Jumat, 14 Juni 2013

Mujaddid & Khilafat Islam di Abad Millenium II Hijriah



MUJADDID  DAN  KHILAFAT  ISLAM  DI ABAD MILLENIUM  KE–II  HIJRIAH
Seorang Mujaddid, menurut tradisi Muslim yang masyhur, merujuk kepada seseorang suci yang berilmu agama tinggi, yang muncul pada  awal setiap abad dari kalender Hijriah Islam untuk menghidupkan kembali ajaran agama Islam, ajaran Al-Qur’an, menghilangkan dari ajarannya unsur-unsur yang tidak ada sumbernya dan mengembalikannya pada kemurnian aslinya, Ini berdasarkan pada hadits Nabi saw., sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:  "Allah akan membangkitkan untuk ummat ini pada setiap awal abad seseorang yang akan memperbaharui atau menghidupkan kembali ajaran agama ini. "Sunan Abu Dawood, Book 37: Kitab al-Malahim [Peperangan], Hâdits No. 4278.
Seorang Mujaddid bisa mengumumkan dirinya –berdasarkan ilham yang diterimanya- atau diberikan gelar panggilan sebagai Mujaddid oleh masyarakat Muslim dikarenakan kesuciannya, ilmunya keagamaan dan kerohaniannya yang tinggi, pengamalannya serta hasil kinerjanya;  ada juga gelar Mujaddid baru diberikan masyarakat Muslim setelahnya orang suci ini wafat.  Seorang Mujaddid bisa memimpin satu gerakan keagamaan atau satu nizam organisasi kerohanian, atau tidak memiliki nizam juga. Pada satu masa (awal / permulaan abad tersebut) bisa terdapat lebih dari satu orang yang bergelar Mujaddid ini, terutama kalau Mujaddid ini hanya dikenal untuk satu daerah tertentu saja (local).
Seorang Mujaddid bisa memperoleh gelar Khalifah; Khalifah harus mengumumkan dirinya –berdasarkan ilham atau wahyu - dan memimpin satu organisasi/ nizam kerohanian dan berlaku secara universal.  Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan; Khalifah, successor, restorer pengganti dan penerus misi Nabi dalam umat beliau derajatnya lebih tinggi dari Nabi-nabi dalam Bani Israil.  Sebagai pengganti dan penerus Nabi, seorang Khalifah derajatnya lebih tinggi daripada Mujaddid.
Setelah berlalunya Khilafat Rasyidah, di dalam umat Nabi Muhammad saw. dikenali beberapa Mujaddid dan/ atau berpangkat Khalifah juga yang antara lain sbb.:
Akhir abad Pertama (Setelah masa kenabian)  (August 3, 718M = 1 Muharram 100H)
·         Umar ibn Abd al-Aziz (2 Nop. 682M di Medinah  / 717– 10 Febr. 720M = 26 Safar 63 H / 99 H – 26  Rajab 101 H) – (Tanggal Lahir/menjadi Mujaddid dan tanggal Wafat)
Umar ibn Abd al-Aziz adalah Khalifah ke-8 dari Khilafah Kerajaan (karena diwariskan secara turun-temurun, atau Tyranical Monarchy) dari Bani Umayyah.  Mujaddid awal abad ke-2 Hijrah ini wafat pada umur 38 tahun.  Beliau adalah cicitnya sahabat Nabi Muhammad saw Umar ibn Al-Khattab, dibesarkan di Medinah dan diangkat menjadi Gubernur Medinah di bawah Khalifah Al-Walid I, saudara sepupunya.  
Tidak seperti kebanyakan penguasa-penguasa di zaman itu, Umar membentuk sebuah dewan untuk mengurus provinsinya itu; masa pemerintahan beliau di Medinah sangatlah menonjol kebaikannya, ketika  perselisihan/ pertikaian urusan kantor yamg dikirim ke Pusat di Damascus semuanya menemui jalan buntu.  Banyak orang-orang dari Iraq yang hijrah ke Medinah mencari perlindungan terhadap Gubernur Iraq  Al-Hajjaj bin Yousef yang keras dan hal ini membuat Al-Hajjaj marah, ia kemudian menekan Al-Walid bin Abdul Malik Khalifah ke-6 Bani Umayyah (86-97 H/ 705-715 M) supaya mencopot Umar, yang dituruti oleh Al-Walid. Sementara itu Umar sebagai seorang ulama Islam besar mendapatkan reputasi baik yang tanpa cela di dunia Islam.  Dikarenakan Khalifah ke-7 Sulaiman bin Abdul Malik (97-99H /  715-717M) sakit-sakitan, dengan rasa segan Umar menerima bujukan untuk dijadikan Khalifah ke-8  Bani Umayyah.

