Senin, 25 Oktober 2010

MUBALLIGH WAKAF dan PENGORBANANNYA

MUBALLIGH WAKAF DAN PENGORBANANNYA

Bismillahirrahmanirrahiim:

Wal takum minkum ummatuy yad’uuna alal khairi wa ya’muruuna bil ma’ruufi wa yanhauna ‘anil munkari wa ulaa-ika humul muflihuun – Dan hendaklah ada di antaramu segolongan yang mengajak manusia kepada kebajikan, dan menyuruh pada kebaikan dan melarang terhadap keburukan . Dan mereka itulah orang-orang yang berjaya. (Aali ‘Imraan, 3:105)

Wa maa kaanal mu’minuuna li yanfiruu kaafatan fa lau laa nafara min kulli firqatim minhum thaa-ifatul li yatafaqqahuu fid diini wa lin yundziruu qaumahum idzaa raja’un ilaihim la’allahum yahdzaruun? – Dan tidaklah mungkin bagi orang-orang mukmin keluar bersama-sama semuanya. Maka mengapa tidak keluar dari mereka satu rombongan supaya mereka memperdalam ilmu agama, dan agar mereka memperingatkan kaum mereka, apabila kembali kepada mereka, supaya mereka terjaga dari keburukan. (At Taubah, 9:122)

Kisah dari beberapa Muballigh di zaman dahulu untuk memberikan gambaran tentang betapa tingkat pengorbanan mereka itu. Hadhrat Syed Shah Muhammad sahib sudah bertugas selama 18 tahun berturut-turut di Indonesia. Beliau hidup dengan gaji allowance yang sangat kecil dan tidak pernah minta pertolongan. Beliau hanya meminta kepada Tuhan untuk semua keperluannya. Pada saat beliau kembali ke Pakistan dari Indonesia melalui jalan laut, beliau hanya memiliki sebuah overcoat dan dua pasang pakaian. Ketika di atas kapal, ada ikiran terlintas di dalam hatinya bahwa ia sedang pulang setelahnya bertugas sekian lamanya, tetapi bahkan beliau sama sekali tidak punya baju baru untuk dipakainya waktu datang ke Rabwah nanti. Beliau kemudian menghapus pikiran keinginannya semacam itu, karena hal itu bertentangan dengan spirit dari Waqaf. Beliau pun menyadarinya. Ketika kapalnya sudah merapat di dermaga di Singapore, dari atas dek beliau melihat ada seseorang yang membawa bungkusan mendekati kapal. Orang tersebut menemui Kapten Kapal dan menanyakan sesuatu, yang kemudian diantar untuk menemui Shah sahib, dan memeluk beliau, mengatakan bahwa ia adalah seorang Jemaat. Orang tersebut mengatakan bahwa ia adalah seorang penjahit dan telah membaca dalam Al Fazl tentang perjalanan pulang Shah sahib kembali ke Rabwah melalui Singapore. Ia ingin sekali untuk berjumpa dengan beliau dan memberikan hadiah. Karena ia sudah melihatnya dari potret sehingga ia dapat memperkirakan bagaimana ukuran bajunya yang cocok, maka ia menjahit beberapa buah baju. Hal itu membuat menetesnya air mata Syed Shah sahib, betapa Tuhan telah memberikan pikiran kepada seseorang Jemaat yang tidak dikenalnya untuk memenuhi keinginannya. Beliau menulis bahwa jika seorang Muballigh itu hanyalah berharap kepada Tuhan untuk meminta pertolongan, dan tidak memintanya kepada siapa pun juga, maka Tuhan akan menyediakan keperluan baginya dari yang ia tidak ketahui.

Salah seorang putra dari Maulana Ghulam Ahmad sahib, Farrukh menulis bahwa sekembalinya dari bertugas di luar negeri, ayahandanya ditempatkan di Hyderabad. Kepada beliau diberikan rumah yang kecil dan bobrok, tetapi keluarganya merasa senang karena ayahnya itu dekat kepada mereka. Melihat keadaan rumahnya yang hampir roboh itu mereka meminta kepada beliau untuk mengusulkan beberapa perbaikan. Beliau mengumpulkan semua keluarganya dan dengan penuh kecintaan ia menerangkan bahwa menekan setiap keinginan dan tidak mengajukan permintaan adalah sebuah motto dari kehidupan seorang Wakaf. Kesukaran dan kesulitan harus diterima pada setiap langkah demi untuk menyenangkan Tuhan. Satu kali, seorang anaknya yang bekerja sebagai Perwira AB dan anak-anak lainnya yang punya pekerjaan baik, mengusulkan kepada beliau untuk minta pensiun saja, biarlah mereka yang akan mengkhidmati beliau. Ia menjawab akan memberikan balasannya esok hari. Anak-anaknya berpikir ayahnya akan setuju dengan usul mereka itu dan mereka pun merasa senang. Esok harinya beliau duduk bersama-sama anak-anaknya itu dan mengatakan kepada mereka bahwa ia adalah seorang yang sangat sederhana dan merendahkan diri di mana permintaan anak-anaknya itu telah menggetarkan hati dan pikirannya. Ia mengatakan bahwa ia sudah berjanji kepada Tuhan bahwa ia akan menjalani hidupnya sebagai Wakaf dan merasa takut jangan-jangan ia meleset dari janjinya itu. Oleh karena itu, kepada anak-anaknya jangan lagi minta-minta atau usul yang sedemikian itu, sebaliknya berdoa-lah agar beliau bisa menepati janjinya itu.

