Selasa, 26 Agustus 2008

IMAM MAHDI akan DIMUSUHI ULAMA

Bismillahirrahmanirrahiim

IMAM MAHDI YANG BENAR AKAN DIMUSUHI ULAMA; JIN dan MANUSIA

Salah satu ciri kedatangan Imam Mahdi yang benar adalah bahwa beliau itu bukannya di-eluk-elukan dengan sambutan yang mesra tetapi permusuhan-lah yang beliau dapatkan itu. Bilamana Imam Mahdi yang sudah dijanjikan kedatangannya itu memang wujud yang benar adanya, maka Allah Taala akan mendukung dan menolong beliau dan Jama’atnya dengan kemenangan yang nyata, yang dapat dilihat dan disaksikan oleh orang-orang yang mau menggunakan akal sehatnya, betapa pun ia dimusuhi orang..

Imam Muhyiddin Ibnu Arabi r.a. menulis di dalam bukunya Futuhat Makiah jilid III halaman 374:

Wa idzaa kharaja hadzaal imaamul mahdiyyu fa laisa lahu ‘aduwwun mubiin illal fuqahaa’u khashshat.
Apabila Imam Mahdi datang, waktu itu yang menjadi musuh-musuh beliau tidak lain melainkan ulama-ulama dan fuqahaa (ahli fiqih).

NABI-NABI DITOLAK OLEH JIN DAN MANUSIA (Alqur-aan; Surah Al-An’aam ayat 111-112)

Surat Al An’aam -6- ayat 112:

Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh berupa Syaitan dari manusia dan jin.


Wa ka dzaalika ja’alnaa li kulli nabiyyin ‘aduwwan syayaathiinal insi wal jinni yuuhii ba’dhuhum illa ba’dhin zukhrufal qauli ghuruuraw wa lau syaa-a rabbuka maa fa’aluuhu fa dzarhum wa maa yaftaruun.

Dan, dengan cara demikian Kami menjadikan musuh setiap Nabi, Syaitan-syaitan di antara manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui. Dan, jika Tuhan engkau menghendaki, meeka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu.

Kata-kata manusia dan jin yang banyak kali disebut dalam ayat-ayat Alqur-aan bukanlah berarti ada dua macam mahluk Allah yang berlainan; kedua-duanya adalah golongan manusia juga. Manusia mengisyaratkan pada manusia biasa, orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan jin di-isyaratkan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan rakyat sehingga boleh dikatakan tersembunyi dari penglihatan umum.

Surat Al An’aam -6- ayat 112:

Biarpun malaikat dan orang-orang yang sudah mati yang berbicara dengan mereka, mereka tokh tetap tidak akan beriman kepada Nabi, Utusan Allah itu:


Wa lau annanaa nazzalnaa ilaihimul malaa-ikata wa kallamahumul mautaa wa hasyarnaa ‘alaihim kulla syai-in qubulam maa kaanu li yu’minuu illaa ay yasyaa-allaahu walaakinna aktsarahum yajhaluun.

Dan, sekalipun jika Kami menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami mengumpukan di hadapan mereka segala sesuatu berhadap-hadapan, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak berpengetahuan.

Salah satu tugas dari malaikat-malaikat ialah untuk membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak pada kebenaran; yang kadang-kadang malaikat-malaikat ini melaksanakan tugasnya dengan melalui mimpi-mimpi dan kasyaf (vision). Orang-orang muttaki yang sudah wafat kadang-kadang muncul di dalam mimpi orang yang dikenalnya untuk membenarkan da’wa Nabi, Utusan Allah.

Jadi demikianlah agar dapat dimaklumi oleh orang-orang yang bisa menggunakan akal sehatnya, dan dengan mempelajari Hadits-hadits Nabi saw. dan Firman Allah Taala di dalam Kitab Suci Alqur-aan, maka penolakan dan permusuhan kepada Nabi-nabi dan Imam Mahdi itu, justru akan membenarkan dan menggenapi nubuatan-nubuatan yang sudah diberikan oleh orang-orang suci itu.

Tetapi bagi orang-orang yang hasud dan berpikiran dengki, biarpun malaikat yang memberi-tahukannya kepada mereka, atau leluhur mereka dan orang-orang suci yang meng-isyaratkannya kepadanya tentang kebenaran Nabi dan Utusan Allah itu, tokh mereka tetap saja tidak akan mau mempercayainya; sampai Allah Taala sendiri yang memberi taufik dan hidayat kepada mereka untuk menerima kebenaran itu.


وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَ الَمِينَ

“Wa aakhiru da’wahum anil hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 10:10)


Rabu, 27 Agustus 2008.

2 komentar:

Agus Wirabudiman mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Agus Wirabudiman mengatakan...

Punten koreksi sakedik sepuh, hapunten anu kasuhun bilih terjemah abdi anu lepat dina perkawis Surat Al An’aam -6- ayat 112. upami anu dimaksad dina terjemah dilihur mah nya eta Al An’aam -6- ayat 111.

QS.6, Ayat 111 : Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.