Beberapa nama Ulama besar Islam yang berpotensi menjadi Mujaddid dan ada yang diangkat menjadi Khalifah juga  di era Abad ke 11 (Millenium II) sampai kini, abad ke-15 Hijrah sbb.:
Permulaan Abad ke-11 ( 19 September 1591 M / 1 Muharram 1000 H)
Permulaan Abad ke-12 (26 Oktober 1688 M / 1 Muharram 1100 H )
Permulaan Abad ke-13 (4 Nopember 1785 M / 1 Muharram 1200 H)

·         (Mujaddid Alf Sani) Sheikh Ahmad Sirhindi (26 Juni 1564–1624 M / 17 Dzulqaidah 971 – 1033 H)  Dikenal sebagai Mujaddid Alf Sani, atau  "the reformer of the second millennium".  Sheikh Ahmad dilahirkan di  Sarhind pada tanggal 26 Juni 1564.  Ia ikut Silsilah Naqshbandiya dibawah pimpinan Kihawaja Baqi Billah. Ia mendedikasikan dirinya dengan sepenuh hati untuk membersihkan kembali Islam dan menghapus bid’ah asal pengaruh dari Hindu Pantheism dan menegakkan kembali Tauhid Ilahi.

·         Imam al-Haddad (30 Juli 1634–1720 M / 5 Safar 1044 H - 1132 H)  Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad  atau Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ali Al-Tarimi Al-Haddad Al-Husaini Al-Yamani (rahimahullah) dilahirkan di Subir sebuah perkampungan dekat kota Tarim di Wadi Hadhramaut, Yaman pada hari Minggu tanggal 5 Safar tahun 1044 H atau 30 Juli tahun 1634 Masehi. Ketika beliau meningkat umur empat tahun, Al-Habib dijangkiti penyakit cacar yang mengakibatkan kehilangan daya penglihatannya. Walaupun demikian, Allah yang Maha Agung lagi Mulia telah menggantikan kepada Al-Habib dengan mata hati (cahaya ilmu dan pengetahuan serta keyakinan). Berasaskan kurnia ini, Al-Habib telah berusaha dengan penuh dedikasi dan kegigihan menggali ilmu dari sejumlah besar para ulama’ di Yaman. Cinta beliau terhadap ilmu dan para ulama’ menghasilkan kebolehannya menguasai ajaran para ahli tahkik (orang yang mengenali Allah dengan ‘ainul-yakeen serta hakkul-yakeen).

·         Qutb-ud-Dīn Ahmad ibn 'Abdul Rahīm,‎ yang lebih dikenal sebagai Shāh Walīullāh Muhaddis Delhi (1703 — 1762 M / 1114 — 1176 H) adalah seorang ulama besar Islam, reformer dan pendiri  Gerakan Pemikiran Islam Modern yang berusaha meng-reassess Teologi Islam berkaitan dengan perobahan-perobahan modernisasi.  Selain Al-Qur’an ia pun mempelajari Bahasa Arab. Persia dan literature ilmu tinggi philosophical, theological, metaphysical, mystical serta kitab juridical. Ia lulus kuliah pada umur hanya 15 tahun dan ayahnya  memasukkannya ke dalam tarikat Naqshbandi yang termashur.  Pada tahun 1731 M ia pergi naik Haji dan bermukim di Hijaz selama 14 bulan  mempelajari Hadits dan Fiqih.

