Kamis, 30 Mei 2013

NABI / RASUL - NIKMAT ALLAH TERBESAR BAGI UMAT MANUSIA



NABI / RASUL -  NIKMAT  ALLAH  TERBESAR BAGI  UMAT MANUSIA
MENGINGKARI   KENABIAN = MENGINGKARI  NIKMAT  ALLAH  TERBESAR
Dalam QS. Al-Baqarah 2: 47 Allah SWT berfirman kepada Bani Israil:  Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu dan (ingatlah) bahwa Aku telah melebihkan (memuliakan) kamu di atas seluruh alam (segala umat).  Peringatan Allah SWT ini diulangi lagi dalam ayat 2:122, dan pada ayat sebelumnya pun 2:40 sudah diingatkan tentang nikmat dari Allah ini.
Bayangkan saja betapa kelebihannya umat Bani Israil ini dibandingkan dengan umat-umat lainnya, sebab dari  31 Nabi-nabi atau Rasul Utusan Allah SWT dan terdapat dalam Alquran,  itu hanya beberapa Nabi saja yang tidak berkaitan secara langsung dengan Bani Israil, yakni yang mulai dari Ismail a.s. dan keurunannya. Inilah rinciannya dari semua Nabi-nabi Allah tersebut  (alaihis salaam) yang hampir semuanya berkaitan langsung dengan  Bani Israil, kecuali yamg NAMA-NAMANYA pakai HURUP BESAR:  1 Adam, 2 Tsits, 3 Idris, 4 Nuh, 5 Hud, 6 Shalih, 7 Ibrahim, 8 Luth, 9 ISMAIL, 10 Ishaq  11 Ya’qub, 12 Yusuf, 13 Syu’aib, 14 Ayyub, 15 Zulkifli, 16 Musa, 17 Harun, 18 Luqman (QS 31:12), 19 Daud, 20 Sulaiman, 21 Ilyas, 22 Ilyaza, 23 Yunus, 24 Ezekiel / Al Kifl, 25  Daniel. 26 Uzair / Ezra (QS 9:29), 27 Zakaria, 28 Yahya, 29 Isa/ Jesus, 30 MUHAMMAD SAW, dan 31 M G AHMAD  (QS 61:6 & 62:3).  Demikianlah dari 31 nama Nabi itu – kecuali 3 nabi -  semuanya diturunkan kepada Bani Israil; di situlah kelebihannya nikmat Allah kepada Bani Israil dibandingkan kepada umat / bangsa lainnya.
Tetapi, karena pembangkangan umat Bani Israil belakangan ini, padahal sudah berkali-kali diingatkan oleh Tuhan Maha Kuasa, setelah diturunkannya Nabi/ Rasul Allah pembawa agama Islam, maka nikmat Allah tersebut beralih kepada ummatnya Nabi Muhammad saw., yakni orang Islam.  Apalagi dalam sehari semalam orang Islam diwajibkan minimum shalat 5X = 17 raka’at = 17X membaca Surah al-Fatihah, termasuk doa:
Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim … - Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka…”
Apakah jalan yang lurus itu? Apakah nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka dan apakah kita juga dapat meraih nikmat-nikmat tersebut seperti kaum-kaum yang terdahulu, seperti Bani Israil? Inilah jawaban Al-Qur’an mengenai hal tersebut.
walau annahum fa’aluhuu maa yuu’azhununa bihii la kanaa khairal lahum wa asyadda tatsbitaa ……. Wa may yuthi’illaaha wa rasuula fa ulaa-ika ma’al ladziina an’amallaahu ‘alaihim minan nabiyyiina wash shiddiiqiinaa ….. dan sekiranya mereka mengerjakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, niscaya (hal itu) akan lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan. Dan, jika demikian tentu akan Kami berikan kepada mereka ganjaran besar dari sisi Kami; Dan niscaya akan Kami bimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul  ini maka mereka ini termasuk  di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni: NABI-NABI, shiddiq- shiddiq, syahid-syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati. Inilah karunia dari Allah, dan memadailah Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui.“ (4:66-70)
Maka di zaman kita ini, inilah kelebihan Hz. Rasulullah s.a.w. dibandingkan dengan nabi-nabi/rasul-rasul lainnya. Ayat ini sangat terang benderang dan mudah dipahami. Sesungguhnya Allah Sendiri yang akan memasukkan kita ke dalam golongan para Nabi, shiddiq, syahid dan orang-orang shaleh. Bagaimana mungkin pintu kenabian sama sekali tertutup bagi umat Islam?
