Kamis, 21 Februari 2008

ULAMA - PEMBINA UMAT (MUSLIMIN)

Bismilllahirrahmanirrahiim
ULAMA-ULAMA yang PEMBINA UMAT (MUSLIMIN) Zaman ini

Ada banyak ulama-ulama yang penuh semangat berkeinginan untuk membina umat, terutamanya UMAT MUSLIMIN, dengan kecintaan dan semangat tinggi bermaksud membela Islam, ingin menjadi pahlawan dalam Islam. Namun pada kenyataannya, ulama ini banyak di antara mereka yang justru bukannya membina Umat Islam ini, tetapi mengajarkan dan memberikan contoh perilaku kekerasan dan kebengisan yang sama sekali bukan merupakan ajaran Al-Qur’an dan bukan Ajaran Nabi, Rasul Allah Muhammad saw.; bahkan sebaliknya karena kekerasan dan fatwa kerasnya itu telah mencoreng wajah Islam yang cantik yang penuh rahmat dan kasih sayang itu.

Ulama-ulama mereka ini tidak mengetahui atau tidak memperhatikan bagaimana caranya membina umat ini sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. di dalam Al-Qur’an. Ini dimulai dengan doa permohonan dari Hadhrat Ibrahim a.s. yang bersama Hadhrat Ismail a.s. telah membangun ka’bah, Rumah Allah Baitullah di Mekkah sekitar 4000 tahun yang lalu (2000 tahun S.M.), untuk dijadikan tempat ziarah dan tempat beribadah secara universal oleh seluruh umat di dunia yang beriman pada Ke-Esaan Tuhan.

1. Hadhrat Nabi Ibrahim a.s. berdoa meminta kepada Allah Taala (Al-Baqarah ayat 129):
Rabbanaa wab ’ats fii him rasuulam min hum yatlu alaihim aayaatika wa yu’allimuhul kitaaba wal hikmata wa yu-zakkiihim, innaka antal ‘aziizul hakiim.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat –Mu (1) dan mengajarkan kepada mereka Kitab (2) dan Hikmah (3) , serta mensucikan mereka (4) . ……….

Demikianlah permohonan doa dari Hadhrat Nabi Ibrahim a.s. agar Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan keturunannya, yakni keturunan dari Hadhrat Ismail a.s. Sejarah membuktikan, bahwa Allah Taala memang 2600 tahun kemudian, atau l.k. 1400 tahun yang lalu, telah mengutus seorang Nabi yang besar, Nabi yang paling mulia, Khataman-Nabiyyyin, yakni Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., yang keturunan dari Hadhrat Ismail as.

2. Doa Hadhrat Ibrahim a.s. ini telah didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT., seperti yang difirmankan-Nya dalam Kitab Suci Al-Qur’an (2:151):
Kamaa arsalnaa fiikum rasuulam minkum yatluu ‘alaikum aayaatinaa wa yuzakkiikum wa yu’allimukumul kitaaba wal hikmata wa yu’allimukum ma lam takuunu ta’lamuun.
Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu yang membacakan Ayat-ayat Kami kepada kamu (1) dan mensucikan kamu (2) dan mengajarkan kepada kamu Al-Qur’an (3) dan Hikmah (4), dan …….
1. Pengabulan terhadap doa Hadhrat Ibrahim a.s. itu yakni dengan dibangkitkan-Nya seorang Rasul, yaitu Nabi Muhammad Rasulullah saw., yang berasal dari golongannya, yakni dari keturunan Hadhrat Ismail a.s. Tugas-tugas dari Rasul Allah ini adalah sama yaitu dengan ke-4 tugas pokok seperti yang dimintakan dalam doanya Hadhrat Ibrahim a.s., hanya Allah Taala memberikan urutan penekanan pada tugas terlebih dahulu dengan mensucikan kamu (2), yang diletakkan sebelumnya mengajarkan kamu Al-Quran (3) dan Hikmah (4). Padahal yang ada di dalam permintaan doa Hadhrat Ibrahim a.s. itu perkara mesucikan mereka (4) itu diletakkan sesudahnya mengajarkan kepada mereka Kitab (2) dan Hikmah (3).
2. Demikianlah bagaimana yang ada di dalam pikiran Nabi Ibrahim a.s., dan bagaimana kebijaksaan dari Tuhan, Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana itu telah menekankan akan perlunya mensucikan kamu terlebih dahulu, sebelumnya kamu dapat mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan Hikmah itu!
3. Yang berikutnya setelah itu adalah bahwa kepada orang-orang mukmin, orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Muhammad saw. pun, diberikan kepada mereka karunia, dengan membangkitkan lagi seorang Rasul dari antara mereka, dengan ke-4 tugas dan urutan sesuai kebijaksanaan-Nya. Demikianlah firman-Nya di dalam Al-Qur’an surah Aali ‘Imraan ayat 164.
La qad mannallaahu ‘alal mu’miniina idz ba’atsa fiihim rasuulam min anfusihim yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul kitaaba wal himataa …..
Sesungguhnya, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika membangkitkan kepada mereka seorang Rasul dari antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka (1), dan mensucikan mereka (2) dan mengajarkan kepada mereka Kitab (3) dan Hikmah (4) ……….

4. Tentang dibangkitkan Rasul Allah, Muhammad saw., (bangsa yang buta huruf, yang bangsa Arab) dengan urutan tugas sama telah diulangi kembali dengan firman-Nya dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 2, dengan tugas mensucikan mereka terlebih dahulu, sebelumnya mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah itu.
Dialah Yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

5. Namun setelahnya itu pun masih ada janji untuk orang-orang, umat Muslim di zaman yang akhir bahwa, seorang Rasul akan dibangkitkan juga di antara orang-orang belum ikut dalam golongan mereka, yaitu pada golongan yang non-Arab.
3. Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

6. Dalam hadits, yang berkenaan dengan Rasul yang dibangkitkan di akhir zaman itu, Y.M. Rasulullah saw. memberikan petunjuk nubuatan bahwa jika Iman itu sudah terbang ke Bintang Tsuraya maka salah seorang dari keturunan Salman Parsi inilah yang akan membawanya kembali iman di bumi. Nabi Muhammad saw. sebagai seorang Nabi yang agung, yang telah membawa satu revolusi besar di antara orang-orang Arab waktu itu, maka kemudian, di zaman sekarang, di dunia yang rusak dan corrupt ini, seorang khadim dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., yang adalah pengikut setia dari Y.M. Rasulullah saw., Khataman-Nabiyyiin, Nabi yang pembawa Syariat terakhir, juga akan menciptakan satu revolusi yang besar. Yaitu, ketika ayat tadi diturunkan, kemudian para sahabat bertanya, siapakah orang yang dari antara umat ini yang akan datang pada kedua kali itu? Kemudian Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. menaruhkan tangan beliau pada pundaknya Hadhrat Salman Parsi dan mengatakan bahwa walau pun iman itu sudah terbang jauh ke bintang Tsuraya, maka kemudian dari antara orang-orang ini akan dibangkitkan seseorang yang akan membawa kembali iman tersebut. Juga ada sebuah hadits dari Y.M. Nabi Muhammad saw., bahwa satu saat akan datang dimana Al-Qur’an itu hanyalah merupakan sebuah Buku dengan huruf-hurufnya saja dan Islam hanyalah tinggal namanya. Itulah salah seorang dari keturunannya Hadhrat Salman Parsi yang ada di sana dan ini adalah berkenaan dengan keadaan di zaman ini, di mana ketika Kitab Suci Al-Qur’an itu akan diangkat ke Langit, yang kosong dari petunjuk, maka pada itulah saat diturunkannya Hadhrat Imam Mahdi, Al-Masih yang dijanjikan a.s.
7. Singkatnya, semua keadaan ini sekarang ditemukan kembali di antara para sahabatnya Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dan inilah pemenuhan janji dari Allah Taala. Sudah ditakdirkan oleh Allah untuk membawakan revolusi ini yang dibawa oleh Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. sehingga inilah tanggung-jawab dari setiap anggota dan para pengikut Jamaat dan para Ulama-ulama di Akhir Zaman sekarang untuk meneruskan revolusi ini; karena jika tidak demikian dan tidak melalui jalan ini, yang misinya itu terutama dengan menekankan terlebih dahulu pada kesucian diri dan mengajak orang-orang untuk menjadi orang yang bersih dan suci hatinya dari segala keburukan, dari perasaan hasud iri dengki dan dari perbuatan yang kasar dan bengis, atau yang bisanya cuma dengan mengeluarkan ribuan fatwa, maka kita akan dianggap sebagai orang yang berdosa seperti halnya orang-orang sebelum kita, orang Muslimin yang sudah kehilangan imannya.

Semoga bermanfaat untuk menjadi petunjuk dan pencerahan diri. Aamiin.


Mersela, 19-2-2008

KHUTBAH JUM'AT 15-2-2008; SHALAT-Mensucikan Diri

KHUTBAH JUM’AT HADHRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V aba.
Tanggal 15-2-2008 dari Mesjid Bait-ul-Futuh, London , United Kingdom
Shalat – Sarana Mensucikan Diri

Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba. menilawatkan ayat dari Kitab Suci Al-Qur-aan:

Surah Al ‘Ankabuut (29) ayat 46:
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Al-Qur-aan dan dirikanlah Shalat, sesungguhnya Shalat mencegah orang dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah, adalah kebajikan yang lebih besar. Dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Sebagaimana setiap Ahmadi sudah sangat mengetahuinya bahwa di abad yang ke-14 itu sudah ditakdirkan akan diturunkannya seorang pencinta berat Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. . Maka sesuai dengan janji Allah Taala ini agar satu kali lagi ditegakkannya ajaran dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., maka diutuslah pencinta berat Nabi Muhammad saw. ini, yaitu Al-Masih yang dijanjikan, Masih Mau’ud a.s., di mana kami ini adalah di antara orang-orang yang beruntung yang sudah mendapatkan taufik dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk melakukan bai’at di tangannya dan menjadi anggota dari Jama’at ini. Tetapi bai’at ini tidak akan dapat memenuhi tujuan yang di mana beliau ini telah diturunkan dan ditunjuk untuk melaksanakan misi ini, atau kecuali bai’at ini memberikan beberapa tanggung-jawab pada kita untuk dilaksanakan. Tanggung-jawab tersebut yang Junjunan besar kami - Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. – kepada orang-orang yang telah mengambil bai’at di tangan khadimnya itu, mereka benar-benar mengerti akan hal ini sebagaimana ummatnya beliau di zaman dahulu, mereka itu telah memenuhi kewajiban dan tanggung-jawabnya tersebut. Sudah pasti jawaban dari setiap dan semua Ahmadi itu adalah –Ya! -, di mana mereka yang telah bai’at di tangannya Al-Masih Mau’ud a.s. dan Al-Mahdi ini dan yang adalah para anggota dari Jama’at ini mereka pun memiliki tanggung-jawab sama seperti halnya kewajiban bagi orang-orang dari zaman awalnya Islam. Tanggung-jawab tersebut telah dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu dengan sangat baiknya; mereka yang sudah mendengar pada Ayat-ayat, pada Tanda-tanda dari Allah Taala dan lalu mensucikan diri mereka, yang bilamana kesucian dan kebersihan dirinya sudah ada pada mereka, maka sebagai hasilnya adalah bahwa kepada mereka itu telah diberikan kedudukan dan status yang membuat mereka benar-benar seorang manusia dari Tuhan. Setelahnya itu mereka pun mensucikan orang-orang lainnya dan begitulah seterusnya. Jika kami tidak punya pikiran yang demikian maka kami itu bukanlah orang yang benar-benar mengerti akan posisi dan kedudukan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
Beliau bersabda di satu tempat bahwa wa aakhariina minhum lammaa yalhaquu bihim (62:4)
Bahwa Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. itu, beliau akan mensucikan umat di zaman akhir dengan cara ini; beliau akan mensucikan orang-orang ini seperti halnya beliau biasa mensucikan para sahabatnya di zamannya beliau. Jadi, hasil impact yang bagus ini akan terjadi lagi dengan melalui pencinta besarnya Y.M. Nabi Muhammad saw., yang melalui Al-Mahdi yang mendirikan Jama’at ini. Jama’at akhir zaman ini akan direformasi dengan melalui beliau.
Jadi, selama hidupnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu ada beribu-ribu orang yang telah disucikan; mereka, orang-orang yang telah disucikan ini kemudian akan terus tersebar. Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah meletakan landasan dari Jama’at ini yang kemudian tersebar dengan luasnya. Allah telah memberikan janji-Nya akan kemajuan dari Jama’at ini, janji yang diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan janji Allah itu adalah selalu benar seperti kata-kata-Nya. Kami sudah melihat pemenuhan dari janji-janji tersebut di masa yang lalu dan kami pun sekarang sedang melihat pemenuhan janji-janji tersebut, dan kami pun akan melihat pemenuhan janji-janji ini di masa mendatang. Tetapi setiap dan semua anggota Jama’at ini haruslah selalu ingat akan poin ini di dalam pikirannya bahwa Wujud-Nya ini akan memenuhi janji-janji tersebut hanya jika orang-orang itu benar-benar mensucikan diri mereka ini. Jadi, inilah sebuah tanggung-jawab yang besar atas setiap dan semua Ahmadi berkenaan dengan dirinya sendiri dan juga sebagai pemelihara dan penjaga dari anggota keluarganya, yaitu istrinya dan anak-anaknya, bahwa mereka itu harus menaruh perhatian penuh akan tanggung-jawabnya ini.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. biasa menerangkan arti dari aakhariina minhum lammaa yalhaquu bihim (62:4) ini, mengapa kata-kata ini digunakan dalam bentuk jamak. Beliau mengatakan bahwa tujuan dari kata-kata ini adalah agar orang-orang itu mengerti akan poin ini bahwa sosok orang yang akan datang itu tidak akan sendirian, tetapi akan merupakan sebuah Jama’at. Bahwa Jama’at ini akan memiliki keimanan yang teguh kepada Allah Taala dan kemurahan serta keanggunan dari seorang beriman itu akan menampak di antara mereka ini. Jadi, inilah standard yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. beserta semua anggota yang pengikut dari Jama’at-nya ini harus berusaha untuk dapat meraihnya. Hal ini dikatakan oleh Allah Taala di mana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menerangkan poin ini kepada setiap orangnya. Agar supaya dapat mencapai tujuan tersebut dan memeliharanya, yang bukannya menegakkannya pada dirinya sendiri saja, tetapi juga harus menyebarkannya di antara keluarganya, kepada istri dan anak-anak-nya dan juga kepada orang-orang yang ada di sekitar lingkungan mereka, yang untuk itu setiap dan semua Ahmadi itu harus bekerja dengan kerasnya. Untuk dapat meraih hal tersebut maka ia itu harus mengikuti jalan-jalan dan cara-cara yang Kitab Suci Al-Qur’an telah membuat poin ini sangat jelas bagi kita. Agar dapat mengerti akan jalan-jalan dan cara-cara itu yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengajarkannya kepada kita, agar dapat mensucikan diri kita dan supaya dapat menghindarkan diri dari keburukan-keburukan, Allah Taala telah menyebutkannya bahwa pengamalan dari ibadah Shalat itu adalah perkara yang sangat besar dalam hal ini sebagaimana Dia berfirman:
Utlu maa uuhiya ilaika minal kitaabi (ayat 29:46)
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab (Al-Qur-aan) dan engkau tilawatkanlah,
wa aqimish shalaata, dan dirikanlah Shalat, yang berarti bahwa apa yang diwahyukan kepadamu dalam bentuk Kitab ini, engkau bacalah dan sampaikanlah kepada orang-orang dan dirikanlah Shalat,
innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaa i wal munkari; sesungguhnya Shalat itu dapat membuat orang jauh dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar, dan perbuatan yang tidak menyenangkan. Sesungguhnya mengingat kepada Allah itu adalah satu perkara yang lebih besar di mana Allah Taala Maha Tahu segalanya yang engkau kerjakan.
Sebagaimana yang kami lihat, di dalam ayat ini Allah Taala telah menyebutkannya bahwa di mana pembacaan dari pesan amanah itu dilakukan, maka segera setelahnya itu Allah Taala menyebutkan wa aqimish shalaata yaitu bahwa engkau dirikanlah Shalat. Dikarenakan melaksanakan Shalat dengan mengikuti persyaratannya serta untuk menegakkan institusi Shalat itu yang dikerjakan secara dawwam, yang demikian itu akan menjadi sarana untuk pensucian. Kitab Suci Al-Qur-aan yang dengan bentuknya yang penuh dengan ajaran untuk pensucian di mana agar orang itu mengerjakannya maka orang itu hanyalah akan mampu dengan pertolongan dari Allah Taala. Jadi, seseorang itu sudah mendedikasikan dirinya untuk berserah diri kepada Allah Taala di mana ia itu sudah dipengaruhi oleh ajaran dari Kitab Suci Al-Qur-aan, maka kemudian ia itu akan dapat menghindarkan diri dari keburukan dan dosa dan ia akan bekerja mengikuti semua perintah dari Allah Taala sebagai seorang mukmin yang sejati dan kemudian persembahan ini, yang dipersembahkannya dengan penuh dedikasi, maka kemudian Shalat-shalatnya ini juga akan membuat orang akan terus mengingat kepada Allah bahkan setelahnya melakukan Shalat itu. Kemudian orang ini akan menjadi orang yang benar-benar mensucikan dirinya.
Jadi oleh karena itu, menaruh perhatian pada Shalat itu adalah satu hal fundamental yang paling terpenting yang menjadi tanggung-jawab bagi setiap Ahmadi. Tetapi bagaimanakah hal itu dapat dilaksanakan dengan hanya mengerjakan satu atau dua kali Shalat saja? Tidak! Benar-benar Shalat yang 5 waktu sehari itu adalah satu keharusan. Jika Shalat itu tidak ada maka akan merupakan satu perjalanan yang panjang untuk mendapatkan standard tinggi dalam peribadahan yang dimintakan dari kita itu. Orang-orang yang terdahulu telah melakukan Shalat 5 waktu sehari dengan usahanya yang keras dan itulah tanda patokan yang dari sanalah sebenarnya perjalanan menuju standard yang lebih tinggi itu dimulai. Shalat 5 waktu sehari itu adalah seperti sebuat bibit keshalehan yang akan tumbuh menjadi sebuah pohon yang berbuah dengan lebatnya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa kalian lakukanlah Shalat 5 waktumu dalam sehari dan dari sanalah maka kondisi moralmu akan dapat dikenali. Seseorang yang memiliki bibit keburukan, ia tidak akan dapat bertahan pada posisinya ini. Kami itu harus menanamkan benih di dalam hati kita dengan pemeliharaannya yang begitu rupa dan menumbuhkannya dengan cara yang memadai sehingga tidak akan ada kondisi iklim yang dapat merusakkannya sama sekali. Jika kita itu tidak menjaga Shalat-shalat kita maka kemudian akan seperti benalu yang akan menghancurkan pada hasil panenan, yang kadang-kadang benalu ini memakan seluruh tanamannya. Jadi, seperti itu pula bahwa keburukan itu akan mengalahkan amal-amal baik ini. Jadi kami itu haruslah memelihara dan menjaga Shalat-shalat ini dan menegakkan dengan akarnya yang kokoh, yang kemudian hanya dengan cara itu akan menjadikan sebuah pohon yang rindang, yang teduh, sebuah pohon yang besar yang juga menghasilkan buah-buahnya, dan hanyalah yang secara demikian, yang akan berhasil itu. Institusi ini akan menjaga kita dari segala macam keburukan, keburukan yang besar atau pun keburukan yang kecil. Jadi, kami itu harus memelihara ibadah kita, menjaga Shalat kita, di mana kemudian Shalat-shalat ini menjadi sarana untuk keamanan dan keselamatan kita.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyebutkan tanda yang berbeda dan yang menonjol dari seorang Ahmadi ini. Jadi, setiap Ahmadi itu harus meng-analisa dirinya sendiri, harus meng-analisa keadaan dari keluarganya. Ia harus melihatnya dan meyakinkannya apakah ia menjaga ke-menonjolannya darikeluarga Ahmadinya itu. Apakah kita dapat dikenali orang dengan kualitas bagusnya tersebut bahwa kita itu adalah orang-orang yang penuh beribadah, dengan ahlak yang baik dan yang mengerjakan Shalat, serta kami itu adalah termasuk orang yang memenuhi tujuan diturunkannya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Jika kita sudah meng-analisa semua perkara ini maka dari hasil analisa ini kita dapat memperbaiki standard keshalehan kami.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam menjelaskan pentingnya tentang Shalat ini, beliau mengatakan bahwa Shalat itu adalah sebuah kebajikan yang bagus di mana kelemahan-kelemahan karena pengaruh Syaitan itu dapat disingkirkan. Itulah arti sebenarnya dari Shalat itu. Syaitan menginginkan bahwa orang itu menjadi lemah di dalam keshalehannya, lemah dalam ketakwaannya dan Syaitan pun mengetahuinya bahwa reformasi yang akan ia kerjakan itu adalah dengan melalui Shalat. Jadi, oleh karena itu adalah sangat essential untuk menjadi orang yang suci bersih ini. Selama seseorang memiliki sesuatu keburukan atau najis di dalam dirinya, maka Syaitan akan mencintai orang tersebut. Oleh karena itu, ciptakanlah kecintaan kepada Allah dan ingatlah ke-Agungan Allah di dalam hati kalian, tidak ada yang lebih besar lagi dari pada Shalat untuk menciptakan hal ini. Berpuasa datang setelahnya Shalat, yang dikerjakan setelahnya satu tahun dan Zakat hanya diberlakukan terhadap orang yang memenuhi persyaratan, yang ada dalam kategori tingkatan itu. Tetapi Shalat itu sangatlah esensial dan wajib bagi semua dan setiap orang. Oleh karena itu janganlah sampai melalaikan tentang Shalat ini; jagalah dan dirikanlah Shalat dengan jalan sedemikian rupa seolah-olah engkau sedang berdiri di hadapan Satu Tuhan Yang Maha Perkasa, yang jika Dia menyukainya maka dengan serta merta akan menerima dan mengabulkan doa saya, pada saat yang sama, pada detik yang sama, doa itu akan diterima dan dikabulkan oleh-Nya.
Orang-orang lainnya sangat memerlukan harta khazanahnya, mereka khawatir kalau-kalau khazanahnya itu kosong di mana mereka selaku takut akan kemiskinan. Tetapi khazanah dari Allah Taala akan selalu terisi penuh. Bilamana seseorang itu berdiri di hadapan-Nya, dalam Shalat dan berdoa meminta hanya hal-hal yang ia perlukan dengan penuh rasa kepastian; yaitu jika ia memiliki keyakinan bahwa saya berdiri di hadapan Satu Wujud yang Mendengar, Yang Maha Tahu dan yang Maha Berkuasa, kemudian jika Dia menyukainya, maka Dia dapat memberikan kepada saya segalanya itu tepat pada saat itu juga. Jika orang itu memuji-Nya dengan secara sangat khusuk, dan tidak pernah merasa berputus asa serta tidak punya pikiran atau prasangka buruk kepada-Nya. Jika dia itu menyukainya maka ia akan mendapatkan kegembiraan ini secepatnya dan lebih banyak lagi keberkahan dari Allah akan datang di jalan ini. Semua hal ini akan didapatkannya, jadi jalan inilah yang harus kita ikuti itu. Orang yang zhalim dan fasiq adalah orang-orang yang tidak berbuat adil dan yang suka melanggar perintah maka Shalat mereka itu tidak akan diterima. Allah Taala tidak akan perduli terhadap orang-orang semacam ini; jika seorang anak tidak perduli terhadap ayahnya, maka ayahnya pun tidak akan perduli sama anak tersebut. Bagaimana Allah Taala akan perduli terhadap orang-orang sedemikian yang tidak memperdulikan Allah Taala.
Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengatakan bahwa inilah senjata yang harus kami miliki untuk bertempur memerangi Syaitan. Syaitan itu selalu berusaha untuk merampas senjata ini dari orang Mukmin. Sebagai seorang tentara yang baik, ia tidak akan pernah melepaskan senjatanya ke tangan musuh. Demikian pula halnya seorang mukmin sejati tidak akan melepaskan, tidak akan membiarkan senjata ini diberikan kepada Syaitan. Inilah sifat alamiah manusia bahwa orang itu seringkali terjerumus pada kelemahan dan keburukan. Oleh karena itu untuk menjaga senjata ini maka diperlukan usaha yang dawwam dan serius dari pihak orang-orang beriman. Dengan secara permanen keselamatan itu harus dikerjakan dan untuk memperoleh ini Allah Taala mengatakan bahwa kalian itu harus menjaga Shalat-shalat kalian. Allah Taala berfirman:

