Kamis, 15 Januari 2009

Berbuatlah ADIL, Tuhan akan menolong kamu

Bismillahirrahmanirrahiim

Hendaklah Berlaku Adil dan Berbuatlah dengan Berimbang dan Adil - Yang berarti Dekat pada Taqwa; Allah Taala pun akan memberkati kehidupan Saudara, keluarga dan Istri serta Anak-anak Saudara; dan juga untuk Kesejahteraan Rakyat keseluruhannya.

Nasihat penting kepada Pemimpin Negara dan Pemimpin Keluarga. Agar maqbullah doa Saudara dan dikabulkan-Nya doa-doa orang yang berdoa dan yang mendoakan Saudara.

Wa laqad taqrabuu maal yatiimi illaa bil latii hiya ahsanu hatta yablugha asyuddahuu wa auful kaila wal miizaana bil qisthi laa nukallifu nafsan illa wus'ahaa wa idzaa qultum fa'diluu wa lau dzaa qurbaa wa bi'ahdillaahi aufuu dzaalikum washshaakum bihii la'allakum tadzakkaruun (Al An'aam, 6:153).

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik sampai ia mencapai kedewasaannya. Dan penuhilah ukuran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memberi beban kepada suatu jiwa kecuali menurut kemampuannya. Dan apabila kamu berkata, hendaklah berlaku adil walaupun itu berkaitan dengan seorang kerabat; dan sempurnakanlah janji dengan Allah. Demikianlah Dia, Allah telah memerintahkan kepada kamu perihal itu supaya kamu mendapat nasihat".

Ya yyuhal ladziina aamanuu kuunuu qawwaamiinal lillaahi syuhadaa-a bil qisthi wa laa jajrimannakum syana-aanu qaimin 'alaa alaa ta'diluu huwa aqrabu lit taqwaa inal laaha khabirun bi maa ta'maluun (Al-Ma'idah, 5:9).

Hai orang-orang yang beriman, hendklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Seungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Tentang keharusan berbuat dan berlaku adil ini bacalah juga firman Tuhan lainnya:
An-Nisaa, 4:59, ...... apabila kamu menghakimi di antara manusia, hendaklah kamu memutuskannya dengan adil .......
An Nahl, 16:91 ...... Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat, dan melarang .......
Shad, 38:27, Hai Daud, ....... hakimilah di antara manusia dengan adil .......
Asy-Syuura, 42:16, ....... aku diperintahkan untuk berbuat adil di antara kamu .......

Dengan janji ganjaran ari pada-Nya:
Wa 'adallaahul ladziinaaamanuu wa 'amilush shaalihaati lahum maghfiratuw wa ajrun 'azhiim (Al Maa'idah, 5:9).
Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ada ampunan dan ganjaran yang besar.

Jadi bilamana orang tuanya (dan termasuk mertuanya juga) sudah banyak-banyak berdoa dan mendoakan bagi anak-anaknya tetapi masih dirasakan belum maqbul juga, belum dikabulkan sepenuhnya oleh Allah Yang Maha Kuasa, maka bisa jadi orang yang didoakannya itu belum dapat berlaku adil, belum dapat berbuat adil kepada seluruh keluarga dan kerabatnya. Padahal dengan suatu pernikahan itu, ini contohnya, maka mereka sekarang berada dalam satu keluarga yang lebih besar; ibunya sekarang menjadi dua, bapaknya pun dua, kakak-kakak dan adiknya menjadi dobble, sehingga yang harus diperhatikannya itu bertambah banyak, dan keadilan atau perimbangan itulah yang harus diperhatikan, walaupun tidak harus persis sama, satu dengan satu, atau dua dengan dua - tetapi berimbanglah sedapat mungkinnya -. Perbuatan semacam begitulah yang dikatakan sebagai dekat kepada takwa, dekat kepada Allah Taala dan takut kepada Tuhan, sehingga Allah pun akan ridha kepadanya, kepada keluarganya, dan insya Allah akan terkabullah doa-doa dan keinginannya, serta doa-doa dan keinginan yang baik dari orang tua yang mendoakannya itu.

Bilamana seorang suami itu adalah Pemimpin dalam satu keluarga kecil, maka demikian pulalah seharusnya para Pemimpin sebuah Negara, yang harus dapat berbuat adil dan menjaga keadilan di antara rakyatnya, sehingga kesejahteraan itu akan dapat dinikmati oleh segenap rakyat dan bangsa.

Syarat lain untuk maqbulnya doa ialah bahwa baik orang yang berdoa dan juga orang yang didoakannya itu, harus menghindarkan diri dari sifat yang tidak diridhai Tuhan, seperti perasaan curiga dan buruk sangka, perasaan iri hati, greedy, rasa dipilih kasih, seperti umpamanya terhadap apa yang dimiliki oleh otang tuanya. Sifat-sifat demikian dapat juga menjadi penyebab belum terkabulnya doa-doanya, dan doa-doa dari orang yang mendoakannya.

