegakkan keadilan dan ia pun akan mengajarkan kepada orang-orang untuk berlaku adil dan berbuat keadilan. Bilamana Allah Taala itu menyebutkan Yu’allimuhumul kitaaba walhikmata bahwa ia itu akan mengajarkan kepada kalian Kitab dan hikmah kebijaksanaan. Jadi, kemudian jika pernyataan dari kenyataan ini adalah sebagai hasil dari dikabulkannya dari doa tersebut, sehingga seorang Nabi sudah dibangkitkan dan sebuah Kitab sudah diwahyukan kepada beliau, maka inilah Kitab yang sedemikian itu, yang penuh dengan ajaran yang di dasarkan atas kebijaksanaan dan keadilan. Beliau mengajarkan kepada kalian kebijaksanaan sampai pada Hari Kiamat demikianlah Dia akan mengajarkan kebijaksanaan ini sampai pada Hari Kiamat, inilah sebuah kawenangan untuk mengajarkan keadilan.
Bukan hanya Nabi besar ini yang ajarannya tidak luput dari keadilan dan juga perbuatannya yang tidak berlaku adil, tetapi Nabi yang besar ini, contoh dari Nabi ini adalah hal yang kadarnya tidak dapat diraih oleh orang-orang. Tetapi Allah Taala telah membuatnya jelas bagi kami dengan jalan-jalan yang jika saudara-saudara itu menggunakan seluruh kemampuan saudara dan berusaha untuk mengikuti jalan ini, maka kemudian dikarenakan oleh usaha tersebut maka saudara-saudara akan dapat meraih standard tersebut, yaitu oleh orang-orang yang menjadi anggota Jamaat-Nya dan yang adalah satu bagian dari umatnya yang besar ini. Kebijaksanaan dari Y.M. Nabi Muhammad SAW. dengan berbagai macam aspeknya dari hikmah itu ada di sana.
Dengan merujuk pada kata nasihat tersebut dan lain-lainnya yang sudah saya sebutkan di dalam khutbah saya yang lalu, hari ini saya akan mengemukakan kata hikmah ini dalam arti sebagai keadilan dan saya akan kemukakan beberapa contoh mulia dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. dan kemudian saya akan menerangkan ajaran dari Kitab Suci Al-Qur’an pada aspek ini. Ini sehubungan dengan setelahnya peperangan Hunain ketika harta rampasan perang sedang dibagikan di mana kepada beberapa orang pemimpin Arab diberikan keistimewaan bila dibandingkan dengan orang-orang yang lainnya. Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. memberikan kepada mereka bagian yang sedikit lebih banyak. Ada orang yang mengatakan bahwa keadilan di sini tidak dipertahankan. Atas hal tersebut Y.M. Nabi Muhammad SAW. mengatakan bahwa jika Nabi Allah itu tidak menegakkan keadilan lalu siapa lagi yang dapat menegakkan keadilan?
Harta yang diberikan kepada mereka itu sebenarnya diberikan kepada mereka sebagai hiburan pelipur lara dan untuk memberikan semangat kepada mereka sehingga para pemimpin Arab itu akan datang lebih dekat lagi pada Islam dan para pengikut serta keluarga mereka akan ikut masuk ke dalam Islam. Jadi untuk memberikan semangat kepada mereka itu hal ini telah dikerjakan untuk menghibur mereka, dan hal ini bukannya dengan mengurangi bagian hak dari orang-orang lainnya, tetapi Allah Taala telah menetapkan bahwa 1/5 dari harta yang diperoleh sebagai rampasan perang itu adalah untuk bagiannya Nabi Muhammad SAW., dan dari bagian yang itu Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. punya hak untuk membagikannya kepada siapa yang beliau kehendaki. Jadi beliau mengatakan bahwa saya memberikan sedikit extra lebih kepada orang-orang di maksud karena mereka itu ada sedikit lemah di dalam keimanannya, sehingga mengharapkan bagiannya yang lebih banyak. Orang-orang yang sudah sangat kuat di dalam keimanannya bahkan di dalam beberapa kejadian saya berikan kepada mereka bagiannya yang lebih sedikit. Orang-orang yang sangat kuat di dalam keimanannya sebenarnya mereka itu lebih dekat kepada-ku dan aku pun lebih mencintai mereka ini. Jadi perkara ini di mana kepada orang lain itu diberikan bagian yang lebih banyak adalah atas perintah dari Allah Taala dan ada di bawah instruksi Dia. Yang keduanya adalah dikarenakan hikmah ini dan inilah perbuatan yang penuh dengan hikmah dan keadilan, bahwa itulah sebuah cara untuk menegakkan keadilan itu yang hasilnya adalah menciptakan standard keimanan yang lebih tinggi.
Contoh dari adl - keadilan – yang juga ceriteranya sudah banyak diketahui oleh orang adalah berkenaan dengan seseorang yang pernah terkena pukulan, di mana Y.M. Nabi Muhammad SAW. telah mengizinkan orang tersebut untuk melakukan pembalasan. Diriwayatkan bahwa Y.M. Rasulullah SAW. menyampaikan khutbah di mana karena dibacakan Surah An-Nashr maka sahabat mengerti bahwa saat kewafatan beliau itu sudah mendekat. Ketika mereka mendengar khutbah tersebut maka para sahabat menangis dengan kerasnya. Setelahnya khutbah Y.M. Nabi Muhammad SAW. mengatakan bahwa aku demi Allah, bahwa jika ada seseorang yang merasa berhak untuk memberikan pembalasan kepadaku maka ia harus menggunakan haknya sebelum datangnya Hari Kiamat. Dalam peristiwa ini seorang sahabat yang namanya Ukasha berdiri dan mengatakan bahwa saya mengorbankan orang tua saya demi untuk Tuan, sekarang Tuan meminta kepada kami atas nama Allah bahwa jika ada orang yang menghendakinya maka ia berhak untuk melakukan pembalasan itu. Jadi, saya ingin mengatakan bahwa pada satu peperangan unta saya berada sangat dekat pada untanya Nabi Muhammad, dan ketika saya hendak turun, pada saat itu tongkat Tuan memukul saya, saya tidak tahu apakah itu disengaja untuk memukuli saya atau untuk memukul unta, tetapi saya sungguh-sungguh merasa sakit atas pukulan tongkat tersebut.
Y.M. Nabi Muhammad SAW. mengatakan bahwa demi Allah, demi kemuliaan Allah, maka Nabi Allah itu tentu saja tidak akan berbuat dengan sengaja untuk menyakitimu; tetapi Y.M. Rasulullah SAW. meminta kepada Hadhrat Bilal r.a. untuk mengambil tongkat tersebut yang saat itu disimpan di rumahnya Hadhrat Fatimah, maka ia mengambil tongkat tersebut kemudian kepada Hadhrat Ukasha diberikan tongkat itu dan diminta kepadanya sekarang engkau dapat melakukan pembalasan tersebut sebagaimana yang engkau kehendaki.
Pada saat itu Hadhrat Abu Bakar berdiri, Hadhrat Umar berdiri dan Hadhrat Ali pun berdiri dan mengatakan engkau boleh melakukan pembalasannya melalui aku dan jangan melakukan balasan kepada Y.M. Rasulullah. Ukasha mengatakan tidak, saya ingin melakukan pembalasannya kepada Nabi Muhammad. Kemudian Hadhrat Hassan dan Husein keduanya berdiri, mereka mengatakan kami-lah yang cucunya dari Nabi Muhammad SAW., maka engkau berhak memberikan balasannya kepada kami. Tetapi Ukasha masih saja mengatakan tidak! Saya harus memberikan balasannya kepada Y.M. Nabi Muhammad SAW. Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. sendiri kemudian mengatakan kepada semua orang-orang untuk duduk sambil bersabda, saya sudah siap untuk menerima pembalasan ini. Saat itu Hadhrat Ukasha mengatakan bahwa waktu saya kena pukul oleh Tuan, waktu itu saya tidak mengenakan apa-apa pada tubuh saya. Y.M. Nabi Rasulullah SAW. pun menggulungkan kemejanya dan mengatakan, engkau sekarang boleh memukulku sebagaimana aku dulu memukul kamu. Ketika para sahabat melihat hal ini mereka mulai berteriak dan menangis, betapa mereka dapat mentolerir sesuatu hal yang tidak enak untuk dikenakan kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW., tetapi saat itu, yang dapat mereka kerjakan hanyalah menahan diri mereka saja. Namun beberapa saat kemudian, apa yang mereka lihat itu adalah sesuatu ekpresi dari cinta seseorang terhadap orang yang sangat dicintainya. Hadhrat Ukasha maju ke depan dan mulai menciumi tubuh dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW., sambil mengatakan, bahwa saya dapat mengorbankan orang tuaku demi untuk kemuliaan Tuan, maka betapa saya akan dapat berpikiran untuk melakukan pembalasan kepada Tuan, Y.M. Nabi Muhammad SAW. Tuan telah mengajarkan kepada kami standard yang tinggi dalam keadilan; kami itu tidak pernah punya pikiran bahwa Tuan dapat berlaku tidak adil kepada seseorang. Jadi inilah satu kesempatan di mana saya dapat meng-ekspresikan kecintaan saya, yang saya tidak akan melepaskan kesempatan ini. Tetapi lihatlah apa jawaban dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW., Sang Pangeran dari Keadilan ini, beliau mengatakan, apakah engkau akan melakukan pembalasan atau akan memaafkanku, dan umumkanlah di hadapan semua orang-orang ini. Hadhrat Ukasha mengatakan: Ya Rasulullah, saya memaafkan Tuan, semoga dengan ini saya berharap bahwa pada Hari Kiamat nanti, Allah Taala pun akan memaafkan kami. Selanjutnya, Y.M. Rasulullah SAW. mengatakan kepada semua orang-orang yang sedang duduk hadir di sana, bahwa jika ada orang yang ingin melihat sahabatku di Syurga nanti maka lihatkah kepada orang ini; kemudian orang-orang yang tadinya sangat marah kepada Hadhrat Ukasha ini, mereka pada berdiri dan menciuminya di mana mereka betapa sangat merasakan irinya pada tongkat cemeti tersebut. Inilah satu contoh dari keadilan seorang Nabi yang besar, Nabi yang agung, yang telah ditegakkan oleh Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW.
Ada banyak contoh-contoh lainnya di mana beliau saw. senantiasa menganjurkan dan meminta kepada para sahabat beliau, menasihati mereka hal yang sama. Dikarenakan pada Kitab Suci Al-Qur’an itu kualitas adl – keadilan- itu ada berulang-ulang kali disebutkan, maka penelitian dan perhatian yang besar ada dilakukan pada perkara keadilan ini. Sekarang akan saya sajikan ajaran tentang keadilan – menegakkan keadilan di dunia -, di mana Allah Taala berfirman:
Surah Al-Nahl (16) ayat 91:
Sesungguhnya, Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat; dan melarang dari perbuatan keji, dan hal yang tidak disenangi, dan memberontak. Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran.

Sesungguhnya Allah Taala memberikan perintah kepadamu untuk berlaku adil dan jujur serta berbuat baik kepada orang-orang serta menasihatimu untuk menghindarkan diri dari perbuatan buruk dan perilaku yang keji serta menasihatimu agar mengambil pelajaran dan kebijaksanaan dari hal tersebut. Inilah satu ajaran yang jika kalian mengamalkannya maka segala masalah yang terjadi dalam masyarakat itu akan dapat terselesaikan, juga masalah nasional pun akan dapat diselesaikan.