Surah Al-Baqarah 239:
Jagalah semua Shalat-shalat dan khususnya Shalat yang ada di tengah-tengah, dan berdirilah di hadapan Allah dengan patuh.

Saudara-saudara harus menjaga Shalat-shalat kalian, terutama Shalat yang ada di tengah-tengahnya dan berserah dirilah selalu kepada Allah Taala. Jadi, inilah petunjuk prinsip yang telah diberikan bahwa engkau peliharalah dan jagalah Shalat-shalat-mu itu, terutama Shalat yang datang di tengah-tengahnya. Berbagai ahli tafsir telah menyebutkan apa arti dari Shalat yang di tengah-tengah itu; mereka memberikan tafsir dan penjelasannya sesuai dengan ilmu mereka. Ada yang menyebutkan Shalat Fajar, Shalat Zhuhur dan ada yang mengatakan Shalat Ashar; berbagai pendapat disebutkan.
Jadi sebuah petunjuk dan satu prinsip ada disebutkan di sini bahwa kami itu harus menjaga Shalaatil-wusthaa, Shalat Pusat, Shalat yang ada di tengah-tengahnya. Sesuai situasinya dari setiap orang dan tergantung pada orang tersebut maka apa yang ada di tengah-tengah itu bisa berbeda-beda, yaitu setiap situasi yang dapat membuat dia itu lalai atau lupa untuk melakukan Shalat. Bilamana Syaitan itu berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari institusi Shalat ini, yaitu di mana ia mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang lain, maka itulah saatnya di mana ia itu harus berhati-hati agar kita dapat menjaga diri terhadap bujukan dari Syaitan pada saat tersebut dan kami tidak akan membiarkan Syaitan itu untuk menguasai kami. Jadi, selanjutnya saudara-saudara itu haruslah mengerti akan poin ini jika kita menjaga Shalat-shalat kita itu. Bilamana situasinya ada di sana sebagaimana yang baru saja saya katakan, dalam hal yang demikian itu maka Shalat itu benar-benar akan menjaga dan melindungi kami. Shalat-shalat ini akan diperkuat dengan Shalat-shalat sunnah dan Shalat sunnah akan diperkuat oleh Shalat-shalat nawafil – shalat optional -. Jika keadaan seperti ini dapat terciptakan maka kalian tidak akan melihat Syaitan berada di sekeliling kalian, Syaitan akan melarikan diri, Syaitan tidak akan datang mendekat pada orang-orang ini. Jadi, usaha yang dawwam dan terus menerus secara inilah dan pertempuran yang terus menerus inilah yang kalian harus perbuat. Inilah apa tanggung-jawab yang diperlukan itu dan situasi seperti ini adalah yang sebenernya dapat membuat perubahan yang shaleh, setelahnya orang itu bai’at. Jadi, oleh karena itu, untuk memelihara dan menjaga Shalat-nya seseorang itu merupakan tanggung-jawab yang sangat penting dari setiap dan semua Ahmadi yang ia sudah berjanji untuk melaksanakannya: Saya masuk ke dalam Jama’at dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah untuk mengatasi dan menghilangkan kelemahan-kelemahan lama-ku ini. Jadi, selanjutnya untuk melaksanakan hal ini maka ia itu harus memperlihatkan contoh dari ketaatan yang sepenuhnya di mana ia harus menempuh jalan yang melalui jalan ini sehingga janji yang diberikan saat bai’at itu akan bertambah kuat. Saudara akan mampu untuk berperang melawan Syaitan dengan suksesnya yang dengan melalui itu kalian akan dapat melihat banyak dan lebih banyak lagi kebaikan dan kebajikan serta keimanan kalian akan bertambah kuat lagi sebagai hasilnya dari itu. Sebagai hasilnya dari itu maka kalian dapat melihat:

Surah Ibraahiim (14) ayat 25: Wa far’uhaa fis samaa’
………… dan yang cabang-cabangnya menjulang ke Langit.

Bahwa Shalat-mu itu akan naik ke Langit yang cabang-cabangnya dari pohon ini akan naik sampai ke Langit yang selanjutnya kalian dapat melihat standard yang tinggi dari ke-shalehan dan kemuliaan. Melalui inilah kalian dapat melihat manifestasi dari pengabulan doa itu. Untuk dapat meraih standard yang tinggi ini setiap dan semua Ahmadi itu harus melengkapi keinginan di dalam hatinya untuk meningkatkan standard dari peribadahan dan Shalat-nya, yang juga harus dikerjakan dengan rasa keinginan yang besar, dengan perhatian yang besar dan dengan kegemaran dan ke-khusukan yang tinggi. Ketidak-bosanan harus diciptakan di dalam hati. Pada saat ini dan di zaman ini yang dinamakan sebagai yang amat dan terlalu sibuk atau orang yang disibukkan dengan pekerjaannya, orang-orang cenderung untuk meng-gabungkan Shalat-shalat ini, tetapi sebenarnya ada juga orang-orang yang hanya karena punya kebiasaan untuk menggabung-gabungkan Shalatnya ini. Ini tidaklah benar, karena saat untuk setiap Shalat itu sudah ditentukan waktunya. Ada 5 kali Shalat di dalam satu hari itu, Allah Taala berfirman:
Surah Bani Israa’il (17) ayat 79:
Aqimish shalata li duluukisy syamsi ilaa ghasaqil laili wa qur-aanal fajri inna qur-aanal fajri kaana masyhuudaa.
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam, dan bacalah Al-Qur-aan pada waktu subuh. Sesungguhnya pembacaan Al-Qur-aan pada waktu subuh diterima secara istimewa oleh Allah.

Bahwa sejak dari condongnya matahari sampai datangnya malam, engkau dirikanlah Shalat dan juga bacalah Al-Qur-aan pada pagi hari. Pembacaan Al-Qur-aan di pagi hari adalah satu hal yang akan dijadikan saksi pada Hari Pembalasan. Dalam ayat ini Allah Taala menyebutkan berbagai waktunya Shalat; yang dimulai dari Shalat Zhuhur sampai pada Shalat Subuh, yang waktu setiap saatnya telah ditetapkan. Tentang ke-5 waktu Shalat ini telah dijelaskan secara sangat rincinya oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Beliau mengatakan bahwa Allah Taala, menurut undang-undang-Nya telah membagi pengadilan-Nya ini menjadi 5 tahapan; katakanlah bahwa jika pengadilan itu datang pada seseorang yang membuat orang itu merasa ketakutan di mana orang itu mendapatkan permasalahan, maka indikasi pertama tentang adanya permasalahan itulah yang pertamanya timbul. Selanjutnya tahapan berikutnya adalah bilamana orang itu benar-benar mendapat permasalahan sehingga orang itu sama sekali berputus asa di dalam masa kegelapannya dan yang setelahnya itu fajar dan cahaya terang pun akan muncul. Jadi, inilah ke-5 tahapan yang berbeda itu, yang merupakan refleksi dari ke-5 kali Shalat dalam satu hari itu. Ingatlah bahwa waktu-waktu ini yang telah ditetapkan sebagai waktunya untuk Shalat bukanlah semacam pemaksaan yang ditekankan terhadap orang-orang. Jika kalian mau berpikir secara baik-baik maka ke-5 waktu ini adalah gambaran atas 5 kondisi rohaniah atau spiritual sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Taala: aqimish shalaata li duluukisy syamsi bahwa engkau dirikanlah Shalat mulai condongnya matahari. Jadi, Allah Taala telah menyebutkan tentang pelaksanaan Shalat itu mulai dari duluukisy syamsi yaitu dari mulai condongnya matahari. Ada perbedaan pendapat di sini, tetapi dari sinilah dimulainya waktu Shalat itu. Rincian lainnya ada di sana dan hukum tentang kondisi spiritual itu sebenarnya di mulai dari condongnya matahari dan setelahnya itu ada 5 tahapan berbeda yang akan dilalui oleh seorang manusia. Jadi, Shalat juga dimulai bilamana ada terdapat semacam kegelisahan atau ke-khawatiran yang indikasinya mulai dirasakan. Jika orang itu berhadapan dengan suatu masalah atau keadaan yang sulit, maka orang itu akan memperlihatkan kerendahan dirinya. Jika terjadi gempa bumi umpamanya, maka kalian dapat membayangkannya betapa merendahkan diri sikapnya yang akan diperlihatkannya. ………
………….
Kemudian jika perkara pengadilan terhadapmu itu sudah di-register, itulah kondisi yang terjadi setelahnya tengah hari itu, di mana ada sebuah kemunduran dalam situasi dirinya itu. Dikarenakan sebelumnya itu ia tidak mengetahui tentang pemanggilan ke pengadilan ini, dan ketika datang pemanggilan ini maka ia merasa khawatir apakah Tuhan tahu tentang kesalahannya itu dan apa yang akan terjadi setelah itu? Jadi, kemundurannya ini yang datang dalam situasi yang sebenarnya duluuk itulah kondisi pertama yang meng-ekspresikan saatnya waktu Shalat Zhuhur; itulah saatnya untuk melakukan Shalat Zhuhur. Kondisinya yang kedua adalah bahwa ketika ia benar-benar sudah masuk ke ruangan Pengadilan dan pihak lawannya mengajukan pertanyaan kepadanya serta menanyakan kepadanya berbagai hal, itulah keadaan yang sangat gawat di sana dan itulah saatnya untuk Shalat Ashar. Bilamana keadaannya bertambah buruk di mana ia akan dikenakan tuntutan Pengadilan maka ia sudah berpikir bahwa suatu hukuman atau denda akan dijatuhkan kepadanya, maka itulah saatnya untuk Shalat Maghrib. Bilamana akhirnya keputusan sudah dijatuhkan dan ia pun diserahkan kepada polisi untuk dihukum maka itulah saatnya dari Shalat Isya. Setelahnya itu masa kegelapanlah yang datang, yang terus berlangsung sampai munculnya cahaya fajar dan itulah saatnya untuk Shalat Subuh. Itulah saatnya:


Surah Al Inshiraah (94) ayat 7: Inna ma’al ‘usri yusraa.
Ya, sesungguhnya setelah kesukaran itu ada kemudahan.
Dengan semua ujian dan cobaan itu akan selalu ada kelapangan relaxation dan kemudahan; itulah saat yang menunjukkan waktunya Shalat Fajar, Shalat Subuh.
Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyebutkan tentang keadaan spiritual dari seorang manusia; beliau telah menerangkan untuk pengertian kami berbagai arti dari duluuk, ada 3 arti yang berbeda dari duluk yang disebutkan berdasarkan dari beberapa kamus. Mereka mengatakan satu artinya adalah saatnya matahari condong ke Barat, arti yang kedua adalah pada saat ketika cahaya matahari itu menjadi pudar, ini pun dinamakan duluuk . Artinya yang ke-3 juga adalah saatnya matahari terbenam.
Jadi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mempertimbangkan penjelasan yang diberikan tentang duluuk ini adalah saat ketika bayangan dari benda itu menjadi panjang dan mulai saat itulah waktu Shalat itu ditetapkan. Apa kebijaksanaan dan hikmah di dalamnya, beliau telah menerangkannya bahwa secara duniawi jika kami itu berpikir, jika ada seseorang yang untuk pertama kalinya berhadapan dengan keadaan yang sulit, maka betapa ia akan merendahkan dirinya dikarenakan kegelisahan dan ke-khawatirannya itu. Jika ada proses pengadilan sesuatu perkara terhadap seseorang, maka kondisi normalnya orang itu akan berubah di mana orang merasa khawatir karena itu. Mereka berpikir untuk menyewa pengacara untuk membela perkaranya dan ahli hukum bagaimana yang ia akan peroleh, apakah ia dapat membela perkaranya secara efektif atau tidak; keputusan bagaimanakah yang ia akan diambil. Jadi, ia itu merasa begitu gelisah dan khawatir serta berusaha untuk menghindarkan diri atau untuk mengatasi situasi yang demikian itu apa yang memungkinkannya. Jadi dengan condongnya matahari itu, dari contoh ini, itulah saatnya untuk Shalat Zhuhur. Orang harus memperkirakan kondisi spiritual dari seseorang itu, berserah diri kepada Allah Taala dan berusaha untuk memohon pertolongan kepada Allah Taala. Kemudian di dalam urusan pengadilan duniawi, jika surat perintah pemanggilan warrant itu telah dikeluarkan maka orang itu harus datang ke Pengadilan, ia harus pergi ke sana di mana Hakim akan mendengarkan tentang kasusnya dan pertanyaan serta interogasi pun dilakukan di sana. Ia harus menjelaskan keadaan dan tentang perkaranya itu. Apakah ia itu akan minta untuk dimaafkan maka itulah saatnya untuk Shalat Ashar di mana ia itu harus mengingat Allah semoga Allah Taala akan menyelamatkannya dari kelemahan dan dosa-dosanya. Apa pun yang sudah dilakukannya itu, mudah-mudahan Allah Taala dapat mengampuninya dan memberikan kepadanya kehidupan spiritual. Kemudian contoh ini berlanjut, yaitu jika Pengadilan itu telah mengeluarkan keputusannya dengan sesuatu hukuman yang dijatuhkan pada orang tersebut, maka orang itu akan berpikir bahwa sekarang perkara pengadilan itu sudah diputuskan dan hukuman pun sudah ditetapkan sehingga ia pun akan menjadi gelisah dan setiap saat itu merasa khawatir. Jadi itulah saat yang dilukiskan sebagai waktunya untuk Shalat Maghrib. Bilamana seorang mukmin melihat saatnya Maghrib, kegelapan pun datang di mana ia akan lihat pada perbuatannya sendiri dan ia pun tidak dapat melihat sesuatu apa pun yang dapat disajikan maka ia itu berserah diri kepada Allah Taala memohon ampunan-Nya, itulah saatnya Shalat Maghrib. Setelahnya itu jika hukuman sudah ditetapkan, maka jika ia itu dinyatakan sebagai bersalah maka ia akan diserahkan kepada polisi dan hukuman pun dimulai. Dibandingkan dengan ini, situasi pada saatnya Shalat Isya adalah jika pada malam yang gelap itu ia tidak dapat melihat seuatu apa pun karena ia berada di dalam sel di penjara. Jadi, semua perbuatannya selama siang hari itu berada di hadapan orang itu ketika ia berdiri untuk melakukan Shalat Isya. Orang yang berada dalam sel penjara itu ia memohonkan ampunan untuk kebebasannya, yang untuk kemerdekaannya itu selama jangka waktu malam hari itu akan menyadarkan dirinya bahwa janganlah kegelapan malam ini akan datang pada kehidupan spiritual-ku dan yang akan berlangsung lama sekali. Dosa-dosaku yang tersembunyi itu janganlah sampai melemparkan aku pada pangkuan Syaitan dengan secara permanen. Di dalam perasaan yang penuh kegelisahan itu ia memuji kepada Allah Taala dengan penyerahan diri yang amat mendalam semoga keadaan ini tidak akan menghancurkan semua kehidupan spiritual-ku. Bawalah aku pada Penjagaan Engkau dan buatlah matahari selalu bersinar menerangiku yang dapat memastikan adanya kehidupan spiritualku dan janganlah sampai saya itu mundur dalam kehidupan spiritual-ku atau kehidupan spiritual ini sama sekali akan diambil dariku. Jadi, bandingkanlah keadaan ini dengan saatnya Shalat Isya. Setelah menjalani kehidupan di dalam sel penjara itu, pada saatnya orang itu dibebaskan, maka ia akan berjalan keluar dengan gembiranya seperti pada saat datangnya waktu fajar, di mana seorang mukmin akan merasa sangat bahagia dan ia pun memuji kepada Allah Taala sebagaimana datangnya hari ini dengan terbitnya fajar atas kondisi spiritual-ku. Jadi, oleh karena itu ke-5 waktu Shalat itu sebenarnya me-refleksikan keadaan spiritual kami, bahwa itulah saatnya untuk merefleksikannya juga.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyebutkannya bahwa:

Surah Al Inshiraah ayat 7: Inna ma’al ‘usri yusraa.
Ya, sesungguhnya setelah kesukaran itu ada kemudahan.

Merujuk pada ayat dari Kitab Suci Al-Qur-aan ini beliau mengatakan bahwa setelahnya ujian dan cobaan itu maka akan datanglah waktunya relaksasi, kemudahan dan kesenangan. Ini mengatakan kepada orang mukmin bahwa orang itu jangan sampai lalai dalam melakukan Shalat-shalat-nya. Jadi, orang itu harus selalu sangat aktip dan dawwam di dalam melaksanakan Shalat itu. Jika kalian benar-benar ingin mencari perbaikan dan jika kalian ingin memperbaiki kondisi kalian dan jika kalian itu perlu menyerap keberkahan-keberkahan dari Allah Taala maka kalian harus menjaga Shalat Fajar kalian. Bilamana kalian berjalan tiap hari dengan kondisi seperti ini atau perasaan semacam ini ada di sana, maka setiap hari dan setiap hari pagi akan menjadi saksi bahwa engkau itu telah menjalani malam hari dengan ke-shalehan dan setiap petang hari akan menjadi saksi bahwa engkau itu telah menjalani hari tersebut dengan penuh rasa takut kepada Tuhan. Jadi, demikianlah sebenarnya situasi yang dapat membawa suatu perubahan dan revolusi yang besar di dalam kehidupan seorang mukmin. Kita itu jangan sekali-kali melupakan Shalat-shalat yang merupakan persyaratan fundamental agar dapat memperbaiki keadaan kerohaniannya. Tanpa hal itu maka seorang Mukmin itu tidak akan dapat membuat sesuatu kemajuan. Jadi, setiap Mukmin itu harus dengan sangat hati-hati berkenaan Shalat ini dan melaksanakannya tepat pada waktunya, maka untuk itu saudara-saudara itu harus bekerja dengan kerasnya dan harus berjuang dengan sangat kerasnya; karena kewajiban ini merupakan hal yang fardhu bagi seorang yang beriman. Allah Taala berfirman:

Surah Al-Nisaa ayat 104: Innash shalaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaabam mauquutaa.
……..; sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang telah ditetapkan waktunya bagi orang-orang mukmin.

Bahwa Shalat itu adalah suatu kewajiban, sebuah kewajiban yang berkaitan dengan waktunya; dimana pada saat yang dicatat itulah Shalat-shalat itu harus dikerjakan.
Semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada kita untuk dapat menjalankan perintah ini dengan sebaik-baiknya di mana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah datang untuk melaksanakan pekerjaan ini dan tujuan dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., sehingga kami itu dapat menolong beliau di jalan yang mulia ini; jadikanlah kami sebagai penolong beliau. Kami tidak akan menjadi seperti itu, kecuali jika kami itu sudah benar-benar mensucikan diri kami dan juga diri mereka. Pensucian diri ini tidak akan ada jika kita tidak menjaga Shalat-shalat kita dan melaksanakannya selalu tepat pada waktunya.
Semoga Allah Taala memberikan kemampuan kepada kami untuk dapat melaksanakannya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di satu tempat beliau mengatakan bahwa Shalat itu adalah hak dari Allah dan laksanakanlah dengan cara yang paling terbaik dan janganlah malas atau lalai di dalam Shalat-shalat ini tetapi jagalah selalu. Jika seluruh rumah akan dihancurkan maka biarkanlah itu dihancurkan tetapi janganlah Shalat kita yang dihancurkan atau dibuat sia-sia. Orang-orang yang munafik itu mengatakan bahwa jika kami melakukan Shalat maka kami akan mendapatkan kerugian duniawi. Benda-benda duniawi juga dan dasar dari Shalat adalah lebih dari segalanya. Untuk barang-barang duniawi kita bersedia untuk mengeluarkan banyak uang dan inilah Syurga yang dapat diterima oleh orang-orang dengan tidak keluar uang sedikit pun. Jadi, Allah Taala itu telah menyebutkan tentang 2 buah Syurga, satu adalah Syurga dari kehidupan ini dan itulah citarasanya serta kegembiraan dalam Shalat. Shalat ini bukanlah sebuah hukuman atau penalty yang dijatuhkan. Sebenarnya untuk mendapatkan hubungan dengan Allah Taala maka Shalat ini adalah satu keharusan. Agar supaya hubungan ini kuat dan baik Allah Taala telah menetapkan Shalat; inilah hubungan antara seorang manusia dengan Tuhan. Untuk dapat menjalin hubungan ini maka Shalat itulah yang ada. Allah Taala telah menaruh cita-rasanya dalam Shalat ini, kegembiraan dalam Shalat ini. Persis seperti di dalam perkawinan, yaitu di sana ada suatu perasaan yang baik dan indah antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Ketika seseorang itu benar-benar melakukan Shalat-nya dan bekerja dengan kerasnya maka mereka juga dapat menikmatinya yang sama. Jika kegembiraan ini dan penghargaan atas cita-rasa itu tidak ada di sana maka tidaklah banyak yang ada dalam Shalat ini; jika perasaan ini tidak ada di sana, lalu apa bedanya antara seorang manusia dengan binatang lainnya?
Perkara kedua yang amat menyedihkan hati yang pada umumnya barangkali sudah diketahui oleh setiap orang Ahmadi dan yang benar-benar menyakiti hati kami, di mana orang-orang barangkali sudah membacanya di surat-kabar bahwa sebuah surat-kabar di Denmark telah memperlihatkan sebuah contoh yang buruk di mana mereka telah memperlihatkan rasa permusuhan dan dendam mereka dengan menerbitkan gambar-gambar kartun, di mana mereka menyebutkan bahwa mereka itu membuat pembalasan atas orang-orang yang ditangkap dan ditahan polisi, karena orang-orang ini sebenarnya telah membuat dan menerbitkan gambar-gambar kartun yang melukiskannya sebagai Y.M. Nabi Muhammad saw. Ketika orang-orang tersebut ditahan dan tuduhan ini dianggap benar sehingga undang-undang pun kemudian menghukum orang-orang tersebut, lalu apa hak-hak mereka itu untuk melukai perasaan dari orang-orang Muslimin. Tetapi mereka mengatakan bahwa kami selalu menegakkan keadilan; apakah demikian keadilan itu? Bahwa ada orang yang berbuat satu kesalahan dan hukumannya diberikan kepada orang yang lainnya? Jika ini yang dinamakan keadilan itu maka orang-orang ini kemudian menjadi ahkumul haakimin. Allah Taala Yang adalah Pemilik dari semesta alam, dia juga memperlihatkan keadilan-Nya dan Dia Maha Perkasa di mana Dia Maha Kuasa untuk memberikan pembalasan. Terhadap orang-orang yang lagi-lagi melakukannya kembali maka Allah Taala akan membuat balasan terhadap orang-orang tersebut. Perkara ini adalah merupakan azas yang amat mendasar bagi Allah Taala. Untuk orang-orang ini, yang melakukan kejahatan yang paling menjijikkan, maka cukuplah bagi Allah Taala yang akan memberikan pembalasannya. Bagaimana Dia akan melakukan pembalasan ini, biarlah Allah Taala Yang mengetahuinya. Tugas pekerjaan kita hanyalah untuk menerangkan kepada mereka dan mengajari mereka, memberikan petunjuk kepada mereka, itulah yang telah kami kerjakan dengan cara yang sebaik-baiknya. Tulisan berupa artikel-artikel telah ditulis, surat-surat sudah dikirimkan ke surat-surat kabar terkait, kami sudah menjumpai orang-orang yang bertanggung-jawab di dalam hal ini, kami telah mengadakan pertemuan dengan mereka itu. Walaupun demikian, jika orang-orang tersebut masih tidak juga menghindarkan diri dari perbuatannya itu, maka serahkan saja perkara ini kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tugas kami adalah untuk berserah diri kepada Allah Taala, lebih-lebih dari yang sebelumnya kami harus menegakkan contoh mulia dari Nabi Allah, yang telah diperlihatkan kepada kami oleh Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. Kami sudah memiliki Allah, yang pengenalan terhadap Tuhan ini diperlihatkan kepada kami oleh Y.M. Nabi Muhammad saw. Demikianlah Allah Yang Maha Kuasa mencintai Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. lebih dari kepada siapa pun juga. Allah Taala akan memperlihatkan Ke Maha-Perkasaan dan Kekuasaan-Nya Sendiri. Tugas dan pekerjaan kami hanyalah bahwa kami harus memperlihatkan perasaan luka yang ada pada hati kami, inilah yang harus diperlihatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami harus menangis tersedu-sedu di hadapan Allah Taala. Kami harus berdoa memohonkan lebih banyak lagi rahmat dan keberkahan bagi Y.M. Nabi Muhammad saw.; inilah yang harus kami lakukan lebih-lebih dari yang sebelumnya. Inilah tugas dan tanggung-jawab dari seorang Ahmadi di mana dia harus berdoa dan mengucapkan shalawat bagi Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. lebih-lebih dari yang sebelumnya. Mereka itu harus memperbanyak doa-doa mereka jauh lebih banyak dari yang sebelumnya. Mereka harus membersihkan dan mensucikan diri mereka lebih-lebih dari yang sebelumnya. Inilah hal-hal yang akan membuat putus asa mereka yang membuat rencana buruk itu. Agar dapat meng-ekspresikan perasaan kami, maka akan kami sajikan sebuah kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.; beliau bersabda bahwa orang-orang Muslim adalah mereka yang siap sedia untuk menyerahkan jiwa mereka demi untuk kehormatan Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. dan mereka selalu menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad itu, bagaimana dapat bersahabat dengan orang-orang ini; mereka yang menyebutkan nama beliau dengan penuh kehinaan dan dengan kata-kata yang keji tentang beliau, jadi orang-orang ini bukannya berbuat untuk kebaikan orang mereka itu sendiri karena mereka itu mengkoyak-koyak jalan mereka sendiri dan yang membuat jalan mereka itu menjadi sulit.
Kami bersedia berdamai dengan ular dan binatang buas di hutan dan di padang pasir, tetapi kami tidak mau berdamai dengan orang-orang yang tidak henti-hentinya dari memperlihatkan hal-hal seperti itu serta menggunakan kata-kata yang kasar terhadap Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. Pertolongan dari Tuhan datang dari Allah Yang Maha Kuasa. Jadi, penghinaan ini dan bahasa yang keji dan kata-kata kasar yang digunakan di dalam bukunya ini, dan yang telah diterbitkannya, dan dibagi-bagikannya, yang demikian itu adalah benar-benar lebih buruk daripada bom, dan jika kami mendengar pada kata-kata tersebut, bahwa jika orang-orang ini akan membunuh anak-anak kami di depan mata kami sendiri, dan membunuh orang-orang yang menjadi kecintaan kami serta mencincangnya dan menghinakan kami serta mengambil semua harta kekayaan kami, maka demi Allah, kami tidak akan merasa sedih dan merasa menderita, tidak seperti jika mereka itu menggunakan kata-kata kasar dan keji terhadap Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw.
Ya Allah! Orang-orang ini yang menyakiti hati kami karena mereka merasa mempunyai kekuatan, Engkau berikanlah kepada mereka pelajaran, karena Engkau Maha Perkasa, Maha Kuasa.





San Jose-California-USA, February 17, 2008 / Mersela, 21 Pebuari 2008

KHUTBAH JUM'AT 8-2-2008: MISSI IMAM MAHDI a.s.

KHUTBAH JUM’AT HADHRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V aba.
Tanggal 8-2-2008 dari Mesjid Bait-ul-Futuh, London , United Kingdom
Kebenaran Misi Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.

Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba. bersabda:
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa selama ujian dan cobaan ini maka saudara-saudara akan menyaksikan efeknya yang secara khusus dan mukjizat-mukjizat tentang dikabulkannya doa-doa. Kebenaran dari perkara ini adalah bahwa Tuhan kami itu akan dikenali dengan melalui doa-doa. Ini adalah perkara fundamental yang paling terpenting, yang seorang Muslim itu harus berusaha untuk dapat mengerti kedalaman artinya dari itu. Dengan tanpa doa dan tanpa berserah diri kepada Allah Taala, maka pernyataan telah memiliki keimanan itu adalah tak berguna. Ini dikatakan oleh Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. bahwa Tuhan kami itu dapat dikenali dengan melalui dikabulkannya doa. Ini adalah puncaknya yang tertinggi dari keimanan seorang Ahmadi dewasa ini dan hal ini harus selalu ada di dalam hatinya. Bukan saja sewaktu mengalami ujian dan cobaan, tetapi pada saat yang relaks pun pada saat dalam keadaan makmur dan penuh kebahagiaan pun mereka harus senantiasa berserah diri kepada Allah Taala. Mereka harus selalu berserah diri kepada-Nya dan percaya bahwa Dia itulah sumber dari segala kekuatan dan keberkahan itu. Perasaan takut kepada Tuhan itu harus selalu tertanam di dalam hati mereka dan di dalam hati orang-orang yang dinamakan Muslim dan Mukmin yang sejati. Pada saat sedang dalam situasi ujian dan cobaan itu, keimanan mereka akan bertambah kuat dan kokoh lebih-lebih dari yang sebelumnya. Inilah apa yang harus dikerjakan oleh orang-orang yang beriman. Memperkuat keimanannya itu bukanlah hanya dengan maju begitu saja tetapi mereka itu harus meloncat dan berlari cepat dalam memperkuatkan keimanan mereka itu. Untuk mendapatkan ridha kesenangan Allah Taala itu mereka semua harus siap sedia untuk menghadapi hal ini. Segala ujian dan ketersandungan yang secara sementara ini tidak akan memperlemah langkah mereka atau menyebabkan mereka untuk menjadi kerdil; tetapi dikarenakan oleh rintangan dan kesukaran ini bahkan mereka itu harus meningkatkan keimanannya. Jadi, inilah sebenarnya revolusi yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah ciptakan di dalam diri orang-orang Ahmadi. Selama kita tetap berada di dalam kondisi kesabaran ini maka kami akan mampu untuk menyerap lebih banyak dan lebih banyak lagi keberkahan-keberkahan dari Allah Taala.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda di satu tempat bahwa waktu antara dipanjatkannya doa dan dikabulkannya doa itu, dalam masa-masa ini kadang-kadang ada ujian demi ujian dan cobaan demi cobaan yang datang di jalannya orang-orang mukmin ini, dan ada ujian-ujian yang sepertinya akan mematahkan tulang punggung mereka. Tetapi bagi orang-orang yang cenderung berjalan di jalan yang lurus dan selalu tabah dan bersabar, mereka itu akan dapat menghirup harum wanginya dari pengabulan doa-doa mereka dari Tuhan mereka dalam masa-masa ini. Mereka melihat dari lubuk hatinya yang mendalam bahwa pertolongan dari Allah itu segera datang. Sebenarnya di dalam ujian dan cobaan ini di sana ada satu rahasia bahwa orang itu haruslah lebih cenderung, lebih banyak dan lebih khusuk lagi di dalam doa-doanya itu. Pada saat ujian dan cobaan itu bertambah berat maka tingkatan yang sama harus juga ditingkatkan dalam diri kita dalam hal komitmen dan pengabdian dalam shalat dan doa-doa. Inilah satu dari cara dan sarana-sarana untuk penyebab dikabulkannya dari doa itu. Oleh karena itu sama sekali jangan sampai ada orang yang berputus asa dan putus pengharapan; dan jangan sampai ada orang yang punya pikiran yang buruk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa berkenaan dengan pengabulan doa ini. Jangan ada orang yang punya pikiran bahwa doaku itu tidak akan didengar oleh Allah atau tidak akan dikabulkan oleh Allah. Jika mereka itu punya pikiran yang demikian maka mereka itu sama dengan mengingkari sifat dari Allah Taala bahwa Dia itu adalah Satu Wujud yang menerima dan mengabulkan doa-doa. Sebagaimana yang sudah saya katakan dan disampaikan kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., sudah jelaslah bahwa inilah kualitas dari seorang Ahmadi yang sejati itu bahwa dia itu akan selalu berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Setelahnya ujian dan cobaan yang sementara ini Allah Taala akan terus mem-poles keimanannya. Dengan rujukan ini saya ingin mengatakan bahwa dewasa ini, di beberapa Negara di dunia nampak sedang terjadi satu gerakan kampanye untuk membuat kesulitan bagi kehidupan dari orang-orang Ahmadi itu secara langsung dan secara tidak langsung. Mereka itu punya rencana untuk mengejar-ngejar orang-orang Ahmadi ini dan berusaha membuat orang-orang Ahmadi ini dalam keadaan yang sulit. Ini sebenarnya adalah api dari iri dan kecemburuan yang dihembus-hembuskan oleh segolongan orang-orang ini dan atau oleh pihak Pemerintahan yang mengambil langkah-langkah seperti itu. Api kecemburuan ini adalah hal yang sangat kuat di masanya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. baik dari kalangan Muslim dan juga dari pihak non-Muslim. Orang-orang non-Muslim, mereka melakukan hal itu dikarenakan pada zamannya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mereka melihat kemajuan dari Islam di mana mereka tidak tahan untuk dapat menelan dan menyaksikannya; mereka itu tidak menyukai akan kemajuan dari Islam dan keunggulan dari Islam di sana. Sedangkan orang-orang Muslim karena ada pemimpin-pemimpin ulama Muslim yang memiliki kawenangan dan otoritas sendiri mereka merasa ketakutan kalau-kalau para pengikutnya ada dalam bahaya, yaitu akan meninggalkan mereka. Untuk menjaga para pengikutnya itu agar jangan sampai melarikan diri dari mereka, maka mereka membikin-bikin kata-kata, atau mengata-ngatai seperti semacam non-Muslim agar orang-orang itu tidak akan menyukainya. Semoga Allah Taala memberikan kepada mereka kebijaksanaan dan menaruh belas-kasihan-Nya kepada orang-orang ini, karena kadang-kadang orang-orang Muslimin ini dengan melakukan pekerjaan yang sedemikian itu sebenarnya mereka sedang membuat kehancuran diri mereka sendiri, yaitu karena mereka itu mengatakan bahwa kita harus melawan Ahmadiyyah. Adalah takdir dari Allah Taala bahwa jika mereka itu merencakan untuk melakukan pertempuran maka dengan jalan itu mereka sendiri yang akan hancurnya. Oleh karena itu dengan perasaan sympathy terhadap orang-orang ini, karena mereka pun membaca kalimah Syahadat maka kita perlu mendoakan untuk kebaikan mereka itu.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. mengumumkan tentang kedatangannya ini bahwa beliau itulah sosok orang yang difirmankan di dalam Surah Jumu’ah (62) ayat 4:
Wa aakhariina minhum lammaa yalhaquu
Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka ……
Yaitu di antara orang-orang di zaman yang akhir ini, bahwa Allah Taala juga menyebutkan;