Ada satu contoh nyata ilustrasi dari satu keluarga dekat kami; suami-istri keduanya merupakan keluarga pengusaha menengah - interpreneur, istrinya Islamy tulen, suaminya hanya 10-15% Islamy (seperti jarang shalat dll), yang dapat dikatakan suksesjuga. Anak-anaknya 4 perempuan dan 2 laki-laki, yang merupakan keponakan kami, semuanya dididik dan dibina dan dibantu menyadi pengusaha, tetapi tidak disuruh mengejar gelar sarjana. Akhirnya mereka semua menikah dan juga semuanya tidak mendapatkan pasangan yang sarjana penuh.

Yang membuat saya keheranan ialah bahwa selama ibu-bapaknya itu masih hidup, mereka, anak-anak dan menantunya itu, dalam usaha dan perusahaannya tidak begitu sukses, bahkan boleh dikatakan banyak babak-belurnya. Saya yakin, bahwa ibunya yang mukhlis itu tentu sudah banyak mendoakan dan membantu anak-anaknya itu, tetapi sebegitulah keadaannya.

Namun setelah ibunya tiada (tahun 1997), kemudian setelah bapaknya juga menyusul (tahun 2001), eh tahu-tahu hampir semua anak-anak ini maju pesat di dalam usaha dan bisnisnya; inilah yang membuat saya heran, mengapa? Ada yang dalam usahanya itu memperkerjakan 60 orang karyawan, dengan 4 orang Dokter, padahal Bossnya khan bukan sarjana? Bahkan omzetnya bisa mencapai Rp. 600 juta/ bulannya???

Jawabannya baru terungkap sekarang, ilmu ini didapatkan pada awalJanuari tahun 2009 ini, dengan mendasarkan pada firman Tuhan dalam Surat Al Qashah (28:56):

Innaka laa tahdii man ahbabta walaakinnallaaha may ysyaa-u wa huwa a'lamu bil muhtadiin.
Sesungguhnya engkau (Nabi saw. dan para pengikutnya juga) tidak dapat memberi petunjuk (termasuk mendoakan) kepada siapa yang engkau kasihi - yang engkau sukai dan cintai - tetapi Allah memberi petunjuk - untuk kesuksesannya - kepada sia yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapa orang-oang yang mendapat petunjuk itu.

Maka bisa jadi, selama orang-tuanya itu masih hidup, yang tentu saja memiliki harta kekayaan dan aset perusahaan; nah jika pada anak-anaknya itu terdapat sifat greedy, hasud, cemburu, buruk sangka, iri satu sama lain, atau merasa dipilih kasih, serta merasa di-zhalimi dan/atau ada sifat membangkang dan menentang pada ortunya, maka inilah yang dapat membuat mereka itu jauh dari Tuhan. Tetapi, setelah kedua orang tuanya itu meninggal, dan semua harta dan set perushaannya sudah dibagi-bagi, maka perasaan buruk sngka kepada orang tuanya itu pasti tidak ada lagi, dan tidak ada lagi yang mengincar harta ortunya. Maka dengan berbekal inilah, kemudian mereka berjuang sendiri-sendiri, menjalankan usahanya dengan serius dan sudah tidak mengandalkan bantuan dari ortunya sendiri, sehingga memperoleh sukses yang besaaaar.
Tetapi, inihanyalah teori dari saya saja.

Teapai itulah fakta kenyataannya, yang kadang-kadang membuat perasaan hampir putus asa, mengapa sebagai ortu itu, yang sudah bertahun-tahun berdoa, dalam tahajjud juga, dengan berpuasa juga, namuuun ....... hanya sedemikianlah keadaannya .....

Jadi, barangkali itulah rahasianya!

Lihat juga ayat-ayat yang berkaiatan dengan kemakbulan doa dan petunjuk bagi orang-orang yang kita kasihi dalam Surah-surah:

Yusuf, 12:103, Dan kebanyakan orang tidak mau beriman, walaupun engkau menginginkannya (dan mendoakannya).

An Nahl, 16:37, Jika engkau sangat berhasrat supaya mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang menyeleweng - dari jalan yang diridhai Allah - dan, yang bagimereka itu tidak ada penolong.

PPSi - Mersela 16 Januari 2009.








Berbuatlah ADIL, Tuhan akan menolong kamu

Senin, 01 September 2008

DIALOG: MUSLIM-KRISTIANI-YAHUDI

Bismillahirrahmanirrahiim

DIALOG TIGA AGAMA: ISLAM, YAHUDI dan NASRANI

Surat Al Baqarah ayat 136:

Quulu aamannaa billaahi wa maa unzila ilainaa wa maa unzila ilaa ibraahiima wa ismaa’iila wa is-haaqa wa ya’quuba wal asbthi wa maa uutiya muusaa wa ‘iisaa wa maa uutiyan nabiyyuuna mir rabbihim laa nufarriqu baina ahadim minhum wa nahnu lahuu muslimuun.