·         Murtaá az-Zabīdī (1732-1790M / 1145-1205 H)  Al-Sayyid Murtađā al-Zabīdī (rahmatullah alayh) adalah Imām Muĥammad ibn Muĥammad ibn Muĥammad ibn Ábd ar-Razzāq al-Ĥusayni az-Zabīdī, Abu’l Fayđ.  Seorang ulama Ĥanafī, lexicographer, linguist, seorang  grandmaster dalam ĥadīts, genealogy, biographies dan personal histories [ĥadith, ansāb, rijāl].  Selain menguasai Bahasa Arab, beliau fasih berbahasa Turki, Persia dan  Bahasa Karaj.  Berasal dari Wāsiţ Iraq, ia dilahirkan di Belgram India dan hijrah ke Zabid di Yemen. Beliau sangat  terkenal di dunia Islam, Hijāz [Jeddah, Makkah dan Madinah] serta Mesir, India, Shām, Iraq, Morocco, Turkey, Sudan dan Aljazair. Beliau sangat dikagumi sedemikian rupa sehingga orang-orang di Africa Barat menganggap Hajji mereka tidak lengkap jika meeka tidak  mengunjungi dan bermulaqat dengan Murtađa Zabīdī!  Beliau wafat di Mesir ketika berjangkit wabah pest pada tahun  1205 H / 1790 M.

·         Shah Abdul Aziz Delhwi (1745–1823 M / 1158 – 1238 H ) Al Muhaddith Shah Abdul Aziz Dehlavi adalah seorang Ulama besar ahli hadits di India. Shah Abdul Aziz berusaha untuk tetap menjaga persahabatan dengan Pemerintahan Inggris, dengan menyadari bahwa politik dengan military resistance tidak mungkin lagi bisa dilakukan; gerakan oposisi dalam sikon demikian berarti bunuh diri.  Ia, kemudian mengambil kebijakan  agar ia tidak dapat dituduh bermusuhan dengan Inggris, sehingga ia dapat meneruskan kegiatan misinya.  Misinya adalah untuk mempersiapkan orang Muslim  dalam menghadapi  perobahan politik di India, ia minta agar orang Islam tidak hidup dalam bermimpi. Kepada orang-orang Muslim, ia berpikir hanya ada dua alternative, Jihad atau Hijrah, atau mereka harus mencari jalan keluar dengan caranya sendiri di dalam sistuasi sedemikian itu. Adalah tanggung-jawab Shah Abdul Aziz untuk mencari jalan keluar yang aman, ia dapat terus maju ke depan dengan tanpa membiarkan karakter dan kepribadiannya sendiri terganggu dan tanpa berkompromi dalam hal religious identity-nya, ia mengatakan kepada orang-orang Muslim bagaimana upayanya untuk menyesuaikan diri dalam menghadapi situasi baru ini.

·         Usman Dan Fodio (1754–1817 M / 1167 - 1232) Usman dan Fodio seorang Muslim Afrika, pemimpin revolusi yang mendirikan Negara Islam di Nigeria.

·         Syed Ahmad Shaheed Rae Bareli (1786–1831 M / 1200-1247 H ), yang juga disebut Syed Ahmed Barelvi, adalah seorang aktipis Muslim dari Rae Bareli, India. Dia pendiri Gerakan Revolusi Tariqah Muhammadiyah di mana  para pendukungnya mengangkat dia sebagai “Amir al-Mu’minin” yang  mencanangkan jihad terhadap Sikh di Punjab.  Syed Ahmad ditangkap oleh orang-orang  Sikh bersama ratusan prajuritnya di Balakot, Mansehra District  pada tahun 1831.  Kekalahannya itu mengakhiri mimpi-nya untuk mendirikan Negara Islam Peshawar yang sekarang bernama Pakistan.

