Sabtu, 16 April 2011

Menghebohkan Nabi Palsu tanpa Dasar dari Alqur-aan

MUI menghebohkan seluruh warga masyarakat RI dengan isu NABI PALSU yang menyesatkan tanpa dasar dari Ayat K.S. Alqur-aan.

Ini didasarkan pada Ayat Alqur-aan yang mana?!

Tolong bantu saya menemukan ayat Alqur-aan mana, atau Surah mana yang dihebohkan oleh MUI yang bunyinya kira-kira: “Ya ayyuhannaas ….. Hai manusia janganlah kamu dikecoh kan oleh Nabi Palsu yang menyesatkan? Yakni, karena saya belum menemukan ayat Alqur-aan yang dipakai sebagai dasar oleh MUI supaya berhati-hati jangan sampai disesatkan oleh Nabi palsu, ini ng dikatakan oleh Ulama-ulama MUI itu! Apakah mungkin juga MUI ini mengambil dasar dari “Kitab-kitab” yang dikeluarkan oleh Rabithoh Alam Islamy dan OKI, yang diterbitkan di Mekah/ Saudi Arab? Karena kalau fakta dari Kitab Suci Alqur-aan sih tidak ada! Atau tolong bantu saya untuk menemukannya! Terima kasih sebelumnya!

Adapun fakta-fakta yang ada dari Alqur-aan, yang jumlahnya tidak sedikit itu adalah peringatan dari Tuhan kepada manusia seperti:

· Ya hasratan ‘alal ‘ibaadi maa ya’tiihim mir rasuulin illaa kaanuu bihii yastahzi-uun - Ah, sayang bagi hamba-hamba-Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang Rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya (Yaa Siin, 36:30).

· Wa maa ya’tiihim mir rasuulin illaa kaanuu bihii yastahzi-uun – Dan tidak pernah datang kepada mereka seorang Rasul pun, melainkan kepadanya mereka memperolok-olokkan (Al Hijr, 15:11)

· Wa maa ya’tiihim min nabiyyin illaa kaanuu bihi yastahzi-uun - Dan, tidak pernah datang kepada mereka seorang Nabi, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya (Az Zukhruf, 43:7)

Dan ada banyak peringatan dari Tuhan Maha Kuasa terhadap orang-orang yang meng-olok-olokkan, menolak dan mendustakan Rasul atau Nabi itu; inilah salah satu contohnya:

Fa ahlaknaa asyadda minhum bathsyaw wa madhaa matsalul awwaliin - Maka Kami membinasakan yang lebih kuat dari mereka pun, dan telah berlalu pula contoh-contoh orang-orang terdahulu (yang mendurhakai Nabi/Rasul; Az Zukhruf, 43:8).

Sungguh mengherankan jika Ulama-ulama MUI itu telah menghebohkan seluruh warga RI dengan isu Nabi palsu yang menyesatkan, padahal bukan MUI yang membuat SK pengangkatan para Nabi itu khan? Yang tahu mana Nabi yang palsu dan mana Nabi yang benar, bukanlah Ulama-ulama MUI, bukan pula Ulama-ulama OKI dan bukan pula Ulama-ulama Rabithoh Alam Islamy; tetapi hanya Tuhan Yang Satu.

Lagi pula siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk pun hanyalah Tuhan; Allah berfirman:

An Nahl, 16:125 …….. inna rabbaka huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihii wa huwa a’lamu bil muhtadiin - ….. Sesunguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pertanyaannya: Apakah ulama-ulama MUI atau OKI atau Rabithah merasa lebih tahu dari apa yang difirmankan oleh Tuhan?

Baca juga ayat-ayat lainnya yang maksudnya sama, dalam An Najm (53:30), dan Al Qalam (68:7).

Pertanyaannya adalah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau menggunakan pikiranmu, menggunakan akal sehatmu?

Nabi Palsu, orang yang mengaku-ngaku mendapat wahyu atau ilham bahwa ia adalah Utusan Tuhan, apakah akan dibiarkan oleh Tuhan? Apakah akan diibiarkan misinya sukses di dunia?

Nabi palsu tidak akan dibiarkan oleh Tuhan hidup lama sehingga akan menyesatkan manusia. Nabi Palsu (dan yang Tahu bahwa ia itu adalah Nabi palsu tentu hanyalah Tuhan sendiri; kalau dalam jabatan dunia seperti Presiden-lah yang membuat SK-nya, jadi ia-lah yang tahu), Nabi Palsu itu akan langsung ditangkap dan dicengkeram oleh Tangan Tuhan sendiri (dan tidak ada yang bisa menghalanginya), firman Allah swt.:

Al Haaqqah (69 : 44-46) : Wa lau taqawwala ‘alainaa ba’dhal aqaawiil. La akhadznaa minhu bilyamiin. Tsumma la qatha’naa minhul matiin – Dan sekiranya meng-ada-adakan sebagian dari perkataan dengan atas nama Kami. Niscaya Kami akan menangkap dia dengan Tangan kanan. Kemudian, kami potong urat nadi lehernya.

Apakah tangan-tangan MUI, Rabithah dan OKI merasa lebih kuat daripada Tangan Tuhan untuk mencengkeram Nabi yang dikatakan oleh mereka sebagai palsu itu?? Padahal Tuhan telah berfirman juga (69:47) Dan tiada seorang pun di antaramu yang dapat mencegahnya!

Pertanyaannya adalah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau menggunakan pikiranmu, menggunakan akal sehatmu?

Baca juga ayat-ayat lainnya yang maksudnya serupa Al Mu’min (40:28), Al Ahqaaf (46:8).

Jadi kalau sudah dibuktikan bahwa misinya Nabi Isabnu Maryam akhir zaman, yang adalah pengikut sejati dan pengikut setia dari Nabi Muhammad yang Khaataman Nabiyyiin ini sukses di seluruh dunia untuk selama lebih dari 122 tahun, dan sudah berdiri di hampir 200 negara di dunia, walaupun MUI, MenAg. RI, OKI dan Rabithah tidak menyukainya, bahkan menetang dan menolaknya, apakah ini artinya??? Artinya tidak lain, insya Allah Taala: Ahmadiyyah Zindabad!!!

Pertanyaannya adalah: A fa laa ta’qiluun – Apakah engkau tidak mau menggunakan pikiranmu, menggunakan akal sehatmu?

Mersela, 15-4-2011

Selasa, 08 Maret 2011

AHMADIYAH Salah, Biar Tuhan Menghukumnya

Mahfud MD (MK): (Kalau) Ahmadiyah Salah Biar Tuhan Sendiri Menghukumnya

Antara - 1 jam 36 menit lalu 7 Maret 2011

Mahfud: Ahmadiyah Salah Biar Tuhan Sendiri Menghukumnya

Jakarta (ANTARA) - "Saya lebih suka kembali ke dalilnya Gus Dur bahwa setiap orang tidak usah membela Tuhan, karena Tuhan itu tidak perlu dibela. Tuhan itu bisa membela dirinya sendiri kok. Kalau Ahmadiyah memang salah, biar Tuhan yang menghakimi," kata Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, di Jakarta, Selasa.

Hal ini diungkapkan ketua MK ini menanggapi berbagai aksi kekekarsan dan pelarangan terhadap kegiatan Ahmadiyah di berbagai daerah.

Untuk itu Mahfud mengimbau setiap kelompok masyarakat tidak melakukan kekerasan atas nama agama kepada orang lain karena negara menjamin hak setiap warga melaksanakan keyakinannya secara merdeka tanpa ada paksaan oleh siapapun dan dalam bentuk apapun.

Mantan menteri pertahanan era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menyesalkan banyaknya tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok organisasi masyarakat yang mengatasnamakan agama.

Tindakan intimidasi, penganiayaan, serta pengrusakan yang dilakukan kepada jamaah Ahmadiyah itu akan membunuh masa depan setiap warga yang akan menjalankan keyakinannya.

"Itu kan kasihan sekali, kalau masa depan (jamaah Ahmadiyah) tidak ada hanya karena keyakinannya mau dibunuh. Konstitusi tidak membolehkan jika ada warga negara yang merasa terancam karena keyakinannya," katanya.

Tentang permintaan pembubaran kegiatan Ahmadiyah, Mahfud juga mengatakan bukan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Misalnya Ahmadiyah dibubarkan, tidak akan menghilangkan keyakinan mereka. Organisasinya bubar, tapi penganutnya tidak bubar, karena itu keyakinan," katanya.

Mahfud juga tidak setuju tentang usulan Ahmadiyah menjadi agama sendiri. "Itu juga tidak akan selesai, karena Ahmadiyah itu bukan soal nama, tapi simbol-simbol Islam di situ, Al Qurannya sama, sholatnya sama," kata Mahfud.

Ketua MK ini juga mengakui bahwa kasus Ahmadiyah membuat negara menjadi dilematis karena dalam satu sisi harus menjamin dan melindungi setiap keyakinan orang.

"Tetapi di sisi lain, orang Islam merasa keyakinannya juga harus dilindungi, kalau Ahmadiyah beroperasi itu berarti, keyakinan Islam tidak terlindungi, itu yang di-suarakan oleh FPI," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, negara sebaiknya kembali ke hukum saja, yakni hanya tindakan saja yang dinilai oleh negara, bukan masalah keyakinannya.


Usul solusinya:

Bagaimana jika semuanya saja (Mainstream) itu ikut dan masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah; pasti semuanya beres, tidak ada yang dirugikan; aman dan mendapatkan banyak berkat dan ridha Ilahi, sampai Kiamat. Insya Allah Taala.

Daripada saling pukul eh - atau memukuli orang lain yang sama-sama membaca Kalimah Syahadat dll sehingga menjadi Kaafir kembali sebagaimana yang sudah diprediksikan oleh YM. Nabi Muhammad saw. Dalam Khutbah Haji Perpisahannya (Wa’da):

JANGANLAH KAMU MENJADI KAFIR KEMBALI SEPENINGGAL AKU (Rasulullah saw), YAITU DENGAN SALING MEMUKUL SATU SAMA LAIN DI ANTARA KAMU:

Diriwayatkan dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku sewaktu Haji Wada’ supaya menyuruh para manusia agar diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda:

“Janganlah kamu kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku dengan memukul-mukul leher di antara satu sama lain di kalangan kamu“ (HR Bukhari dan Muslim/ Muttafaq ‘alaih).