Katakanlah olehmu, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishak dan Ya’kub dan keturunannya, dan yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada sekalian Nabi dari Tuhan mereka; kami tidak membedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.

Pada tahun-tahun pertama Nabi Muhammad saw. berada di Yathrib, atau sekarang Medinah, senantiasa terjadi dialog yang menjurus pada polemik antara Nabi Muhammad saw. dengan orang-orang Yahudi, antara lain orang Yahudi menyesalkan mengapa orang Islam itu merubah kiblatnya dari Bait’l Maqdis di Yerusalem ke arah Masjid’l Haram di Mekkah, yaitu 17 bulan setelah Nabi saw. tinggal di Medinah. Orang Yahudi ini berusaha memperdayakan dengan mengatakan, bahwa semua mereka akan mau menjadi pengikut Muhammad kalau ia kembali ke kiblat semula. Berkenaan dengan hal ni firman Tuhan menyebutkan:
Sa yaquulus sufahaa-u minan naasi maa wallaahum ‘an qiblatihimul latii kaanuu ‘alaihaa qul lillaahil masyriqu wal maghribu yahdii may yasyaa-u ilaa shiraatim mustaqiim (2:142).

Orang-orang bodoh di antara manusia berkata, “Apakah yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat mereka, yang mereka telah berada di atasnya? Katakanlah, “Timur dan Barat kepunyaan Allah; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”


Wa ka dzaalika ja’alnaakum ummataw wasathal li takuunuu syuhadaa-a ‘alan naasi wa yakuunar rasuulu ‘alaikum syahiidaw wa maa ja’alnal qiblatal latii kunta ‘alaihaa illa li na’lama may yattabi’ur rasuula mim may yanqalibu ‘alaa ‘aqibaihi wa in kaanat la kabiiratan illaa ‘alal ladziina hadallaahu li yudhii’a iimanakum innallaaha bin naasi la ra-uufur rahiim. (QS 2:142)

Dan demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia supaya kamu menjadi penjaga manusia dan agar Rasul itu menjadi penjaga kamu. Dan, tidak Kami jadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat, melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua tumitnya. Dan sesungguhnya hal ini berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan, Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kamu; sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia.

Pada saat sedang ramai-ramainya dialog atau polemic antara Nabi Muhammad saw. dengan orang-orang Yahudi, delegasi pihak Nasrani dari Najran tiba di Medinah yang terdiri dari satu rombongan besar yang menggunakan 60 buah unta dan kuda. Di antara mereka terdapat orang-orang terkemuka, orang-orang yang sudah banyak mendalami seluk-belum agama Nasrani mereka, di mana waktu itu para penguasa Romawi yang juga penganut agama Nasrani sudah memberikan kedudukan, memberikan bantuan harta, bantuan SDM serta membuatkan gereja-gereja dan kemakmuran bagi kaum Nasrani Najran itu.

Bagaimana jalannya dialog, yang seperti biasanya ngotot dan keras kepala dan tidak mau mengerti, tetapi di sini diberikan satu ilusi bahwa banyak kali segi materi ini dapat membunuh kehormatan, dapat mematikan perasaan serta dapat menutupi cahaya hati nurani manusia. Segi materi ini, yang tergambar dalam bentuk harta dan kekayaan, dalam kepalsuan gelar-gelar dan pangkat; inilah yang telah membuat seperti contohnya Abu Harita – salah seorang tokoh Nasrani Najran yang paling luas ilmu dan pengetahuannya, satu kali mengeluarkan isi-hatinya kepada salah seorang temannya, bahwa ia yakin bahwa apa yang dikatakan Nabi Muhammad itu adalah benar adanya.

Menjawab pertanyaan temannya: “Lalu, apalagi yang merintangi engkau dalam menerima ajaran Muhammad itu?” Ia menjawab: “Yang masih merintangi aku adalah disebabkan oleh apa-apa yang telah diberikan oleh orang-orang itu kepada kami.” Lihat saja: “Kami sudah diberikan kedudukan, diberi harta dan kehormatan; di mana yang mereka kehendaki dari kami adalah supaya kami itu menentang dan menolak Nabi ini!” “Kalau kuterima ajakan Nabi itu, tentu semua duniawi yang kaulihat itu akan dicabut dari kami!”

Demikianlah, mengapa orang-orang besar dan termasuk ulama-ulama itu tidak bisa menerima ajakan dari setiap Nabi Allah yang akan membawanya kepada kebenaran, karena mereka sudah terlibat di dalam materi keduniawian yang menampak bagi mereka sebagai manfaat, keuntungan dan kesenangan duniawi.