Macam keadilan ini yang dilakukan atas kualitas keadilan yang sedemikian rupa di mana yang standardnya akan terus meningkat naik dan kecintaan satu sama lainnya itu akan terus meningkat. Orang-orang itu haruslah berusaha untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk dari ahlak yang tidak baik. Bilamana mereka itu dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk maka sebagai akibatnya dari itu tingkatan keadilan yang tinggi dapat ditegakkan di mana akan banyak diingatkan agar melaksanakan tugas dan kewajiban mereka terhadap orang-orang lainnya. Keadilan itu bukannya saja dengan melakukan pembalasan serupa, tetapi dalam beberapa keadaan tertentu adalah dengan melalui ihsan dengan pemberian maaf, dengan suatu perbuatan yang indah, juga dengan melalui perbuatan yang baik dan perasaan cinta kasih sayang. Juga dikarenakan oleh perasaan takut kepada Allah Taala maka sebagai hasilnya dari itu adalah yang akan membuat engkau itu mahrum dari jalan-jalan yang tidak baik dan akan meneguhkan dengan akar yang kuat dalam kebaikan. Tipe adl yang secara duniawi, itulah yang dengan cara melakukan pembalasan dan pemberian hukuman kepada orang-orang atas kesalahannya itu. Tetapi sesuai dengan ajaran dari Allah Taala yang dimaksudkan dengan adl itu bukan semuanya demikian. Karena, sebagai hasilnya dari tipe keadilan yang biasa itu, di sana tidak terjadi adanya suatu reformasi tetapi bahkan bisa timbul lebih banyak kebencian di sana. Di mana orang-orang itu akan menjadi merasa sangat tertekan dan membela diri yang kadang-kadang timbul rasa kebencian dan permusuhan dalam hati orang-orang.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud STSS. , Semoga Tuhan menurunkan Selamat dan Salaam atas beliau mengatakan bahwa Allah Taala berfirman agar engkau membalas kebaikan dengan kebaikan lagi. Jika kalian mendapatkan kesempatan untuk memberi maaf kepada seseorang dan melakukan sesuatu kebaikan kepada orang, bahkan jika dengan lebih baik lagi dari itu, jika kalian dapat melakukan sesuatu kebaikan dengan cara spontan atas perasaan kasih sayang, maka inilah yang paling baik; Allah Taala menghalangi engkau dari perbuatan pelanggaran yang melewati batas. Berkenaan dengan ihsaan, perbuatan baik kepada orang itu, maka selanjutnya engkau supaya lupakanlah hal itu; dan jika engkau melakukan perbuatan baik ini tidak pada saatnya yang tepat, atau jika kesempatan itu datang tetapi engkau menghindarkan diri dari itu, atau engkau memperlakukannya sebagaimana terhadap kerabat dekatmu. Perbuatan pada saatnya yang tepat, itulah yang seharusnya dilakukan. Jika kalian mengabaikan kesempatan yang baik itu maka yang demikian itu tidaklah benar, yaitu jika kesempatan itu datang dan engkau dapat melakukan kebaikan ini kepada orang lain kemudian engkau tidak melakukannya maka engkau itu telah kehilangan sesuatu kebaikan. Sebagaimana engkau itu akan memberi kepada keluarga dan kerabatmu serta kepada yang kamu sayangi, sebagaimana seorang ibu yang mengasihi anak kecilnya, maka standard kasih sayang semacam demikianlah yang harus diperlihatkan kepada orang-orang itu. Jika engkau memperlihatkan suatu kelalaian dalam hal tersebut atau satu kelemahan dalam hal ini, maka ini tidaklah benar.
Ada terdapat 3 tahapan kebaikan yang disebutkan di sini. Tahap pertama adalah bahwa engkau itu harus melakukan satu kebaikan sebagai balasan atas kebaikan yang diberikan kepadamu; inilah tahapan awal dari kebaikan itu. Ini adalah yang paling biasa bagi banyak orang-orang, bahwa jika ada kebaikan yang dilakukan kepada mereka, maka mereka pun akan memberikan balasan dengan kebaikan juga. Yang kedua adalah untuk melakukan sesuatu kebaikan kepada orang lain untuk berbuat baik kepada orang lain. Inilah tingkat tertinggi dari kebaikan. Banyak orang-orang yang berbuat kebaikan kepada orang miskin, yang secara kasarnya diartikan oleh orang-orang bahwa saya sudah melakukan satu kebaikan; yang sebagai hasil dari ihsan dan kebaikan ini ia mengharapkan sesuatu kebaikan duniawi. Jika dalam contohnya itu tidak seperti ini maka orang itu digambarkan sebagai orang yang lupa akan kebaikan. Kadang-kadang sebagai hasil dari kebaikan ini, mereka membebani orang yang di luar kemampuannya, atau ada orang yang melakukan kebaikan itu dengan beban tanggung-jawab sangat berat yang di luar kemampuan mereka, inilah yang tidak benar. Kadang-kadang mereka mengatakan bahwa saya sudah berbuat sesuatu kebaikan kepadamu pada waktu itu dan kapan serta sudah melakukan sekian banyaknya. Di mana Allah Taala berfirman:

Surah Al-Baqarah ayat 265:
…………. , janganlah kamu menjadikan sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan menyakiti ………..

Bahwa hai orang-orang yang sudah berbuat kebaikan dengan memberikan sedekah kepada orang lain, janganlah engkau itu membuat orang-orang itu sebagai hinaan atau celaan kepada mereka. Kata sedekah itu adalah berasal dari kata sidq yang berarti kebenaran dan kebaikan. Jika cemoohan itu dilakukan setelahnya memberikan sedekah maka perbuatan itu tidak akan menjadi sebuah sadaqah. Walaupun kesimpulannya, inilah kelemahan dari beberapa orang itu, yang setelahnya melakukan kebaikan itu mereka berkali-kali mengatakannya dan mengingatkan kepada orang tentang kebaikannya itu. Tingkatan ketiga dari perbuatan baik kepada orang lain itu adalah bahwa di sana itu tidak ada pikiran tentang sesuatu perbuatan ihsan, tetapi engkau itu melakukan perbuatan baik kepada orang yang lin itu dengan perasaan sebagai orang itu adalah orang yang sangat dekatnya kepadamu, sama seperti halnya dari seorang ibu yang berbuat kebaikan kepada anaknya. Inilah poin tertinggi dari salih atau memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Allah Taala telah menyebutkan semua tingkatan ini yang dikaitkan dengan situasi dan keadaannya yang tepat. Dikatakan di sana bahwa semua ketiga kebajikan yang mereka lakukan ini, jika tidak dikerjakan pada saatnya yang tepat maka perbuatan itu akan menjadi sia-sia dan merupakan dosa bagimu. Jadi dalam hal yang sedemikian itu maka perbuatan tersebut tidak akan dianggap baik tetapi bahkan akan menjadi sesuatu yang buruk.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud STSS. mengatakan bahwa dari kebaikan itu jika etiket baiknya tidak diikuti maka hal itu akan menjadi amalan yang tidak benar. Demikian pula halnya ihsan dan itaizil-qurba jika mereka melakukannya dengan tidak tepat maka akhirnya akan menjadi sesuatu yang buruk bagi orang-orang tersebut. Sebenarnya, penyerangan atau agresi ini, pelanggaran dan kesombongan yang disebutkan di sini adalah jika seseorang itu tidak melaksanakan tanggung-jawabnya dengan sebagaimana mestinya, apakah suatu perbuatan yang berlebihan atau pun yang tidak dikerjakan maka yang demikian itu dapat dinamakan agresi dan pelanggaran. Itu bisa disebabkan karena hal yang baik tetapi dikerjakan pada saat dan tempatnya yang tidak tepat. Jadi ada bermacam kondisi pada manusia itu dan kadang-kadang ada kebiasaan pada anak-anak pun di mana untuk ahlak dan intellectual yang adalah sangat penting, bahwa setiap hal baik itu harus dilakukan pada saatnya yang tepat. Semuanya ini yang di mana Allah Taala telah memberikan kemampuan keadilan untuk melakukan kebajikan dan perbuatan baik kepada orang-orang lain, semuanya ini jika mereka menggunakannya dengan tanpa intelektual dan pengertian dan tidak dikerjakan pada saatnya yang tepat maka hal tersebut bisa menjadi tidk benar. Jadi, inilah ajaran dari Kitab Suci Al-Qur’an yang penuh dengan kebijaksanaan yang hakikatnya menegakkan keadilan, nilai keadilan di dalam masyarakat. Jika ada orang yang kebisaan mencuri, orang yang kerap kali melakukan pencurian, kemudian jika orang ini dibebaskan tanpa dikenakan peringatan dan hukuman, maka yang demikian itu bukanlah keadilan. Jika ada orang yang mencuri roti karena lapar, maka pengaturan harus dikerjakan agar kepada orang ini dapat diberikan makanan yang cukup; disitulah keadilan dengan tidak menghukum orang tersebut. Dengan melakukannya demikian, dengan berbuat ihsan maka keadilan itu telah ditegakkan sebagaimana mestinya. Jika orang ini, yang mencuri roti itu adalah karena sudah menjadi kebiasaan dari orang tersebut, maka tentu saja hukuman harus dijatuhkan kepada orang tersebut. Jadi apa pun yang paling sesuai dan memadai sesuai dengan waktu dan kesempatannya, maka itulah keadilan yang hakiki. Jadi singkatnya, ajaran Islam itu adalah ajaran yang menegakkan keadilan dan untuk melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya terhadap orang-orang lain. Untuk keperluan ini, maka unsur keadilan itu harus diciptakan di dalam pikiran manusia. Untuk menanamkan poin ini di dalam hati manusia, Allah Taala berfirman di satu tempat:
Surah Al-Maa’idah ayat 9:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kepada sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat pada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.
Hai orang-orang yang beriman, jagalah keteguhanmu untuk menjadi saksi yang memegang teguh keadilan. Kebencian terhadap seseorang itu janganlah sampai membuat kamu untuk bertindak melawan keadilan. Tegakkanlah selalu keadilan dan ini adalah lebih dekat pada takwa. Allah Taala itu Maha Tahu apa-apa saja yang kamu kerjakan.
Inilah satu ajaran yang indah, betapa sebuah ajaran yang amat agungnya yang diberikan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Hal pertama yang disebut di sini adalah bahwa jika engkau menyatakan dirimu sebagai orang yang beriman, orang mukmin, maka seorang mukmin itu harus selalu mendukung dalam penegakkan keadilan. Dari ajaran Al-Qur’an, engkau itu haruslah menegakkan keadilan. Jika engkau itu memiliki pemikiran seperti ini maka engkau itu adalah seorang mukmin sejati di dalam pandangan dari Tuhan. Karena tanpa itu, maka keimananmu itu adalah menyimpang. Jika pemikiran ini ada di sana, keyakinan ini ada di sana, maka engkau itu sesungguhnya akan dibawa ke arah keadilan, kemudian engkau akan menjadi seseorang yang bekerja dengan mengikuti ajaran dari Allah. Hal kedua ialah bahwa tidak ada kebencian yang akan membawa orang itu mengabaikan akan nilai keadilan. Keindahan dari orang beriman itu adalah bahwa ia itu harus mengikuti jalan ketakwaan dan harus senantiasa memenuhi persyaratan keadilan. Allah Taala berfirman bahwa jika engkau itu tidak melakukan yang seperti itu, maka ingatlah bahwa tak ada seseuatu pun yang tersembunyi dari Allah Taala. Orang semacam itu yang walaupun memiliki sebuah ajaran yang besar dan agung, namun jika ia itu tidak mengikuti ajaran tersebut maka ia tidak dapat dinamakan sebagai seorang mukmin sejati. Jadi inilah ajaran yang menegakkan keadilan yang merupakan satu kualitas istimewa dari ajaran Kitab Suci Al-Qur’an.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud STSS. bersabda bahwa Allah Taala berkenaan dengan keadilan ini telah berfirman bahwa tanpa keshalehan dan ketakwaan maka engkau itu tidak akan dapat meraih ini. Dia berfirman: wa laa yajrimannakum syanaa aanu qaumin ‘alaa allaa ta’diluu i’diluu huwa aqrabu lit taqwaa (5:9)
Bahwa kebencian itu adalah musuh-musuhmu dan janganlah kebencian itu membuat kamu meninggalkan standard keadilan; jalankanlah selalu keadilan, karena itulah yang diperlukan. Orang yang mengganggu kamu, yang merugikan kamu dan yang melukaimu dan yang menumpahkan darahmu, yang membunuh kalian, yang membunuh perempuan-perempuan dan anak-anak seperti yang dilakukan oleh orang-orang Mekkah, orang-orang Mekkah yang belum beriman melakukannya; yang setelahnya itu mereka tidak juga menghentikan dari peperangan; maka adalah sangat sulit untuk menjadi orang yang sangat jujur dan berpegang teguh pada keadilan jika berhadapan dengan orang-orang ini, jika memperlakukan orang-orang ini. Tetapi Allah Taala tidak menghapuskan nilai keadilan ini, Allah Taala menasihati orang-orang beriman ini. Aku katakan dengan sesungguhnya, bahwa adalah mudah saja untuk berlaku baik kepada musuh, namun adalah sangat sulit untuk menjaga hak-hak dari orang yang memusuhi ini; ini hanyalah dapat dikerjakan oleh orang yang sangat-sangat kuat di dalam keimanannya, dan orang-orang yang sangat kritis saja. Keberanian seperti inilah yang Allah Taala ingin ciptakan di antara orang-orang mukminin. Allah Taala berfirman bahwa perlakuan baik engkau itu akan merubah musuh-musuhmu menjadi sahabatmu. Jadi satu arti dari kata hikmah itu adalah untuk menyebarkan ilmu. Nabi itu datang untuk menyempurnakan ilmu dan ia akan melakukannya atas dasar wahyu yang diturunkannya kepada beliau. Demikianlah pernyataan dari Kitab Suci Al-Qur’an yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.:
Surah Al-Maa’idah ayat 4:
……… Ku-sempurnakan agama-mu bagimu, dan telah Ku-lengkapkan nikmat-Ku atasmu, …….
Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu bagimu dan Aku telah menurunkan nikmat-Ku yang sampai pada puncaknya yang tertinggi. Arti dari ini sudah saya sebutkan sebelumnya. Jadi demikianlah pada Nabi yang besar ini, ketika ajaran yang penuh kebijaksanaan itu dibawa sampai pada puncaknya. Adapun Nubuatan tentang zaman ini, yang berkaitan dengan pokok pembicaraan ini, akan saya sebutkan beberapa dari antaranya. Allah Taala dengan ilmunya yang sempurna telah memberikan nubuatan ini kepada Nabi yang agung ini dan yang disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Beberapa di antaranya adalah bukan saja orang yang setelahnya 1400 tahun, bahkan orang-orang yang hidup di dekat pada zaman itu, mereka pun tidak dapat mengertinya. Dalam Surah Rahmaan ada disebutkan dan saya akan membacakan satu sebagai contohnya:

Surah Al-Rahmaan (55) ayat 20:
Dia telah membuat kedua lautan mengalir. Keduanya akan bertemu.
Bahwa dua lautan itu akan dihubungkan menjadi satu.

Surah Al-Rahmaan ayat-ayat:
20.
21. Di antara keduanya ada pembatas, keduanya tidak saling melampaui.
22. Maka, yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan yang kamu berdua dustakan?

Ada pembatas di antara kedua lautan tersebut dan kedua lautan itu tidak bisa menyeberang satu sama lainnya; dan bahwa yang manakah di antara nikmat-nikmat Allah yang kalian dustakan? Ada banyak khazanah yang ke luar dari lautan-lautan tersebut di mana di sana terdapat zamrud dan intan permata yang keluar dari sana, Laut Merah dan Laut Tengah digabungkan dengan Kanal Suez dan Terusan Panama pun dibangun yang menghubungkan dua buah lautan yang besar dengan cara ini. Jadi, inilah ilmu yang diberikan kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. pada saat di mana tidak ada orang yang tahu tentang hal ini, bukan saja ilmu ini, namun bahkan pada saat tersebut orang-orang Arab itu tidak terpikir di mana lautan-lautan ini berada dan bagaimana lautan ini akan digabungkan seperti ini.
Baru setelahnya 1300 tahun maka Allah Taala membuat hal-hal ini terjadi dan nubuatan khabar ghaib ini telah terpenuhi dengan demikian agungnya. Jadi, Allah Maha Tahu, yang mengetahui hal-hal yang ghaib yang telah Dia singkapkan kepada Y.M. Nabi Muhammad SAW. dan kemudian ilmu mengenai Kosmos dan alam semesta yang diberikan kepada Nabi SAW. tentang bagaimana alam itu menjadi terwujud, Allah Taala berfirman:
Surah Al-Anbiya (21) ayat 31:
Tidakkah orang-orang yang ingkar melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menggumpal, lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Apakah mereka tidak mau beriman.

Apakah mereka yang orang-orang ingkar itu tidak melihatnya bahwa seluruh langit dan bumi itu tadinya bergumpal erat bersatu padu seperti halnya sebuah bola dan kemudian Kami pisahkan kedua langit dan bumi itu di mana dari airlah Kami menciptakan segala sesuatu yang hidup itu. Apakah mereka itu masih tidak mau percaya?
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud STSS. mengatakan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an mengatakannya kepada kami dan penemuan ilmu modern pun mendukung hal yang sama bahwa seluruh Kosmos dan Alam semesta itu digumpalkan menjadi satu bundelan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Taala dalam ayat yang baru saya baca tadi, bahwa apakah orang-orang yang ingkar itu tidak melihatnya bahwa Alam semesta ini di-pak menjadi semacam bundelan dan kemudian Kami melepaskan dan membukanya? Jadi, ilmu pengetahuan ini yang terdapat di dalam Kitab Suci Al-Qur’an untuk selama 1400 tahun. Ilmu pengetahuan ini dibukakan kembali di zamannya Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud STSS. Para ahli ilmu pengetahuan menyajikan teori ‘big-ban’; sebelumnya ada sebuah ‘big-ban’ dan yang kemudian segala Alam semesta ini diciptakan sebagai hasilnya dari itu; ini adalah sebuah perkara yang amat luas. Perkara ini yang telah di-informasikan oleh Kitab Suci Al-Qur’an pada sekitar 1400 tahun yang lalu, di mana pada saat sekarang inilah para ahli scientist telah membuktikan hal tersebut. Ada banyak nubuatan khabar baik yang bersifat demikian itu:

Surah Al-Dhaariyaat (51) 48:
Dan Kami menjadikan langit dengan kekuasaan Kami dan sesungguhnya Kamilah yang terus memperluasnya.
Dan Kami telah ciptakan langit ini dengan kekuasaan Kami dan sesungguhnya Kami akan terus mengembangkannya. Saaat ini sudah ada tersedia berbagai terjemahan dari ayat ini, sebagaimana ilmu itu pun sudah tersedia yang sesuai dengan ilmu ini maka terjemahannya juga diperbaiki dan sesuai dengan perkembangan ilmu scientific maka perkara ini telah dibuat dengan lebih jelas dan tambah jelas lagi.
Hadhrat Khalifatul Rabbe r.h. telah menyebutkannya bahwa langit itu telah diciptakan dengan satu kekuatan istimewa di mana Allah Taala akan terus memperkembangkannya. Tentang konsep dari pengembangannya ini seorang scientist Edwin Hubble menyebutkan bahwa ia telah membuat beberapa percobaan di bidang ini di mana untuk pertama kalinya ia berbicara tentang pengembangan dari Alam semesta ini. Sekarang penemuan baru, beberapa bulan yang lalu ada sebuah article dalam sebuah majalah yang mengatakan bahwa kecepatan dari pengembangan ini, seperti apa yang mereka ketahui dipercepat dan bertambah lebih cepat lagi. Barangkali sudah bertambah naik tetapi mereka itu tidak mengetahuinya. Karena dengan keadaan yang barunya dan situasi dari pengembangannya itu sudah terselenggara dengan mantapnya dan menjadi lebih jelas sekarang ini. Betapa pun juga apa yang disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an bahwa Kami telah menciptakan langit dengan kekuatan yang khusus bahwa itu pun merupakan satu terjemahan dari ayat ini bahwa dengan kekuatan yang khusus Kami telah menciptakan langit ini; Kami telah menaruh beberapa sifat-sifat di dalamnya. Penciptaan dari langit dan bumi ini dengan menempatkan beberapa kualitas tertentu di dalamnya. Pengembangan dari langit dan pembelahan menjadi beberapa pecahan dan pergerakannya itu serta kepatuhannya sebenarnya di sana ada berperan sifat-sifat dari Tuhan. Sehubungannya dengan perkara ini ada beberapa di antaranya yang dapat dimengerti oleh orang-orang, tetapi ilmu yang selengkapnya tidaklah mungkin dapat diketahui. Bilamana mereka menyebutkannya bahkan orang-orang intellectnya jika mereka itu menemukan sesuatu yang baru maka sebagai hasilnya dari itu mereka menjadi bertambah terheran-heran akan hal yang selama ini menjadi teka-teki bagi mereka. Ada orang-orang di masa kini, satu kelompok orang-orang yang tidak mau menerimanya bahwa di sana itu ada sesuatu yang seperti ‘big-ban’. Betapa pun juga Allah Taala berfirman bahwa kami itu telah beriman kepada yang ghaib dan kepada Kitab Suci Al-Qur’an; apa pun yang disebutkan di sana di mana para scientist itu meng-copynya sehingga mereka dapat membuktikannya bagaimana benda ini telah diciptakan dan bagaimana dikembangkannya. Benda-benda ini seluruhnya bergerak pada satu jurusan; bagaimana pun juga kualitas dari pengembangan Alam semesta ini tidak diketahui oleh orang sampai pada saat 100 tahun yang lalu. Inilah keindahannya dari Kitab ini bahwa segala sesuatunya itu dapat diketahui dan datang kepada seorang yang terpelajar atau seorang scientist yang akan menemukannya dan menyajikannya pada hari ini, yang konsepnya itu sudah ada di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Bukan hanya konsepnya saja tetapi rinciannya pun ada disebutkan di sana. Sekarang orang ini membuat sebuah buku, maka bagaimana ia dapat menandinginya. Jadi, Allah Taala mengatakan bahwa engkau itu tidak dapat membuat sebuah buku yang seperti Kitab ini dan engkau pun tidak akan dapat membawa ilmu pengetahuan itu.