Salaaamun; Mersela 9-3-2010

Rabu, 23 Februari 2011

KHALIFAH DIANGKAT OLEH TUHAN, Rusuhlah Manusia

Tuhan mengangkat seorang Khalifah
Dan Rusuh-lah orang arus Mainstream yang Menolaknya

Wa idz qalaa rabbuka lil malaa-ikati innii jaa-ilun fil ardhi khaliifatan ……

Dan ketika Tuhan engkau berkata kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di bumi;” Berkata mereka (para Malaikat itu), “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan membuat kekacauan di dalamnya dan akan menumpahkan darah? …..
Berfirman Dia, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui?”
(Al Baqarah 30/31)

Keterangan:
· Mala-’ikah, para Malaikat berarti yang mengawasi dan mengendalikan, dan juga yang mengirimkan; mereka-lah yang mengendalikan kekuatan-kekuatan alam dan juga membawa wahyu Ilahi kepada Utusan-utusan Allah dan Pembaharu-pembaharu samawi.
· Wujud Khalifah diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan.
· Para Malaikat itu sebenarnya tidak mengemukakan keberatannya terhadap rencana Ilahi itu; keberatan dari para Malaikat itu hanya menyiratkan tentang akan adanya orang-orang di bumi yang akan membuat kekacauan dan menumpahkan darah.
· Karena manusia di-anugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan juga untuk berbuat jahat, para Malaikat itu hanya melihat dari segi gelapnya tabi’at manusia; tetapi, Tuhan mengetahui bahwa manusia dapat mencapai tingkat ahlak yang demikian tingginya, sehingga ia dapat menjadi cermin sifat-sifat Ilahi; itulah yang Tuhan katakan, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Sekali lagi Tuhan menetapkan, Wujud Khalifah diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan; orang bertanya, mengapa bukan ulama-ulama saja, yang ditugasi untuk menegakkan ketertiban dan hukum di dunia ini – seperti yang selalu ditonjolkan oleh Islam Mainstream itu - Namun fakta menunjukkan bahwa justru Ulama-ulama uhum mereka itulah yang selalu mengganjal dan menganiaya orang-orang pilihan yang diutus oleh Tuhan itu. Lihatlah Nabi Isa Jesus a.s. bahkan telah dihukum Salib oleh Penguasa Romawi (Pilatus) atas desakan dan fitnahan dari Ulama-ulama Yahudi yang menuduh bahwa Nabi Isa a.s. itu akan mendirikan sebuah “kerajaan”.

(Rujukan Surah Al Baqarah Ayat 30/31)


PPSi, Mersela- Jakarta Barat; 24-2-2011

Selasa, 18 Januari 2011

AHMADIYAH Kebangkitan kembali Islam (III) Baraheen Ahmadiyyah

AHMADIYYAT THE RENAISSANCE OF ISLAM
AHMADIYYAH KEBANGKITAN KEMBALI ISLAM (Jilid III)

Kisah Hadhrat Mirza Ghulam a.s.; Sebelum Pengangkatan sebagai Utusan Allah, Hadhrat Ahmad dikenal sebagai Pembela dan Pahlawan Islam;
Baraheen Ahmadiyyah - Tafsir Alqur-aan

Dari tulisan sebelumnya; katakanlah Jilid I:
Atas pilihannya sendiri Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjalani kehidupannya yang bukan saja sederhana tetapi cermat dan ketat juga; beliau menyibukkan diri terutamanya dengan beribadah menyembah Allah, berdzikir mengingat Tuhan, mempelajari dan merenungkan Kitab Suci Alqur-aan Al-hadits dan literature keagamaan lainnya. Beliau berlangganan satu dua buah Surat Kabar, dan satu kali beliau mengajukan permintaan kepada kakandanya (Mirza Gulam Qadir, yang memegang dan mengelola separuh harta warisan haknya dari ayahandanya yang banyak itu) untuk membayar langganan Surat Kabar tersebut, yang ditolak dengan dasar bahwa untuk orang yang tidak punya kerja, membaca Surat Kabar itu hanya membuang waktu yang sia-sia saja dan mengeluarkan uang untuk itu dianggapnya berlebih-lebihan.

Anggota-anggota keluarga lainnya pun tidak ada yang berminat atas cara hidupnya Hadhrat Ahmad, beberapa dari mereka bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa permusuhannya dan rasa muaknya atas arah kehidupan Hadhrat Ahmad; tetapi Hadhrat Ahmad tidak membiarkannya hal ini mengganggu kenteraman cara hidupnya, beliau menerima apa saja yang datang dengan spirit bertawakal penuh gembira, menganggap bahwa hal itu adalah ujian yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk dapat bertahan.

Hadhrat Ahmad merasa sedih melihat keadaan orang-orang di saat itu, seperti dikatakannya:
Kesan selama bekerja beberapa tahun di Sialkot itu Hadhrat Ahmad melihat bahwa sangat sedikit sekali orang yang mengamalkan kewajiban agamanya sebagaimana mestinya, sedikit saja dari mereka yang menghindarkan diri dari kegemaran mengejar barang haram. Hadhrat Ahmad mengatakan: Saya sungguh heran melihat cara kehidupan mereka itu. Saya melihat mereka itu senang mengumpulkan uang baik yang halal maupun yang haram juga, di mana dalam masa hidup yang singkat ini usaha mereka ditujukan pada kepentingan duniawi belaka. Saya menemukan hanya sedikit saja orang-orang yang merefleksikan ke-Agungan Ilahi, dengan menanamkan nilai-nilai ahlak yang tinggi, seperti kelembutan dan kesabaran, kemuliaan, kesucian dan kesederhanaan, kerendahan hati dan perasaan simpati terhadap sesama. Saya mendapatkan kebanyakan mereka itu terkena penyakit sombong, kelakuan yang tidak senonoh, melalaikan nilai-nilai keagamaan dan segala macam ahlak perilaku yang buruk. Hadhrat Ahmad mengatakan, adalah kebijakan Allah Maha Kuasa yang telah menakdirkan kepada saya untuk mendapatkan pengalaman dengan berbagai macam tipe orang-orang, di mana saya itu harus berteman dengan mereka yang dari bermacam-macam jenis orang ini. (Dalam Kitabul Barriyah).

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya (dalam Jilid I), mulai dari tahun 1872 dan seterusnya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mulai muncul sebagai pahlawan pembela Islam, membela dan mempertahankan Islam dari serangan Kristiani, Arya Samajist dan Bramho Samajist dengan menyajikan keindahan dan ketinggian ajaran Islam di dalam segala aspek. Beliau melakukan hal ini dengan menulis artikel-artikel untuk diterbitkan antara lain dalam Surat Kabar dan Majalah.

Di saat itu, kegiatan Arya Samaj yang didirikan oleh Swami Dayanand sudah berkembang dengan cepatnya di Punjab dan mulai ditujukan secara kasar dan bahkan dengan kritikan yang menghina terhadap Islam, terhadap doktrin dan ajarannya. Dalam polemic itu pribadi YM Nabi Muhammad saw pun tidak tertinggal, di mana karakter beliau saw. itu di-interpertasikan secara keji dalam dalam ukuran yang paling busuk. Sisi lainnya yang dari mana Islam itu diserang adalah dengan serangan yang konstan dari organisasi missionary Kristiani, yang serangan sengitnya terhadap Islam dituliskan dalam ukuran yang paling ofensif.

Hadhrat Ahmad melihat: Di dalam situasi seperti ini orang-orang Islam sendiri berada dalam keadaan yang sama sekali tidak berdaya dan memperlihatkan ketiadaan ghairah yang amat sangat. Mereka, orang-orang Islam yang masih hidup dalam menghadapi risiko bahaya yang mengancam Islam dan orang Muslim, tidak dapat berpikir tentang cara apa yang efektif dalam menghadapi bahaya ini dan bagaimana mengatasinya. (Jadi, mengapa kemudian, Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang dijanjikan itu perlu datang!)

Mirza Ghulam Ahmad membuktikan bahwa beliau adalah seorang yang “great exception” yang memiliki kekecualian yang istimewa. Beliau mempelajari Kitab Suci Alqur-aan, yang dengan merenungkannya secara mendalam, mempelajari kebenaran-kebenaran abadi, menggantungkan kepercayaan sepenuhnya akan rahmat keberkahan, kebajikan Tuhan serta pengalaman hubungannya dengan Dia, sudah memperlengkapi dia dengan kualitas sebagai pahlawan juara Islam yang efektif. Dengan petunjuk ilham Ilahi beliau merasa didesak untuk memulai usaha sebuah proyek yang bukan saja menolong untuk menjaga dan melindungi Islam terhadap serangan permusuhan, tetapi juga yang akan dengan secara jelas dan memperlihatkan secara terbukti keunggulannya Islam di atas semua agama-agama dan keyakinan lainnya. Hadhrat Ahmad dengan keteguhan hatinya memulai mengemukakan keistimewaan Islam di dalam sebuah karya besar yang beliau tetapkan dalam apa yang dinamakan Baraheen Ahmadiyyah.

Islam sedang diserang dari berbagai jurusan, Orang-orang Brahmo Samaj menggunakan segala daya upaya untuk menegakkan superiority dari keyakinannya di atas Islam dengan melalui tulisan-tulisan falsafahnya. Saudara-saudara Kristiani mendedikasikan ssluruh usahanya untuk menghapuskan Islam …… ; singkatnya seluruh pengikut dari semua agama-agama yang lain itu berkeinginan keras untuk menghapuskan Nur Islam. Sudah lama kami merasa sangat cemas, siapakah kiranya ada seseorang Ulama Muslim yang mendapat ilham dari Tuhan untuk berdiri mendukung dan membela Islam, yang bisa menulis buku yang sesuai zaman yang sesuai akal dan dengan dalil-dalil skriptual untuk membuktikan bahwa Alqur-aan adalah Firman Tuhan dan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. adalah seorang Nabi yang benar Utusan Tuhan. Kami merasa sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa keinginan kami itu telah terpenuhi. Inilah buku yang sudah lama kami tunggu-tunggu itu yang bernama Baraheen Ahmadiyyah, di mana pengarangnya telah mengemukakan 300 dalil-dalil yang meyakinkan untuk membuktikan kebenaran Alqur-aan dan kebenaran Kenabian Muhammad saw.