Allah Taala berfirman, antara lain dalam Surah Al ‘Ankabuut -29- ayat 38 dan lain-lain:
……Dan syaitan menjadikan indah perbuatan amal mereka, lalu syaitan menghalangi mereka dari jalan Allah yang benar, padahal mereka itu adalah orang-orang yang cerdik, memiliki pandangan.

... Wa zayyana syaithaanu ‘amaalahum fa shaddahum ‘anis sabiili wa kaanu mustabshiriin (29:38)

…… fa zayyana lahumushy syaithaanu a’maalahum fa huwa waliyyuhumul yauma wa lahum ‘adzaabun aliim. (QS. An Nahl, 16:63)

…… tetapi syaitan menampakkan perbuatan mereka itu indah bagi mereka. Maka, ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu dan bagi merekalah azab yang pedih.

Asysyatthaanu ya’idukumul faqra wa ya’murukum bil fahsyaa-i wallaahu ya’idukum maghfiratam minhu wa fadhlanw wallaahu waasi’un ‘aliim (Q.S. 2:268)
Syaitan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan, dan menyuruh kamu berbuat kekejian, padahal Allah menjanjikan kepada kamu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah itu Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (“Fahsyaa” adalah suatu perbuatan buruk, yang kadang-kadang hanya dia yang melakukannya sendiri yang mengetahuinya, sedangkan orang lain tidak melihatnya).

SAMBUTAN RAJA ARAB SAUDI KING ABDULLAH BIN ABDUL AZIZ AL-SAUD
PADA KONFERENSI TENTANG DIALOG DI MADRID SPANYOL, 16-18 JULI 2008.

Dengan sponsor Arab Saudi, selama 3 hari dari tanggal 16 sampai 18 Juli 2008 telah diselenggarakan Konferensi Internasional tentang DIALOG di Madrid, Spanyol dengan tujuan untuk menyatukan tiga agama Muslim, Kristen dan Yahudi, agar menjadi lebih dekat, paling tidak dalam sebuah forum.

Dalam sambutannya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud mengatakan antara lain:
“Para saudaraku, kita harus mengatakan kepada dunia bahwa perbedaan itu tidak harus membuat kita bertikai.” Raja Arab Saudi meminta semua umat dari berbagai agama dunia agar menjauhi ekstremisme dan agar mendorong rekonsiliasi. Beliau mengatakan bahwa konflik besar dalam sejarah itu tidak disebabkan oleh agama, tetapi oleh orang-orang yang menafsirkan agama secara keliru. “Berbagai tragedy yang dialami itu bukanlah karena kesalahan agama, tetapi karena sikap ekstrimisme dan juga akibat berbagai system politik.”

Diskusi ini berlangsung ketika dunia sering menempatkan ke-tiga agama ini sebagai saling berseberangan.

Minggu, 31 Agustus 2008.

Kamis, 28 Agustus 2008

Hanya Ketakwaan dapat Mensejahterakan Dunia

KETAKWAAN DAPAT MEMPERBAIKI KE-EKONOMIAN / KESEJAHTERAAN DUNIA

(Firman Allah Taala dalam Kitab Suci Alqur-aan Surah Al Hujuraat -49- ayat 13)

Untuk memeriksa keadaan ekonomi yang kadang-kadang menjadi sumber dari pertikaian maka mereka mendirikan World Justice System. Apa yang terjadi pada organisasi-organisasi ini setiap orang itu dapat melihatnya sendiri.. Sebab dari kegagalannya itu adalah dikarenakan kurangnya ketakwaan, tidak ada rasa takut kepada Tuhan. Yang dengan apakah mereka itu telah menaruh timbunan harta kekayaan atau kepandaian dan kekuatan dari ilmu pengetahuan, naka dikarenakan oleh kesombongan dan kebangga-banggaannya itu atau dengan menganggap diri mereka itu adalah pembawa bendera kedamaian yang lebih dari siapa pun juga dan menempatkan mereka pada landasan yang lebih tinggi dari bangsa yang lainnya. Mereka telah membuat tingkatan-tingkatan anggota tetap dan anggota tidak tetap yang juga tidak pernah dapat meraih kedamaian dikarenakan kurangnya rasa takut kepada Tuhan dan kurangnya ketakwaan. Jika sebuah Adidaya tertentu memiliki kawenangan untuk menanda-tangani beberapa dokumen dengan dirinya sendiri, maka system ini, kekuatan ini, kawenangan ini tidak akan dapat menyebarkan kedamaian. Jika akan terjadi kedamaian di dunia maka kedamaian di dunai ini hanyalah dengan melalui ajaran yang Allah telah wahyukan kepada Y.M. Nabi Muhammad s.a.w., yang pra-syaratnya itu adalah takwa, ketakwaan. Tentang segala bangsa-bangsa ini, sebagai umat manusia, Kitab Suci Al-Qur’an telah memberikan kepada kita sebuah ajaran, yang firman-Nya dalam Surah Al-Hujuraat (49) ayat 13:

Yaa ayyuhahan naasu ‘inna khalaqnaakum min dzakariw wa untsaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qabaa-ila li ta’aarafuu inna akramakum ‘indallaahi atqaakum innallaaha ‘aliimun khabiir. (Surah Al-Hujuraat -49- ayat 13)

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada.