Akhir Abad  ke-13 = Awal Abad ke-14  (November 12, 1882 M =  1 Muharram 1300 H )  
·         Mirza Ghulam Ahmad  a.s. (13 Pebr 1835/1882-  26 Mei 1908 = Jum’at 15 Syawal 1250 / 1299  -  Selasa, 25 Rabi’ul Akhir  1326 H)   Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  sesuai dengan wahyu yang diterima oleh beliau mengumumkan /  meng-claim mendakwakan dirinya sebagai  Mujaddid  awal Abad ke-14 Hijriah, yang di-imani oleh seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah sedunia.  Pada tahun  1882 berdasarkan wahyu  beliau mendakwakan sebagai Imam Mahdi  dan pada tahun 1890 M (1307 H) mendapat wahyu dari Allah, yang  meng-angkatnya sebagai Nabi Isa Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman, sebagaimana yang sudah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah saw. – Khaataman Nabiyyiin -  sebuah gelar pujian bagi Nabi  Muhammad saw., Nabi yang paling mulia, Nabi / Rasul pembawa syari’at  (Islam) terakhir.  Walaupun banyak ditentang oleh ulama-ulama dan orang Islam mainstream, tetapi Jemaat beliau – tentu dengan pertolongan Allah SWT - telah diterima dan berada di 200 negara di dunia dengan puluhan juta orang Islam pengikutnya.
·         Ahmad Reza Khan Barelvi  (14 Juni 1856 M– 1272 H sampai 1921 M-1339 H), umurnya 21 tahun lebih muda dari Hadhrat M.G. Ahmad a.s.  Ahmad Reza Khan pendiri Gerakan Barelvi di Indian Sub-continent.  Beliau seorang Ulama  besar Sunni bermazhab Hanafi, ahli fiqih dan tassawuf,  ia menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Urdu yang diterbitkan pada tahun 1912.  Mendapat gelar Aala Hazrat dan juga ada yang menamakannya sebagai Mujaddid, untuk Indian-Subcontinent di South Asia, padahal umurnya pada awal tahun 1300 H / 1882 M itu belum sampai  26 tahun. Seperti halnya mayoritas ulama-ulama mainstream menganggap tidak ada lagi wahyu, allergy dengan wahyu, ia pun mengartikan gelar pujian Nabi Muhammad saw. yang paling mulia Khaataman Nabiyiin hanya sebagai Nabi penutup atau Nabi terakhir, padahal tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang explicit secara jelas mengatakan bahwa tidak ada lagi nabi setelah Muhammad saw, dan / atau Muhammad adalah “Nabi terakhir”, kecuali gelar pujian Khaataman Nabiyiin tersebut!   Pada tahun 1905 pergi beliau naik haji dan pada kesempatan tersebut  Ahmed Raza Khan mengumpulkan pendapat dari para ulama Hejaz dan membuat compendium dengan judul, Husam al Harmain ("The Sword of Two Sanctuaries"), yang memuat 34 buah fatwa dari 33 ulama (20 Mekkah dan 13 Medinah), yang menyebutkan para Pendiri Jemaat-jemaat Darul Uloom Deoband Ashraf Ali Thanwi, Rashid Ahmad Gangohi, Qasim Nanotwi dan Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani adalah sesat, blasphemous penghujat Tuhan dan murtad.
Sementara itu, pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. masih ada dua orang ulama besar Islam lainnya yang terkenal di dunia yaitu:
·         Muhammad Abduh (1849- 11 Juli 1905 M / 1265 – 8 Jumadil Awal 1323 H yang wafat di Alexandria) seorang Mufti besar di Mesir, keluaran Universitas Al-Azhar Kairo (1866 – 1877) dan pernah diasingkan oleh Pemerintah Inggris (1882 – 1888) karena mendukung gerakan Egyptian nationalist revolt pimpinan Ahmed Orabi.
·         Bediuzzaman Said Nursî (1878-1960 M / )  Di Turki dan wafat di Urfa.  Pernah hidup di zaman Ottoman Empire yang runtuh setelah Perang Dunia I.  Said Nursi adalah seorang penulis Islam yang hebat, dan metoda yang dipilih oleh Bediuzzaman dapat disimpulkan dalam dua kalimat singkat: ‘mânevî jihad,’  yang adalah ‘jihad dengan kata-kata’ atau ‘non-physical jihad’, dan ‘tindakan yang positif atau positive action. Karena Bediuzzaman menganggap musuh hakiki nyata di abad  science, reason, dan civilization ini adalah materialisme dan atheisme, serta sumber-sumber daya  mereka dan falsafah materialism mereka.