Baraheen Ahmadiyyah untuk Membela dan Meng-Unggulkan Islam di atas semua Agama
Commentary on The Holy Quran – Volume I Surah Fatihah (Contohnya di bawah ini):

Criticism of Bismillah Refuted – Bantahan Terhadap Kritikan atas Bismillah

Kami akan menjelaskan mengenai keberatan atas bahasa sastera dari “Bismillah ir Rahmanir Rahim” oleh beberapa pengkritik, (1) Rev. Mr. Imaduddin seorang pendeta Kristiani yang menulis keberatannya di dalam bukunya “Hidayatul Muslimeen”; dan (2) Bawa Narain Singh, seorang Hindu gentleman, pendebat dari Amritsar, yang karena kefanatikannya hanya meng-copy keberatannya dalam majalahnya “Vidya Prakashak”.

Keberatannya adalah katanya bahwa “Rahmanir Rahim” itu canggung, tidak elegant, dan bahwa urutan yang seharusnya adalah “Ar-Rahimar-Rahman”. Mereka mendebat bahwa sebagaimana Rahman mengandung arti Maha Pemurah, yang menunjukkan kasih sayang yang meliputi alam semesta … sedangkan Rahim mengandung arti Maha Penyayang, menunjukkan kasih-sayang dengan ruang lingkup yang terbatas; jadi yang terakhir ini lebih terbatas dari yang terdahulu
(Inilah contohnya kritikan yang harus ditanggapi dan dipatahkan itu),
Hadhrat Ahmad telah memberikan bantahannya secara panjang lebar, dengan menelanjangi bahwa orang yang mengkritik, Mr. Imaduddin itu bahkan tidak faham untuk berbicara dalam Bahasa Arab literary style …..
Hadhrat Ahmad mengundangnya untuk tampil di muka public, agar Mr. Imaduddin ini berbicara dalam Bahasa Arab tentang satu ceritera sederhana saja, agar dibandingkan dengan ber bicaranya seorang Arab tentang yang sama, apakah benar Imaduddin mampu menyampaikannya dalam Bahasa Arab dalam elegant literary style; yang ditentukan oleh wasit pilihan. Hadhrat Ahmad bersedia memberikan hadiah Rs 50 cash price. Tetapi Mr. Imaduddin tidak berani meresponnya.

Favoured Ones Wellcome Trials as Bounty.
Orang-orang kesayangan (Tuhan) Menerima Ujian sebagai Anugerah/Rahmat.

Haruslah diingat bahwa orang-orang kesayangan Tuhan yang dianugrahi dengan karunia Ilahi, baik pisik dan spiritual, tidak dikecualikan dari kesulitan dan kesukaran. Sebaliknya orang-orang ini berhadapan dengan banyak-banyak ujian dan kesukaran di dalam kehidupan ini, sehingga orang-orang yang tidak benar-benar tabah dan teguh pendiriannya, dalam situasi yang sedemikian itu menghadapi risiko bahaya kehilangan keimanannya. Tetapi bagi orang-orang yang sudah di-tunjuk sebagai penerima kebajikan bounties, mereka itu memandang bencana atau malapetaka itu sebagai hadiah, karena dalam kecintaannya yang meliputi segalanya itu kepada Allah, setiap kesakitan dan rasa sakit yang diterima dari Sahabat Hakikinya itu adalah sumber kesenangan bagi mereka dikarenakan sudah mabuknya mereka dalam kecintaannya kepada Allah itu. Dst dst dst.

Demikianlah antara lain kisah dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, sebelumnya beliau mendapatkan penunjukan atau pengangkatan resmi dari Allah SWT melalui wahyu-wahyu yang diterimanya:

· Tahun 1882 sebagai Mujaddid atau Reformer pada permulaan Abad ke-14 Hijriah.
· Tahun 1889 sebagai Imam Mahdi.
· Tanggal 23-3-1889 mendapat perintah untuk menerima Bai’at, yang dilaksanakan di Ludhiana.
· Tahun 1890 – 1891 Sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa (a.s.) yang dijanjikan kedatangannya dalam Nubuatan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w.
· Jadi apa gunanya diturunkan Imam Mahdi, Nabi Isa yang dijanjikan ini? Sesuai wahyu yang diterima oleh Hadhrat Ahmad. tujuan diturunkannya beliau adalah: ‘Yuhyid diina wa yuqimush syariah’ – untuk ‘Menghidupkan Agama (Islam) dan menegakkan Syari’at (pada tahun 1883).

Himbauan:
Semoga jika para “detractor”, tukang pencela dan tukang fitnah sempat membaca tulisan ini, ia (mereka) akan berpikir sebelumnya melemparkan penghinaan dan fitnah kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., di manakah letaknya bahwa Jemaat Ahmadiyah itu adalah buatan Inggris yang katanya untuk menghancurkan Islam, didukung bantuan Pemerintah Amerika, antek Zionis Yahudi, antek Komunis dan PKI dan tuduhan fitnah dusta semacam itu yang terus menerus dilemparkan kepada Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya. Kita menasihatkan kepada mereka:

Manusia hidup di dunia itu tidak lama; ada saatnya manusia harus kembali dan berhadapan dengan Sang Pencipta; setiap manusia harus mempertanggung-jawabkan segala apa yang ia perbuat, segala apa yang ia lakukan selama hidup di dunia yang hanya sebentar dan sementara ini. Camkanlah:

“Takutlah kepada Allah SWT.”, “Takutlah akan hukuman dari Tuhan Maha Kuasa Pemberi Hukuman Pembalasan”.
“Lillaahi rabbil ‘alamiin” – “Maaliki yaumid diin” - “Yang Menguasai Pembalasan”
“Inallaaha ‘aziizun dzuntiqaam” – “Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Mempunyai Pembalasan”.


AHMADIYYAT The Renaissance of Islam – Muhammad Zafrullah Khan

Commentary on The Holy Quran – Compiled from Writings and Pronouncement of Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

http://www.marsela-ppsi.blogspot.com

Google: AHMADIYYAH – Kebangkitan kembali Islam

Bacalah juga: http://www.ahmadiyya.or.id ….. riwayat-hidup-mirza-ghulam-ahmad

PPSi – Mersela / Jak. Bar.; 18 Januari 2011 (Pro: Khadeejah di Bontang)

Senin, 10 Januari 2011

AHMADIYAH Kebangkitan kembali Islam (II)

AHMADIYYAT THE RENAISSANCE OF ISLAM
AHMADIYYAH KEBANGKITAN KEMBALI ISLAM (Jilid II)

Kisah Hadhrat Mirza Ghulam a.s.; Masa Anak-anak / Remaja/ Usia Muda:
Sebelum Pengangkatannya sebagai Utusan Allah pun, Hadhrat Ahmad sudah dikenal sebagai Pembela dan Pahlawan Islam di zamannya itu

Dari tulisan sebelumnya; katakanlah Jilid I:
Setelah ayahnya, yang bernama Mirza Ghulam Murtadha wafat (1876), walaupun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berhak untuk memperoleh separuh dari warisan ayahnya yang banyak itu, tetapi beliau tidak menaruh perhatian terhadap harta ini dan memilih untuk hidup diurus oleh kakaknya yang bernama Mirza Gulam Qadir; dengan diberikan pakaian seadanya dan makan sehari-hari makanan yang dikirim oleh istri kakandanya itu.

Kakandanya itu menghormati beliau dan merasa senang untuk menyediakan segala keperluan hidup baginya; tetapi merasa bahwa pengabdiannya terhadap agama itu adalah hobi yang tidak ada gunanya; kakandanya menasihati agar Hadhrat Ahmad mencari pekerjaan untuk mendapatkan hasil. Maka dalam beberapa tahun selama kakandanya hidup itu (1876 – 1883), hidupnya Mirza Ghulam Ahmad sangat terkekang dan dibatasi dalam beberapa aspek.

Atas pilihannya sendiri Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjalani kehidupannya yang bukan saja sederhana tetapi cermat dan ketat juga; beliau menyibukkan diri terutamanya dengan beribadah menyembah Allah, berdzikir mengingat Tuhan, mempelajari dan merenungkan Kitab Suci Alqur-aan Al-hadits dan literature keagamaan lainnya. Beliau berlangganan satu dua buah Surat Kabar, dan satu kali beliau mengajukan permintaan kepada kakandanya sedikit uang untuk membayar langganan Surat Kabar tersebut, yang ditolak dengan dasar bahwa untuk orang yang tidak punya kerja, membaca Surat Kabar itu hanya membuang waktu yang sia-sia saja dan mengeluarkan uang untuk itu dianggapnya berlebih-lebihan.

Anggota-anggota keluarga lainnya pun tidak ada yang berminat atas cara hidupnya Hadhrat Ahmad, beberapa dari mereka bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa permusuhannya dan rasa muaknya atas arah kehidupan Hadhrat Ahmad; tetapi Hadhrat Ahmad tidak membiarkannya hal ini mengganggu kenteraman cara hidupnya, beliau menerima apa saja yang datang dengan spirit bertawakal penuh gembira, menganggap bahwa hal itu adalah ujian yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk dapat bertahan.

Hadhrat Ahmad merasa sedih melihat keadaan orang-orang di saat itu, seperti dikatakannya:
Kesan selama bekerja beberapa tahun di Sialkot itu Hadhrat Ahmad melihat bahwa sangat sedikit sekali orang yang mengamalkan kewajiban agamanya sebagaimana mestinya, sedikit saja dari mereka yang menghindarkan diri dari kegemaran mengejar barang haram. Hadhrat Ahmad mengatakan: Saya sungguh heran melihat cara kehidupan mereka itu. Saya melihat mereka itu senang mengumpulkan uang baik yang halal maupun yang haram juga, di mana dalam masa hidup yang singkat ini usaha mereka ditujukan pada kepentingan duniawi belaka. Saya menemukan hanya sedikit saja orang-orang yang merefleksikan ke-Agungan Ilahi, dengan menanamkan nilai-nilai ahlak yang tinggi, seperti kelembutan dan kesabaran, kemuliaan, kesucian dan kesederhanaan, kerendahan hati dan perasaan simpati terhadap sesama. Saya mendapatkan kebanyakan mereka itu terkena penyakit sombong, kelakuan yang tidak senonoh, melalaikan nilai-nilai keagamaan dan segala macam ahlak perilaku yang buruk. Hadhrat Ahmad mengatakan, adalah kebijakan Allah Maha Kuasa yang telah menakdirkan kepada saya untuk mendapatkan pengalaman dengan berbagai macam tipe orang-orang, di mana saya itu harus berteman dengan mereka yang dari bermacam-macam jenis orang ini. (Dalam Kitabul Barriyah).