Jadi inilah ajaran dari persaudaraan Islam itu, untuk menciptakan kebersaudaraan dalam Islam itu dan untuk menegakkan kedamaian itu demikianlah perintah dari Allah ini. Seseorang yang bertakwa dan memiliki rasa takut kepada Tuhan, maka ia itu harus dengan sepenuhnya meng-aplikasikan ajaran ini kepada dirinya tentang kebersaudaraan ini dan untuk menyebarkannya kepada dunia. Orang-oang yang beriman telah duperintahkan, dengan perintah tentang kecintaan, kasih-sayang dan keadilan.

Tidak jadi soal betapa hebatnya mereka itu membuat Dewan Keamanan dan Komite Perdamaian, tetapi mereka itu tidak akan dapat menghilangkan keresahan dari dunia karena Bangsa Adidaya yang kuat itu telah mengambil kawenangan melebihi dari bangsa yang lainnya. Jadi, keamanan dan jaminan akan perdamaian dunia itu hanya akan dapat diberikan dan keresahan dari dunia itu hanya dapat dihilangkan jika superioritas kebangsaan yang salah itu dihilangkan.

Keresahan ini tidak akan dapat dihilangkan selama ras dan segala macam supremasi dan keistimewaan itu tidak dapat dihilangkan. Selama di dalam pikiran orang-orang dari Negara-negara dan Pemerintahan mereka itu tidak memiliki pemikiran ini dengan kesadaran yang penuh bahwa kami semua ini adalah anak-anak dari Adam dan pengembangan kami itu adalah sebagai hasil dari laki-laki dan perempuan maka sebagai seorang manusia itu, kita adalah sama di dalam pandangan dari Tuhan. Jika seseorang itu adalah memiliki keistimewaan di dalam pandangan Allah, yaitu seseorang yang memiliki ketakwaan dan ketakwaan siapa yang lebih tinggi atau superior itu hanyalah Tuhan Yang Mengetahuinya. Tak ada orang yang dapat menilai untuk dirinya sendiri sampai di mana tingkat ketakwaannya itu. Ia itu tidak dapat memeriksa tingkat kadarnya sendiri dan tidak dapat menguji tingkatan kadarnya sendiri, yang oleh karena itu Allah berfirman bahwa kedudukan kamu itu dan kelebihan kamu terhadap orang lainnya itu bukannya dikarenakan oleh keturunan dan bukan karena kebangsaan-mu, bukan karena warna kulitmu, bukan karena harta kekayaanmu atau kedudukan kamu di dalam masyarakat kamu. Tidak ada satu bangsa pun yang menjadi lebih superior yang dikaitkan dengan penguasaannya terhadap bangsa-bangsa yang lemah. Di dalam mata duniawi, kekuatan dunia ini dan Pemerintahan duniawinya ada memiliki suatu kedudukan tertentu tetapi bukannya dalam pandangan dari Tuhan. Apa pun yang tidak diketahuinya dalam pandangan Tuhan maka hal itu tidak akan dapat sukses di dalam tujuan-tujuan baiknya, apa pun yang telah dipergunakannya untuk keperluan tersebut. Islam mengatakan bahwa segenap manusia dan orang-orang itu adalah merupakan satu keluarga. Jika mereka itu hidup sebagai satu keluarga tunggal, hanya dengan demikianlah mereka itu akan saling menjaga kedamaian dan keamanannya satu sama lainnya. Sebagai anggota dari satu keluarga yang demikian itu mereka akan saling mencintai dan saling kasih-sayang satu terhadap yang lainnya. (22-6-2007)

Kamis, 28 Agustus 2008

Rabu, 27 Agustus 2008

PIAGAM MEDINAH dan PANCASILA

Bismillahirrahmanirrahiim

PIAGAM MEDINAH (622 M) dan PANCASILA (1945 M)

Piagam Medinah, dokumen politik yang diletakkan oleh Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw., sekitar 14 abad yang lalu dan yang telah menetapkan kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat, tentang keselamatan harta benda dan larangan orang melakukan kejahatan. Nabi saw. telah membukakan pintu baru dalam kehidupan politik dan peradaban dunia masa itu. Dunia, yang selama ini hanya menjadi permainan tangan tirani, yang dikuasai oleh kekejaman dan yang menjadikan kehancuran semata. (Muhammad Husain Haikal: “Sejarah Hidup Muhammad” halaman 205 Cetakan tahun 2003).
Kebebasan Beragama yang dipraktekkan Nabi Muhammad saw. dalam Piagam Madinah
Ke-bhinekaan dalam kehidupan social dicontohkan oleh Nabi Muhammad pada saat beliau dipercaya untuk memimpin masyarakat Madinah. Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang beragam. Mereka terdiri atas berbagai suku dan agama. Oleh karena itu kehidupan di Madinah dibangun atas dasar consensus yang kemudian dituangkan dalam 'konstitusi' yang kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah. Dalam piagam Madinah ini disebutkan bahwa semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari banyak suku, tetapi merupakan satu komunitas. Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dengan anggota komunitas-komunitas lainnya didasarkan atas prinsip-prinsip:
(a) bertetangga baik
(b) saling membantu dalam menghadapi musuh bersama
(c) membela mereka, orang-orang yang teraniaya
(d) saling menasehati dan
(e) menghormati kebebasan beragama.