Catatan:
Kebenaran pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. antara lain dibuktikan dengan:
·         Al-Masih yang dijanjikan Masih Mau’ud disebut Nabiyullah (Hadits Muslim Jilid 2 hal. 515).
·         Al-Mahdi dan Al-Masih adalah satu orang yang sama (Ibnu Majah jld. 2 hal. 257).
·         Kedatangan Isa kedua kalinya adalah seorang Imam dari kalangan Muslimin (Bukhari jld 2 hal. 490).
·         Imam Mahdi akan menghapuskan peperangan agama (Ibnu Hanbal, Masnad, Jld. 2 hal. 411).
·         Terjadinya dua gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan yang terjadi pada tanggal 13 dan 28 Ramadhan  1311 H / 21 Maret dan  6 April  1894 M. (Sunan Daaru Quthni 306 H – 385 H / 918 M – 995 M, hadits riwayat Imam Baqir Muhammad bin Ali r.a.).
·         Islam akan memperoleh kejayaannya pada masa 3 abad pertama, yang selanjutnya akan kembali ditarik naik ke langit  selama 1000 tahun  (Bukhari Jld. 4 berkaitan dengan tafsir KS. Al-Qur’an, Ath-Thaariq, 86:1).  Ini menunjukkan tentang kebangkitan kembali kejayaan Islam yaitu pada Abad ke-14 Hijrah.
·         Akan muncul orang-orang pendakwa Nabi palsu (30 orang), di mana Nabi-nabi palsu ini akan dihancurkan oleh Tuhan dan semua Nabi-nabi palsu ini akan tamat riwayatnya secara tragis, tidak ada bekas sejarahnya dan tidak ada bekas pengikutnya ataupun keturunannya. Ini sesuai dengan KS Al-Qur’an Al Haaqqah, 69:44-46; bagi yang mengaku-mengaku menerima wahyu tetapi bohong, Allah Taala sendirilah yang akan mematahkan urat lehernya. 
·          
·         Maka, tidak layak bagi manusia untuk mencap orang atau golongan lain sesat atau murtad dan kafir, karena berkali-kali ditegaskan di dalam KS. Al-Qur’an bahwa  Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk   QS. Al-'An`am, 6 : 117;  An-Nahl, 16:25;  An-Najm, 53 : 30;  Al-Qalam,68 : 7.  Apalagi menuduh atau mencap orang Muslim yang mengimani 6 Rukun Iman dan menjalankan 5 Rukun Islam sebagai orang atau golongan yang sesat, murtad atau kafir.  Karena  Tuhanlah yang Maha Tahu siapa orang yang sesat, dan Tuhan sendirilah yang akan menghukum orang berdusta, yang mengaku-ngaku sebagai Nabi, menerima wahyu Allah tetapi palsu, atau dusta / bohong.
Memahami injunctions / wejangan yang ada dalam Al-Qur’an di atas, ketika Hz. Sayyidina Muhammad s.a.w. masih hidup, Musailimah pada masa yang sama juga kemudian mendakwakan diri sebagai nabi di Jazirah Arabia, atas pendakwaan Musailimah itu, Hz. Rasulullah s.a.w. tidak pernah memerintahkan Jemaat Islam untuk mengambil tindakan dan kekerasan fisik untuk memerangi pendakwaan kenabian Musailimah. Demikian juga tatkala ada dua orang lainnya yang mendakwakan diri sebagai nabi, oleh Muhammad saw. tidak dihiraukan juga (Haekal:  Sejarah Hidup Muhammad). 
·         Adapun ketika  di zaman Khalifah Abu Bakr r.a. kemudian memerintahkan umat Islam untuk menghadapi makar Musailimah dan para pengikutnya di Yamama, adalah sebagai usaha pencegahan yang diambil oleh Hz. Abu Bakr r.a. dan Jemaat Islam terhadap Musailimah, atas gerakan militer yang dilakukan Musailimah dan para pengikutnya yang bersekutu dengan Banu Hanifah untuk menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan persatuan Islami Jemaat Muslim yang baru tumbuh berkembang setelah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w., bukan karena pendakwaan kenabiannya Musailimah.
Lanjutan tentang Mujaddid / Khilafat.