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya (dalam Jilid I), mulai dari tahun 1872 dan seterusnya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mulai muncul sebagai pahlawan pembela Islam, membela dan mempertahankan Islam dari serangan Kristiani, Arya Samajist dan Bramho Samajist dengan menyajikan keindahan dan ketinggian ajaran Islam di dalam segala aspek. Beliau melakukan hal ini dengan menulis artikel-artikel untuk diterbitkan antara lain dalam Surat Kabar dan Majalah.

Buku Baraheen Ahmadiyyah untuk Membela dan Meng-Agungkan Islam dan Nabi Suci Muhammad Rasulullah s.a.w.

Di saat itu, kegiatan Arya Samaj yang didirikan oleh Swami Dayanand sudah berkembang dengan cepatnya di Punjab dan mulai ditujukan secara kasar dan bahkan dengan kritikan yang menghina terhadap Islam, terhadap doktrin dan ajarannya. Dalam polemic itu pribadi YM Nabi Muhammad saw pun tidak tertinggal, di mana karakter beliau saw. itu di-interpertasikan secara keji dalam dalam ukuran yang paling busuk. Sisi lainnya yang dari mana Islam itu diserang adalah dengan serangan yang konstan dari organisasi missionary Kristiani, yang serangan sengitnya terhadap Islam dituliskan dalam ukuran yang paling ofensif.

Hadhrat Ahmad melihat: Di dalam situasi seperti ini orang-orang Islam sendiri berada dalam keadaan yang sama sekali tidak berdaya dan memperlihatkan ketiadaan ghairah yang amat sangat. Mereka, orang-orang Islam yang masih hidup dalam menghadapi risiko bahaya yang mengancam Islam dan orang Muslim, tidak dapat berpikir tentang cara apa yang efektif dalam menghadapi bahaya ini dan bagaimana mengatasinya. (Jadi, mengapa kemudian, Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang dijanjikan itu perlu datang!)

Mirza Ghulam Ahmad membuktikan bahwa beliau adalah seorang yang “great exception” yang memiliki kekecualian yang istimewa. Beliau mempelajari Kitab Suci Alqur-aan, yang dengan merenungkannya secara mendalam, mempelajari kebenaran-kebenaran abadi, menggantungkan kepercayaan sepenuhnya akan rahmat keberkahan, kebajikan Tuhan serta pengalaman hubungannya dengan Dia, sudah memperlengkapi dia dengan kualitas sebagai pahlawan juara Islam yang efektif. Dengan petunjuk ilham Ilahi beliau merasa didesak untuk memulai usaha pada sebuah proyek yang bukan saja menolong untuk menjaga dan melindungi Islam terhadap serangan permusuhan, tetapi juga yang akan dengan secara jelas dan memperlihatkan secara terbukti keunggulannya Islam di atas semua agama-agama dan keyakinan lainnya. Hadhrat Ahmad dengan keteguhan hatinya memulai mengemukakan keistimewaan Islam di dalam sebuah karya besar yang beliau tetapkan dalam apa yang dinamakan Baraheen Ahmadiyyah.

Menjelang Bulan Mei 1879 beliau telah membuat kemajuan yang besar dalam mengarang karya besarnya untuk membuat pengumuman kepada public mengenai lingkup dan tujuannya. Kesulitan utama dalam perjalanannya adalah ia kekurangan dana untuk penerbitannya. Beliau menyerukan permintaan sumbangan bagi yang memperoleh kemudahan untuk menolong beliau dengan membayar dimuka uang langganannya. Tetapi dengan kemiskinan yang melanda orang-orang Islam, dan tidak adanya antusias mereka untuk agama, maka responnya tidak seperti yang diharapkan. Ada beberapa orang yang makmur yang memberikan sumbangan dengan melebihi harga dari jilid-jilid yang direncanakan, sehingga memungkinkan pengarang buku ini dapat memulai penerbitannya. Dua jilid yang pertama bisa diterbitkan pada tahun 1880.

Dalam jilid I dikemukakan tantangan jika ada seorang pengikut dari sesuatu agama selain dari Islam yang dapat mengemukakan atas nama agamanya, setengahnya saja, atau seperempatnya atau seperlimanya saja keistimewaannya, yang ia sendiri usulkan untuk merumuskannya sebagai dasar dari Islam, maka ia akan menghadiahkan seluruh kekayaannya yang senilai 10.000 Rupees,

Karangan dan penerbitan dari pekerjaan besar dan komprehensif ini adalah merupakan usaha yang sangat besar sekali, yang berhadapan dengan berbagai macam kesulitan. Pengarangnya sendiri adalah seorang ulama terkemuka di dalam Islam dan dalam ilmu perbandingan agama, yang sudah biasa menikmati pengalaman berhubungan dengan Tuhan, di mana beliau secara konstan menerima wahyu. Beliau juga dapat membaca buku-buku di dalam Perpustakaan warisan kakeknya, yang sebagiannya sudah dihancurkan oleh orang Sikh di zaman kakeknya itu.

Qadian adalah satu tempat kecil, stasion kereta api dan kantor telegraf yang terdekat –Batala- letaknya sejauh 11 mil atau 18 km dari Qadian yang jalannya penuh berlubang dan orang biasa berjalan kaki daripada naik kereta kuda yang kadang-kadang ada; Percetakan dan penerbitan adanya di Amritsar yang jauhnya 35 mil atau 57 km dari Qadian, dari Batala bisa naik kereta api sejauh 39 km atau 24 mil. Tidak ada seorang pun di Qadian yang dapat membantu Hadhrat Ahmad untuk pekerjaan yang besar ini. Beliau menulis naskah dengan tangan sendiri dan pada saatnya setelah siap beliau membawanya sendiri ke percetakan di Amritsar, dan perlu beberapa kali perjalanan bolak-balik selama pencetakan Baraheen Ahmadiyyah ini. Jadi, buku ini dikerjakan, ditulis dan diterbitkan atas usaha seorang diri yang hanya dibantu oleh kemurahan dan kebaikan Ilahi.

Penghargaan sangat tinggi diberikan kepada Buku Baraheen Ahmadiyyah jilid I dan II dan pengarangnya oleh para Ulama Islam tersohor dan orang-orang Muslim yang terkemuka, seperti:

Maulvi Hussain Sahib dari Batala, pemimpin sekte Ahli Hadits, yang diterbitkan dalam majalahnya “Ishaatas Sunnah”: (sebelum Maulvi Hussain memusuhi Hadhrat Ahmad a.s., karena mendakwakan dirinya sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa yang dijanjikan) antara lain:

Menurut pendapat kami, di dalam abad ini dan dalam keadaan seperti ini, ini adalah sebuah buku yang tnadingannya tidak pernah diterbitkan dalam Islam sampai hari, atau nanti pun barangkali tidak akan ada. Pengarangnya telah membuktikan dirinya begitu teguh dan gigihnya dalam pengabdiannya terhadap Islam melalui penanya, uangnya, lidahnya dsb., dan bahwa hanya ada beberapa orang saja yang bisa diketemukan di dalam Islam dst ……. Pengarang Baraheen Ahmadiyyah ini, menurut testimony dari teman-teman dan juga yang memusuhinya, mengatur kehidupannya menuruti hokum Syariat Islam dan seorang yang shaleh dan benar, dapat dipercaya. Sudah diketahui umum bahwa bujukan suara Syaithan itu kebanyakannya adalah palsu, tetapi tidak ada wahyu-wahyu yang diterima oleh pengarang Baraheen Ahmadiyyah yang bisa dibuktikan palsu, bahkan sampai hari ini pun. Dapatkah seorang Muslim pengikut Kitab Alqur-aan mempercayai bahwa Syaithan itu dapat diberi ilmu seperti halnya para Nabi-nabi dan Malaikat-malaikat?
Keistimewaan buku ini dan manfaatnya untuk Islam dapat dikenali oleh mereka yang membacanya dengan hati terbuka. Oleh karena itu kami ingin mengemukakan bahwa menolong penerbitan buku ini dengan memberikan kontribusi untuk biaya pencetakannya merupakan tugas bagi seluruh umat Muslim. Pengarang Baraheen Ahmadiyyah ini, telah memelihara kehormatan orang-orang Muslim dan telah menantang orang-orang penentang Islam dengan kerasnya. Beliau telah mengumumkan kepada seluruh dunia, siapa yang meragukan kebenaran Islam supaya datang kepadanya dan harus menjadi saksi akan bukti-bukti intelektual dan spiritual berdasarkan Alqur-aan, serta manifestasi yang penuh kejaiban atas Kenabian Muhammad saw. dalam mendukung kebenaran Islam.

Pengagum lainnya Baraheen Ahmadiyyah adalah Hadhrat Sufi Ahmad Jaan dari Ludhiana, beliau sendiri adalah seorang Wali Sufi yang besar, beliau menulis a.l.:
Seorang pribadi yang besar, pendermawan bagi kemanusiaan, sumber dari kebajikan dan kemurahan hati, pembuktian secara pribadi tentang Islam, yang mendapat penghormatan di atas coomonalty dan nobility, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, semoga diberikan banyak keberkatan, Kepala Suku di Qadian, di Distrik Gurdaspur, Punyab yang telah menulis Buku Baraheen Ahmadiyyah …… Buku ini menegakkan kebenaran dari Islam dan kebenaran Kenabian Muhammas saw. dan Kitab Suci Alqur-aan, melalui 300 bukti yang kuat. dst.