Satu hal yang patut dicatat bahwa Piagam Madinah yang oleh banyak pakar politik didakwakan sebagai konstitusi Negara Islam yang pertama itu tidak menyebut Islam sebagai agama Negara.

Tujuan satu-satunya aksi damai di Monas tanggal 1-6-2008 adalah untuk memperingati hari lahir Pancasila. Peringatan ini dilakukan demi memperkuat ikatan kebangsaan dan ke-Indonesiaan yang semula dirajut oleh para the Founding Fathers dengan memilih Pancasila sebagai ideologi negara. Kalau dipikir secara mendalam, pilihan itu tentu tidak mudah, tetapi sangat bijaksana. Muncul pertanyaan mengapa tidak memilih ideologi Islam? Bukankah sebagian besar para the Founding Fathers adalah tokoh-tokoh Islam yang sangat dikenal? Jawabannya tegas, memilih agama sebagai ideologi negara NKRI akan sangat problematik. Bicara soal agama berarti bicara soal tafsir, dan bicara soal tafsir pasti sangat beragam, tidak pernah tunggal. Pertanyaannya lalu tafsir mana akan dipakai pedoman oleh pemerintah? Sungguh tidak mudah dan pasti sangat problematik.

Jadi, betapa cerdas dan bijaknya para pendahulu bangsa ini memilih Pancasila. Pancasila mengajarkan agar pemerintah NKRI bersikap netral dan adil terhadap semua penganut agama dan kepercayaan. Pemerintah tidak perlu mencampuri urusan substansi ajaran setiap agama dan kepercayaan. Pemerintah cukup menjamin agar setiap warga dapat mengekspressikan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing secara aman, nyaman dan bertanggung jawab. Pemerintah NKRI tidak berhak mengakui mana agama yang resmi dan tidak resmi atau agama yang diakui atau tidak diakui. Semua penganut agama memiliki posisi setara di hadapan hukum dan perundang-undangan.

Tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Semua warga adalah pemilik sah negeri ini. Karena itu, sikap pemerintah membiarkan perilaku diskriminatif dan penganiayaan serta penindasan terhadap kelompok agama minoritas, seperti terhadap orang-orang penghayat kepercayaan, pemeluk agama lokal, dan sejumlah komunitas agama dan kepercayaan lainnya, karena ini jelas bertentangan dengan Pancasila.

Dasar kebebasan beragama yang dianut oleh Nabi Muhammad saw. adalah firman Allah Taala di dalam Alqur-aan:
1. Laa ikraaha fid diini …... Tidak ada paksaan dalam agama …… (Al Baqarah, 2:256)
2. Lakum diinukum wa liya diin. Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku. (Al Kaafiruun, 109:6)

Kamis, 28 Agustus 2008.

Selasa, 26 Agustus 2008

IMAM MAHDI akan DIMUSUHI ULAMA

Bismillahirrahmanirrahiim

IMAM MAHDI YANG BENAR AKAN DIMUSUHI ULAMA; JIN dan MANUSIA

Salah satu ciri kedatangan Imam Mahdi yang benar adalah bahwa beliau itu bukannya di-eluk-elukan dengan sambutan yang mesra tetapi permusuhan-lah yang beliau dapatkan itu. Bilamana Imam Mahdi yang sudah dijanjikan kedatangannya itu memang wujud yang benar adanya, maka Allah Taala akan mendukung dan menolong beliau dan Jama’atnya dengan kemenangan yang nyata, yang dapat dilihat dan disaksikan oleh orang-orang yang mau menggunakan akal sehatnya, betapa pun ia dimusuhi orang..

Imam Muhyiddin Ibnu Arabi r.a. menulis di dalam bukunya Futuhat Makiah jilid III halaman 374:

Wa idzaa kharaja hadzaal imaamul mahdiyyu fa laisa lahu ‘aduwwun mubiin illal fuqahaa’u khashshat.
Apabila Imam Mahdi datang, waktu itu yang menjadi musuh-musuh beliau tidak lain melainkan ulama-ulama dan fuqahaa (ahli fiqih).