Surah Al-Jumu’ah ayat 4: wa huwal ‘aziizul hakiim
………… Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

Allah Taala telah menyebutkan bahwa Dia-lah Wujud Maha Esa Yang telah mengutus dia itu yaitu Aku Sendiri Yang adalah ‘Aziiz’, Yang Maha Perkasa dan‘Hakiim’ Yang Maha Bijaksana. Allah Taala adalah Satu Wujud Yang paling unggul, dominant dan tidak akan ada orang yang dapat menghentikan apa yang Allah Taala berencana untuk mengerjakannya. Dia itu adalah ‘Hakiim’, Dia yang penuh dengan kebijaksanaan di mana Dia telah memutuskan bahwa mutiara hikmah kebijaksanaan dari ajaran Islam itu sekarang ini hanyalah dapat diperoleh dengan mengikut kepada Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Oleh karena itu bilamana kita itu akan menyampaikan pesan amanah ini, agar supaya diselamatkan dari cemburu dan iri-dengki dari pihak penentang dan agar kita itu sukses di dalam misi kita maka kita sungguh-sungguh perlu untuk banyak-banyak memanjatkan doa dan shalat. Di satu pihak bahwa di Negara-negara Muslim di mana sedang menghadapi masa-masa yang sulit maka mereka itu harus tabah dan bersabar serta mereka itu harus banyak-banyak berdoa kepada Allah Taala. Mereka itu harus memperlihatkan kesabarannya dan berdoa kepada Allah Taala dengan cara yang sedemikian rupa dan mereka itu harus berserah diri dalam jalan yang sedemikian rupa sehingga Allah Taala akan segera memperlihatkan kepada mereka tentang pengabulan doanya dan kemenangan bagi mereka. Orang-orang Ahmadi yang tidak terkena secara langsung dalam perlawanan terhadap Ahmadiyyah, mereka itu harus berdoa untuk saudara-saudaranya yang berada di Negara tersebut. Karena ini adalah kemurahan dari orang-orang Mukmin yang beriman bahwa mereka itu adalah semuanya merupakan dari satu kesatuan tubuh yang jika satu bagian merasa sakit maka bagian tubuh lainnya atau bahkan seluruh tubuhnya akan merasakan sakitnya, jadi bilamana ada seorang saudara Ahmadi sedang berada di dalam kesulitan maka hati dari orang-orang Ahmadi itu harus menjadi sensitive dan harus seperti merasakan kesakitan dan kesulitan seperti halnya bilamana ada seseorang sedang dalam kesulitan atau menghadapi kesukaran, maka mereka harus memiliki perasaan simpati kepadanya. Jadi, oleh karena itu semua orang-orang Ahmadi dengan penuh rasa kasih sayang di dalam hatinya mereka harus berdoa, mendoakan agar saudara-saudaranya itu keluar dari masa ujian ini dan menjadi sukses berjaya. Saya merasa yakin bahwa pasti Allah Taala Yang selalu menerima doa-doa itu akan mendengar pada doa-doa kami, akan mengabulkan doa-doa kami serta akan menghilangkan kesulitan dan permasalahan yang dihadapi oleh saudara-saudara Ahmadi kita. Para pihak penentang kita yang punya pikiran bahwa kesulitan-kesulitan dan rintangan-rintangan yang mereka kerjakan di jalan kemajuannya Jama’at Ahmadiyyah, sebenarnya seharusnya mereka berpikir bahwa apa yang sudah mereka kerjakan sejak 100 tahun yang lalu terhadap Ahmadiyyah yang jika hanya buatan manusia saja maka dengan perlawanan yang dihadapi Ahmadiyyah seperti itu yang dengan otaknya para pihak lawan yang bertambah maju itu, maka mereka itu akan sudah dapat menghabiskan dan menghapuskan Ahmadiyah ini sejak lama.
Siapakah orang-orang Ahmadi yang tidak mengetahuinya bahwa di Pakistan, sebenarnya oposisi dan perlawanan kepada Jama’at itu telah memberikan banyak kemajuan dan kesejahteraan kepada Jama’at. Dengan langkah-langkahnya yang lebih cepat Jama’at Ahmadiyyah telah melangkah maju dengan pesatnya di Pakistan dikarenakan oleh adanya penganiayaan dan penindasan ini. Jadi, oleh karena itu kami tidak pernah memiliki rasa khawatir atas perlawanan tersebut dan juga kami tidak pernah punya pikiran bahwa dengan perlawanan tersebut, mereka akan dapat menghentikan jalan kemajuan kami ini.
Sekarang lagi-lagi dan sekali lagi di Pakistan nampaknya bahwa perlawanan atau oposisi yang sudah usang ini, sekarang sedang bangun kembali dari oposisinya yang lebih lunak yang sudah ada di sana, di mana sekarang mereka menambah kekuatan oposisinya itu. Di mana mereka mendapatkan kesempatan maka orang-orang Ahmadi itu ditangkapi dengan tuduhan yang palsu. Beberapa hari yang lalu seorang anak laki-laki kecil Ahmadiyyah diajukan ke pengadilan dengan tuduhan bahwa ia telah memukuli seorang Mullah, seorang Kiyai, padahal keluarga dari orang yang sebenarnya mendapatkan pemukulan itu menolak hal tersebut. Tuduhannya itu ialah bahwa anak kecil itu telah memukuli Mullah tersebut sehingga harus dirawat di rumah sakit; katakanlah bagaimana seorang anak baru berumur 13 tahun dapat memukuli seorang Mullah dewasa dan bertubuh besar secara demikian, di mana orang yang besar itu tidak memberikan reaksi apa-apa. Sungguh mengherankannya perkara ini.
Tujuan dari kampanye propaganda semacam ini adalah agar generasi baru ini ditakut-takuti sedemikian rupa supaya jika mereka pun tetap sebagai Ahmadi tetapi janganlah begitu aktipnya. Para penentang ini, mereka berpikir bahwa dengan cara menghentikan dan tidak memberikan izin penyelenggaraan Jalsah Salanah dan program tarbiyat lainnya yang biasa diadakan di Rabwah itu dikiranya jika mereka itu akan tetap aktip dan generasi baru orang-orang Ahmadi ini barangkali menurut pengertian dari mereka itu akan menjadi rusak dan menjadi buruk, jika mereka itu memberikan tambahan tekanan pada orang-orang Ahmadi ini dan dengan memberikan lebih banyak penindasan dan penganiayaan. Orang-orang tersebut memang benar-benar telah buta dalam keimanannya, apakah mereka itu tidak tahu bahwa lampu cahaya yang telah dinyalakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa itu tidak akan dapat dipadamkan dengan hembusan mulut mereka. Surat-surat yang saya terima dari orang-orang Ahmadi dari Pakistan, orang-orang muda yang benar-benar sudah penuh dengan dedikasi dan kecintaan penuh mereka terhadap Ahmadiyyah membuktikan pada kenyataannya bahwa pemuda-pemuda ini semuanya siap sedia untuk mengorbankan harta dan jiwanya serta kehormatannya demi untuk Khilafat-Ahmadiyyah di mana mereka itu siap sedia untuk berkurban setiap saat dan kapan saja. Mereka ini sudah memberikan pengorbanannya dan akan terus memberikan pengorbanan, di mana para pihak musuh itu tidak akan mampu untuk menghambat langkah-langkah kami ini.
Jadi, oleh karena itu, orang-orang yang telah menjalin dengan kokohnya dengan institusi Khilafat ini dan dikarenakan hubungan mereka dengan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. maka mereka pun ada memiliki hubungan dengan Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. . Karena orangnya yang dari Nabi Muhammad, Rasulullah saw. itulah sosok orang yang akan membawa manusia kepada Tuhan. Jadi, orang-orang tersebut yang memiliki hubungan dengan Tuhan Maha Kuasa di mana mereka ini memiliki keimanan yang teguh kepada Allah, bagaimana slogan-slogan dan teriakan-teriakan orang-orang tersebut akan dapat meng-intimidassi orang-orang ini. Jadi, oleh karena itu, saya memberikan pidato ini kepada para pemuda-pemudi kita agar perkuatlah dan kokohkanlah keimanan kalian kepada Allah, karena inilah sebenarnya yang menjadi kemurahan dan keanggunan dari para pemuda-pemudi Muslim Ahmadi ini. Inilah keanggunan dan kehormatan dari para pemudi Ahmadi dan inilah keanggunan dan kehormatan dari para pemuda Ahmadinya. Seperti halnya di India, di tempat-tempat di mana yang orang-orang Muslimnya dalam jumlah banyak, di mana para Mullahnya sekarang berusaha untuk melakukan penyiksaan kepada oang-orang Ahmadi dan orang-orang yang melakukan penyiksaan ini dengan atas nama agama Islam, sementara mereka sendiri banyak yang tidak tahu membaca kalimah syahadat, banyak yang tidak mengerjakan shalat atau membaca Kitab Suci Al-Qur’an, tetapi mereka ini mengatakan bahwa orang-orang Muslim Ahmadiyyah itu bukan Muslim. Para Muballig dan Muallim serta guru-guru kita itu diancam oleh mereka ini, tetapi sebagaimana yang sudah saya katakan peranan dari seorang Ahmadi dan tugas-tugas dari seorang Ahmadi itu mereka terus laksanakan dan mereka pun terus melakukan pekerjaannya. Mereka itu tidak pernah merasa ter-intimidasi oleh hal-hal tersebut. Mereka mempertahankan dirinya terhadap semua ini dengan pada setiap waktu berserah diri dalam shalat dan doa-doa. Semoga Allah Taala tetap dan senantiasa memelihara orang-orang ini di dalam perlindungan-Nya.
Perlawanan tersebut di masa sekarang ini sedang meningkat lebih keras lagi, ini adalah disebabkan oleh api kecemburuan yang ada di dalam hati mereka, yang memaksa mereka untuk berbuat demikian. Latar belakangnya dari itu adalah bahwa setelah berpulangnya Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. itu, sekarang Institusi Khilafat ini akan genap 100 tahun. Menurutnya, mereka berkata bahwa orang-orang yang kami anggap sudah dapat kami habisi ini, mereka sekarang sedang berpikir untuk merayakan yubilum perayaan seabadnya dari Khilafat-Ahmadiyyah. Jadi, oleh karena itu, perlawanan tersebut sebenarnya memberikan kepada kami bukti bahwa Jama’at Ahmadiyyah itu dengan karunia kemurahan dari Allah sedang bergerak maju ke depan selama beberapa tahun yang terakhir ini.
Di Indonesia kami lihat bahwa perlawanan tersebut sedang bertambah kerasnya. Ada rumah-rumah orang Ahmadi yang dijarah dan dirusak dan ada yang dibakar. Mereka juga mencoba membakar beberapa mesjid Ahmadiyyah atau menghancurkannya. Pemerintah yang dibawah tekanan dari para Ulama atau Mullah terpaksa mendukung mereka. Di beberapa propinsi, Pemerintah seperti para Mullahnya membuat kesukaran lebih daripada di tempat-tempat lainnya. Betapa pun juga untuk selama waktu yang panjang dengan perlawanan terhadap Jama’at ini, dengan melihat pada oposisi tersebut dan walaupun pada kenyataannya bahwa kami itu sudah meminta perhatian dari pihak Pemerintah, sekarang Pemerintah Pusat telah memutuskan untuk mengambil keputusan atas perkara ini di mana semacam perjanjian pun sudah disetujui di mana berita tersebut sudah masuk di dalam surat-surat kabar. Beberapa bagian dari persetujuan itu diambilnya dan ada beberapa bagian yang ditinggalkannya oleh Surat kabar tersebut sehingga akibatnya pesan sepenuhnya menjadi sangat tidak jelas. Perkara ini sudah saya sebutkan di dalam salah satu khutbah saya yang lalu. Jadi surat kabar ini dengan berbagai caranya telah menerbitkannya dalam pers dan juga dimasukkan ke dalam internet. Barangkali setelahnya mendengar komentar saya di dalam khutbah tersebut, orang-orang Ahmadi yang tidak mengetahui selengkapnya atas perkara ini, ada beberapa Ahmadi yang menulis kepada saya bahwa agar menyelesaikan permasalahan ini maka walaupun kita itu harus bersetuju atas beberapa butir tertentu, maka hal itu OK sajalah. Barangkali mereka itu tidak sepenuhnya mengetahui keadaan situasinya; kemudian sebagai contohnya beberapa dari mereka menulis secara ini bahwa Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., pada saat Hudaibiyah beliau saw. setuju bahwa kata Rasulullah itu dihapus dari perjanjian tersebut. Hal yang pertama ialah bahwa, beliau sendirilah yang menghapuskannya itu. Hadhrat Ali r.a. yang menuliskan konsep tersebut menolaknya, ia mengatakan: Ya Tuan-ku; adalah tidak mungkin bagiku untuk melakukan hal tersebut! Atas hal tersebut Y.M. Nabi Muhammad saw. mengatakan di manakah ditulisnya kata Rasulullah itu, yang kemudian beliau menghapuskannya dengan tangan beliau sendiri. Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang belum beriman ini, yang dengannya perjanjian ini sedang dibuat, mereka itu tidak mempercayaiku sebagai Nabi Allah, oleh karena itu kata tersebut perlu dihapuskan dari sana. Tetapi bagi orang-orang yang sudah beriman kepada beliau sebagai Nabi Allah tentu saja mereka itu tidak senang dengan dihapusnya itu. Y.M. Rasulullah saw. juga mengerti akan perasaan mereka itu, sehingga mereka tidak dipaksa untuk melakukannya. Jadi, oleh karena itu, bukanlah pekerjaan kita bahwa kita itu perlu memperlihatkan sesuatu kelonggaran dalam perkara ini atau kelemahan di dalam kepercayaan atas perkara ini hanya untuk menyenangkan orang-orang tersebut dan kita itu janganlah sampai mengerjakan sesuatu yang menurunkan derajat status dari pencinta besar kepada Y.M. Nabi Muhammad saw. ini. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, kami mempercayai beliau sebagai Imam Mahdi, Al-Masih yang dijanjikan a.s. Inilah kedudukan beliau yang benar, selain dari itu tidak ada yang dapat kita lakukan. Keindahan dari kepercayaan kita itu terletak pada kenyataannya bahwa kami ini adalah anggota dari Jama’atnya Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s., yang percaya kepada beliau sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan, yang telah membuat perbedaan antara cahaya dan kegelapan. Poin kami dan pernyataan kami adalah bahwa di zaman kegelapan sekarang ini, maka Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.-lah yang telah menerangkan kepada kami arti hakiki dan ke-istimewaan dari kalimah tayiibah. Beliau a.s. telah mengisi hati kami dengan penuh pengertian dan nur dari kalimah ini. Itulah beliau yang telah mengerjakannya. Itulah beliau yang telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan untuk mendekat kepada Allah Taala. Itulah beliau yang sosok Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dan yang pencinta besar kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. Beliau itulah yang telah mengajarkan kepada kami jalan-jalan untuk mencintai Y.M. Nabi Muhammad saw. Bagaimana mungkin bahwa Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. ini yang namanya itu diberikan oleh Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. di mana beliau saw. telah memanggil beliau sebagai Mahdi kami Mahdi-i-naa-, bagaimana mungkin, hanya dikarenakan oleh tekanan dari pihak Pemerintah atau dari Ulama, kita itu harus berhenti menyebutkan beliau sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi. Mungkinkah itu? Tanda-tanda dari Langit yang bersamaan dengan turunnya Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. sudah ada di sana. Semua persyaratan dari keadaan zaman pun sudah terpenuhi. Jadi, dengan telah menyaksikan semuanya ini, apakah hanya karena adanya tekanan atau katakanlah karena takut pada orang-orang lain, bahwa walaupun Y.M. Rasulullah saw. telah memberikan nama Al-Masih kepada sosok yang satu ini, kemudian demi hanya untuk menyenangkan dunia, walaupun pada kenyataannya bahwa kami itu adalah dari antara pengikutnya, lalu kami itu harus memberikan kepada beliau nama yang lain. Bagaimana mungkinkah itu?
Orang-orang yang membuat kami dengan masa-masa yang sulit ini, janganlah berbuat oposisi melawan kami ini. Setelah menyaksikan Tanda-tanda dari gerhana bulan dan gerhana matahari itu, bukannya mengaplikasikan perkara ini kepada Al-Masih dan Mahdi, apakah kami itu harus meng-aplikasikannya kepada seseorang yang lain? Ini adalah na’udzubillah min dzalik seperti halnya mengingkari keputusan verdict dan Tanda-tanda yang sudah diperlihatkan oleh Allah Taala. Apakah mungkin bahwa Tanda-tanda dari Al-Qur’an dan nubuatan-nubuatan yang telah Allah Taala perlihatkan di zaman dan waktunya dari Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. ini harus kami ingkari? Mungkinkah bahwa di satu pihak kami telah melakukan bai’at di mana kami beriman dan percaya kepadanya sebagai orang yang pilihan Allah dan di pihak lain kami mempercayai bahwa wahyu beliau itu adalah salah, di mana Allah Taala telah memberikan kepadanya kabar suka bahwa:
اِنَّ اْلمَسِيْحَ اْلمَوْعُوْدَ الَّذِيْ يَرْقُبُوْنَهُ وَاْلمَهْدِيَّ اْلمَسْعُوْدَ الَّذِيْ يَنْتَظِيْرُوْنَهُ هُوَ اَنْتَ

Innal Masiihil mau’uud alladzii yarqabuunahu wal mahdii almas’uud alladzii yantadhiiruu nahu huwa anta . Yang artinya adalah: Sesungguhnya Al-Masih Mau’ud a.s. dan Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu itu adalah engkau sendiri.
Inilah apa yang Allah Taala telah katakan. Kemudian Allah berfirman lagi:
Wa la takuunu minal mumtarin
Maka janganlah engkau menjadi salah seorang yang ragu tentang hal itu.
Di dalam semuanya ini dengan hanya melihat pada jalan keluar yang mudahnya saja, mereka itu hanyalah untuk menyenangkan orang-orang lain, apakah dapat dikatakan bahwa jika orang itu melakukan yang sedemikian ini pantas dinamakan sebagai Ahmadi? Jadi, pengingkaran terhadap Al-Masih dan Mahdi sebenarnya adalah sama dengan mengingkari terhadap Ahmadiyyah dan inilah sesuatu yang orang Ahmadi tidak bisa dan tidak pernah akan dapat mentolerirnya. Sebagaimana surat kabar sudah menerbitkannya persetujuan ini antara Pemerintah dan orang-orang Ahmadi, sebagaimana yang sudah disetujuinya, dari persetujuan ini, orang-orang Ahmadi Lahore, mereka juga bangkit dan bangun di mana mereka memberitakan bahwa seolah-olah orang-orang Ahmadi itu telah berubah pandangannya dan berubah keimanan mereka itu. Tujuan mereka adalah bahwa untuk mengatakan bahwa kami yang Lahore ini sudah memperoleh kemenangan dan kami sudah memenangkan perkara ini, karena sekarang orang-orang Ahmadi juga telah menerima – naudzubillah min dzalik – bahwa Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. itu bukan seorang Nabi, tetapi beliau hanyalah seorang Mujaddid, seorang Pembaharu.
Yang pertama-tama adalah bahwa anggota dari Jama’at Ahmadiyyah di Indonesia, orang-orang yang akan pergi dan membicarakan perkara ini dengan pihak Pejabat Pemerintah, mereka itu tidak memiliki sedikit keraguan pun bahwa kami itu tidak mempercayai bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Al-Masih Mau’ud dan sebagai Imam Mahdi as. Tidak akan pernah ada seorang Ahmadi yang dapat berpikir tentang itu’ Dengan karunia dan kemurahan Allah, Jama’at Indonesia dikarenakan pengabdian dan komitmennya, mereka itu adalah - masya-Allah - sebuah Jama’at yang kuat. Mereka itu adalah tergolong dalam ranking Jama’at nomor satu di dunia. Pengorbanan jiwa mereka dan harta mereka yang dipersembahkan demi untuk Ahmadiyyah adalah satu bukti yang cemerlang atas kenyataan bahwa mereka ini adalah Ahmadi-ahmadi yang sejati, jadi, ini juga adalah merupakan sebuah tuduhan palsu terhadap Jama’at Indonesia. Ini adalah satu tuduhan yang besar jika dikatakan bahwa kami itu untuk sementara waktu ini memperlihatkan sesuatu relaksasi dan kelemahan. Kata-kata dalam persetujuan tersebut tidaklah terlalu jelas di mana ada beberapa poin yang disetujui; ini tidaklah berarti bahwa orang Ahmadi itu telah menjadi lemah dalam posisinya. Tidak ada suatu tuduhan terhadap seorang Ahmadi di Indonesia bahwa mereka itu telah memperlihatkan kelemahan di dalam keimanannya. Mereka telah mengekpresikan hal yang penting ini juga di dalam surat mereka itu, karena kata-kata Al-Masih dan Mahdi itu tidak tertulis secara jelas di sana. Oleh karena itu orang-orang yang di surat kabar ini mereka mendapatkan kesempatan untuk memelintirkan perkara tersebut dengan berbagai caranya dan menerbitkannya di dalam berita yang sama sekali tidak akan dan tidak pernah ada di dalam pikiran dan hati seorang Ahmadi. Tetapi bagaimana pun juga orang-orang telah mengambil berita ini dan memblow-up-nya di luar proporsinya. Ketika saya jelaskan hal ini di dalam khutbah saya yang lalu maka surat kabar ini pun telah menerbitkan statement yang sama di dalam surat kabarnya dan ini adalah satu hal yang bagus bagi pihak surat kabar ini di mana mereka pun telah menerbitkan statement kami itu. Tetapi masih juga ada semacam bantahan dari Lahore atas berita itu dan juga dengan menilpon bagian press di sini mengatakan bahwa hal tersebut belum juga jelas sepenuhnya, mereka itu haruslah melakukan sesuatu lebih dari itu bukan hanya sekedar sedikit usaha saja dari pihaknya itu.
………….
Lihatlah pada wahyu dari Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. yang bilamana kemudian kalian meng-analisanya untuk dirimu sendiri pandangan tentang hal itu yang kami miliki berkenaan dengan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Dengan pandangan tersebut bahwa kalian itu memiliki kata-kata dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. maka kalian bisa menjadi maju itu adalah dikarenakan oleh hal itu. Mereka yang menganggap bahwa Anjuman – Lahore - itu lebih besar dari Khilafat, apakah kalian dapat terus mengembangkan Islam ini di mana-mana atau apakah kalian dapat mendirikan Ahmadiyyah di sesuatu negeri? Kehormatan ini sudah datang pada banyak orang-orang yang percaya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. dan Imam Mahdi, mereka yang sudah beriman pada institusi ini sebagai sebuah institusi yang benar dan hakiki. Mereka yang sudah mengambil bai’at di tangan Khalifah, sebenarnya mereka ini dengan karunia kemurahan dari Allah yang telah mengirimkan pesan tabligh ini kepada 189 Negara-negara di dunia dan mendirikan Jama’at-Nya di sana. Apakah yang telah kalian dapat kerjakan dibandingkan dengan yang tadi itu, apakah keputusan dekrit atau verdict dari Allah Taala ini bukannya sebuah bukti bahwa mereka ini adalah benar? Pertolongan dari Allah Taala itu tidak pada orang yang hanya percaya atau beriman pada Masih Mau’ud a.s. sebagai mujaddid saja. Jadi, demi Tuhan saya minta agar kalian merobah sikap attitude kalian; cetaklah bukunya Masih Mau’ud a.s. dan bacalah itu, maka kalian akan dapat mengerti apa pesan amanah yang tertulis di sana itu. Kemudian bukalah Al-Qur’an dan apa yang Allah Taala katakan tentang orang-orang ini, mereka yang percaya pada sebagian dan tidak percaya pada sebagian yang lainnya.
Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa untuk membuat sebuah nubuatan itu setelahnya mendapatkan pemberitahuan dari Allah Taala, inilah satu hal yang diberikan oleh Allah Taala dan dengan melalui petunjuk-Nya ini maka perkara-perkara yang tersembunyi itu akan dibukakan-Nya. Sementara saya sudah melihat keberkahan-keberkahan dari Allah Taala dengan nubuatan-nubuatan tersebut, bagaimana mungkin saya dapat mengingkari diri saya sendiri akan kata Nabi dan Rasul itu yang digunakan tentang saya ini. Bilamana Allah Taala telah memberikan kepadaku nama-nama ini, bagaimana mungkin saya dapat menolak hal tersebut, atau saya harus merasa takut kepada siapa pun juga. Saya bersumpah demi Allah Yang telah mengutus-ku, untuk mengkaitkan sesuatu yang merupakan bagian dari penghinaan dari orang-orang bahwa Dia itu adalah Satu Wujud Yang Maha Esa Yang telah mengirimkan aku sebagai Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.. Sebagaimana saya mempercayai apa yang ada dalam ayat Kitab Suci Al-Qur’an, demikian juga dengan tanpa ada perbedaan satu titik pun, saya mempercayai pada wahyu yang sangat jelas ini yang saya terima dari Allah Taala. Kebenarannya dari wahyu itu sudah dibuat jelas kepadaku melalui Tanda-tanda-Nya yang berulang-ulang kali diperlihatkan kepadaku. Saya dapat berdiri di depan Baitullah, di depan Rumah Allah dan saya bersumpah demi Allah bahwa wahyu suci yang diturunkan kepadaku itu adalah benar-benar kata dari Allah yang sama, yang telah berbicara kepada Hadhrat Musa dan kepada Hadhrat Isa dan akhirnya kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., Dia mewahyukan pesan amanah-Nya kepada semua orang-orang ini. Bagi saya bumi ini menjadi saksi dan langit juga menjadi saksi dan mengatakan bahwa saya ini adalah Khalifatullah. Perlukah orang itu mengingkari-ku, ada orang-orang yang tidak percaya kepadaku, tetapi saya sangat yakin bahwa Allah Taala akan menolong-ku sebagaimana Dia selalu menolong Utusan-Nya. Tidak ada orang yang dapat berdiri menentang kepadaku, karena mereka itu tidak punya sumpah dari Allah ini dan apa pun yang saya ingkari tentang risalat dan nubuwwat itu adalah yang artinya bahwa saya ini bukanlah seorang Nabi yang berdiri sendiri secara independent dan bukannya Nabi yang membawa Syariah baru. Tetapi dalam artian ini bahwa saya memperoleh keberkahan-keberkahan ini dari Imam yang Nabi-ku Muhammad saw., dan dengan melalui beliau-lah kepada saya telah diberikan ilmu yang ghaib ini dan dalam hal tersebut, saya ini secara pasti adalah seorang Nabi dan seorang Rasul, tetapi tidak membawa Syariah yang baru dan tidak membawa undang-undang yang baru. Dengan cara ini, saya tidak pernah mengingkari hal tersebut dan inilah arti yang sebenarnya di mana Allah Taala telah memanggilku Nabi dan Rasul. Jadi, oleh karena itu, satu kali lagi pada saat ini, saya tidak mengingkari bahwa saya adalah seorang Nabi dan seorang Rasul, inilah penjelasan yang sebenar-benarnya yang aku berikan.
Setelah diberikannya statement yang sudah sangat jelas ini, apakah masih ada keraguan yang ada di dalam pikiran orang itu? Hadhrat Masih Mau’ud a.s., setelahnya memperoleh wahyu itu beliau men-deklarasikan posisi beliau itu dan beliau telah membuatnya dengan sangat jelas. Saya katakan kepada orang-orang ini yang telah menyeleweng dari jalan yang lurus, bahwa datanglah kalian dan juga ikutlah menciptakan revolusi ini di dunia. Allah Taala Yang telah menunjuk Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. dan Mahdi yang adalah seorang nabi subordinate atau bawahan nabi. Itulah Al-Masih dan Mahdi yang mengikut pada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., yang ditakdirkan bahwa beliau itu akan menyebarkan pesan amanah Islam ke seluruh penjuru dunia di mana beliau telah mengerjakannya, yang sudah dikatakan dalam keterangan kalimat yang jelas bahwa betapa pun dengan menghadapi perlawanan dan oposisi ini, saya akan terus menyebarkan tabligh Engkau itu ke seluruh penjuru dunia. Sekarang ini, orang-orang yang dapat menyaksikan pemenuhan dari janji ini hanyalah orang-orang yang mempercayai beliau sebagai Nabi dan mereka yang menjalin ikatan dengan institusi dari Khilafat ini. Pesan amanah ini dengan melalui media electronic sedang disebarkan ke tempat-tempat yang jauh di ujung dunia. Jadi hari ini adalah hari kemenangan bagi orang-orang tersebut, orang-orang yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih Mau’ud a.s. dan Mahdi, di mana Allah Taala memperlihatkan kepada mereka mukjizat dari dikabulkannya doa dengan kemajuan dari Ahmadiyyah dewasa ini. Tidak ada satu kekuatan apa pun di dunia yang dapat menghentikan kemajuannya. Statement dari Allah Taala adalah bahwa Aku akan menyebarkan pesan tabligh-mu ke seluruh penjuru dunia, ini juga adalah pesan bagi kita bahwa bilamana mendapatkan kesulitan di jalan ini, di mana ada angin perlawanan oposisi yang ditiupkan dari kanan dan dari kiri, akan timbul nyala api di sana. Pemerintah pun akan membuat beberapa rintangan, tetapi Allah Taala berfirman bahwa Aku Yang Maha Perkasa ‘Aziiz’ dan ‘Hakiim’ Tuhan Yang Maha Bijaksana, Aku berikan kepadamu pelipur lara: Hai para pengikut Masih Mau’ud a.s., Aku berikan hiburan ini kepadamu dan kepada pengikut-mu bahwa kalian itu adalah dari-Ku, dan kalian itu sedang berjuang untuk menyebarkan pesan amanah dari-Ku. Oleh karena itu Aku telah memutuskan di dalam pikiran-Ku, Aku telah memutuskannya untuk setiap saat bahwa dukungan-Ku dan pertolongan dari-Ku akan selalu ada berada sama-mu. Aku akan meyakinkan bahwa Aku akan menyebarkan pesan tabligh engkau ke seluruh penjuru bumi. Di satu kesempatan, untuk mendukung beliau itu dan memberikan kepada beliau kekuatan, Allah Taala berfirman bahwa:
لاَ تَخَفْ اِنَّنِيْ مَعَكَ وَمَشْيِنَا مَشْيِكَ اَنْتَ مِنِّيْ بِمَنْزِلَةٍ لاَ يَعْلَمُوْنَ اْلخَلْقُ وَجَدْتُكَ مَا وَجَدْتُ اِنِّيْ مُهِيْنٌ مَنْ اَرَادَ اِهاَنَتَكَ وَاِنِّيْ مُعِيْنٌ مَنْ اَرَادَ اِعَانَتَكَ اَنْتَ مِنِّيْ وَسِرُّكَ سِرِّيْ وَاَنْتَ مُرَادِيْ وَمَعِيْ اَنْتَ وَجِيْهٌ فِيْ حَضْرَتِيْ اِخْتَرْتُكَ لِنَفْسِيْ

latakhafu innaanii ma’aka wa masyaina masyaika anta minni bi manjalatin la ya’lamunal halqu wa jadtuka maa jadtu. Innii muhiinun man araada ihaa nataka, wa inni mu’inun man araada i’aanataka, anta minnii wa sirraka sarrii wa anta muraadii wa ma’ii anta wa jiitu fii hadhratii ikhtartuka linafsii. Yang artinya dari ini adalah: Janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya Aku ada bersamamu dan Aku berjalan menyertai-mu. Engkau mendapatkan martabat tersebut di-sisi-Ku tidak diketahui oleh siapa pun di antara manusia; Aku telah mendapatkan-mu dan Aku menyukai kamu. Bilamana ada orang yang menghinakan kamu maka Aku akan menghinakan orang itu. Barang siapa yang menolong kamu maka Aku pun akan menolong dia juga. Engkau adalah milik-Ku dan rahasia-mu adalah rahasia-Ku dan engkau akan selalu bersama Aku. Engkau mengagungkan keberadaan-Ku, engkau adalah orang terhormat disisi-Ku. Aku telah pilih engkau untuk Diri-Ku.
Jadi, orang yang kepadanya diberikan kata-kata hiburan dari Allah Taala ini dan yang membuat kedudukannya sangat jelas, Allah Taala juga mendukungnya dan Allah pun memberikan janji untuk mendukung orang-orang yang akan mendukung beliau dan akan menghinakan orang-orang yang menghinakan beliau. Allah Taala ada bersama beliau, Wujud Tunggal yang telah men-deklarasikan sebagai orang yang pilihan-Nya maka tak ada yang perlu ditakutkan bagi orang-orang yang mengikut kepadanya. Orang itu jangan sama sekali merasa kacau dengan keadaan apa pun yang mungkin terjadi.
Pada waktu perang Uhud, walaupun kenyataannya bahwa orang-orang Muslim itu harus mundur dan menderita banyak kekalahan juga, tetapi musuh pun tidak dapat dikatakan sebagai pemenang. Pada akhirnya Allaahu ‘Ala wa Ajal deklarasi itu adalah benar bahwa Allah adalah yang Tertinggi. Deklarasi ini dibuat juga oleh Allah Taala di zaman ini dan pada waktu ini untuk yang tercinta-Nya Al-Masih Mau’ud a.s.. Jadi, oleh karena itu kita yang percaya dan beriman kepadanya maka tidaklah perlu bagi kita untuk merasa khawatir atas semua kesulitan dan rintangan yang bersifat sementara ini.
Baru-baru ini pada orang-orang Arab juga terjadi kegelisahan yang penyebabnya adalah bahwa ada beberapa Pemerintahan Arab yang dikarenakan ketakutannya pada Mullah dan orang Kristiani karena melihat pada kemajuan dari Ahmadiyyah dan kekuatan dari Ahmadiyyah; juga satu alasannya adalah karena terbakar api cemburu dan iri-hati maka penyiaran transmisi dari satellite Ahmadiyyah yang biasanya terus berlangsung itu telah dihentikannya. Sepertinya mereka itu tidak punya etiket sopan santun dalam perkara ini dengan menghentikannya secara begitu saja di mana orang-orang Arab-Ahmadi dan orang-orang non-Ahmadi Arab lainnya mereka menulis surat kepada saya dan kepada Management MTA bahwa, bagaimana orang-orang ini telah menghentikan penyiaran Tuan pada saluran TV ini? Kami katakan kepada mereka, kami akan berusaha untuk menjalankannya kembali secepatnya memungkinkan dan hari ini dari khutbah saya ini, mereka akan mengetahui mengapa semua ini bisa terjadi. Pemerintahan yang lemah ini sebenarnya adalah karena mendapat tekanan dari para Ulama-Mullah, di mana mereka berusaha untuk menghentikan transmisi ini. Karena di beberapa Negara Arab oposisi itu ada di sana dan juga dari beberapa missionaries Kristiani di mana mereka memberikan tekanan agar transmisi ini dihentikan karena dianggap merugikan pihak Kristiani. Bagaimana pun juga kasus ini kami serahkan kepada Allah dan jika mereka ini berpose melawan orang-orang dari Allah, maka kami berserah diri sajalah kepada Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang pemilik segala kekuatan dan bahwa Tuhan Yang ‘Aziiz’ adalah Wujud yang memiliki segala kekuatan dan Yang Maha Perkasa, di mana Dia sudah mengumumkannya:

Surah Al-‘Imraan ayat 55: Wa makaruu wa makarallaahu, wallaahu khairul makiriin.
Dan mereka, yakni musuh Al-Masih, membuat rencana dan Allah pun membuat rencana, dan Allah adalah sebaik-baik Perencana.
Inilah pengumuman dari Allah itu bahwa jika mereka berusaha dan merencanakan sesuatu maka Allah Taala pun membuat rencana di jalan-Nya juga. Allah Taala adalah yang Terbaik dari semua Perencana. Sebelumnya juga, di zamannya Al-Masih yang pertama usaha-usaha seperti ini sudah dikerjakan oleh orang-orang dan sekarang usaha-usaha yang sama ada dilakukan oleh orang-orang terhadap Al-Masih Mau’ud a.s. dari Nabi Muhammad saw. ini. Kesulitan-kesulitan yang diciptakan di jalan kita, maka Allah Taala akan menghilangkan semua ini; inilah pekerjaan dari Allah Taala, bahwa Dia akan menghilangkan kesulitan tersebut. Allah Taala akan membuat rencana yang sedemikian rupa yang bahkan kami pun tidak dapat mengerti.
Rencana Allah Taala itu adalah untuk selama beberapa jam dalam sehari mereka mengatur siaran penggantinya. Sebagai respon atas penderitaan yang mereka buat itu, sebenarnya kami sudah mengadakan kontak dengan European satellite yang untuk itu pernah kita usahakan di masa lalu namun tidak berhasil, yaitu ketika kami mengadakan kontak dengan European satellite tersebut ternyata tidak ada ruang yang dapat kami sewa. Tetapi setelahnya kesulitan yang mereka ciptakan ini, kemudian Allah Taala mengatur bagi kami untuk mengadakan kontak dengan yang sekarang ini, di mana satellite yang telah mereka hentikan itu jangkauannya hanya terbatas pada beberapa area saja dan satellite yang sekarang ini jangkauannya adalah lebih luas dan lebih besar. Orang-orang yang mengatakan bahwa kami tidak dapat lagi menonton MTA-Al-Arabia, maka sekarang dengan melalui satellite yang baru ini dengan karunia kemurahan dari Allah kekurangan dari program lama yang tidak terlihat dari beberapa area maka sekarang hal itu akan dapat terpenuhi. Ini semua adalah caranya dari Allah; Dia-lah Wujud Yang Maha Esa Yang janji-Nya itu selalu merupakan janji yang benar.
Kesulitan-kesulitan ini akan datang, dan orang-orang yang iri, mereka itu akan terus berusaha sekuat tenaga mereka, tetapi jangan sampai ada orang yang merasa berputus asa karena kejadian tersebut. Janganlah mereka putus pengharapan dengan melihat pada kesulitan-kesulitan yang menghadang pada jalan mereka ini. Kami harus senantiasa berserah diri kepada Allah Taala, kami harus menaruh lebih banyak perhatian lagi pada shalat dan doa-doa; kita harus mempercantik shalat-shalat kita dan melaksanakan tugas dan tanggung-jawab kita serta kerjakanlah shalat-shalat nawafil. Karena shalat dan ibadah itulah yang benar-benar akan menolong kita dalam mengejar tujuan ini, inilah yang akan menolong kita. Jadi, sibukkan-lah lidah saudara-saudara di dalam mengingat kepada Allah. Dengan melalui ini insya-Allah jalan menuju kemenangan kita akan terbuka. Jadi, inilah poin utama yang setiap Ahmadi itu harus selalu ingat pada setiap saatnya. Sekarang masa 100 tahunnya Khilafat-Ahmadiyyah akan segera datang di mana orang-orang Ahmadi sedang merencanakan untuk merayakannya. Orang-orang yang iri itu, mereka akan berusaha lebih-lebih dari yang sebelumnya untuk mengganggu dan merugikan kita. Jadi, ke-iri-hatian mereka itulah yang menyebabkan mereka mengganggu kami Ahmadiyyah, karena katanya Khilafat ini sudah diambil dari kami, orang-orang Ahmadi sudah mengambil Khilafat ini.
Jadi para pihak penentang Jama’at ini, kadang-kadang mereka menyatakan poin ini dengan secara terbuka. Orang-orang Muslim lainnya itu, mereka menyatakan bahwa dengan tanpa Khilafat ini, maka kami tidak akan mendapat sukses. Surat-surat kabar mereka dipenuhi dengan tulisan artikel ini; bahkan sekarang pun ada sebuah statement, yang sekarang saya bawakan satu: Mufti Habiburrahman Sahib menyebutkan bahwa institusi dari Khilafat Islam, tidak ada system yang lebih besar dari Khilafat dan bagaimana mungkin untuk dapat memilikinya dengan tanpa Kesatuan di dalam satu Landasan. Keadaan dari orang-orang Muslimin yang mereka sedang melaluinya situasi tersebut sudah memahrumkan orang-orang Muslimin dari keberkahan-keberkahan ini. Dalam situasi seperti ini, mereka itu haruslah mengerjakan pekerjaan yang sama, yaitu dengan jalan memberikan pengorbanan pengorbanan, seperti mereka yang telah memperoleh Negara Pakistan ini. Pengorbanan tersebut, yang diberikan untuk tujuan ini yaitu bahwa mereka mendapatkan sebuah Negara yang merdeka, di mana mereka itu akan dapat menjalani kehidupannya secara hukum Islam dan akan dapat menegakkan suatu Pemerintahan Islam. Harus ada hukuman jika terjadi penipuan atau percundangan di sana, tetapi kenyataannya sekarang ini tidak ada hukuman yang diterapkan. Rahasia dari semua keberkahan-keberkahan dan kemajuan ini ada pada Khilafat. Inilah pernyataan statement dari Kiyai Mullah yang non-Ahmadi ini.
Saya berkeinginan agar orang-orang tersebut sekarang akan meninggalkan sikap keras kepalanya dan mereka itu dapat datang, dan percaya bahwa Imam Zaman itu, yang tentang itu janji-Nya adalah bahwa Imam Mahdi akan datang dan setelahnya beliau, maka institusi Khilafat akan ditegakkan. Sosok orang yang mereka tunggu-tunggu itu sekarang sudah datang dan dengan melalui beliau-lah maka institusi Khilafat itu sudah didirikan; tidak akan pernah ada lagi system Khilafat baru yang akan didirikan setelahnya Khilafat yang sudah ada ini. Usaha dan upaya apa pun yang kalian lakukan tidak akan dapat menggantikannya. Jadi, para Ahmadi ini berdoalah bagi mereka diri sendiri semoga Allah Taala akan melindungi mereka dan membuat kami tabah dan bersabar, di mana mereka itu semua harus senantiasa mengikatkan diri pada Jama’atnya Hadhrat Imam Mahdi, Al-Masih Mau’ud a.s., yang sudah datang sesuai dengan janji nubuatan dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. dan juga berdoalah untuk orang-orang lainnya ini, semoga Allah Taala memberi taufik kepada mereka, agar mereka juga ikut datang dan bergabung, bersatu dengan Imam Mahdi, Al-Masih Mau’ud a.s. ini. Semoga demikian hendaknya; insya Allah Taala. Aamiiin.



San Jose-California-USA, February 10, 2008 / Mersela, 14 Pebruari 2008

Sabtu, 09 Februari 2008

NABI TUGASNYA MENSUCIKAN ORANG-ORANG; ULAMA UHUM ....

NABI yang MENSUCIKAN ORANG; Ulama Iri, kecuali yang Shalihiin

Nabi diutus, dikirim oleh Tuhan dengan tugas untuk mensucikan orang, dan kemudian mengajarkan kepada orang, Kitab Al-Qur’an dan Hikmah (QS 2:151, 3:164 dan 62:2). Demikian juga tugas dan kewajiban para pengikut Nabi sampai masa akhir zaman itu.
Ulama, kecuali jika paling tidak termasuk ulama yang berderajat shaliihin (QS. 4:69), kalau punya rasa iri dan bersifat berangasan akan jauh dari usaha mensucikan dirinya apalagi punya daya tarik untuk mensucikan orang-orang lainnya; lebih-lebih lagi jika hanya mengekor kepada orang dan dunia Arab saja, bukannya mendasarkan dalil dan argumentasinya pada Al-Quran dan Sunnah serta hadits. Itulah ulama mereka, ulama uhum ….

Mersela, 10-2-2008

KHUTBAH JUM'AT 1-2-2008; NABI ALLAH MENSUCIKAN ORANG-ORANG (2)

KHUTBAH JUM’AT HADHRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V aba
Tanggal 1-2-2008 dari Mesjid Bait-ul-Futuh, London, United Kingdom
Nabi Allah mensucikan Orang-orang (2)

Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba. menilawatkan ayat-ayat dari Kitab Suci Al-Qur’an:


Surah Al-Baqarah ayat 130:
“Ya Tuhan kami, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari antara mereka yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka dan yang mengajarkan himah kepada mereka dan akan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Surah Al-Baqarah ayat 152:
Sebagaimana telah Kami utus kepadamu seorang Rasul dari antara kamu dan mensucikan kamu dan mengajar kamu Kitab dan Hikmah, dan mengajar kamu apa yang belum kamu ketahui.

Kedua ayat yang baru saya bacakan ini, di dalam ayat yang pertama merupakan doa dari Hadhrat Ibrahim a.s., yang pokok pembahasannya sudah diterangkan di dalam dua khutbah yang lalu dan ayat yang kedua adalah pengumuman dari Allah Taala bahwa Kami sudah mengirim Nabi tersebut yang merupakan perwujudan dari dikabulkannya doa ini. Nabi tersebut adalah yang dari keturunannya Hadhrat Ismail a.s. yang ditakdirkan untuk membawakan satu revolusi yang besar di dunia dan yang telah beliau lakukan. Dalam doa ini keempat perkara yang dimintakan oleh Hadhrat Ibrahim a.s. itu beberapa butir mengenai hal ini sudah saya terangkan sebelum ini. Ketika memulai pokok bahasan ini beberapa Jum’at yang lalu, secara singkat saya telah terangkan bahwa pada kata-kata dari kalimat doa ini yang dimintakan kepada Allah Taala dan dalam kata-kata di dalam pengumuman yang dibuat oleh Allah Taala berkenaan dengan pengabulan-Nya dari doa ini, di sana terdapat sedikit perbedaan di dalam urutannya. Ada satu kebijaksanaan yang besar di balik ini dan tidak ada perbuatan dari Tuhan Maha Bijaksana, Allah Yang Hakiim, yang tanpa sesuatu alasan. Jadi, di sini bukannya hanya urutannya saja yang dirubah dengan tanpa alasan, ataukah tanpa ada penyebabnya untuk itu. Ke-4 sifat dari Nabi yang agung ini, yang sudah saya terangkan, di sini ada satu keistimewaan yang besar, yang tak ada tara bandingannya yang dapat dilihat dari sana dan inilah kualitas yang sangat istimewa dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. . Sebagaimana yang sudah saya katakan sebelumnya ketika saya memulai pokok bahasan ini, bahwa saya akan menerangkan perbedaannya yang ada di sana dan itulah butir perkara yang saya akan ambil pada hari ini.
Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, di sana ada 2 tempat di mana subyek yang sama ini telah disebutkan, yang pertama di dalam Surah Aali Imraan ayat 165:

Sesungguhnya, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika membangkitkan kepada mereka seorang Rasul dari antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah; dan, walaupun sebelum itu mereka sesungguhnya ada di dalam kesesatan yang nyata.

Bahwa Allah Taala telah memberi satu karunia nikmat yang besar kepada orang-orang mukminin, yaitu bahwa Dia telah membangkitkan seorang Nabi dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, padahal sebelumnya mereka itu jelas-jelas ada di dalam kesesatan yang nyata.
Di tempat lainnya, yaitu dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3, di mana Allah Taala berfirman:
Dialah Yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

Dia-lah Yang telah membangkitkan di antara orang-orang yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka itu berada di dalam kesesatan yang nyata. Bahkan di 3 buah tempat lainnya, sebagaimana yang saya sudah katakan sebelumnya, bahwa urutannya pada saat doa itu dipanjatkan dan urutannya ketika doa ini dikabulkan, di sana ada sedikit perbedaan di dalam urutannya.
Di dalam doanya Hadhrat Ibrahim a.s. itu tentang pensucian ini disebutkan di belakang; sedangkan ketika Allah Taala mengatakan bahwa Aku telah menerima doa tersebut dan Nabi yang dimintakan dalam doanya Hadhrat Ibrahim a.s. itu adalah bahwa Nabi ini akan mengerjakan semua perkara ini, yang semuanya ini disebutkan setelahnya pen-sucian. Atas butir ini beberapa orang ahli tafsir juga telah memberikan beberapa penjelasan, tetapi Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. telah menerangkan butir perkara ini dalam rincian yang detail sekali; sebagaimana yang saya katakan para ahli tafsir lainnya itu, mereka tidak masuk sampai sebegitu rincinya. Sebagai contohnya Allama Wulusi menulis bahwa pen-sucian ini dibawa di antara kedua peran dengan maksud bahwa untuk mengatakan tentang 4 perkara itu yang jangan diambil menjadi satu, melainkan semuanya itu merupakan 4 perkara yang terpisah. Setiap perkara ini merupakan satu anugrah kebaikan dan kebajikan dari Allah dan butir yang kedua adalah bahwa tilawati-ayat pembacaan dari ayat-ayat itu disebutkan pada pertama kalinya karena untuk pensucian itu adalah perlu untuk mempersiapkan orang-orang ini dan setelahnya itu baru disebutkan pen-sucian di sana. Inilah kualitas pertama yang orang-orang mukmin itu harus menjalankan yang satu ini, karena untuk menjalani perkara-perkara yang baik itu, maka orang itu perlu untuk meninggalkan hal-hal yang buruk. Setelahnya itu, taklim yakni memberi pelajaran ada disebutkan di sana dan tazkiyah ada disebutkan sebelumnya itu sehingga hal itu menjadi jelas bahwa dengan menjalaninya itu akan menjadi lebih mudah. Beberapa ahli tafsir lainnya, mereka juga masuk dalam diskusi secara singkat mengenai ke-4 urutan perkara yang disebutkan di sana itu.
Untuk menjelaskan perkara ini, Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. telah masuk pada yang lebih rinci lagi dan saya memanfaatkannya dari sana di mana saya akan menerangkannya hari ini. Di dalam doanya dari Hadhrat Ibrahim a.s. yang didasarkan atas butir ini bahwa Nabi ini dibangkitkan yang kemudian ia harus menyajikan wahyu yang diturunkan kepadanya dan kemudian beliau membacakan Tanda-tanda yang diberikan kepadanya dengan kebajikan, kebaikan dan mukjijat-mukjizatnya. Setelah itu sebagaimana yang ada dalam perintah yang diturunkan beliau selanjutnya menerangkan tentang hikmahnya dari itu dan akhirnya orang-orang yang mendengarkan pada ayat-ayat tersebut dan mukjizat-mukjizatnya, ketika sudah melihatnya dan mengerti akan perintah-perintah tersebut maka kepada Jamaah yang diciptakan oleh Allah Taala itu mensucikan Jamaah ini. Jadi inilah Jamaah dari orang-orang yang disucikan yang kepadanya pesan amanah ini ada di sana dan mereka itu akhirnya menjadi sukses dan berjaya. Jadi inilah alasan mengapa tazkiyah, pensucian itu diletakkan pada akhir dari doa Hadhrat Ibrahim a.s. Susunan konstelasi ini diambil terhadap orang-orang yang lemah dalam keimanannya, namun susunan urutan yang difirmankan oleh Allah Taala itu bahwa pensuciannya itu diletakkan sebelumnya perihal kemajuan ilmu. Aspek lainnya tentang ilmu dan pengertian mereka menyebutkannya di akhirnya. Perkara penting yang disebutkan di sini adalah peningkatan mereka dan pensucian dan pengertian spiritual mereka, yang adalah sangat penting bahwa mereka itu harus memiliki kepercayaan penuh atas wahyu dari Allah Taala itu. Bilamana iman kepada yang ghaib ini ada di sana maka dalam dalam hal demikian itu kepada mereka akan diberikan kekuatan dalam hatinya yang akan dapat melihat Tanda hiburan yang diberikan kepada mereka itu. Ketika Tanda-tanda dan mukjizat ini terlihat oleh orang-orang itu dan mereka akan meningkat di dalam pensucian jiwa dan dirinya maka bersamaan dengan ini dan dengan kemajuannya itu mereka akan berusaha untuk mendapatkan kualitas dari Allah di dalam perjalanan mereka itu. Dengan menjalani kualitas-kualitas tersebut maka kemudian mereka akan terus meningkat maju di dalam keimanannya. Segala keserakahan pribadinya akan sama sekali hilang sirna. Jadi, inilah alasannya mengapa tazkiyah itu disebutkan sebelumnya Kitaab dan hikmah. Karena membaca Kitab dan untuk menemukan kebijaksaannya dari itu adalah merupakan ilmu pengetahuan secara umum dan prosedur yang normal dalam mencari ilmu pengetahuan itu. Itulah sebabnya mengapa perkara ini disebutkannya di belakang.
Allah Taala telah memberi petunjuk bahwa tujuan dari hidup sesorang itu bukanlah untuk mencari hikmah dari semua perintah ini, tentang shalat dan naik haji dan zakat yang telah ditetapkan itu. Tujuan hakikinya adalah pensucian. Jika ada seseorang yang terus menerus melakukan shalat yang lama sekali dan hatinya tidak menjadi bersih maka ia itu tidak melakukan reformasi dirinya sendiri; jika ia memberikan zakat tetapi dari perolehan yang tidak halal atau jika ia pergi naik haji tetapi yang tujuannya itu adalah agar orang-orang itu tahu bahwa ia itu naik haji atau jika datangnya ke Mekkah itu untuk mendapatkan manfaat bagi bisnisnya, karena ada orang-orang yang kadang-kadang melakukan perjalanan haji itu untuk keperluan ini. Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. mengatakan bahwa saya pergi ke Mekkah ketika saya masih seorang anak kecil yang juga melakukan haji, saya bertanya kepadanya yang tidak melakukan shalat di mana ia itu hanya menghabiskan waktunya saja di sana. Saya katakan kepadanya apakah Tuan datang untuk haji? Ia mengatakan ya; saya punya bisnis, punya toko di sini dan untuk keperluan inilah saya itu pergi haji. Orang lainnya yang pergi haji dan ketika datang ia memperoleh banyak kemajuan dan bisnisnya pun menjadi bagus, jadi saya itu datang ke sini adalah untuk tujuan ini bahwa bisnis saya ini akan berkembang dan jauh lebih maju lagi. Jadi demikianlah keadaan dari orang-orang tersebut, yang kadang-kadang pergi haji itu. Jika jamaah haji ini adalah orang yang semacam ini maka akan menjadi sia-sialah bagi mereka itu, bagaimana ia akan dapat bekerja mengikuti ajaran dari Kitab ini.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyebutkan tentang orang yang melakukan ziarah haji ini bahwa ia berlaku kikir bagi orang lainnya dan orang ini sepulangnya dari haji itu ia menjadi orang yang sangat kaya-raya; kemudian ia meminta kepada pembantu perempuannya bahwa engkau bawalah barang-barang yang saya bawa pulang dari haji itu, kemudian ia mengatakan letakkanlah barang-barang ini di atas nampan itu dan bawalah ke sini barang yang saya bawa dari haji itu. Kemudian ia pun terus melakukannya seperti yang ia bawa dari perjalanan hajinya yang pertama kemudian untuk yang kedua kalinya dan untuk haji yang ketiga kalinya. Jadi tujuannya adalah untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa ia itu sudah melakukan perjalanan haji. Orang-orang mengatakannya bahwa keadaanmu itu sangat menyedihkan dan tercela; engkau sesungguhnya telah menghancurkan semua sawab dan ganjaran dari perjalanan hajimu itu.
Jadi perkara untuk mengerti itu di sini adalah tentang tujuan untuk bekerja dan melakukan ajaran dan semua perintah dan Kitab ini adalah utamanya untuk pensucian jiwa seseorang. Apa pun yang orang itu kerjakan tujuan akhirnya adalah harus seperti itu. Oleh karena itu, tazkiyah pensucian itu dipraktekkan di atas semua perkara tadi. Inilah sebabnya bahwa orang-orang yang pengikut Nabi yang agung saw. ini mereka mensucikan hatinya. Ajaran yang diturunkan melalui wahyu hari demi hari di mana standard dari ke-shalehannya pun menjadi meningkat, tetapi pensucian dari hati itu sudah ada di sana. Tentu saja ini pun akan terus meningkat tetapi hati mereka itu sudah dibersihkan dari segala macam keburukan dan dosa. Pada hari pertama kali mereka memperoleh pensucian dari hati ini, itulah sebabnya mengapa mereka memecahkan guci-cuci yang berisi minuman dan anggur itu. Jadi, perkara yang hakiki itu adalah pensucian dari hati, pensucian dari jiwa seseorang itu dikerjakan oleh Nabi Allah Taala yang agung ini. Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., sosok pribadinya dan setiap tindakan yang dilakukan oleh beliau, semua pekerjaan yang ia lakukan adalah merupakan semacam petunjuk bagi orang lainnya. Semua orang-orang yang berada di sekeliling beliau saw., seperti Hadhrat Khadijah, Hadhrat Abu Bakar dan lain-lainnya, mereka itu segera mengikut pada beliau begitu mereka itu tahu bahwa wahyu itu diturunkan di sana di mana mereka itu terus meningkatkan perbaikannya dalam pensucian dan keyakinannya. Mereka itu tidak mencari alasan untuk mengatakan tidak atau memberikan argumentasi. Hadhrat Abu Bakar Siddiq r.a. waktu itu berada jauh dari Mekkah dan ketika kembali ke Mekkah maka ada orang yang mengatakan kepadanya bahwa temanmu itu sudah membuat pernyataan begini begitu. Beliau langsung datang menemui Nabi Muhammad dan menanyakan apakah benar engkau membuat pernyataan semacam itu? Y.M. Nabi Muhammad saw. berusaha untuk menerangkan alasannya dari penyataan itu. Hadhrat Abu Bakar mengatakan saya tidak ingin mendapatkan penjelasan tentang ajaran atau hikmah dari pernyataanmu itu, saya sudah tahu engkau sejak kecil dan orang yang sebersih itu tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak benar. Oleh karena itu ayat-ayat ini sebenarnya semuanya menerangkan kepada kita kualitas itu menampak pada setiap dan semua perbuatan dari orang tersebut yang akan mensucikan hati mereka itu. Ada orang-orang lainnya yang sama sekali mahrum atau mereka ini tidak mendapatkan petunjuk walaupun sudah melihat semua wahyu-wahyu dan alasan dari wahyu ini. Kata Kitab ditaruh sebelum kata hikmah karena orang yang dengan keimanan yang baik, dengan keimanan yang teguh ia itu dapat melihat apa perintah dari Allah Taala itu dari orang-Nya yang tercinta. Jadi, ia itu dengan mudah saja setuju dengan apa yang sudah saya dengar dari perintah tersebut dan saya menyerahkan diri saya sepenuhnya pada perintah ini dengan sepenuh hati dan jiwa saya. Dengan bekerja mengikuti setiap dan semua perintah tersebut maka hati itu akan disucikan. Apa pun juga yang diwahyukan kepada engkau kami percaya bahwa disana itu pasti ada kebijaksanaan di dalamnya, apakah saya sudah dapat mengerti ataupun tidak. Tujuan kami hanyalah untuk mendapatkan ridha dari Wujud Tunggal yang kecintaan kami yaitu Allah Taala. Syaratnya ini adalah dengan mengikuti setiap dan semua apa yang dikatakan oleh Nabi Allah yang agung ini; apa pun tentang instruksi ini, kami akan memperoleh rincian penjelasannya kemudian nanti. Tetapi sejauh mengenai ketaatan itulah yang kami segera laksanakan. Mereka orang-orang yang pikirannya banyak berfalsafah atau orang yang lemah dalam keimanannya, mereka ingin tahu apa alasannya sejak dari semula.
Tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengatakan tentang diin-ul-ajaiz yang untuk alasan inilah bahwa seseorang itu jika terlibat dalam diskusi secara filsafat atau mencari-cari alasan-alasannya dan apa kebijaksanaannya, maka ia itu tidak akan mendapatkan keimanan dan tidak dapat dikatakan bahwa ia itu ada sesuatu kemajuan dalam keimanannya. Sebagai kenyataannya, jika kesombongan ini ada di sana maka orang itu akan mahrum dari keberkahan-keberkahan dalam beriman pada realitas-realitas yang pasti ini. Untuk mendapatkan hikmah, seseorang itu tidak perlu beriman. Orang yang keimanannya terkungkung pada dalil-dalil argumentasi dan alasan-alasan maka sebenarnya ini adalah satu tanda dari lemahnya iman. Jadi pensucian di tangan Nabi itu di mana perintahnya untuk mengikutinya serta untuk mendengarkan akan apa yang Nabi katakan serta berusaha untuk mensucikan diri kalian, maka demikianlah sebenarnya bagaimana orang-orang yang kokoh di dalam keimanannya, di mana mereka akan selalu melakukannya seperti demikian.
Orang-orang yang lemah dalam keimanannya, dalam mencari kebijaksanaan itu mereka berusaha mencari tahu apa alasan-alasannya. Oleh karena itu, Allah Taala menurunkan ajaran ini melalui wahyu kepada Nabi di mana hikmah itu dengan secara pasti ada disebutkan di sana. Tetapi ini adalah merupakan sifat fitur yang amat menonjol dan istimewa dari ajaran yang dibawa oleh Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. ini yang merupakan sebuah ajaran yang sangat paripurna bagi semua macam orang-orang dan di sana ada peluang bagi seseorang untuk lari menjauh dari itu. Sebagaimana yang saya katakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyebutkan tentang diin-ul-ajaaiz bahwa keimanan yang sederhana itu harus sudah ada di sana. Inilah sebenarnya jalan di mana orang-orang yang dengan keimanan yang sempurna mereka itu selalu mengambil jalan ini. Kami itu harus selalu berusaha untuk memperkokoh keimanan kami dan yang setelahnya itu segera kami juga akan mampu untuk dapat mengerti akan hikmahnya dari itu.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa kata dari Allah Taala itu mengajarkan kepada kami pertama-tamanya engkau itu harus beriman dan percaya di mana engkau akan mendapatkan keselamatan sebagai hasilnya dari itu. Ini bukanlah perintah yang diberikan kepada kami bahwa doktrin apa pun atau butir kepercayaan yang engkau temukan, argumentasi, dalil-dalil filsafat dan dengan dalil yang amat kuat yang harus dipegang olehmu seperti halnya dengan angka-angka satu ditambah satu menjadi dua; maka dalil secara matematika seperti yang demikian itu tidak akan diberikan. Jika mereka itu tidak percaya maka hal itu tidaklah benar di mana ajaran ini harus dimengerti dan masuk di dalam hati dan tidak dengan macam dalil yang secara teknikal ini. Tetapi setiap kebenaran itu, bilamana dibuat dengan jelas dan dimanifestasikan maka dengan sendirinya orang itu akan mempercayainya, apakah hal itu dikatakan oleh seorang Nabi atau oleh seseorang yang bukan Nabi. Dapat dikatakan bahwa jika engkau itu menginginkan sesuatu hal yang dibuat jelas kepadamu maka siapa pun orang yang mengatakannya pada umumnya orang itu akan mempercayainya. Sehingga bukanlah benar-benar iman yang dibungkus sampai mereka itu percaya pada yang ghaib, jadi, seorang yang non-Nabi, atau bukan Nabi pun jika ia mengatakan hal tersebut orang akan mempercayainya. Bahkan orang yang punya karakter buruk pun jika ia mengatakan tentang sesuatu maka pada umumnya orang akan percaya. Bilamana kita itu menerima sesuatu yang dikatakan oleh seorang Nabi bahwa seuatu harus seperti ini bahwa walaupun hal itu haruslah sesuatu seperti ini yang berkaitan dengan kebenaran. Tetapi barangkali ada orang yang terdorong pada pikiran ini bahwa barangkali ada sesuatu yang salah di sana. Dengan secara jelasnya banyak sekali kebenaran yang ada di sana, tetapi bagi orang-orang yang lemah di dalam pengertiannya dan orang-orang yang tidak merenungkannya dengan baik maka mereka itu akan sampai pada sesuatu yang tidak benar dan yang palsu.
Orang-orang yang mengikuti kebenaran dan mereka yang beranggapan bahwa Nabi itu adalah benar, dikarenakan oleh pendapatnya yang baik dan pemikirannya yang baik maka mereka itu akan mendapatkan pahalanya untuk itu. Inilah intisari pokok dari ajaran yang disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Sedangkan ahli filsafat itu tidak berjalan pada jalan ini di mana mereka itu selalu mengikut pada ajaran sedemikian yang dengan mengikutinya itu ingin dibuat sedemikian jelasnya dari dalil-dalil dan argumentasi duniawi. Tetapi haruslah diingat bahwa Allah Taala itu telah meminta kepada kami bahwa orang itu harus beriman dan percaya kepada yang ghaib. Allah Taala telah memberikan kepada mereka untuk beriman kepada yang ghaib. Dengan tanpa mengikuti jalan ini dan dengan tanpa naik ke atas pada tangga ini maka mereka itu tidak akan memperoleh keimanan yang sejati. Orang-orang yang benar-benar berusaha naik pada tangga ini maka mereka itu akan mampu melihat perwujudan manifestasi yang amat jelas akan sifat-sifat Ilahi itu. Hal tersebut akan meng-anugerahkan kepada mereka kepuasan yang sempurna pada hati mereka. Orang-orang ini kemudian akan mempercayai pada perintah dari Allah Taala di jalan ini yaitu yang diberikan kepada mereka melalui seseorang yang adalah pembawa pesan hakiki di mana kemudian mereka itu akan benar-benar memiliki keimanan yang sejati yang untuk itu mereka akan mendapatkan ganjaran-Nya. Inilah sebabnya mengapa seorang beriman yang sejati itu yang kemudian perintah-perintah ini datang kepadanya dengan melalui Nabi atau melalui wahyu yang datang kepada mereka atau kabar yang diberikan kepada mereka atas kehendak-Nya. Jadi, jika ia itu menerima semua hal ini bahwa ini semuanya itu datang dari padanya dari seorang orang yang benar yang telah menyampaikan pesan amanah ini dari Allah Taala. Nabi menerima pesan amanah ini dan ia pun menyampaikan pesan yang sama kepada kita. Setelahnya itu akan diberikan pengertian dan persepsi yang sempurna dan lengkap dari perintah tersebut dan itulah sebabnya mengapa Allah Taala itu telah membuat aturan seperti ini kepada orang-orang-Nya bahwa pertama-tama mereka itu harus beriman, harus percaya pada yang ghaib, di mana mereka itu harus termasuk orang-orang yang berserah diri dan setelahnya itu baru mereka itu akan memperoleh derajat tertinggi dengan pengertian dan pembelajaran yang lebih dan lebih mendalam lagi di mana tingkatan ini akan datang kemudian nanti. Pertama-tama dari penyerahan diri ini adalah sami’na wa atto’naa inilah yang amat penting dan esensial bahwa kami mendengar dan kami taat. Setelahnya itu ia akan menemukan kebijaksanaan dan hikmahnya serta alasannya dari itu. Tetapi sayangnya orang itu bersifat tergesa-gesa dan tidak mengikuti jalan ini. Allah Taala memberikan janji ini di dalam Kitab Suci Al-Qur’an bahwa setiap orang yang mengikuti keimanannya, yang mempercayai pada pesan amanah yang diberikan oleh Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. dengan melalui usahanya jika ia ingin menemukan lebih banyak realitas kebenaran maka pintu wahyu akan dibuka bagi orang ini. Pertama-tamanya adalah perlu, essensial untuk beriman dan percaya dan kemudian dengan usahanya itu Allah Taala akan mewahyukan lebih banyak lagi hikmah kebijaksanaan yang lebih banyak lagi kepada orang ini. Kemudian derajat dia akan ditingkatkan selangkah demi selangkah sampai pada pengertian akhir yang sepenuhnya dari perkara tersebut. Jadi, inilah jalan yang harus diikuti oleh orang-orang yang ingin menyempurnakan keimanannya.
Ada satu perbedaan dalam doanya Hadhrat Ibrahim a.s. dan caranya Allah Taala mengabulkan doa tersebut di dalam kata-katanya itu, jadi ada lagi satu perbedaannya. Hadhrat Ibrahim a.s. di akhir doanya menyebutkan innaka antal azizul hakiim bahwa sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana; yang kemudian Allah Taala menerima hal ini yang kemudian di akhirnya Dia berfirman bahwa Allah Taala mengajarkan kepada engkau apa yang belum engkau ketahui.
Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. memberikan jawaban dari itu bahwa Hadhrat Ibrahim a.s. itu meminta dari Allah Taala sesuai dengan pengertiannya seperti apa saat itu, di mana Nabi ini ditakdirkan untuk dibangkitkan dan yang kemudian ajarannya itu akan terus berlangsung sampai hari Kiamat dan terus mensucikan orang-orang dan mengajar kepada mereka hikmah kebijaksanaan juga. Di zaman itu dan apa yang diperlukan di zaman itu saudara-saudara pun mengetahuinya, oleh karena itu doanya itu adalah Ya Allah saya berdoa kepada Engkau bahwa di bawah sifat Engkau ‘Aziiz’ dan ‘Hakeem’, yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Engkau memenuhi keperluan untuk saat itu. Allah Taala mengabulkan doa ini, yang dengan jalan ini maka Nabi itu akan mengerjakan: wa yu’allimukum maa lam takuunuu ta’lamuun, dan mengajarkan kepada kamu apa-apa yang belum kamu ketahui (2:152) yang juga ditambahkan di sana pada ujungnya, bahwa Nabi itu akan mengajarkan apa-apa yang belum kamu ketahui. Jadi, oleh karena itu ajaran yang diberikan kepada Nabi Allah yang agung ini di dalamnya diberikan ajaran yang engkau belum ketahui sebelumnya. Di dalam ajaran ini ada beberapa perkara yang berada di atas apa yang sudah termasuk di dalam Kitab-kitab sebelumnya; ada beberapa hal yang orang akan mengetahuinya dengan berjalannya waktu di mana ia hanya menyandarkan perkara itu pada saatnya nanti. Beberapa perkara ini sudah saya sebutkan di dalam khutbah saya yang lalu. Allah Taala di dalam Kitab Suci Al-Qur’an telah menyebutkan tentang mukhtamat dan muthasbihat. Sebagaimana Allah Taala berfirman:
Surah Aali ‘Imraan ayat 8:
Dia-lah Yang menurunkan Kitab kepada engkau, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, yang jelas artinya dan pasti keterangannya, itulah dasar-dasar Kitab, dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat, yang memungkinkan adanya penafsiran yang berbeda ……….