Pemberi resensi yang penuh penghargaan terhadap buku ini diterbitkan oleh Maulvi Muhammad Sharif Sahib dari Bangalore, India Selatan yang adalah Editor dari “Manshoor Muhammadi”. Beliau memberikan judul dari resensinya dengan Ayat Alqur-aan: ‘Kebenaran telah datang dan Kebatilan telah lenyap (17:82).
Islam sedang diserang dari berbagai jurusan, Atheisme merebak dan irreligious sedang terus meningkat. Orang-orang Brahmo Samaj menggunakan segala daya upaya untuk menegakkan superiority dari keyakinannya di atas Islam dengan melalui tulisan-tulisan falsafahnya. Saudara-saudara Kristiani mendedikasikan ssluruh usahanya untuk menghapuskan Islam …… ; singkatnya seluruh pengikut dari semua agama-agama yang lain itu berkeinginan keras untuk menghapuskan Nur Islam.
Sudah lama kami merasa sangat cemas, siapakah kiranya ada seseorang Ulama Muslim yang mendapat ilham dari Tuhan untuk berdiri mendukung dan membela Islam, yang bisa menulis buku yang sesuai zaman yang sesuai akal dan dengan dalil-dalil skriptual untuk membuktikan bahwa Alqur-aan adalah Firman Tuhan dan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. adalah seorang Nabi yang benar Utusan Tuhan. Kami merasa sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa keinginan kami itu telah terpenuhi. Inilah buku yang sudah lama kami tunggu-tunggu itu yang bernama Baraheen Ahmadiyyah, di mana pengarangnya telah mengemukakan 300 dalil-dalil yang meyakinkan untuk membuktikan kebenaran Alqur-aan dan kebenaran Kenabian Muhammad saw. Dst. Dst.

Ada beberapa ulama Muslim minor lainnya yang memberikan tanggapan-tanggapannya, tetapi dikarenakan kurang ilmunya mereka itu maka tidak ada yang menaruh perhatian yang serius terhadap mereka ini.
……..

Demikianlah antara lain kisah dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad terutama di masa anak-anak dan usia muda, sebelumnya beliau mendapatkan penunjukan atau pengangkatan resmi dari Allah SWT melalui wahyu-wahyu yang diterimanya:

· Tahun 1882 sebagai Mujaddid atau Reformer pada permulaan Abad ke-14 Hijriah.
· Tahun 1889 sebagai Imam Mahdi.
· Tanggal 23-3-1889 mendapat perintah untuk menerima Bai’at, yang dilaksanakan di Ludhiana.
· Tahun 1890 – 1891 Sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa (a.s.) yang dijanjikan kedatangannya dalam Nubuatan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w.
· Jadi apa gunanya diturunkan Imam Mahdi, Nabi Isa yang dijanjikan ini? Sesuai wahyu yang diterima oleh Hadhrat Ahmad. tujuan diturunkannya beliau adalah: ‘Yuhyid diina wa yuqimush syariah’ – untuk ‘Menghidupkan Agama (Islam) dan menegakkan Syari’at (pada tahun 1883).

Himbauan:
Semoga jika para “detractor”, tukang pencela dan tukang fitnah sempat membaca tulisan ini, ia (mereka) akan berpikir sebelumnya melemparkan penghinaan dan fitnah kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., di manakah letaknya bahwa Jemaat Ahmadiyah itu adalah buatan Inggris yang katanya untuk menghancurkan Islam, didukung bantuan Pemerintah Amerika, antek Zionis Yahudi, antek Komunis dan PKI dan tuduhan fitnah dusta semacam itu yang terus menerus dilemparkan kepada Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya. Kita menasihatkan kepada mereka:

Manusia hidup di dunia itu tidak lama; ada saatnya manusia harus kembali dan berhadapan dengan Sang Pencipta; setiap manusia harus mempertanggung-jawabkan segala apa yang ia perbuat, segala apa yang ia lakukan selama hidup di dunia yang hanya sebentar dan sementara ini. Camkanlah:

“Takutlah kepada Allah SWT.”, “Takutlah akan hukuman dari Tuhan Maha Kuasa Pemberi Hukuman Pembalasan”.
“Lillaahi rabbil ‘alamiin” – “Maaliki yaumid diin” - “Yang Menguasai Pembalasan”
“Inallaaha ‘aziizun dzuntiqaam” – “Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Mempunyai Pembalasan”.


AHMADIYYAT The Renaissance of Islam – Muhammad Zafrullah Khan

http://www.marsela-ppsi.blogspot.com

Google: AHMADIYYAH – Kebangkitan kembali Islam

Bacalah juga: http://www.ahmadiyya.or.id ….. riwayat-hidup-mirza-ghulam-ahmad

PPSi – Mersela / Jak. Bar.; 11 Januari 2011

Rabu, 05 Januari 2011

AHMADIYAH Kebangkitan kembali Islam (Kisah Hdr Ahmad)

HMADIYYAT THE RENAISSANCE OF ISLAM
AHMADIYYAH KEBANGKITAN KEMBALI ISLAM

Kisah Hadhrat Mirza Ghulam a.s.; Kesaksiannya sering diminta/dipercayai orang.

Ketika Masa Anak-anak:

Ayahnya, bernama Mirza Ghulam Murtadha; seorang yang kaya-raya, menguasai banyak Desa-desa di sekitar Qadian, seorang expert Physician; yang membangun Mesjid Aqsa di Qadian. Mirza Ghulam Murtadha meninggal tahun 1876 M pada umur 80 – 85 tahun ketika sedang membangun Mesjid (Mubarak) di tengah kota Qadian, dan sesuai permintaan wasiyatnya, beliau minta dikuburkan di satu sudut Mesjid ini seperti yang ditunjukkan oleh beliau, agar beliau selalu dapat mendengar Nama Allah di-Agungkan oleh orang-orang.

Ibunya Charagh Bibi (Lady of the Lamp) dari keluarga Moghul – Aima, Hoshiaspur, seorang wanita yang pemurah, baik hati, senang menjamu dan periang yang merupakan contoh seorang wanita yang shaleh. Beliau wafat pada tahun 1868, waktu itu Hdr. Mirza Gulam Ahmad sedang bekerja di Sialkot menuruti keinginan ayahandanya untuk bekerja di sebuah kantor District.

Mirza Ghulam Ahmad lahir kembar, pada hari Jum’at 13 Pebruari 1835 – 14 Syawal 1250 H; kakak kembar perempuannya meninggal beberapa hari kemudian (Menurut Ulama Hadhrat Muhyiddin ibn Arabi: Imam Mahdi akan dilahirkan kembar).
Kakak laki-laki Mirza Ghulam Qadir (lahir tahun 18.. wafat pada tahun 1883 M).

Ketika Hadhrat Ahmad berumur 6 atau 7 tahun, pendidikan dasarnya diberikan di rumah; di mana ayahandanya memanggil seorang guru bernama Fazal Ilahi yang mengajarinya Kitab Suci Alqur-aan dan beberapa buku Bahasa Persia. Pada umur sekitar 10 tahun seorang guru lainnya – bernama Maulvi Fazal Ahmad sahib – diminta untuk mengajarinya gramatika dan mata pelajaran bahasa-bahasa yang asalnya sama (cognate). Pada umur 17 -18 tahun beliau belajar kepada Maulvi Gul Ali Shah di Qadian yang mengajari beliau gramatika, logika dan filsafat mengikuti syllabus. Juga membaca buku-buku ayahandanya tentang obat-obatan, medicine.

Ketika masa Remaja

Sesuai kebiasaan di sana, Hadhrat Ahmad yang masih muda itu dinikahkan kepada saudari perempuan sepupu pertamanya yang bernama Hurmat Bibi dan memperoleh dua anak laki-laki: Mirza Sultan Ahmad dan Mirza Fazal Ahmad yang lahir masing-masing pada tahun 1853 dan 1855, jadi ketika Hadhrat Ahmad baru berumur 18 dan 20 tahun; ketika itu beliau masih sedang belajar study kepada Tutor Maulvi Gul Ali Shah, di Qadian untuk sementara yang kemudian pindah ke Batala sehingga Hadhrat Ahmad pun ikut tinggal di Batala untuk bisa terus belajar dari tutornya. Selain mempelajari literature-literatur Islam, beliau juga membaca literature agama lainnya termasuk buku Kristiani. Hadhrat Ahmad merasa sangat kesal membaca tulisan polemic di mana agama Kritiani itu sangat menyudutkan Islam dan merendahkan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. Teman belajarnya antara lain Lala Bhim Sen seorang Hindu Ahli Hukum. Olahraga kesukaan Hadhrat Ahmad adalah berenang, naik kuda dan berjalan cepat.

Pada tahun 1864 Hadhrat Ahmad tinggal di Sialkot, memenuhi keinginan ayahandanya untuk bekerja di bagian Administrasi sebuah kantor District di Sialkot. Walaupun sebenarnya beliau lebih senang mempelajari dan menekuni agama, tetapi demi untuk menyenangkan ayahandanya itu Hadhrat Ahmad melakukan pekerjaan duniawinya dengan rajin dan tekun. Beberapa teman dekatnya adalah Lala Bhim Sen yang dulu pernah belajar bersama, Maulvi Syed Mir Hasan Sahib seorang Ulama dan Guru dan Mir Hussamuddin Sahib seorang physician yang juga pernah diajari oleh Mirza Ghulam Ahmad. Di Sialkot ini Hadhrat Ahmad berkenalan dengan 2 – 3 orang Missionaris Kristiani, al. Revd. Mr Butler MA, seorang pendeta yang terpelajar, dengan siapa Hadhrat Ahmad mengadakan banyak bertukar pikiran mengenai agama. Hadhrat Ahmad disuruh ayahandanya berhenti bekerja di Sialkot untuk kembali ke Qadian ketika ibundanya, Charagh Bibi wafat pada tahun 1868, dan Hadhrat Ahmad pun pulang ke Qadian dengan segera.

Sekembalinya di Qadian pada tahun 1868 Hadhrat Ahmad disuruh mengurusi tanah kekayaan milik ayahandanya, walaupun ia tidak menyukai urusan pekerjaan duniawi ini, seperti halnya ketika bekerja di kantor Pemerintahan Inggris di Sialkot sebelumnya itu, ia masih tetap melaksanakannya dengan sebaik-baiknya demi untuk menyenangkan hati dan berbakti kepada ayahandanya, demi untuk meraih kebaikan spiritual dan bukannya untuk kepentingan duniawi, karena urusan penghidupannya sendiri sudah dicukupi dari penghasilan orang tuanya itu, yang memiliki banyah tanah ladang dan mendapat upah serta uang pensiun dari pekerjaannya pada Pemerintahan ikut dalam Angkatan Bersenjata Maharaja.