·         Mirza TahirAhmad,  Khalifatul Masih IV r.h. (b. 18 Nop. 1928 / 10 Juni 1982 – d. 19 April 2003 =  Minggu, 5 Jumadil Akhir 1347 H / Rabu 16 Sa’ban 1402 H – Sabtu 17 Safar 1424 H) .  Yang juga sebagai Mujaddid Awal Abad ke-15 H  (21 Nopember 1979 M = 1 Muharram 1400H).

·      Beliau terpilih sebagai Khalifah ke-4 Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tanggal 10 Juni 1982. Karena di Pakistan gerakannya sangat dibatasi oleh undang-undang Parlemen Pakistan, terlebih lagi setelah Pemerintahan Zia ul Haq meloloskan Ordinance XX Anti Ahmadiyah pada tanggal 26 April 1984, Mirza Tahir Ahmad harus segera meninggalkan Pakistan. Tahir Ahmad berhasil meloloskan dari kepungan laskar dan secret agent Zia dan dari surat pencekalan yang ditulis oleh Zia dengan menggunakan dua iring-iringan kendaraan (satu rombongan besar menuju Islamabad sebagai kamuflase) pada malam hari tanggal 28 April 1984.  Tahir Ahmad beserta istri, 2 anak terkecil, Amir Jemaat Lahore dan seorang pengawal pribadi retired army officer dapat terbang dengan pesawat KLM langsung ke Amsterdam pada jam 3 lebih setelah pesawat diundur dari jadwal semula jam 2 pagi. Keterlambatan pesawat dikarenakan ada surat pencekalan yang berbunyi : Mirza Nasir Ahmad yang menamakan dirinya Khalifah Ahmadiyah dilarang meninggalkan Pakistan”. Petugas Imigrasi  Airport Karachi berusaha meminta klarifikasi tentang nama Mirza Nasir Ahmad, Khalifah ke-3 yang sudah wafat 2 tahun lalu, tetapi tidak ada yang bangun dan menjawab tilpon. Informasi yang masuk mengatakan Mirza TahirAhmad ada dalam perjalanan menuju Islamabad. 11 Staff dan petinggi Jemaat Ahmadiyah lainnya tiba di London tanggal 2  Mei 1984 dan didirikanlah Kantor / Base Khilafat di London. Penindasan dan penganiayaan terhadap orang-orang Ahmadi di Pakistan semakin hebat, tidak ada pilihan lain bagi Tahir Ahmad untuk kemudian mengajak bermubahalah dengan Zia (Jum’at 10 Juni 1988), atau Zia diminta untuk memperbaiki dirinya dari kezalimannya terhadap orang-orang Ahmadi namun Zia tidak bergeming. Setelah berkali-kali Zia diingatkan dalam Khutbah-khutbah Jum’at Imam Jemaat Ahmadiyah, terakhir pada Jum’at 12 Agustus 1988, Khalifah menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda Zia bertobat baik secara lisan maupun dari perbuatannya, maka sekarang Tuhan-lah yang akan menetapkan takdir baginya. Setelah menghadiri peragaan US Tank Army –yang gagal-, pada hari Rabu 17-8-1988  Zia ul Haq beserta 9 Jenderal Petinggi Angkatan Bersenjata Pakistan, dan U.S. Ambassador serta US Military Mission to Pakistan take-off dengan pesawat C-130 Pak-One dari military Air Base Bahawalpur, dan pada jam 3.51 hanya 5 menit setelah take-off Pak-One meledak di udara dan hancur terbakar habis karena jatuh menghunjam ke dalam tanah. Investigasi bertahun-tahun tidak dapat menemukan penyebab misteri meledaknya Pak-One.  Di London, Tahir mendirikan MTA International (Muslim Television Ahmadiyya International) pada tahun 1994, yang dirintis sejak 21-8-1992. Mirza Tahir Ahmad memperkenalkan system pengobatan alternative “Homoepathy”, yang efektif, tidak ada efek samping dan murah, berdasarkan bukti eksperimen Dr. Samuel Hahnemann Jerman (1781). Menulis buku “Revelations, Rationality, Knowledge and Truth” (1998). Ikut mensponsori pembentukan gerakan social “Humanity First” sebuah International Non-profit Disaster Relief yang didirikan tahun 1994 dengan HQ di London. Mirza Tahir Ahmad r.h. wafat di London 19 April 2003 dikuburkan di Islamabad, Tilford UK.
 