Itulah Allah Taala Yang telah mewahyukan Kitab ini kepadamu; beberapa dari ayat ini adalah muhkamat yang merupakan akar atau pokok dari Kitab ini dan ada ayat-ayat yang lainnya yaitu mutashaabihaat. Jadi ayat-ayat yang muhkamat itu sangat pasti dan jelas artinya di mana Allah Taala membuat pengumuman bahwa Aku juga mewahyukan ajaran-ajaran yang demikian juga, yang belum engkau ketahui sebelumnya. Menurut kamus ayat yang sama sekali terjaga keselamatannya terhadap kemungkinan sesuatu perubahan atau interpolasi, maka ajaran yang sedemikian itu dinamakan muhkamat. Yang keduanya di mana di sana terdapat sesuatu unsur yang bisa meragukan, yang dikarenakan oleh keluasan artinya dan kebesarannya maka suatu keputusan harus diambil, itulah mutashaabihaat yang ayat ini dapat di-interpretasikan dalam beberapa jalan, atau ada bagiannya yang serupa dengan itu. Sekarang orang yang tidak memperoleh pensucian, bagaimana orang-orang ini bisa mengerti akan ayat-ayat ini. Arti dari ayat-ayat tersebut tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat muhkamat. Pada mutashaabihaat terdapat beberapa kata-kata ajaran tertentu yang kadang-kadang membuat orang-orang menjadi ragu, tetapi artinya yang hakiki – artinya yang benar – adalah apa yang sudah disebut di dalam muhkamat yang merupakan akarnya. Jika arti tersebut adalah melawan atau bertentangan dengan itu maka mereka itu harus berusaha mencari alasannya dari itu serta berusaha untuk mengertikannya dengan sebagai mana mestinya. Jadi untuk yang mutashaabihaat ini, kami itu haruslah mengerti akan ayat-ayat ini dengan jalan sedemikian rupa bahwa artinya itu adalah sesuai dengan arti dan pesan amanah dari muhkamat. Artinya itu ada di sana dan hanya dengan banyak-banyak merenungkannya barulah kalian dapat mengerti akan ayat-ayat tersebut dan tidak dengan tanpa itu.
Ajaran ini mengendalikan segala sesuatunya, ia membukakan hati dari orang-orang dan memberikan kepada mereka denyut kebijaksanaan yang mereka itu tidak mampu untuk memungutnya. Jadi, Nabi yang besar ini, yang dibangkitkan untuk segala waktu yang akan datang, Allah Taala pun telah membuat pengaturannya akan keamanan dari pesan amanah Kitab Suci Al-Qur’an ini sebagaimana yang tentang subyek ini saya sudah menceriterakannya dalam salah satu khutbah saya yang lalu. Ada usaha-usaha untuk merubah pesan amanah ini tetapi mereka itu tidak pernah berhasil dan tidak akan pernah berhasil sampai kapan pun. Nabi yang agung ini, yang di sana untuk mensucikan orang-orang dan mereka para Mujaddid di akhir dari setiap abad dan dengan melalui ayat-ayat ini maka mereka pun melakukan pekerjaan yang sama yaitu mensucikan orang-orang, di mana orang-orang para cedekiawan agama, kiyai-kiyai fukaha dan student itulah mereka yang mentafsirkan ajaran dari Islam; bukannya seperti yang dinamakan Ulama di zaman sekarang ini, para Mullah yang hanya bisa ngomong dan berbicara saja.
Pada tahun 1974 di Faisalabad saya ingat bahwa seorang Kiyai Mullah memberikan khutbah dan setelah membaca Surah Al-Ikhlas ia memberikan tafsirnya untuk ayat itu di mana ia mengatakan bahwa dari Kitab Suci Al-Qur’an dibuktikan bahwa Ahmadi itu salah dan mereka adalah pembohong di mana kita dapat membuktikannya dari bahwa orang-orang yang mengambil seorang anak dari Tuhan mereka itu bisa jadi benar di mana ini dapat di-balikkan dari ayat ini. Tetapi orang-orang yang menyembah kuburan mereka itu tidak benar dan mereka yang menyembah wali-wali atau pir mereka itu yang dianggapnya sebagai Dewa. Tetapi bagaimanakah dengan orang-orang yang adalah pengikut dari pencinta besar kepada sang pensuci dari seluruh zaman ini dan yang telah mensucikan semua orang-orang yang beriman. Apakah orang-orang ini tidak dapat dinamakan sebagai orang mukmin sejati? Pesan amanah ini diberikan kepada Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.: Hai anak-anak orang Parisi, kalian berpegang teguhlah pada pesan Tauhid Ke-Esaan Tuhan; jadi pendusta itu adalah mereka dan bukannya kami. Berkenaan dengan ajaran ini Allah Taala telah membuat pengaturan untuk keselamatan dan keamanannya sebagaimana yang sudah saya terangkan sebelumnya.
Semua janji-janji diberikan kepada Nabi yang agung ini saw. dan sebagai hasilnya dari itu maka Hadhrat Imam Mahdi, Al-Masih yang dijanjikan dan Masih Mau’ud a.s. telah di utus yang adalah Khulafa yang terakhir. Di dalam Surah Jumu’ah Allah Taala telah menyebutkan hal ini:
Surah Al-Jumu’ah ayat-ayat:
3. Dia-lah yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.
4. Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

Bahwa Dia adalah yang telah mengutus di antara orang-orang yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka yang membacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah – Kebijaksanaan walaupun sebelumnya itu mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan juga mengutus kepada kaum lainnya dari antara mereka yang belum pernah ikut dengan mereka. Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Di dalam ayat-ayat ini pada ayat yang pertama dari kedua ayat tersebut Allah Taala telah menyebutkan bahwa di antara orang-orang yang buta huruf itu seorang Nabi telah dibangkitkan. Di sini yang juga adalah sekali lagi pengumuman tentang dikabulkannya doa yang dipanjatkan oleh Hadhrat Ibrahim a.s. itu di mana deklarasi menyebutkan pada akhir kalimatnya bahwa sebelumnya ini mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata. Kata-kata ini adalah yang ada pada Surah Al-Imraan juga di mana kata-kata yang sama sudah digunakan di sana, dengan menyebutkan kualitas dari Nabi yang agung ini, kata-kata fii dhalaalim mubiin (Ayat 3:165) disebutkan di sana sebelumnya Allah Taala berfirman la qad mannallaahu ‘alal mu’miniina idz ba’atsa fiihim rasuulam (3:165). Sesungguhnya Allah Taala telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin bahwa Dia telah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Jadi, pada zaman itu, ketika kekacauan sedang terjadi di mana-mana yang melanda seluruh dunia, maka ini adalah suatu keberkahan besar dari Allah Taala; kebaikan dan kedermawanan dari Allah Taala bahwa Allah Taala itu telah membangkitkan seorang Nabi dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Ayat-ayat dan Tanda dari Allah serta mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah-Kebijaksanaan, itulah orang-orang Arab yang sebelumnya dinyatakan sebagai orang-orang jahiliyah tetapi mereka sudah memperoleh satu revolusi besar.
Di dalam Surah Al-Jumu’ah Allah sekali lagi mengatakan bahwa Allah Taala Yang dengan kebaikan dan kedermawanan-Nya itu telah mengutus Nabi-Nya di antara kaum yang buta huruf dan kemudian Dia dengan mengirimkan Nabi di sana di zaman itu, apakah selesai sampai sekian saja? Bahwa setelahnya selesai masa tersebut maka untuk ribuan tahun yang kemudiannya itu masa kegelapan akan terus berlangsung kembali? Setelah beberapa ratus tahun kemudiannya itu, masa kegelapan itu datang kembali kecuali bagi sekelompok kecil dan terbatas pada lingkungan kelompok ini, orang-orang lain itu tidak dapat melihat nur cahaya ini di mana pun juga. Maka demikianlah berlalu masa yang seribu tahun itu, Allah Taala Yang senantiasa memperlihatkan rahmat karunia-Nya, Dia telah memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang musyrik di zaman dahulu kala, kepada orang-orang yang dari kalangan umatnya Y.M. Nabi Muhammad saw., kepada mereka yang selalu berdoa betapa Allah Taala itu jika tidak memperlihatkan kebaikan, kedermawanan dan rahmat-Nya kepada orang-orang ini. Ini bukanlah sesuatu hal yang tidak berjalan bersama dengan pemenuhan dari janji sampai pada Hari Kiamat. Jika ada orang yang tidak mau mengerti akan cara ini maka orang ini memperlihatkan ke-salah-pengertiannya mengenai Tuhan itu.
Allah Taala adalah Satu Wujud Yang apa pun yang ada di Langit mensucikan semuanya dan meng-agungkan Allah Taala. Dialah Yang ‘Aziiz’ Yang Maha Perkasa dan Dia-lah Yang ‘Hakiim’ Yang Maha Bijaksana. Apakah engkau berharap bahwa Allah Taala itu akan membiarkan orang-orang-Nya berada dalam kesesatan? Adakah sesuatu dari kebijaksanaan di dalamnya bahwa ajaran tersebut tidak akan terjaga dengan amannya dan yang adalah petunjuk bagi mereka? Jadi, pemikiran tentang Tuhan Yang Maha Kuasa seperti itu adalah sangat buruk dan cacatnya; ini adalah pengertian yang buruk tentang Tuhan. Oleh karena itu: Hai orang-orang yang mengkaitkan dirimu kepada Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., jadi jika kalian itu mengkaitkan dirimu kepada Nabi tersebut yang ajaran itu ada di sana sebagai sarana untuk mensucikan orang-orang untuk setiap zaman yang akan mendatang. Cahaya dari ajaran tersebut yang bukan hanya diperlihatkan kepada satu tingkatan yang terbatas, tetapi ditakdirkan berada di sana untuk mensucikan orang-orang dalam jumlah yang amat banyak. Orang-orang duniawi dan orang-orang yang sangat senang ber-filsafat dan untuk memasukkan lautan petunjuk ke dalam hati mereka, ajaran inilah yang untuk keperluan itu dan Nabi inilah yang akan dibangkitkan di kemudian hari untuk maksud dan tujuan ini. Ia itu akan dibangkitkan untuk kedua kalinya, bukannya dengan tubuh fisiknya tetapi sebagai bayangan refleksi itulah ia itu akan datang kembali. Inilah keputusan dari Tuhan Yang ‘Aziiz ‘ dan ‘Hakiim’. Jadi janganlah punya anggapan bahwa kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa itu terbatas, dan janganlah beranggapan bahwa keputusan-Nya itu adalah tanpa kebijaksanaan. Sebagai seorang Nabi-Nya yang besar membawa satu revolusi besar di antara orang-orang. Kemudian, di zaman yang rusak dan corrupt ini, seorang khadim dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., yang adalah pengikut setia dari Y.M. Rasulullah saw., juga akan menciptakan satu revolusi yang besar. Ketika ayat ini diturunkan, kemudian para sahabat bertanya, siapakah orang yang dari antara umat ini yang akan datang untuk kedua kalinya itu? Kemudian Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. menaruhkan tangan beliau pada pundaknya Hadhrat Salman Parsi dan mengatakan bahwa walau pun iman itu sudah terbang jauh ke bintang Tsuraya, maka kemudian dari antara orang-orang ini akan dibangkitkan seseorang yang akan membawa kembali iman tersebut. Juga ada sebuah hadits dari Y.M. Nabi Muhammad saw., bahwa satu saat akan datang dimana Al-Qur’an itu hanyalah merupakan sebuah Buku dengan huruf-hurufnya saja dan Islam hanyalah tinggal namanya.
Jadi, bagi setiap orang yang mampu berpikir, dan memiliki mata yang dapat melihat dan menyaksikan kebenaran, bahwa di sana itu ada kebenaran di dalamnya dan inilah tepatnya situasi yang ada sekarang ini. Jadi, Allah Taala telah mengutus Nabi yang agung itu dan dengan melalui beliaulah Tuhan itu mendirikan Islam ini, yang akan tetap berada sampai pada Hari Kiamat. Maka agar supaya untuk dapat mengabadikan kejayaan dari Islam ini kemudian Dia mengirimkan seorang pencinta besar kepada Y.M. Nabi Muhammad saw. di zaman ini. Jadi, kita orang-orang Ahmadi ini mempunyai dua tanggung-jawab ganda yaitu bahwa, yang pertama adalah semua kita itu harus memelihara kesucian dari diri kami sendiri, bahwa kami itu harus menaruh perhatian pada pensucian diri kami dan mengikuti Kitab ini dan yang keduanya bahwa kita itu harus menyampaikan pesan amanah sama kepada orang-orang lainnya, di mana kita itu harus melakukan pekerjaan ini dengan secara sungguh-sungguh dan dengan penuh dedikasi. Jangan sampai ada orang yang mengatakan bahwa pesan amanah ini tidak sampai kepada mereka.
Jadi, sekarang ini tidak ada orang lainnya, kecuali orang-orang Ahmadi yang kepadanya diberikan tugas dan tanggung-jawab ini. Memang ada banyak orang-orang lainnya yang menamakan diri mereka sebagai pahlawan, dan yang mereka menamakan dirinya sebagai pahlawan dari Islam, yang menganggap diri mereka itu sebagai orang yang besar. Juga ada begitu banyak kelompok dan nominasi lainnya di mana semua mereka itu memberikan pernyataan yang seperti itu. Tetapi dikarenakan mereka itu tanpa iman yang sempurna maka di sana terjadi teriakan dan tangisan bahwa harus ada orang dan sesuatu harus dikerjakan untuk melindungi dan menyelamatkan orang-orang Muslimin. Tetapi karena pada kenyataannya itu bahwa mereka tersebut menolak dan mengingkari sosok orang ini yang telah dikirim oleh Allah Taala, maka kesucian hati mereka itu tidak terdapat lagi di sana. Hati mereka itu mahrum dari petunjuk Ilahi dan mereka itu sedang tercengkeram dan berada di dalam genggaman dari musuh. Itulah sebabnya, mengapa orang-orang itu meneriakkan suara mereka bahwa harus diadakan Khilafat di sana. Tetapi mereka itu sama sekali tidak mau mempertimbangkan alasan dan sarananya untuk itu. Semoga Allah Taala memberikan kepada mereka kebijaksanaan dan pengertiannya dalam hal ini.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. menjelaskan butir ini dimana beliau bersabda bahwa intisari dari ayat-ayat ini bahwa Allah Taala adalah Satu Wujud Tunggal Yang mengirimkan Nabi pada saat di mana orang-orang sedang berada sama sekali tanpa ilmu dan tanpa kebijaksanaan. Semua cabang-cabang dari ilmu keduniawian dan ilmu keagamaan yang dapat mensucikan hati mereka dan mensucikan orang-orang itu sama sekali tidak ada di sana; tidak ada di antara orang-orang pada saat itu. Orang-orang waktu itu semuanya sibuk asyik di dalam kesesatan di mana mereka itu sudah sangat jauh dari jalan yang lurus. Pada saat itulah Allah Yang Maha Kuasa, Dia mengirimkan Nabi yang buta huruf ini kepada orang-orang tersebut; di mana sosok tersebut yang adalah Y.M. Nabi Muhammad saw. telah mensucikan orang-orang ini dan memberikan kepada mereka ilmu dan hikmah kebijaksanaan dan melalui Tanda-tanda dari Allah beliau membawa orang-orang tersebut pada kedudukan keimanan yang kokoh, kemudian memberikan pencerahan akan pengertiannya terhadap Tuhan. Kemudian untuk yang kedua kalinya akan ada yang datang lagi pada saat orang-orang ini berada dalam kegelapan dan jauh dari ilmu kebenaran. Pada saat itulah Allah Taala akan membawa kembali orang-orang ini seperti yang dahulu terjadi pada para sahabat Nabi saw., yang sedemikian rupa bahwa keimanan dan keyakinannya yang sebegitu jauh adalah serupa dengan yang ada pada para sahabat. Pada saat memberikan komentar atas ayat ini, Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. menaruh tangan beliau pada pundaknya Hadhrat Salman dan mengatakan bahwa jika iman itu sudah terbang jauh ke Bintang Tsuraya maka seseorang dari antara orang ini akan membawanya kembali iman itu ke bumi. Itulah salah seorang dari keturunannya Hadhrat Salman Parsi yang ada di sana dan ini adalah berkenaan dengan keadaan di zaman ini, di mana Kitab Suci Al-Qur’an itu akan diangkat ke Langit dan itulah saat diturunkannya Hadhrat Imam Mahdi, Al-Masih yang dijanjikan a.s. Keunggulannya salibnya agama Kristiani maka yang akan memecahkannya adalah orang yang sama yaitu Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. yang harus datang. Semua Tanda-tanda yang sudah terlihat dengan serangannya terhadap Islam seperti yang kita lihat dewasa ini dari Anti-Christ dari Dajjal, yang dengan adanya serangan dari Dajjal ini maka harus ada satu tokoh yang dibangkitkan yang akan memberikan jawaban dan balasan yang hebat. Tugas terbesar dari Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. adalah untuk menghidupkan lagi iman dan orang-orang itu harus mendapatkan manfaatnya dari sabda Y.M. Nabi Muhammad saw. di mana seseorang yang dari keturunannya Hadhrat Salman harus dibangkitkan untuk menghidupkan kembali iman dan menegakkannya kembali. Sekarang coba pikirkan bahwa apakah bisa ditemukan yang seperti ini selama kurun waktu 1300 tahun terakhir ini? Inilah saatnya di mana Jamaat kami yang sudah didirikan ini dan di dalam banyak caranya serupa atau mirip dengan Jamaatnya para sahabat dari Y.M. Rasulullah saw. Orang-orang ini sudah melihat Tanda-tanda seperti yang terlihat oleh para sahabat dahulu dan wahyu yang segar pun ada di sana dengan petunjuk yang mencerahkankan ada tersedia bagi mereka. Walaupun mereka ini menjadi sasaran banyak olok-olokan dan cacimakian di tangan para musuh tetapi dengan pertolongan dari Allah Taala dan dengan Tanda-tanda dari Allah Taala mereka terus mendapatkan pensucian dalam kehidupannya sebagai pengikut Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Ada banyak di antara mereka yang sibuk tenggelam dalam tangisan doanya sebagaimana halnya para sahabat Nabi saw. yang biasa banyak menangis dalam doa-doanya. Banyak di antara mereka yang memperoleh mimpi yang benar dan mendapatkan berkah-berkah dari wahyu-wahyu sebagaimana yang diberikan kepada para sahabat Nabi saw.
Ada banyak orang-orang yang harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan, tetapi mereka pun membelanjakan di jalan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat. Banyak orang-orang yang teringat di masa kegelapan, mereka itu terus berjalan dijalan ketakwaan sebagaimana yang kami lihat pada para sahabat Nabi Muhammad saw. Allah Taala men-sucikan hati mereka dari hari ke hari. Hati mereka dipenuhi dengan ilmu, mereka itu tertarik dengan Tanda Ilahi ini sebagaimana mereka tertarik oleh para sahabat Nabi saw.
Singkatnya semua keadaan ini sekarang ditemukan kembali di antara para sahabatnya Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dan inilah pemenuhan janji dari Allah Taala. Sudah ditakdirkan untuk membawakan revolusi ini yang dibawa oleh Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Dan inilah tanggung-jawab dari setiap anggota Jamaat untuk meneruskan revolusi ini; karena jika tidak demikian maka kita akan dianggap sebagai orang yang berdosa seperti halnya orang-orang sebelum kita yang sudah kehilangan imannya. Jadi akan lebih banyak lagi orang-orang yang dilahirkan yang akan mengaplikasikan ajaran ini. Jadi setiap orang di antara kita itu haruslah berusaha agar janganlah sampai kita itu menyimpang dari ajaran ini; janganlah sampai kita merusakkan kesucian hati kita. Semoga Allah Taala memberikan taufik dan kemampuan kepada kita untuk dapat melaksanakannya. Insya Allah Taala. Aamiiin.


Sin Jose, USA, February 02, 2008 / Mersela, 9 Pebruari 2008