Ada banyak kejadian tentang Maulana Nazir Ahmad Ali sahib di mana orang-orang di sana mengusir beliau dari kampung itu di mana beliau harus bermalam di tengah hutan di Africa. Dewasa ini reputasi baik Jemaat di Africa itu adalah atas hasil kerja keras dari para orang tua ini. Maulwi Sadeeq Amritsari sahib menulis bahwa setelahnya P.D. II, beliau dan Maulana Nazir sahib memutuskan untuk melakukan Tabligh di Sierra Leone. Desa yang mereka akan kunjungi itu ada di seberang sungai, mereka menggunakan sebuah perahu untuk sampai ke sana. Maulana Nazir telah pernah pergi ke sana sebelumnya, jadi sudah ada perlawanan di sana itu. Beberapa orang di sana mengaku keturunan Arab dan menganggap diri mereka sudah menjadi orang Muslim yang benar. Orang-orang ini telah menyebarkan informasi yang keliru tentang Jemaat di kampung tersebut, oleh karena itu mereka memutuskan tidak akan menyediakan akomodasi pada kunjungan berikutnya ini. Kedua Muballigh ini sebenarnya hanyalah untuk menghilangkan kesalah-fahaman dan menyampaikan pesan amanah Islam di desa tersebut. Meeka berencan untuk tinggal di sana untuk selama beberapa hari. Mereka pergi ke bungalow milik kepala kampung yang sudah biasa menyediakan akomodasi di sana. Kepala kampungnya sedang tidak ada di tempat dan orang-orang lainnya yang bertanggung-jawab di sana bersikap memusuhi sehingga tidak ada orang yang mau menolong. Siswa yang menemani Muballigh adalah seorang African sehingga mereka mau menyediakan tempat untuknya tetapi kedua Muballigh harus berkelana di hutan. Mereka berjumpa dengan seorang Muslim Libanon yang membawanya ke rumahnya dan memberinya makan. Mereka itu tidak ditanyai dan atau tidak bercerita di mana mereka itu akan tinggal malam itu. Maka, mereka duduk saja di tepi sungai, yang banyak ular berbisanya dan banyak buayanya. Betapa pun, Tuhan telah menyelamatkan mereka. Karena mereka itu tidak dapat tidur maka mereka berjalan di tepian sungai dan duduk di sana. Mereka menilawatkan ayat-ayat Kitab Suci Alqur-aan, berbicara tentang keimanan, dan kemudian Maulana Nazir memimpin Shalat dengan doa yang panjang untuk petunjuk bagi orang-orang penduduk di sana dan untuk kemenangan Ahmadiyyah. Kemudian mereka berjalan lagi, jam 3 pagi datang dan masuk ke Mesjid untuk Shalat Tahajjud. Di dalam kegelapan itu mereka mendengar suara yang aneh dari dalam mesjid dan segerombolan kambing keluar dari mesjid. Begitulah keadaan mesjid mereka yang menamakan diri mereka itu Muslim. Kedua muballigh ini membersihkan Mesjid tersebut dan melakukan Shalat Tahajjud. Kemudian mereka menyerukan Azan untuk Shalat Subuh; dan mendengar suara Azan ini orang-orang kampong pun mulai berdatangan ke Mesjid. Ketika mereka itu melihat dan menyaksikan Shalat kita, mereka mengatakan tidak ada perbedaan dalam Shalatnya (kecuali karena dari Mazhab Maliki, mereka tidak melipat tangannya ke perut). kemudian Jemaat berkembang di sana.

Demikianlah satu demonstrasi kenyataan hakiki dari orang-orang yang mewakafkan seumur hidupnya untuk keimanan, untuk agama Islam. Mereka harus hidup sederhana dan seadanya. Ceritera di atas membuktikan secara jelas, bahwa tidaklah benar, tidaklah masuk akal jika orang menuduh bahwa Jemaat ini didirikan oleh Inggris untuk merusak Islam, tidaklah mungkin kalau dengan biaya Inggris, para Muballighnya itu hidup dengan sederhana. Sungguh fitnah dan dusta dari orang yang merasa iri dengan kerja keras-nya Jemaat dan suksesnya Jemaat dalam menyebarkan Amanah Islam di seluruh dunia.

Kalau masih penasaran, baca situs: http://www.alislam.ord/archieves Friday Sermon 22-10-2010

1 komentar:

Dildaar Ahmad mengatakan...

Jazakumullah
Smoga Allah ta'ala memberi kita taufik terus-menerus utk berjihad dan berkhidmat dng tdk dikotori oleh perasaan dendam, kebencian dsb..aamiin