·         Sebelumnya,  Al-Hajj Maulvi Hakeem Nooruddin r.a.  (1841 M / 27 Mei 1908 -  Jum’at 13 Maret 1914 M = 1257 / Minggu 16 Rabiul-Akhir 1326 – 16 Rabiul Akhir 1332 H). Beliau terpilih sebagai  Khalifatul Masih Awwal (1) pada tanggal 27 Mei 1908. Selain sebagai seorang Ulama besar Islam, beliau juga adalah seorang tabib terkenal di seluruh India, dan untuk bertahun-tahun lamanya menjadi Dokter pribadi Maharaja Kashmir.  Pada umur 25 tahun (tahun 1865) Nooruddin pergi naik haji dan bermukim beberapa tahun untuk mempelajari agama dan hadits. Beliau adalah orang yang pertama mengambil bai’at kepada Hadrat Mirza Gulam Ahmad yang mendirikan Jemaat Ahmadiyah, di Ludhiana tanggal 23 Maret 1889.

·         Al-Hajj Mirza Bashirud Din Mahmud Ahmad r.a.  (12 Januari 1889 / 14 Maret 1914 – 8 Nopember 1965 M = Sabtu 10 Jumadil Awwal 1306 / Sabtu 17 Rabiul Akhir 1332 – Senin 14 Rajab 1385 H).  Sebagai Khalifatul Masih Tsani (ke-dua) beliau yang pertama kali mengirimkan utusan Jemaat Muslim Ahmadiyah ke luar Hindustan,  dengan mengirim Muballigh Chaudhri Fateh Muhammad Sial ke London pada tahun 1913 dan mendirikan rumah misi Jemaat Ahmadiyah di sana. Pada tahun 1924 mendirikan The London Mosque, yang merupakan mesjid pertama satu-satunya di Inggris saat itu. Sehubungan dengan partisi Negara India-Pakistan tahun 1947, memindahkan HQ Ahmadiyya Muslim Community dari Qadian-India ke Rabwah-Pakistan pada tanggal 30 September 1948.  Meninggalkan Qadian yang dijaga oleh 313 orang anggota Jemaat, Darwijs Qadian,

·         Hafiz Mirza Nasir Ahmad  MA r.a., Khalifatul Tsalis (ke-3)  dari Masih Mau’ud a.s.  (16 Nopember 1909 / 9 Nopember 1965 – 9 Juni 1982 = Selasa 3 Dzulqaidah 1327 / 15 Rajab 1385 – Rabu 16 Saban 1402 H). Dekan Talim ul Islam College Qadian / Rabwah  Mei 1944 – Nopember 1965. Di Pakistan, parlemen telah mendeklarasikan pengikut Ahmadiyah sebagai non-muslim. Pada tahun 1974, pemerintah Pakistan merevisi konstitusinya tentang definisi Muslim.

·         Mirza Masroor Ahmad Master Degree Pertanian, Khalifatul Al-Khamis (ke-5)  dari Hdr. Masih Mau’ud a.s.  (15 September 1950 / 22 April 2003 M  =  Jum’at  2 Dzulhijjah 1369 H / 18 Safar 1424 H).  Master Degree Agricultural Economic Faisal-abad University 1977. Tahun 1977 - 1985 bertugas di Ghana Bidang Social Educational Agricultural Develipment Projects. Pada tanggal 22-4-2003 terpilih sebagai Khalifatul Masih V a.t.b.a. Sampai tahun 2009 Jemaat Muslim Ahmadiyah telah membangun 15.055 Mesjid di seluruh dunia, 510 Sekolah dan 30 Rumah Sakit Ahmadiyah. Rumah Sakit Jantung yang besar tetapi murah dibuka mulai September 2007 di Rabwah, Pakistan.Mendukung gerakan social "Humanity First" London HQ yang bekerja-sama dengan "Red-Cross", "Save the Children" dll.
 
Tasik / Kawalu, Sabtu 15 Juni 2013 / 6 – Sa’ban 1434 H.


2 komentar:

Admin mengatakan...

Nyesel Gw baca ni web, pdhl Mayoritas ulama sepakat ajaran yg dibawah Mirza Ghulam, BUKAN ISLAM !

Wizat Hitam mengatakan...

Toal..