Jadi, inilah Kitab final yang terakhir, yang diberikan kepada Nabi yang besar ini dan yang diwahyukan kepada beliau yang jangkauannya akan berlangsung sampai pada Hari Kiamat. Jika ada seorang scientist Muslim atau jika ada seorang scientist Ahmadi agar tidak mengaplikasikan setelahnya penemuan baru itu, tetapi mereka harus mendasarkan penemuannya itu atas ilmu yang sudah disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an ini. Inilah yang harus selalu dikerjakan oleh orang-orang Ahmadi seperti yang biasa dikatakan oleh Abdul Salaam Sahib, kami itu biasa mendasarkan penemuannya atas apa yang sudah tertulis di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Penemuan baru apa saja yang dihasilkan oleh scientist di zaman ini semuanya itu dalam berbagai caranya sudah ada tertulis di dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang menyampaikan pesan-Nya dengan kebijaksanaan yang agung di mana tidak ada Kitab lainnya yang bagaimana pun dapat menandingi ke-istimewaannya dari Kitab Suci Al-Qur’an. Di dalam Kitab yang ini, aturan dan ketentuan tentang Syariah dan tentang perintah Syariah itu ada disebutkan di dalamnya. Semuanya ini ada disebutkan di sana, seperti contohnya mengenai Shalat itu Allah Taala telah menyebutkan apa manfaatnya dari Shalat ini:
Surah Al-Ankabuut (29) ayat 46:
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah pekerjaan yang lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Bahwa engkau bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu dan engkau dirikanlah ibadah Shalat di mana Shalat itu dapat mencegah orang dari kekejian dan hal-hal yang buruk, dan Allah Taala Maha Tahu apa yang engkau kerjakan.
Jadi demikianlah perintah ini yang bukan saja perintah kepada Nabi Muhammad SAW., tetapi sesungguhnya perintah itu adalah untuk seluruh umat beliau. Semua orang-orang yang percaya kepadanya dan yang menjadi pengikut beliau, Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. yang sudah berada pada posisi yang sedemikian tingginya itu, Allah Taala meminta kepada beliau untuk men-deklarasikan sebelumnya bahwa semua ibadahku dan pengorbananku, hidupku dan kematianku semuanya itu adalah demi untuk Allah; jadi engkau itu sudah meraih posisi yang tinggi ini. Jadi di sini, di dalam ayat ini, perintah ini adalah satu ajaran yang sangat elementer yang berkenaan dengan hal itu. Ini sebenarnya yang berkaitan dengan orang-orang yang beriman, agar orang-orang mukminin ini, mereka dapat menjalin hubungan dengan Allah Taala di mana jalan menuju kepada-Nya itu sudah dibuat jelas bagi mereka.
Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. diminta agar engkau sampaikanlah ajaran yang agung ini kepada para pengikut engkau untuk menyembuhkan semua penyakit zaman dan agar engkau itu dapat menjalin hubungan dengan Allah Taala dan untuk dapat menjalin hubungan dengan Allah Taala ini maka engkau perlu melakukan ibadah shalat. Standard dari ibadah shalat ini akan diperoleh pada saat di mana engkau itu akan menjaga shalatmu tepat pada waktunya yang dapat membuatmu menjauhkan diri dari semua dosa-dosa dan Dia akan memperhatikan-mu agar engkau dapat meraih tujuan yang untuk itu umat manusia sudah diciptakan oleh-Nya.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud STSS. mengatakan bahwa namaaz atau shalat itu diartikan dengan menjauhkannya dari dosa dan inilah kualitas dari shalat itu yakni akan menjauhkan orang dari hal-hal yang buruk dan dari hal-hal yang salah. Bilamana kalian merenungkan kalimat ini bahwa kalian itu berusaha untuk membuat shalat-shalat kalian itu satu amalan yang merupakan jantung dan jiwanya dari segala sesuatu itu. Semua keberkahan-keberkahan dari Allah Taala itu diterima dengan melalui shalat. Jadi, bilamana engkau itu melakukan shalat maka engkau lakukanlah itu dengan seindah mungkin dan dengan semanis-manisnya agar engkau itu dapat meraih keberkahan dari Allah Taala. Jadi engkau itu harus mencari shalat yang sedemikian rupa yang berarti bahwa kecuali dan sampai hal-hal yang baik itu bisa tertanam di dalam hati dan pikiran engkau. Untuk berpikiran bahwa jika engkau itu terus saja mengerjakan yang begitu dan berpikir bahwa di sana ada sesuatu kekurangan di dalam shalatmu kecuali engkau sampai memiliki mode yang paling ultimate dari keridhaan dari Allah Taala maka engkau itu harus terus menyelidiki poin ini bahwa di sana itu ada sesuatu kekurangan dalam shalatmu itu. Engkau itu janganlah hanya melaksanakan shalat-mu itu sekedar untuk memenuhi kebutuhanmu, tetapi lakukanlah shalat engkau dengan pengertian yang jelas ini, maka kemudian engkau akan dapat meraih keberkahan-keberkahan dari Allah Taala ini. Jika tidak demikian maka di sana tidak akan ada hikmah yang dapat kami lihat dari perintah ini di mana Allah Taala telah memberikan perintah lainnya yang penuh dengan kebijaksanaan, yaitu janganlah engkau berkata dusta:

Surah Al-Hajj (22) ayat 31:
…….. maka jauhilah kenajisan berhala, dan jauhilah ucapan-ucapan dusta.

dikatakan bahwa engkau jauhilah kenajisan dari patung-patung dan berhala ini, dan jauhilah dari ucapan-ucapan dusta.
Hadhrat Masih Mau’ud STSS mengatakan bahwa jika semuanya ini digabungkan maka menyembah pada patung dan berhala ini berkaitan dengan ucapan dusta. Seperti itu pula jika untuk kepentingan dirinya sendiri itu ia berdusta maka ia membuat kedustaannya itu sebagai patung persembahannya. Itulah sebabnya mengapa Allah Taala itu telah mengkaitkannya bersama-sama ajaran ini dan sudah menyebutkannya dengan cara ini bahwa jika seseorang itu berkata dusta maka ia itu telah membuat patung berhala dari dirinya sendiri di mana ia berpikir bahwa dengan jalan persembahannya yang seperti itu maka ia akan dapat menyelamatkan dirinya. Betapa buruknya keadaan seperti itu, dan jika dikatakan kepadanya mengapa engkau itu menyembah patung berhala, yang seharusnya engkau jauhkan dirimu dari perbuatan itu, maka ia akan mengatakan bahwa kami tidak dapat berbuat dengan tanpa dusta itu. Jadi, inilah puncaknya dari kemalangan itu, saya katakan kepada kalian bahwa pada akhirnya kebenaran itulah yang akan menang dan sukses berjaya. Ingatlah selalu bahwa tidak ada sesuatu yang buruk seperti halnya berkata dusta. Orang-orang duniawi itu mengatakan bahwa orang-orang yang berkata dusta itu akan ditangkap, akan tetapi bagaimana saya akan mempercayainya. Ada 7 buah hasutan tuduhan dugaan terhadap saya tetapi saya tidak diharuskan atau terpaksa untuk mengeluarkan satu kata pun selama instigasi tersebut. Allah Taala selalu memberikan kepada-ku kemenangan; Allah Taala senantiasa mendukung kebenaran dan ketakwaan. Bagaimana mungkin bahwa Dia itu akan menghukum orang yang demikian. Orang yang shaleh dan bertakwa itu akan mati jika Allah Taala bukan penolong mereka, ini adalah perkara penting untuk didegnar. Kenyataannya dari perkara itu adalah bahwa ada orang-orang yang dihukum karena berkata benar, tetapi bukannya dihukum itu dikarenakan mereka itu berkata benar, tetapi hukuman itu adalah dikarenakan adanya beberapa kebijaksanaan yang tersembunyi dari pandangan mereka. Ada beberapa kebijaksanaan yang tersembunyi dari pandangan matanya dan barangkali saja hal tersebut merupakan sanksi dan hukuman atas beberapa kesalahan yang pernah dilakukan di masa yang lalu. Ada begitu banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang ini, maka oleh karena itu ber-istighfar – lah untuk mendapatkan ampunan.
Arti lain dari hikmah itu adalah kebijaksanaan dan kepandaian, intellect. Di dalam Kitab ini yang diwahyukan kepada Y.M. Nabi Muhammad SAW. ada bermacam-macam perintah yang penuh dengan kebijaksanaan; sebagaimana yang sudah saya katakan ialah bahwa segala sesuatu harus dikerjakan sesuai dengan waktu dan pada tempatnya. Jika ada seseorang yang berbuat sesuatu kesalahan maka ia itu harus diberitahu; jika ada orang yang menghukum orang lain, maka orang itu sedang ada di bawah pengaruh rasa kemarahan. Bilamana jalan dengan pemberian maaf itu akan menghasilkan reformasi maka ia itu harus dimaafkan. Tetapi bagi seorang yang sudah punya kebiasaan membunuh dan kebiasaan mencuri, jika ia itu diberi maaf maka yang demikian itu akan menciptakan lebih banyak masalah. Dalam hal tersebut maka hukuman itu sangat perlu sekali. Jadi saudara-saudara dalam meletakkan setiap ajaran Kitab Suci Al-Qur’an itu di sana ada banyak rinciannya yang disebutkan. Jika orang-orang Mukminin sejati di mana mereka itu selalu menggunakan kebijaksanaan dalam pikirannya dan mereka itu merenungkannya perkara itu, maka ia itu bukan saja akan meningkatkan pengertiannya sendiri, tetapi pada waktu bersamaan mereka itu akan menyebarkan kebijaksanaan di dalam masyarakat. Sebagai hasilnya dari itu maka rasa cinta dan kasih sayang satu sama lainnya akan tercipta dan pikiran mereka itu akan dicerahkan. Jadi inilah yang harus dijadikan usaha dan upaya dari seorang beriman bahwa dia itu harus selalu mencari apa yang penuh dengan kebijaksanaan ini dari ayat Kitab Al-Qur’an sebagaimana Allah Taala berfirman:
Surah Al-Ahzaab (33) ayat 35:
Dan, ingatlah akan apa yang dibacakan dalam rumah-rumahmu dari Ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Memaklumi.

Dan kalian supaya ingatlah ayat-ayat dan kebijaksanaan ini yang ditilawatkan di rumah-rumah saudara serta supaya ingatlah akan ayat-ayat dan kebijaksanaan ini yang kalian baca di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya Allah Taala itu memperhatikannya dengan sangat teliti semuanya ini dan Dia Maha Tahu akan segalanya.
Jadi inilah perintah dari Kitab Suci Al-Qur’an itu yang harus diingat, dengan ayat-ayat serta poin mengenai kebijaksanaan ini yang telah disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, di mana ajaran ini selalu dibaca di rumah-rumah dan yang disimpannya dengan kecintaan, di mana ada pahalanya dari tilawatannya itu yang harus diamalkan. Tetapi tujuan hakiki dari Kitab ini akan dapat diperoleh dari penilawatannya pada saat ketika saudara-saudara akan bekerja dan mengamalkan perintah-perintah tersebut, dan seperti itu pula jika saudara-saudara senantiasa menempatkan contoh-contoh dari Y.M. Nabi Muhammad SAW. di hadapan saudara. Ayat-ayat ini dan keindahan dari mutiara ini harus dijadikan bagian dari kehidupan saudara. Allah Taala itu sangat teliti di dalam memperhatikannya dan Dia memiliki ilmu yang sepenuhnya di mana Dia telah menarik perhatian kami akan poin-poin yang Allah Taala Maha Tahu apa yang ada di dalam di luar diri orang-orang. Tidak ada orang yang dapat menipu Allah Taala, Dia Maha Mengetahui segala apa yang baik yang dilakukan oleh orang-orang dan Tahu akan apa yang buruk yang dikerjakan oleh orang-orang. Jadi, inilah Nabi yang agung dan ajarannya yang agung, tetapi sebelum mengamalkan semua ajaran ini dalam diri kalian dan belum mengusahakan untuk merubah, mentransformasi kehidupan kita sesuai dengan itu maka kami ini belum dapat dikatakan sebagai orang-orang Mukmin yang sejati.
Semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada kami untuk dapat mengerti akan ajaran ini dengan penuh kebijaksanaan dan juga untuk beramal sesuai dengan itu. Aamiiin



Pamulang-Banten, January 21, 2008 / Mersela, 27 Januari 2008.