Kesan selama bekerja beberapa tahun di Sialkot itu Hadhrat Ahmad melihat bahwa sangat sedikit sekali orang yang mengamalkan kewajiban agamanya sebagaimana mestinya, sedikit saja dari mereka yang menghindarkan diri dari kegemaran mengejar barang haram. Hadhrat Ahmad mengatakan: Saya sungguh heran melihat cara kehidupan mereka itu. Saya melihat mereka itu senang mengumpulkan uang baik yang halal maupun yang haram juga, di mana dalam masa hidup yang singkat ini usaha mereka ditujukan pada kepentingan duniawi belaka. Saya menemukan hanya sedikit saja orang-orang yang merefleksikan ke-Agungan Ilahi, dengan menanamkan nilai-nilai ahlak yang tinggi, seperti kelembutan dan kesabaran, kemuliaan, kesucian dan kesederhanaan, kerendahan hati dan perasaan simpati terhadap sesama. Saya mendapatkan kebanyakan mereka itu terkena penyakit sombong, kelakuan yang tidak senonoh, melalaikan nilai-nilai keagamaan dan segala macam ahlak perilaku yang buruk. Hadhrat Ahmad mengatakan, adalah kebijakan Allah Maha Kuasa yang telah menakdirkan kepada saya untuk mendapatkan pengalaman dengan berbagai macam tipe orang-orang, di mana saya itu harus berteman dengan mereka yang dari bermacam-macam jenis orang ini. (Dalam Kitabul Barriyah).

Ketika saya kembali kepada ayah di Qadian, saya disibukkan dengan urusan pengelolaan tanah-tanah kami, tetapi sebagian terbesarnya dari waktu saya diabdikan pada mempelajari Kita Suci Alqur-aan dan Tafsir Alqur-aan serta Hadits-hadits Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. Seringkali saya membacakan bagian dari buku-buku tersebut kepada ayah saya untuk menghibur beliau yang sangat bersedih hati dihari tuanya yang tinggal sendirian itu dikarenakan tidak bisa mengambil kembali harta-harta warisan leluhurnya, walaupun sudah mengeluarkan banyak uang. Kami telah kehilangan desa-desa tersebut sejak lama sekali dan usaha untuk mendapatkannya kembali hanyalah merupakan gagasan yang yang sia-sia dan tidak masuk akal. Ayahnya mengatakan, kalau sejak dulu ia berjuang dan bekerja keras untuk keimanan dan agama seperti halnya ia telah berjuang dan berusaha keras untuk dunia, maka mestinya beliau sudah bisa menjadi seorang saint, seorang yang suci.Hari-hari terakhir dalam kehidupannya penuh dengan rasa sedih, karena merasa bahwa ia akan bertemu dengan Sang Khalik-nya itu dengan tangan kosong. Ia merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan hidupnya untuk tujuan duniawi yang sia-sia belaka. Ayahnya berceritera satu kali bermimpi melihat YM Rasulullah saw., datang mengunjungi rumah ayah dengan keagungan laksana seorang Raja Maha Agung. Ayah saya datang untuk menyambut Nabi s.a.w. dan ketika sudah dekat teringat bahwa ia ingin memberikan sesuatu hadiah kepada Nabi s.a.w. serta merogoh sakunya dan menemukan sebuah coin satu rupee dan ketika diperhatikan ternyata hanyalah satu coin yang palsu. Melihat hal ini, mata ayah saya menjadi basah; dan mimpi ini di-interpretasikan bahwa kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada Rasulullah s.a.w. dengan ambisi keduniawian hanyalah merupakan sebuah coin palsu belaka.

Di masa tuanya itu ayah kesedihan ayah saya bertambah-tambah dan menjelang akhir hayatnya beliau berusaha membangun sebuah mesjid di tengah kota Qadian, di mana beliau memesankan agar ia dikuburkan di satu sudut mesjid seperti yang ia tunjukkan, agar beliau selalu bisa mendengar nama Allah di-Agungkan dengan harapan Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya. Menjelang selesai pembangunan mesjid itu ayah saya meninggal karena penyakit disentri di mana beliau dikuburkan sesuai dengan yang diwasiatkan.

Setelah kembali ke Qadian, yang terjadi pada tahun 1869 ketika Maulvi Muhammad Husain pulang ke kampungnya di Batala sebagai seorang Maulvi setelah belajar Ilmu Theology di Delhi. Dia termasuk golongan Ahli Hadits yang pandangannya tidak disetujui oleh sebagian besar penduduknya di sana yang mengikuti Mazhab Hanafi. Dari kedua golongan tersebut mengirimkan utusannya ke Qadian yang meminta dengan sangat kepada Hadhrat Mira Ghulam Ahmad untuk datang ke Batala di mana akan diadakan diskusi dengan Maulvi Muhammad Hussain tentang perkara-perkara pokok perbedaan antara Ahli Hadits dengan orang-orang Hanafi. Hadhrat Ahmad menyetujuinya dan datang hadir di Mesjid di mana akan diadakan diskusi tersebut.

Maulvi Muhammad Husain membuka acara tersebut dengan menyatakan doktrin-doktrin yang ia percayai. Setelah mendengar pernyataan tersebut Hadhrat Ahmad menyatakan bahwa tidak ada hal yang perlu disangkal atau dibantah. Ini menimbulkan kegemparan; orang-orang dari Mazhab Hanafi merasa sangat kecewa, dan merasa dijatuhkan dan dihinakan. Jadi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah membuat ketidaksenangan kepada kedua pihaknya, tetapi beliau acuh tak acuh saja atas reaksi dari kedua belah pihak itu.

Bagi Hadhrat Ahmad, kecintaannya akan kebenaran dan kejujuran tidaklah terpengaruh oleh persetujuan atau ketidak-setujuan pihak teman atau pihak lawannya. Beliau siap untuk menerima penghinaan dan tidak-dihormati itu dengan wajah yang selalu ceria demi kebenaran. Malam itu kepada beliau diberikan khabar gembira dan dihibur dengan melalui wahyu bahwa Tuhan merasa senang dengan sikap beliau yang diperlihatkan dalam diskusi siang tadi bahwa Dia akan memperoleh berkat-berkat yang besar sekali, sedemikian rupa bahwa Raja-raja akan mencari berkat dari baju beliau. Kepada beliau diperlihatkan pemandangan kasyaf ada beberapa orang Raja-raja, 6 atau 7 Raja yang datang dengan menunggang kuda.

Di masa remajanya itu Hadhrat Ahmad banyak kali memperoleh pemandangan kasyaf atau mimpi yang benar, yang semuanya menjadi sempurna dan hal ini disampaikan kepada teman-teman yang menyaksikan kebenarannya a.l. dua orang Hindu terkemuka Lala Sharmpat, Sekretaris Arya Samaj Qadian dan Lala Mulawa Mal. Satu kali Lala Mulawa Mal menderita penyakit TBC dan minta kepada Hadhrat Ahmad untuk kesembuhannya; yang beliau telah kerjakan dan dikatakan kepada Lala Mulawa Mal bahwa beliau memperoleh indikasi bahwa doanya diterima. Lala Mulawa Mal sembuh dari penyakitnya dan baru meninggal pada tahun 1951 pada umur 95 tahun.

Mulai dari tahun 1872 dan seterusnya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mulai muncul sebagai pahlawan pembela Islam, membela dan mempertahankan Islam dari serangan Kristiani, Arya Samajist dan Bramho Samajist dengan menyajikan keindahan dan ketinggian ajaran Islam di dalam segala aspek. Beliau melakukan hal ini dengan menulis artikel-artikel untuk diterbitkan antara lain dalam Surat-surat Kabar dan Majalah.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad diminta bersaksi dan selalu Membela Kebenaran.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad selalu memberikan kesaksian sesuai fakta apa adanya, sesuai kebenaran; seringkali kesaksiannya yang selalu benar itu di hadapan Pengadilan bahkan bisa merugikan ayahnya, atau keluarganya sendiri. Karena selalu berkata benar maka orang-orang selalu meminta untuk mengundang Hadhrat Ahmad untuk memberikan kesaksian, pihak mana atau siapa yang benar, di mana setelah itu mereka akan menerima keputusannya.

Setiap kali menghadiri sidang pengadilan untuk mewakili ayahnya, Mirza Ghulam Ahmad tidak ambil perduli akan apa hasilnya dari perkara tersebut; ia hanyalah selalu berpegang pada kebenaran di dalam semua keadaan itu, beliau selalu sangat hormat kepada setiap orang dan menjunjung tinggi tujuan prinsipnya yakni menegakkan dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Seringkali terjadi bahwa pihak lawan dalam perkara tersebut mengatakan kepada Majlis Pengadilan bahwa mereka akan mengikuti statement yang diberikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengenai fakta di dalam perselisihan tersebut. Maka, kemudian ia pun dipanggil untuk memberikan pernyataan di mana beliau akan menyajikan fakta-fakta yang ada, yang seringkali berakibat perkara tersebut diputuskan bertentangan dengan kepentingan dari ayahnya. Satu kali ayahnya menjadi upset dan memarahinya dengan keras serta mengusirnya keluar dari rumah. Mirza Ghulam Ahmad pun pergi dan diam di Batala untuk selama beberapa bulan, sampai ayahnya memanggilnya kembali untuk pulang ke Qadian. Semua kejadian ini beliau tuliskan.

Hadhrat Ahmad menulis: Anak saya Sultan Ahmad mengajukan perkara terhadap seorang Hindu yang digugat karena mendirikan bangunan di tanah milik kami dan meminta untuk dibongkar. Fakta-fakta dalam perkara tersebut adalah jika diuntungkan bagi pihak tergugat, yang berakibat penolakan atas gugatan tersebut maka perkara itu akan menyebabkan kerugian bagi Sultan Ahmad dan kami berdua. Pihak tergugat meminta saya sebagai saksi dalam perkara tersebut dan saya pun pergi ke Batala untuk memberikan kesaksian. Setibanya di sana Pengacaranya Sultan Ahmad menemui saya dan mengatakan nampaknya perkara ini akan segera disidangkan dan bertanya kepada saya statement apa yang akan saya berikan. Saya katakan kepadanya bahwa saya akan kemukakan apa fakta yang sebenarnya. Atas jawaban ini pengacara tersebut mengatakan kalau begitu Tuan tidak perlu masuk ke ruang Pengadilan. Ketika perkara tersebut disidangkan ia masuk ke dalam dan menarik kembali perkara tersebut (Ayena Kamalati Islam).