NABI-NABI DITOLAK OLEH JIN DAN MANUSIA (Alqur-aan; Surah Al-An’aam ayat 111-112)

Surat Al An’aam -6- ayat 112:

Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh berupa Syaitan dari manusia dan jin.


Wa ka dzaalika ja’alnaa li kulli nabiyyin ‘aduwwan syayaathiinal insi wal jinni yuuhii ba’dhuhum illa ba’dhin zukhrufal qauli ghuruuraw wa lau syaa-a rabbuka maa fa’aluuhu fa dzarhum wa maa yaftaruun.

Dan, dengan cara demikian Kami menjadikan musuh setiap Nabi, Syaitan-syaitan di antara manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui. Dan, jika Tuhan engkau menghendaki, meeka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu.

Kata-kata manusia dan jin yang banyak kali disebut dalam ayat-ayat Alqur-aan bukanlah berarti ada dua macam mahluk Allah yang berlainan; kedua-duanya adalah golongan manusia juga. Manusia mengisyaratkan pada manusia biasa, orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan jin di-isyaratkan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan rakyat sehingga boleh dikatakan tersembunyi dari penglihatan umum.

Surat Al An’aam -6- ayat 112:

Biarpun malaikat dan orang-orang yang sudah mati yang berbicara dengan mereka, mereka tokh tetap tidak akan beriman kepada Nabi, Utusan Allah itu:


Wa lau annanaa nazzalnaa ilaihimul malaa-ikata wa kallamahumul mautaa wa hasyarnaa ‘alaihim kulla syai-in qubulam maa kaanu li yu’minuu illaa ay yasyaa-allaahu walaakinna aktsarahum yajhaluun.

Dan, sekalipun jika Kami menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami mengumpukan di hadapan mereka segala sesuatu berhadap-hadapan, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak berpengetahuan.

Salah satu tugas dari malaikat-malaikat ialah untuk membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak pada kebenaran; yang kadang-kadang malaikat-malaikat ini melaksanakan tugasnya dengan melalui mimpi-mimpi dan kasyaf (vision). Orang-orang muttaki yang sudah wafat kadang-kadang muncul di dalam mimpi orang yang dikenalnya untuk membenarkan da’wa Nabi, Utusan Allah.

Jadi demikianlah agar dapat dimaklumi oleh orang-orang yang bisa menggunakan akal sehatnya, dan dengan mempelajari Hadits-hadits Nabi saw. dan Firman Allah Taala di dalam Kitab Suci Alqur-aan, maka penolakan dan permusuhan kepada Nabi-nabi dan Imam Mahdi itu, justru akan membenarkan dan menggenapi nubuatan-nubuatan yang sudah diberikan oleh orang-orang suci itu.

Tetapi bagi orang-orang yang hasud dan berpikiran dengki, biarpun malaikat yang memberi-tahukannya kepada mereka, atau leluhur mereka dan orang-orang suci yang meng-isyaratkannya kepadanya tentang kebenaran Nabi dan Utusan Allah itu, tokh mereka tetap saja tidak akan mau mempercayainya; sampai Allah Taala sendiri yang memberi taufik dan hidayat kepada mereka untuk menerima kebenaran itu.


وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَ الَمِينَ

“Wa aakhiru da’wahum anil hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 10:10)


Rabu, 27 Agustus 2008.

Senin, 25 Agustus 2008

KEKERASAN - TIDAK SESUAI AJARAN iSLAM


Bismillahirrahmanirrahiim

ME-LEGITIMASI TINDAKAN KEKERASAN TERHADAP ORANG YANG MENGAKU NABI, ini TIDAK SESUAI DENGAN AJARAN ISLAM, ALQUR-AAN DAN SUNNAH NABI MUHAMMAD saw.

Kekeliruan dari Amin Djamaluddin.

Di dalam Bukunya Amin Djamaluddin, Ketua LPPI berjudul “Ahmadiyah dan Pembajakan Al-Qur’an” (April 2003) halaman V ditulis: Karena Musailamah mengaku dirinya sebagai Nabi, maka dia dijuluki dengan Musailamah Al-Kazzab (Musailamah si Pendusta). Dan Musailamah tersebut langsung diperangi oleh Khalifah Abu Bakar, sehingga si pendusta tersebut mati terbunuh”. Pernyataan sedemikian diucapkan juga oleh Pengacara TPM dalam Debat di TiviOne sekitar tanggal 11 Juni 2008 sore hari.