Penolakan terhadap pintu kenabian, yaitu tidak akan ada lagi nabi dalam bentuk apa pun juga dalam umat Muhammad, secara langsung juga berarti penolakan terhadap kemungkinan umat Islam tidak dapat meraih ketinggian martabat sebagai shiddiq, syahid dan shaleh. Dengan kata lain, tidak ada lagi para shiddiq, syahid dan orang-orang shaleh dalam umat Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bersabda mengenai kecintaannya kepada junjungan beliau yaitu Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w. Khaataman Nabiyyiin sebagai berikut:
“Bagiku tidak mungkin meraih nikmat ini seandainya aku tidak mengikuti jalan yang ditempuh majikanku, anutanku, kebanggaan para anbiya, insan yang terbaik, Muhammad Musthafa s.a.w. Apa pun yang kuperoleh, telah diperoleh  Nabi Muhammad s.a.w. karena mentaatinya. Aku mengetahui dari pengalaman pribadi dan berdasar ilmu yang sempurna bahwa siapa pun tidak dapat mencapai kedekatan kepada Tuhan tanpa mentaati nabi ini dan mustahil pula meraih makrifat yang sempurna. Sekarang aku beritahukan pula bahwa sesudah orang mentaati Rasulullah s.a.w., dengan sesungguh-sungguhnya dan sesempurna-sempurnanya, ia dianugerahi hati yang cenderung kepada kebajikan, suatu hati yang sehat, yakni tidak ada kecintaan kepada dunia dan mulai mendambakan kelezatan abadi dan lestari. Kemudian sebagai gantinya, hatinya sekarang layak memperoleh kecintaan yang semurni-murninya dan sempurna - kecintaan Ilahi. Semua nikmat ini diperoleh sebagai warisan berkat ketaatan kepada Rasulullah s.a.w.” (Ruhani Khazain, jld. 22; Haqiqatul Wahyi, hlm. 24-25).
Perlu diingat dan boleh dibuktikan  bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alqur’an yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi terakhir dan/ atau tidak ada nabi setelahnya, namun yang ada hanyalah gelar kata pujian khaatam.
Sebaliknya, di bawah ini diberikan beberapa dalil Al-Qur’an mengenai adanya Nabi/ Rasul setelah Nabi Muhammad s.a.w. sebagai berikut:
44:5-6   (Ad Dukhaan)  Amram min ‘indinaa inna kunnaa mursiliin –  Dengan perintah dari sisi Kami.  Sesungguhnya, Kami selalu mengutus Rasul-rasul.
            Rahmatam mir rabbika innahuu huwas sami’ul ‘aliim – sebagai rahmat dari Tuhan-mu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Allah Ta'ala bersifat mursil (yang mengutus Rasul-rasul-Nya). Sifat Allah Ta'ala ini akan selalu dan terus bekerja selama-lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbang-kan salah satu sifat Allah Ta'ala ini.
22:75  (Al Hajj)  Allaahu yashthafii minal malaa-ikati rusulaw wa minan naasi innallaaha samii’um bashiir – Allah memilih dari antara Malaikat-malaikat, Rasul-rasul dan dari antara manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
“Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara Malaikat- malaikat dan dari antara manusia.”   Perkataan yashthafii (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi'il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih rasul-rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.