Mirza Ghulam Qadir, kakaknya Hadhrat Ahmad mengajukan perkara terhadap seorang Hindu penduduk Qadian untuk pembongkaran sebuah anjungan yang didirikan disamping rumah tergugat tetapi termasuk dalam tanah penggugat. Tergugat dalam pembelaannya mengatakan bahwa bangunan tersebut sudah lama berdiri di sana untuk membatasi tanah tergugat. Sebagai buktinya ia memanggil Hadhrat Ahmad yang membuat statement yang mendukung pembelaan tergugat, yang sebagai akibatnya maka gugatan kakaknya itu ditolak. Kakaknya menjadi sangat sedih dan kecewa dan memperlihatkan ketidak-senangan yang besar terhadap Hadhrat Ahmad, yang menjawab bahwa ia tidak akan bisa diharap untuk mengingkari sesuatu kebenaran.

Satu kali Hadhrat Ahmad harus pergi ke Batala dalam urusan pengadilan sipil mewakili ayahnya. Ketika sedang menunggu sidang, datang waktunya untuk Shalat Zhuhur. Beliau pergi ke belakang mencari tempat kosong di mana melaksanakan ibadah Shalat. Ketika saat itulah sidang perkara dimulai dan tergugat meminta kepada Hakim agar perkara itu ditolak karena yang bersangkutan tidak hadir (in default), tetapi Hakim menolak permintaannya. Setelah mempelajari berkas-berkasnya dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada tergugat, maka diputuskanlah perkara tersebut. Ketika Hadhrat Ahmad datang kembali ke ruangan, seorang pegawai pengadilan mengatakan bahwa perkaranya sudah disidangkan selagi beliau tidak hadir dan sudah diputuskan. Beliau masuk ke ruangan pengadilan dengan membayangkan bahwa perkara tersebut telah ditolak (dismissed in default) serta berkata kepada Hakim bahwa ketika perkara itu dipanggil beliau sedang beribadah melakukan Shalat Zhuhur. Hakim tersenyum dan mengatakan kepada beliau bahwa ia telah memutuskan perkara tersebut. (Hayat-en-Nabi).

Pada tahun 1878 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan naskah sebuah artikel untuk diterbitkan kepada Vakil Press, Amritsar dengan pos paket yang dibubuhi perangko sebagai sebuah paket. Beliau pun menaruh secarik surat di dalam pos paket tersebut yang dialamatkan kepada Manager Penerbitan, berisikan instruksi tentang artikel tersebut. Hal ini melanggar ketentuan undang-undang per-Pos-an dengan ancaman hukuman penjara atau denda. Penerbitan ini kepunyaan Ralya Ram, seorang Pengacara yang adalah seorang Kristiani yang fanatic. Ia mengadukan Hadhrat Ahmad kepada Otoritas Pos dan membuat pendakwaan terhadap Hadhrat Ahmad. Hadhrat Ahmad dipanggil ke Gurdaspur untuk menjawab dakwaan tersebut bersama seorang teman yang menjadi Pengacara untuk menjadi pembelanya.
Pengacaranya menasihatkan dengan sangat agar beliau mengingkarinya bahwa beliau telah menaruh surat itu di dalam pos paket tersebut. Hadhrat Ahmad dengan perasaan empati menolak nasihat dari Pengacaranya tersebut dan berkata bahwa beliau tidak bisa mengingkari apa yang benar biar sekecil apa pun. Pengacaranya mengatakan bahwa ia akan dijatuhkan bersalah, sehingga tidak ada gunanya bagi seorang Pengacara untuk membela beliau. Hadhrat Ahmad menyayangkan terhadap keputusan Pengacaranya yang meninggalkan beliau sendirian, tetapi apa boleh buat. Ketika perkara tersebut disidangkan, Hadhrat Ahmad tampil di depan Majlis Pengadilan tanpa Pengacara; jaksa yang mengadilinya seorang Superintendent Kantor Pos Bangsa Eropa; Majlis Hakimnya juga orang Eropa. Dalam menjawab pertanyaan Pengadilan, Hadhrat Ahmad mengatakan bahwa paket dan surat tersebut memang telah dikirimkan oleh beliau, tetapi tidak dimaksudkan untuk melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan yang merugikan Kantor Pos; karena isi dari surat tersebut adalah berkaitan dengan petunjuk penjelasan tentang naskah yang dimaksud di mana beliau berkeyakinan bahwa surat itu adalah merupakan bagian dari naskah dimaksud. Jaksa bersikukuh bahwa hal tersebut jelas merupakan pelanggaran terhadap undang-undang Pos, di mana pernyataan dari terdakwa telah membuktikan kesalahannya, yang untuk itu terdakwa harus dinyatakan bersalah dan harus dihukum. Hakim menolak permintaan dari Jaksa tersebut dan membebaskan Hadhrat Ahmad.

Jadi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tidak mau menggunakan dalih (subterfuge) dan merasa bahwa tidak ada pilihan lainnya kecuali menyatakan kebenaran. (Imam Mahdi - Hakaman ‘Adalan).

Prediksi Nyata Terjadi, Kesederhanaan Hadhrat Ahmad dan Wafatnya Ghulam Murtadha

Ketika sedang tinggal dan bekerja di Sialkot (sekitar tahun 1865) Hadhrat Ahmad tidur di lantai 2 rumah bersama beberapa orang teman lainnya; pada suatu malam Hadhrat Ahmad mendengar suara dari balok atap rumahnya yang gemeretak seolah-olah dipatuki oleh burung; ia berpikir balok atap itu akan patah sehingga atapnya bisa jatuh. Hadhrat Ahmad membangunkan teman-temannya yang sedang tidur supaya segera bangun dan lari ke luar bersama dia tetapi teman-temannya tetap saja terus tidur dan mengatakan barangkali hanya suara tikus yang sedang berjalan. Tidak lama kemudian suara gemeretak itu terdengar kembali dan Hadhrat Ahmad pun membangunkan teman-temannya, tetapi temannya tetap tidak menaruh perhatian. Hadhrat Ahmad mendengar kembali suara yang sama, kali ini ia memaksa dengan keras teman-temannya supaya lari keluar, dan Hadhrat Ahmad adalah yang terakhir keluar dari kamar tersebut. Baru saja beliau melangkah keluar, atap ruangan kamar itu ambruk jatuh ke bawah yang disusul dengan ambruknya lantai kamar yang merupakan atap dari lantai satu bangunan tersebut. Maka selamatlah semuanya dari kecelakaan yang bisa menimpa mereka itu.

Perintah Untuk Puasa
Menjelang di penghujung tahun 1975 Hadhrat Ahmad mendapat nasihat dari Malaikat yang datang dalam kasyaf mimpi supaya mengikuti contoh dari banyak Nabi-nabi, yaitu seyogianya beliau melakukan puasa selama beberapa lama. Mengikuti nasihat yang diterimanya itu Hadhrat Ahmad berniat untuk melakukan ibadah puasanya secara diam-diam, tidak menceriterakannya kepada siapa pun juga. Beliau mengatur pendistribusian makanan jatahnya yang biasa diterima kepada anak-anak miskin yang disuruhnya datang pada waktu-waktu tertentu setiap harinya. Beliau hanya makan satu kali yaitu setelahnya matahari terbenam; tetapi setelah latihan ini berjalan dua – tiga minggu beliau mengurangi jumlah yang dimakannya juga, dan di akhir latihan puasanya itu beliau hanya makan beberapa ounces roti saja selama dalam 24 jam itu. Beliau menceriterakan kisah dari disiplin puasanya itu, antara lain:

Saya terus menjalani disiplin ini selama 8 – 9 bulan dan betapa pun dengan kurangnya asupan yang saya makan ini, Tuhan Maha Kuasa melindungiku dari segala macam penyakit (disorder), (padahal penyakit tetap yang biasanya dirasakan itu adalah migraine dan diabetes).
Selama menjalani disiplin puasa saya mendapatkan banyak kali misteri spiritual; saya mimpi berjumpa dengan beberapa orang Nabi terdahulu dan beberapa orang Wali Islam terkenal yang sudah meninggal. Satu kali, dalam keadaan sama sekali terbangun, saya melihat Y.M. Nabi Muhammad saw., yang ditemani oleh dua cucu beliau (Hasan dan Hussain), Fatimah dengan saudari sepupunya, dan menantunya Hadhrat Ali (r.a. untuk semua).

Saya melihat kolom cahaya spiritual warna-warni, putih hijau dan merah yang sangat indah sekali, yang keindahannya tidak bisa dilukiskan; hati saya merasa gembira luar biasa (ecstasy) yang tidak ada bandingannya. Saya membayangkan bahwa berkas kolom-kolom cahaya ini merupakan ilustrasi dari cinta-kasih mutual love antara Tuhan dengan manusia; satu berkas cahaya mencuat dari hati dan menuju ke atas sedangkan berkas cahaya lainnya turun ke bawah, ketika kedua berkas cahaya ini bertemu sehingga menjadi berbentuk kolom. Pengalaman spiritual ini, yang di luar ilmu pengetahuan orang duniawi ini, tetapi ada juga orang-orang yang dikarunia ilmu dengan pemandangan spiritual seperti ini.

Contohnya ialah: Hadhrat Ahmad biasa mengunjungi orang-orang shaleh, ulama-ulama terkenal Islam dan bertukar pandangan. Maulvi Abdullah Sahib dari Ghazni, Afghanistan adalah seorang ulama Islam yang terkenal. Ia ditindas dan dianiaya oleh orang-orang sekampungnya yang fanatic, dinyatakan sebagai kaafir dan diusir dari Ghazni (tahun 1874). Ia tiba di Punjab dan tinggal dekat Amritsar. Mirza Ghulam Ahmad dua kali bertemu beliau dan meminta doa untuk kesejahteraan dan kemajuan Islam. Maulvi Abdullah Sahib memenuhi permintaan Hadhrat Ahmad dan menyampaikan kemudian bahwa ia telah memperoleh wahyu: “Anta mauulanaa fan shurnaa ‘alal qaumin kaafiriin” – “Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang ingkar kepada-Mu”. Pada kesempatan lainnya Maulvi Abdullah Sahib menyatakan bahwa beliau telah melihat pemandangan kasyaf bahwa seberkas cahaya dari Langit telah turun di Qadian, tetapi keturunannya gagal untuk meraih manfaatnya dari itu.
(Ket:: Istri Hadhrat Ahmad yang pertama, dan juga kedua anaknya dari istri pertama itu tidak seia-sekata, tidak cenderung pada agama dan tidak mendukung kegiatan Hadhrat Ahmad, yang akhirnya diceraikan, sebelum tahun 1880. Sehingga setelahnya itu Hadhrat Ahmad mendedikasikan seluruh waktunya untuk beribadah menyembah Ilahi, dan tidak ada keinginan untuk berumah tangga lagi; dikarenakan kesehatannya yang kurang baik dengan penyakit diabetes dan migraine, sehingga tidak ada minat pada seks. Keadaan ini sampai tahun 1881, di mana pada umur Hadhrat Ahmad yang ke-46 tahun beliau menerima wahyu: “Kami beri khabar suka kepada engkau tentang seorang anak laki-laki yang tampan”. Wahyu ini diceriterakan oleh Hadhrat Ahmad kepada teman-teman yang ditemuinya, yang semuanya merasa heran, karena Hadhrat Ahmad sudah menceraikan istrinya, beliau pun tidak berminat untuk menikah yang kedua kalinya, dan keadaan kesehatannya pun tidak fit. Tetapi demikianlah taqdir Ilahi, pada tanggal 17 Nopember 1884 Hadhrat Ahmad, 49 tahun, menikah dengan Nusrat Jahan Begum, yang artinya Ibu yang menolong seluruh dunia, dari keluarga terkemuka Syed di Delhi. Walaupun teman-temannya menegur beliau, tetapi semuanya itu diatur sesuai dengan mimpi dan wahyu-wahyu, termasuk obat yang diilhamkan, sehingga dari istri kedua ini Hadhrat Ahmad memperoleh 4 orang anak).

Selanjutnya manfaat lain dari latihan berpuasa tersebut Hadhrat Ahmad mengatakan: Saya menemukan bahwa, jika keadaan memerlukan, dalam keadaan darurat, saya bisa bertahan tanpa makan untuk waktu yang lama, sehingga merasa seandainya saya diajak bertanding dengan seorang pegulat yang gemuk dan kuat, siapa yang kuat bertahan tanpa makan, maka ia akan mati duluan, jauh sebelumnya saya perlu memakan makanan. Saya juga merasa bahwa jika tubuh seorang manusia itu tidak dapat bertahan dalam menghadapi kesukaran yang sedemikian, maka orang semacam ini tidak akan mampu untuk meraih pengalaman misteri spiritual yang tinggi.

Tetapi Hadhrat Ahmad tidak menganjurkan orang lain untuk mencoba latihan disiplin puasa semacam itu, karena saya pun -kata beliau- tidak melakukannya atas keinginan sendiri, saya melakukannya itu mengikuti petunjuk Ilahi yang disampaikan kepadaku melalui kasyaf yang jelas. Saya berhenti disiplin berpuasa itu setelahnya 8 – 9 bulan, dan sejak itu saya melakukannya hanya sekali-sekali saja.

Wafatnya Mirza Ghulam Murtadha
Pada tahun 1876 ketika Hadhrat Ahmad sedang berada di Lahore melihat dalam mimpi yang meng-indikasikan bahwa kematian ayahnya itu sudah dekat. Beliau mengatakan:
Saya bergegas pulang ke Qadian. Ayahku terkena penyakit disentri, tetapi saya tidak melihat bahwa beliau akan meninggal keesokan harinya, karena kenyataannya keadaannya menjadi lebih baik dan beliau pun tabah. Esok harinya ketika kami kumpul bersama beliau, ia menasihatkan kepadaku untuk pergi beristirahat; pada bulan Juni itu udara sedang panas-panasnya dan saya pun berbaring di lantas dan pembantu mulai memijiti kakiku. Dalam keadaan setengah tertidur saya menerima wahyu: “Kami bersaksi dengan Langit dari mana semua taqdir itu bermula, dan Kami bersaksi bahwa yang akan terjadi itu setelah matahari terbenam.” Saya mengerti bahwa apa yang akan terjadi setelah matahari terbenam, adalah wafatnya ayahandaku, dan bahwa wahyu ini merupakan semacam ucapan bela-sungkawa atas nama Tuhan Maha Kuasa. Maha Suci Allah! Betapa Mulianya Allah, Dia mengucapkan duka-cita-Nya berkenaan dengan orang yang akan mati yang bersedih hati dikarena telah menyia-nyiakan hidupnya, dengan mengejar duniawi.

Dengan menerima wahyu tersebut, yang menandai akan wafatnya ayahku, sebagai manusia ada terpikir olehku bahwa beberapa jalan penghasilan yang biasa diterima oleh ayahku itu nanti akan tertutup; mungkin nanti saya akan menghadapi kesulitan. Setelah itu saya menerima wahyu:
‘A laisallaahu bi kaafin ‘abdahuu’ – ‘Apakah Allah tidak mencukupi bagi hamba-Nya?’
Wahyu ini disampaikan dengan rasa senang yang besar kepadaku, yang membuat hatiku teguh. Dia bersaksi bahwa Dia Sendiri yang akan menggenapi wahyu yang membuat saya senang ini, dengan cara yang tidak bisa dibayangkan. Dia mencukupi segala keperluanku di mana tidak ada seorang ayah yang dapat menyediakan segalanya bagi setiap orang. Saya terus menerus menerima kemurahan, kebaikan dan kebajikan-Nya yang tidak mungkin untuk dapat dihitung.

Ayahku meninggal dunia pada hari itu juga setelah waktu Maghrib. Inilah hari pertama saya memperoleh wahyu di mana saya mendapatkan pengalaman satu Tanda dari Rahmat Tuhan melalui wahyu, yang tentang itu saya tidak dapat membayangkannya, yang tidak akan ada henti-hentinya dan akan terus berlangsung selama hidupku. Hampir 40 tahun lamanya kehidupan saya dilewati dengan pemeliharaan dan biaya dari ayahku, dan dengan kepergiannya beliau dari dunia ini, saya mulai menerima wahyu-wahyu Ilahi secara terus menerus (Kitabul Bariyyah).

Mirza Ghulam Qadir
Dengan wafatnya ayahhandanya maka kakak Hadhrat Ahmad yang bernama Mirza Ghulam Qadir menjadi kepala keluarga dan mengambil alih semua urusan administrasi. Waktu itu Mirza Ghulam Qadir bekerja di kantor sipil di Gurdaspur dan seringkali datang ke Qadian. Mirza Ghulam Ahmad berhak untuk menguasai separuh dari harta peninggalan ayahnya, tetapi beliau sama sekali tidak menaruh perhatian akan perkara ini, dan membiarkan kepada kakaknya untuk menguruskan penghasilan dari harta tersebut, di mana beliau sendiri sudah akan merasa puas dengan keperluannya yang sederhana dan minimal itu. Beliau tidak banyak meminta kepada kakandanya, memakai pakaian apa yang seadanya dan memakan makanan apa saja yang dikirimkan oleh istri kakandanya. Seringnya beliau membagikan makanan tersebut di antara orang-orang miskin, dan untuk dirinya sendiri ia hidup dengan gram bakar yang dibelinya tidak lebih dari ¼ sen; atau kadangkala Hadhrat Ahmad sama sekali tidak punya makanan apa-apa pun.

Atas pilihannya sendiri Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjalani kehidupannya yang bukan saja sederhana tetapi cermat dan ketat juga; beliau menyibukkan diri terutamanya dengan beribadah menyembah Allah, berdzikir mengingat Tuhan, mempelajari dan merenungkan Kitab Suci Alqur-aan dan literature keagamaan lainnya. Beliau berlangganan satu dua buah Surat Kabar, dan satu kali beliau mengajukan permintaan kepada kakandanya sedikit uang kecil untuk membayar Surat Kabar tersebut, yang ditolak dengan dasar bahwa membaca Surat Kabar itu hanya membuang waktu yang sia-sia saja dan mengeluarkan uang untuk itu dianggapnya berlebih-lebihan.

Kakandanya itu menghormati beliau dan merasa senang untuk menyediakan segala keperluan hidup baginya; tetapi merasa bahwa pengabdiannya terhadap agama itu adalah hobi yang tidak ada gunanya; kakandanya menasihati agar Hadhrat Ahmad mencari pekerjaan untuk mendapatkan hasil. Dalam beberapa tahun selama kakandanya hidup itu (1876 – 1883), hidupnya Mirza Ghulam Ahmad sangat terkekang dan dibatasi dalam beberapa aspek. Anggota-anggota keluarga lainnya tidak ada minat atas cara hidupnya Hadhrat Ahmad, beberapa dari mereka bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa permusuhannya dan rasa jijiknya atas arah kehidupan Hadhrat Ahmad; tetapi beliau tidak membiarkannya hal ini mengganggu kenteraman cara hidupnya, beliau menerima apa saja yang datang dengan spirit bertawakal penuh gembira, menganggap bahwa hal itu adalah ujian yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk dapat bertahan.

Demikianlah antara lain kisah dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad terutama di masa anak-anak dan usia muda, sebelumnya beliau mendapatkan penunjukan atau pengangkatan resmi dari Allah SWT melalui wahyu-wahyu yang diterimanya:

· Tahun 1882 sebagai Mujaddid atau Reformer pada permulaan Abad ke-14 Hijriah.
· Tahun 1889 sebagai Imam Mahdi.
· Tanggal 23-3-1889 mendapat perintah untuk menerima Bai’at, yang dilaksanakan di Ludhiana.
· Tahun 1890 – 1891 Sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa (a.s.) yang dijanjikan kedatangannya dalam Nubuatan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w.


Himbauan:
Semoga jika para “detractor”, tukang pencela dan tukang fitnah sempat membaca tulisan ini, ia (mereka) akan berpikir sebelumnya melemparkan penghinaan dan fitnah kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., di manakah letaknya bahwa Jemaat Ahmadiyah itu adalah buatan Inggris yang katanya untuk menghancurkan Islam, didukung bantuan Pemerintah Amerika, antek Zionis Yahudi, antek Komunis dan PKI dan tuduhan fitnah dusta semacam itu yang terus menerus dilemparkan kepada Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya. Kita menasihatkan kepada mereka: “Takutlah kepada Allah SWT.”, “Takutlah akan hukuman dari Tuhan Maha Kuasa Pemberi Hukuman Pembalasan”.


PPSi – Mersela / Jak. Bar.; Kamis 6 Januari 2011

http://www.marsela-ppsi.blogspot.com