Ini tidak sesuai dengan kenyataan sejarahnya, seperti yang ditulis oleh Haekal. Banyak orang-orang yang karena hasutan ulama / mullah yang tidak mengerti fakta sejarah dan sunnah Nabi saw., melakukan kekerasan terhadap Nabi dan para pengikut Nabi yang disangkanya Nabi palsu atau dusta. Mereka itu termasuk TPM-nya melakukan kekeliruan dengan melegitimasi perbuatan kekerasan tersebut karena membaca dalam sejarah bahwa Hadhrat Abu Bakar Siddiq r.a. yang sebagai Khalifah telah melakukan gerakan militernya menghadapi perbuatan makarnya Musailamah dan para pengikutnya di Yamama. Padahal tindakan Hadhrat Abu Bakar dan Jama’at Islam ini bukanlah karena pendakwaan kenabiannya Musailamah, tetapi karena Musailamah dan para pengikutnya bersekutu dengan Banu Hanifah yang bertujuan makar untuk menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan persatuan Jama’at Muslim. (Bacalah buku: Sejarah Hidup Muhammad, oleh Muhammad Husain Haekal).

Ketika Yang Mulia Nabi Muhammad saw. masih hidup, Musailamah pada masa yang sama juga mendakwakan diri sebagai Nabi di Nejd, Jazirah Arabia. Atas pendakwaan Musailamah itu, dan juga terhadap dua orang lainnya yang mendakwakan diri sebagi Nabi, Tulaiha dan Aswad Al-Ansi, Nabi Muhammad saw. itu tidak menghiraukannya.

Ketika Musailamah mengirimkan dua orang utusannya dengan membawa surat kepada Nabi Muhammad saw. dengan mengatakan bahwa dia, Musailamah Nabi, dan “Separuh bumi ini buat kami dan yang separuh lagi buat Quraisy; tetapi Quraisy adalah golongan yang tidak suka berbuat adil.” Maka Nabi Muhammad saw. membalas dengan surat yang isinya mengatakan bahwa: … “beliau saw. sudah membaca isi suratnya dengan segala kebohongannya itu, dan bahwa bumi ini kepunyaan Allah yang akan diwarisi oleh hamba-hamba yang berbuat kebaikan. Dan selamat dan sejahtera bagi orang yang mengikuti bimbingan yang benar.” (Baca: Haekal).

Sampai wafatnya Nabi Muhammad saw., Musailamah masih tetap hidup dan masih mengaku sebagai Nabi. Jadi tidak ada contoh sunnah dari Nabi Muhammad saw. untuk mengambil tindakan dan kekerasan fisik terhadap seorang pendakwa kenabian dan para pengikutnya, walau pun beliau saw. mengetahui bahwa Musailamah itu adalah seorang pendusta belaka.

Bilamana para ulama/mullah itu cenderung pada tindakan kekerasan terhadap orang dan golongan yang dianggap bahwa akidahnya tidak sesuai dengan akidah orang kebanyakan, hal itu disebabkan karena mereka itu tidak mengerti atau tidak mau mengerti akan hakikat dari firman Tuhan yang ada di dalam Kitab Suci Alqur-aan; tidak seperti pengertian dari Y.M. Nabi Muhammad saw., wujud yang menerima wahyu dari Allah itu sendiri, yaitu:

Surat Al An’aam -6- ayat 118:
Inna rabbaka huwa a’lamu may yadhillu ‘an sabiilihi wa huwa a’lamu bil muhtadiin.
Sesungguhnya Tuhan engkau adalah Dia Yang maha Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan dalam Surah An Nahl -16- ayat 125

رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾

Inna rabbka huwa ‘alamu bi man dhalla ‘an sabiilihii wa huwa a’lamu bil muhtadiin.
Sesungguhnya, Tuhan engkau Dia lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya; dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Bahwa, dalam hal keimanan itu bukanlah mayoritas atau minoritas yang berlaku sebagai hakim untuk menetapkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Dia-lah Tuhan yang memberikan keputusan-Nya dengan menunjukkan Tanda-tada samawi, Tanda-tanda dari Langit berupa bantuan dan dukungan-Nya terhadap golongan yang mengikuti jalan kebenaran.

Jadi, tidak seperti yang dikerjakan oleh para Ulama/Mullah yang sebenarnya salah dan keliru serta tidak sesuai ajaran Islam, maka dalam hal keimanan, kepercayaan dan akidah ini, pegangan dari Y.M. Nabi Muhammad, Rasulullah saw. itu adalah seperti Firman Tuhan yang ada di dalam Kitab Suci Alqur-aan:

1. Surat Al Baqarah ayat 256:

Laa ikraaha fid diini = Tidak ada paksaan dalam agama.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ


2. Surat Al Kaafiruun -109- ayat 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

Lakum diinukum wa liya diin = Bagi kama agama kamu dan bagiku agamaku.

Jadi sebenarnya pegangan seperti inilah yang juga harus digunakan oleh para Ulama dan Mullah serta umat Muslimin itu, yang dengan mengikuti ajaran Alqur-aan dan Sunnah Nabi Muhammad saw. ini, maka dengan demikian insya Allah akan tercapai rasa tenteram dan kedamaian serta saling pengertian di dalam masyarakat dan bangsa NKRI yang penuh dengan ke-Bhineka-an ini. Aamiin.


وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Wa aakhiru da’wahum anil hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 10:10)


Selasa, 26 Agustus 2008