3:179  (Aali ‘Imraan)  Maa kaanallaahu li yadzaral mu’miniina ‘alaa maa antum ‘alaihi hattaa yamiizal khabiitsa minath thayyibi wa maa kaanallaaha li yuthli’akum ‘alal ghaibi wa laakinnallaaha yajtabii mir rusuulihii may yasyaa-u fa aaminuu billaahi wa rusulihii wa in tu’minuu wat tattaquu fa lakum ajrun ‘azhiim -  Allah tidak mungkin membiarkan orang-orang mukmin di dalam keadaan kamu sekarang sampai Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah tidak akan memberitahukan yang ghaib, tetapi Allah memilih di antara Rasul-rasul-Nya, siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu ganjaran yang besar.
Dalam ayat tersebut terdapat perkataan yadzara, yamiidza, yuthli'a, yajtabii. Bentuk perkataan tersebut adalah fi'il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus)  mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.
7:35  (Al A’raaf)  Yaa banii aadama immaa ya’tiyannakum rusulum minkum yaqush- …..   -  Wahai Bani Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antaramu yang …..
Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antaramu ...”
Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.
23:51  (Al Mu’minuun)   Yaa ayyuhar rusulu kuluu minath thayyibaati wa’ maluu shaalihaan innii bi maa ta’maluuna ‘aliim – Hai Rasul-rasul, makanlah dari barang-barang yang baik dan berbuatlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui …
Kata ar-rusulu, berlaku juga bagi masa yang akan datang. Artinya, setelah Rasulullah s.a.w. akan datang Rasul-rasul lain yang diperintahkan untuk memakan makanan yang baik dan mengerjakan amal-amal shaleh.
37:71-72  (Ash Shaaffaat)   Wa laqad dhalla qabluhum aktsarul awwaliin.  Wa laqad arsalnaa fiihim mundziriin -  Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka banyak sekali kaum terdahulu. Dan Kami telah mengutus di antara mereka Pemberi-pemberi ingat (Rasul-rasul).
Ayat ini menjelaskan apabila di dunia telah merajalela kesesatan dan kemungkaran, maka Allah S.w.t. senantiasa mengirimkan Utusan-utusan-Nya. Dan Allah tidak mendatangkan azab sebelum mengutus seorang rasul (17:15)  …. Wa maa kunnaa mu’adzdzibiina hattaa nab’atsa rasuulaa -  … Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengirimkan seorang Rasul.
6:124   Wa idzaa ja’a a-at-hum aayatun qalaa lan nu’minua hattaa nu’taa mitsla maa uutiya rusuulullaahi allaahu ‘alamu haitsu yaj’alu risaalatahuu sa yushiibul ladziina ajramuu shaghaarun ‘indallaahi wa wa ‘adzaabun syadiidum bi maa kaanuu yamkuruun   - Dan apabila datang kepada mereka suatu Tanda, berkata mereka, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman sebelum kami diberi seperti apa yang telah diberikan kepada Rasul-rasul Allah.’  Allah Maha Mengetahui di mana Dia akan menempatkan Risalat-Nya. Akan ditimpakan kehinaan kepada orang-orang yang berdosa di sisi Allah, dan azab yang keras disebabkan mereka telah mengerjakan tipu-daya.
Ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Ayat ini menjelaskan bahwa hanya Allah Ta'ala yang lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Hak prerogatif  Allah Ta’ala ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Adanya pernyataan Allah Ta'ala ini adalah karena manusia [suka] mengatakan: “Kami sekali-kali tidak akan beriman sebelum kami diberi seperti apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah.”  
4:136   (An Nisaa’)  Yaa ayyuhal ladziina aamanuu aaminuu billaahi wa rusuulihii wal kitaabil ladzii nazzala min qablu wa may yakfur billaahi wa malaa-ikatihii wa kutubihii wa rusulihii wal yaumil aakhiri fa qad dhalla dhalaalam ba’iida – Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Dan siapa yang ingkar kepada Allah dan Malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya sesatlah ia dengan kesesatan yang jauh.
Ini adalah ayat Rukun Iman di dalam ajaran Islam. Salah satunya adalah beriman kepada rasul-rasul-Nya. Perintah beriman kepada rasul-rasulNya ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Perintah ini berlaku untuk selama-lamanya bagi tiap umat manusia di setiap zaman.

Tidak ada komentar: